CHAPTER 2 : USELESS CHAT
HALO MINNAAAAAAAAAAAAAAAA!
CURUT IS BAAAACK!, MINNA KANGEN GAK SAMA CURUT? #PLAAAAKKKK
Okey minna-san, seperti kata curut sebelumnya, curut akan melanjutkan fanfic curut ke chapter ke 2.
Oh ya minna, maaf jika chapter sebelumnya gak lucu(sama sekali) karena curut gak punya sisi humoris sama sekali.
Kisedai : LALU APA TUJUANNYA KAU MEMBUAT FANFIC COMEDY ABAL INI HAAH?!
Curut : URUSAI!CURUT SEDANG OPENING TAHUUU!
Aomine : tadi author bilang ia tidak punya sisi humoris, itu memang betul karena author punyanya SISI SINTING YANG LUAR BIASA MEJIK!
Curut : OOIII! DIAM KAU AHOMINE! KUBAKAR JUGA SEMUA MAJALAHMU ITU!
Aomine : TIDAAK! MAICHAAN! *meluk2 majalah*
Oh yaa...
Uuummhhhh... minna, curut juga takut minna gak suka chapter sebelumnya karena aneh dan mungkin juga karena typo bertebaran dengan bebas di chapter sebelumnya (halah) UUWWAAAHH CURUT TAHU KESALAHAN CURUT BANYAAAKKK
Satu lagi...
Terimakasih untuk yang sudah mem-Fav dan mem-Follow cerita curut yang sangat gaje ini! Saya sangat terharu. Curut sungguh-sungguh... dan terimakasih juga kepada seluruh silent reader.
JADI,TANPA BANYAK BACOT DARI TERIAKAN CURUT YANG CEMPRENGNYA LUAR BIASA, MARI KITA MULAI FIC INI!
HAVE A NICE READ MINNA-SAN!
...
"jadi apa tujuanmu menelfonku Kise-kun?" tanyaku agar urusannya cepat selesai.
"naah... mungkin ini akan sulit untuk kau jawab-ssu" ucap Kise licik.
"sulit?" jawabku.
"jadi, tujuan utama aku menelfonmu justru karena aku memintamu untuk memberikan idemu itu padaku-ssu"
Jlep.
"HOOOIII ENAK SAJA KAAAUUUU! JIKA INGIN MENULIS CERITA, CARI DAN TULIS CERITAMU SENDIRI BUUOOODOOOH! KENAPA JADI AKU?! AKU TIDAK MAAUUU TITIK!" jeritku panjang hanya dengan satu nafas (widih.. satu nafas beneran? Kereen...)
...
KUROKO NO BASUKE
DISCLAIMER : DARI DULU SAMPAI SEKARANG, KUROKO NO BASUKE HANYALAH MILIK FUJIMAKI TADATOSHI SENSEI SEORANG. TERIMAKASIH UNTUK KARYAMU YANG LUAR BIASA SENSEI!
HOME WORK: THIS STORY BELONGS TO ME
COMEDY(COMEDY KAGAK JADI), SCHOOL LIFE, TRAGEDY, ETC.
WARNING : CERITA INI BERASAL DARI IMAJINASI OTAK CURUT SENDIRI BUKAN HASIL KARYA MENCONTEK, ATAU MENJIPLAK ATAU APAPUN YANG SEJENISNYA. BILA TERDAPAT PERSAMAAN NAMA TOKOH, ATAU TEMPAT ATAU CERITA, ITU TIDAK DISENGAJA. Sekali lagi, TIDAK DISENGAJA. SELAIN ITU, COMEDY DI FIC INI JUGA JADI-JADIAN, JADI MOHON MAAF KALO GAK ADA YANG KETAWA. Sekali lagi, MOHON MAAF. CURUT TIDAK MEMAKSAKAN SIAPAPUN UNTUK MEMBACANYA, JADI JIKA KURANG SUKA SILAHKAN TEKAN TOMBOL BACK.. SELAIN ITU, DIKHAWATIRKAN TYPO(S) MERAJALELA SEPANJANG CHAPTER INI.
OKEH MINNA-SAN, LET'S START THIS FIC
READY?
.
.
GO!
...
"JANGAN TERIAK LAGI-SSU! KAU TERLALU CEMPRENG!" balas Kise dengan suaranya yang tidak kalah cempreng.
Lagipula, itu salah sendiri. Mengapa jadi aku yang harus memberikan ide padanya? Toh enak saja. Sekarang saja aku sedang kosong ide dan ia memintaku juga mencarikan ide untuknya. Jelas saja jika aku berteriak seperti itu.
"KAU JUGA CEMPRENG BODOOH!" kini aku mengeluarkan sisi cempreng yang melewati kesaktian sailormoon dan bima x (?).
"AAAAHHH! HENTIKAAAN! TELINGAKU BERDENGUNG-SSU!" jeritan Kise juga mengaung di telingaku dan membuat telingaku berdengung.
"OOIII JANGAN MELEDEK, SUARAMU YANG CEMPRENGNYA KELEWATAN YANG MEMBUAT TELINGAMU BERDENGUNG!" teriakku frustasi. "BAIKLAH DARI PADA AKU KEHILANGAN PENDENGARAN PADA USIA 14 TAHUN, LEBIH BAIK KU TUTUP SAJA YA TELFONNYA. DADAAHH JANGAN TELFON AKU LAGI!" teriakku sambil bersiap menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan telefonku dengan Kise.
"eeiiittt... tunggu dulu!" kata Kise.
"e-eeh?". Aku menghentikan gerakan jariku yang bersiap menekan tombol berwarna merah
Kise terdengar menghela nafas di seberang telefon. "ya sudah begini saja-ssu. Aku tidak akan meminta ide dari mu, tetapi aku meminta saran darimu?"
Aku terdiam karena tidak mengerti. "saran?"
"iyaa" ujar Kise. "kau memberikan aku saran dari mana aku bisa mendapatkan ide-ssu, dengan begitu, namanya aku bukan mencontek kan?"
Entah karena kebodohan superku atau apa, ide Kise terdengar bagus sekali di telingaku. Dengan memberikan Kise ide, berarti aku juga masuk kedalam suatu percakapan. Dan biasanya sumber dari datangnya ide adalah : masuk ke dalam percakapan. Jadi, ini adalah simbiosis mutualisme. Mungkin jika di ibaratkan, aku bunga dan Kise lebah. Jangan jangan,itu terlalu bagus. Aku burung pipit dan Kise kerbau.
(Kise : OOIII AUTHOR SINTING! AKU SERIBU KALI LEBIH TAMPAN DARI KERBAU TAHU!
Aomine : ah masa? Wajahmu kan sebelas dua belas dengan anjing bulldog *melorotin pipi biar kayak anjing bulldog*
Kise : APA MAKSUDMU AHOMINECCHI HAH?! HAH?!
Aomine : OOII KUNING! AKU TIDAK AHO TAHU, KAU YANG AHO!, NGAJAK BERANTEM ENTE HAH? SINI ANE LADENIN*ngeluarin golok yang entah datang dari mana*
Kise : *bertransformasi menjadi ULTRAMAN*
*berantem 7 hari 7 malem*
Kuroko : kau apakan mereka berdua author-san?
Curut : tidak aku apa-apakan, biarlah, aku senang melihat mereka bertengkar *senyum licik*
Aomine+Kise : APA MAKSUDMUA HAH?!
*curut ikut berantem*)
(maaf minna, itu out of script, mari kita lanjhhoooot...)
"kau benar juga" ucapku pelan.
"iya dong, aku ini memang yang terbaik-ssu" tukas Kise membanggakan dirinya.
"... cukup membanggakan dirinya, jadi mau di mulai dari mana? Jangan lama – lama okey?"
"iya, tidak pertama, Aumocchi, biasanya kau mendapat ide dari mana?" tanya Kise.
"mendapat ide?" ucapku membalas pertanyaan dengan pertanyaan lalu memberi jeda. Aku berpikir bagaimana biasanya aku mendapatkan ide – ide. "jika soal ide, biasanya sih ide itu mengalir dari otak, tetapi ide itu juga bisa datang ketika kau mengingat lagi pengalaman masa lalumu!"
Kise terdiam cukup lama. Mungkin ia masih belum mengerti.
"aku tidak mengerti" ucap Kise setelah cukup lama terdiam. Betulkan? Kise tidak mengerti. "mengingat masa lalu?" ucap Kise mengulang kata – kataku sebelumnya.
"iya" ujarku sambil membalik tubuhku di atas kasur dari posisi tiduran menjadi posisi tengkurap. "kau ingat lagi masa kecilmu, misalkan seperti pengalamanmu dulu saat kau masih kecil, mungkin kau terjatuh dari sepeda, atau kau menemukan kotoran burung berwarna emas at-"
"tidak ada kotoran burung yang berwarna emas-ssu" ucap Kise yang memotongku saat sedang berbicara.
"ya, mungkin siapa tahu. Tetapi intinya seperti itu lah. lalu masa lalumu itu kau kaitkan dengan cerita Tommy Breifer. Mudah bukan?" ucapku cepat.
Setelah itu, Kise hanya mengatakan "hmmm" . mungkin ia sedang berpikir keras.
"Aumocchi, selain dari masa lalu, ide bisa kita dapatkan dari mana lagi?" tanya Kise lagi.
"aih? Memang masa lalumu itu tidak menarik untuk di masukan kedalam cerita Tommy Breifer?" tanyaku.
"bukan begitu-ssu, uummhh... begini, cerita masa laluku kurang menarik tahu. Masa laluku itu hanya ya seperti tidak tahu arah. Tidak seru-ssu!" ucap Kise.
"ooh.. uummhh... bagaimana ya" ujarku sambil kembali memutar otak, sedangkan dari seberang telfon terdengaar Kise mendengus kesal.
"ooh! Aku tahu!"
"apa?apa?apa?" tanya Kise dengan kekuatan super KEPOHOLIC?(emang ada -.-)
" jika ceritanya di ambil dari kehidupan sehari – hari mu?" usulku.
"maksudnya?" ucap Kise yang masih tidak mengerti.
"aaiisshh... kau masih tidak mengerti juga?" ucapku frustasi hanya karena seorang anak seperti Kise.
"jadi seperti ini loh, kau ini kan model, jadi jika aku beri usul cerita Tommy Breifer itu kau kaitkan dengan foto model, mengerti?"
Jeda sesaat...
"OOOOOOOOOOHHHHHH! AKU MENGERTI! KAU JENIUS!" teriak Kise.
"MEMANG AKU JENIUS! TETAPI JANGAN TERIAK JUGAA! FIKIRKAN JUGA PENDENGARANKU DI MASA DEPAN NANTI!"
Terdengar Kise tertawa puas.
"Kise-kun? Boleh sekarang aku yang bertanya-ssu?" ucapku dengan menaburkan sedikit sifat isengku, yaitu meletakan sufiks-ssu di belakang kalimat, seperti Kise.
"boleh-ssu, tapi jangan kau ikuti aku. Itu namanya tidak kreatif-ssu" ujar Kise. Aku bisa menangkap nada – nada jengkel dari suaranya barusan, dan nada jengkel yang lucu itu membuatku tertawa geli.
"iya iya, maaf. Aku hanya bercanda"
"hhnnn..." jawab Kise singkat. "ayo cepat, aku tidak punya banyak waktu-ssu, aku harus segera mengetik ide jeniusku lalu pergi untuk tidur" ucap Kise manja.
Secara harfiah, sejujurnya aku sedikit sungkan untuk menanyakan hal ini pada Kise-kun. Bukan karena aku malu atau apa, tetapi aku tidak yakin Kise-kun akan dapat menjawab pertanyaanku yang kemungkinan besar bodoh.
Aahh... aku tidak peduli, pikirku. Aku tidak peduli seperti apa tanggapan Kise-kun terhadapku, tetapi yang terpenting ku harap ia juga mau membantuku...
"aiihh.. terserah apa katamu. Jadi pertanyaanku seperti ini. Biasanya, ide di kepalaku akan keluar sendiri tanpa aku perintahkan, tetapi kini ide itu macet. Apa kau ada usul bagaimana agar ide itu dapat kembali lancar?" tanyaku.
Krik...
"KAU BODOOH-SSU! MASALAHMU ITU SAMA SAJA SEPERTIKU! JIKA KAU MEMBERIKU SOLUSI, BERARTI KAU JUGA BISA MEMECAHKAN MASALAHMU JUGA !" teriak Kise(lagi) dengan suara cemprengnya.
"sudah kubilang jangan berteriak, lagi pula aku tidak bisa menasehati diriku sendiri jadi aku memintamu. Mungkin kau mau membantu?" ucapku.
"hnn.." Kise menggumam cukup lama. "oh aku tahu!, jika menurutku, Aumocchi terlalu stres"
"se..tres?" ucapku bingung.
"iya, kau biasanya sangat terlihat girang di sekolah-ssu, karena moodmu bagus jadi ide terus mengalir deras cuuurr... seperti itu" ucap Kise panjang menjelaskan teorimenya.
"o-okey.., lalu?"
"nah ini, berarti kau harus menghilangkan stresmu itu-ssu! Dengan cara bersantai"
Okey, aku jadi mulai merasa bingung.
"nah, bersantai itu tidak cukup satu malam kan? Jadi mungkin kau ada tips untuk membuat tubuhku bersantai selama sesingkat mungkin?" tanyaku.
"jika masalah itu, itu tergantung dirimu. Tapi jangan sedih, aku punya beberapa tips untukmu-ssu!" ucap Kise bersemangat.
"okey, baguslah jika begitu" ujarku lega. Ya meskipun teorime Kise terdengar sangat sederhana, tetapi menurutku itu masuk akal. Lagi pula kurasa, Kise memang sangat berniat untuk membantuku.
"biasanya, aku sebagai model harus selalu terlihat vit dan ceria di setiap saat. Jadi, moodku harus selalu baik agar hasil pemotretan itu juga akan membawa hasil yang baik. Oleh karena itu, seorang model tidak boleh stres karena itu juga merusak hasil potretannya, biasanya aku hanya perlu mencari tempat duduk yang nyaman untuk sekedar duduk atau berbaring untuk sejenak. Itu akan membuatku merasa lebih tenang-ssu" Kise mengakhiri tipsnya yang panjang.
Yang ada di benakku hanya ada satu, HARUS SEGERA DI COBA
"okey, bisa aku coba sekarang" ucapku sambil membetulkan posisi dudukku untuk mencari posisi senyaman mungkin.
"eeiiitt! Tinggu dulu, aku tutup dulu telefonnya. Aku tidak mau menunggu mu sampai kau sudah tidak stres. Aku masih punya banyak pekerjaan juga-ssu!"
Otakku mulai memikirkan ide licik untuk sekedar membuat Kise menjerit kesal."iya –iya, memangnya kau pikir aku betah berbicara denganmu?"
"HIDOI-SSU!" jerit Kise kencang.
"SUDAH KU BILANG JANGA-"
"JANGAN BERTERIAKKAN?, AKU TAHU. ARIGATO GOZAIMAS-SSU! BERTEMU BESOK YAA!" jerit Kise.
"SUDAH KU BILANG JANGAN BERTERIAK! E-ee.."
Piiip... piiip... piiip...
Telfonnya sudah di putus oleh Kise. Memang dasar kuning- kuning ngambang!, tetapi bagaimana ya naskah cerita Kise? Aah ia membuatku penasaran! Besok pasti saat ia baru sampai, akan langsung aku sergap dia agar aku bisa melihat hasil ketikannya. Aku tidak sabar lagi menunggu.
Tetapi, meskipun begitu, aku kembali termenung. Kise saja sudah berhasil menemukan ide cerita untuk besok di kumpulkan kepada ma'am Sinaki, kenapa aku belum juga mendapatkan ide? Padahal tadi aku hanya memanfaatkan Kise, tetapi mengapa hanya Kise yang mendapat ide? Ini namanya simbiosis komensalisme.
AAARRGGGHH! AKU PAYAAH!
Aku kembali merebahkan diriku di atas ranjangku yang sangat nyaman. Harum semerbak yang di keluarkan dari seprei kasurku membuatku merasa tenang. Aku baru saja mengganti seprei ini kemarin malam. Kaa-san mencucui sepreiku dengan apa ya? Mungkin dengan ekstrak bunga lavender cair.
Sembari aku merebahkan tubuh kecilku di atas ranjang, aku memejamkan mataku perlahan dan membiarkan imajinasiku untuk terbang bebas, tetapi kau tahu? Itu cukup sulit. Malam ini terlalu dingin. Aku hanya menghela nafas panjang dan kembali mengingat kata-kata Kise-kun di telefon tadi.
oh aku tahu!, jika menurutku, Aumocchi terlalu stres!
Aku stres? Terdengar kurang masuk akal, karena aku sendiri tidak pernah merasakan apa yang namanya stres atau tertekan. Aku merasa baik – baik saya, ya kecuali kepalaku karena sejak tadi aku terus memaksa otak agar berputar untuk mencari ide tugas dari guru sialan yang namanya tidak boleh di sebutkan itu (lha?).
iya, kau biasanya sangat terlihat girang di sekolah-ssu, karena moodmu bagus jadi ide terus mengalir deras cuuurr... seperti itu
menurutku gagasan Kise mengenai hal yang satu itu cukup masuk akal untukku. Tetapi mengapa ia harus menambahkan kata "cuuurr..." itu? , itu tidak terlalu nyaman di dengar, ya jika kau paham maksudku...
nah ini, berarti kau harus menghilangkan stresmu itu-ssu! Dengan cara bersantai
Apa salahnya untuk mencoba bersantai ? ide Kise tidak terlalu buruk. Aku baru tahu jika Kise juga cerdas
(Kise : APA MAKSUDMU CURUCCHI?!)
Tapi..., bagaimana caranya untuk bersantai?
BIPBIPBIPBIPBIIIP!
Ada yang..., menelfonku?. Bagus, kuharap kali ini yang menelfonku kaa-san dan memberitahuku bahwa ia akan segera pulang dengan membawa oleh – oleh cokelat. Yaa, tentang cokelat itu aku hanya "berharap", apa salahnya "berharap" apabila nantinya akan menjadi kenyataan?, tapi aku juga berharap yang menelfonku bukanlah si kuning cerewet itu.
(Kise : HIDOI-SSU!)
Aku meraih handphone genggamku yang tergeletak di atas meja lampuku dan segera membuka dan membaca dari mana tlefon itu berasal.
Tanpa nama
Hanya ada... nomor...
Owh tidak... kemungkinan besar itu adalah si model kuning yang memiliki mulut yang dapat mengeluarkan suara cerewet supersonik itu dan dapat merusak gendang telinga setengh umat manusia di bumi ini.
(Kise : CURUCCHI! AKU AKAN MEMBUNUHMU-SSU!)
Dengan setengah hati aku mengangkat telefon itu. Aku memiliki firasat bahwa yang menelfonku adalah Kise (lagi), dan aku tidak mau ia meneriaki namaku lebih dahulu dan membuatku tuli sesaat, jadi aku menarik nafas lagi dan bersiap untuk berteriak kencang.
"Hai..."
"OOIII KUNING JANGAN TELFON AKU LAGI! SUARAMU DAPAT MEMBUAT KOKLEAKU BERGESER DAN MEMBUATKU TULI! JADI JANGAN TELFON AKU LAGI!"
Krik.
"HOI! BISKAH KAU BERSIKAP LEBIH SOPAN SEDIKIT! AKU BUKAN ORANG DENGN RAMBUT KUNING ITU NANOODAYO! JANGAN BERTERIAK! SEPERTINYA SUARAMU AKAN MEMBUAT KOKLEAKU PECAH NANODAYO!" teriak seseorang denga suara berat.
Dan sufiks itu...
Dia Midorima Shintaro.
Oh tidak...
GoM plus Author : TENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSINTENGSIN
(out of script. MAAF MINNA!*BOW*)
"a-aah... maafkan aku" kataku dengan nada ketakutan. "aku kira kau Kise-kun..."
"huh.." Midorima mendengus kesal. "aku dan si cerewet itu berbeda jauh nanodayo, jangan samakan aku dengannya atau kau akan aku lempar dengan batu bata"
Setelah ia mengatakan itu aku hanya cengengesan.
"Gomen nasai..., aku tidak tahu kan. Hei memangnya suaraku memang se-cempreng itu saat aku berteriak ya?"
Aku membayangkan di dahi Midorima akan ada perempatan berwarna merah muncul.
"YA JELAS LAH BAKAO! SADAR DIRILAH!!"
Aku hanya terdiam sesaat dan mulai berfikir, jadi selama ini orang – orang tidak bohong jika mereka bilang suaraku cempreng karena aku memang cempreng...
Aku menarik nafas cukup dalam dan mulai berbicara pada laki-laki berambur klorofil itu. "jadi, Midorima-kun, jarang sekali kau menghubungiku. Yaa, walau secara teknisnya-"
"aku tidak pernah menelfonmu nanodayo" potong Midorima cepat.
Sweatdrop...
"y-ya, begitulah intinya. Aku tidak pernah menelfonmu dan begitu juga sebaliknya, jadi ada apa kau menelfonku?"
"kau sedang tidak ingin di ganggu bukan?, aku tahu karena aku membaca ramalan bintang untuk scorpio hari ini nanodayo, kalian ada di urutan kedua terbawah setelah gemini, lalu di posisi ketiga terbawah a-"
"hhmmm... aku tahu bagaimana obsesimu terhadap ramalan pagi itu Midorima-kun. Tapi aku sama sekali tidak pernah peduli dengan ramalan pagi itu okey? Aku hanya berfikir aku tidak perlu menyamakan kehidupanku dengan ramalan pagi itu. jadi kumohon jangan bawa masalah horoscope itu padaku karena aku tidak peduli sama sekali" kataku panjang.
Jika kau ingin tahu, aku sudah sangat muak mendengar ramalan horoscope. Mengapa? Karena menurutku secara pribadi, jika kita sudah mendengar ramalan kita mengenai hari itu, kita yang mendengarnya secara otomatis mempercayainya dan tanpa sadar kita akan mematokan diri kita pada ramalan tersebut. Setelah itu, karena kita sudah mematokan diri kita dengan ramalan, otomatis apa yang kita lakukan akan sama dengan ramalan lalu kita akan mengakui bahwa ramalan itu benar.
Bodoh bukan? Mematokan diri dengan ramalan?, tetapi ingat ini hanyalah pendapatku.
Midorima terdiam. Aku bisa mendengar suaranya menggeram pelan. Entah apa yang kini tengah ia pikirkan setelah aku mengkritik pedas mengenai ramalan pagi kesayangannya itu. mungkin kini otaknya tengah meldeka-ledak. Hatinya terbakar oleh panasnya api emosi yang tersulut oleh masalah yang sangat sepele. Seseorang yang bernama Aumo telah mengejek ramalan pagi kesayangannya...
Oha-asa...
Aku sendiri cukup menyesal telah menyinggung tajam mengenai ramalan pagi yang menurutku super absurd itu. Entah mengapa aku memiliki firasat bahwa mungkin besok Midorima-kun akan melempariku dengan berbagai benda anehnya itu. bagaimana jika lucky item-nya untuk besok adalah... GUNTING, atau mungkin CUTTER, atau mungkin... PISAU CUKUR.
OOHHH TIDAAAAAAAAAK.
Midorima berdehem kecil. "mengenai oha-asa, setiap orang pasti memiliki pendapat tersendiri. Aku juga mengakui akan kebencianmu itu terhadap ramalan pagi, dan aku menghargainya. Tetapi jika sekali lagi saja kau meremehkan ramalan pagi itu, aku bisa memastikan kau akan mati setelah aku melemparmu dengan ratusan juta bola basket yang aku lemparkan padamu dari jarak yang jauh. Jangan pernah kau anggap remeh tembakanku itu"
Aku pun meneguk ludah... keringat asin turun dengan deras... dan... tukang ketoprak pun lewat...
"a-aku tidak me-meremehkan tembakanmu yang keren itu, seperti wuuusshh! Lalu-"
"kau berbohong bukan"
Tukang kue cucur pun lewat...
"bagaimana jika kau langsung bertanya ke intinya saja? Aku juga belum selesai mengerjakan tugas keparat ini"
"hm" jawab Midorima pendek. " Baiklah, Kise bilang kau membantunya dalam mengerjakan tugas ini, jadi aku menelfonmu untuk alasan yang sama"
Oh tidak...
"Ma-maaf, bukan maksudku tidak ingin membantuu ta-"
"Bilang saja kau tidak ingin membantu"
"BUKAN BEGITU MAKSUDKU"
" DEMI RAKUN SHIGARAKI BISA KAU TIDAK BERTERIAK NODAYO?!"
" KAU JUGA BERTERIAK!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
"DIAM!"
( Kise : Sampai kapan kalian akan berkata 'Diam?'
Midorima+Aumo : DIAM!)
"HENTIKAAAN!"
"KAU YANG HENTIKAN!"
"KAU YANG HENTIKAN!"
(kejadian yang sama seperti insiden adu teriak kata 'diam' pun kembali terjadi...)
(enggak deng... :b)
Setelah terjadi perang adu teriak tanpa henti yang telah menelan korban ratusan partikel-partikel kecil yang disebut 'ludah' itu terjadi, kedua belah pihak yang bukan lain Aumo dan Midorima pun terkena radang akibat terlalu lelah setelah berteriak nista.
"sudah diam... suaraku sudah serak" ucap Aumo yang tengah mengelus-elus tenggorokannya.
"iya nanodayo... tenggorokanku sudah sakit jadi mari kita berdua berbicara dalam suara pelan saja nodayo"
"iya betul, nanti pulsamu habis"
"enggak kok, kan dapet promo nelfon gratis 72 jam dari telk*msel!"
( Kisedai+Author-MidorimA : SAATNYA OOCCCCCCEEEEEE! *paduan suara*)
"jadi intinya kau minta ide dariku?" tanyaku agar urusannya cepat selesai dan aku bisa segera dapat melupakan semua hal ini dalam waktu singkat. Tapi... aku takut jika perbincanganku malam ini dengan Kise dan Midorima dapat membefrikan efek traumatik yang menyebabkan masa depanku yang tadinya cerah dan ada pelanginya, menjadi gelap, suram dan pengap. dan parahnya lagi, gak ada pelanginya.
"ya. Kau punya ide?"
"uumhhh... ide ya?" aku terdiam dan berfikir kira-kira ide apa yang cocokaku berikan pada Midorima. Mengingat sifatnya yang Tsundere, dan juga kecintaannya yang ia berikan sepenuhnya pada bebeb-nya, yaitu Oha-asa, serta rambut hijaunya yang mengandung klorofil itu, tunggu... klorofil?
Klorofil... kolorful... PENSIL WARNA!, lusa kemarin Midorima membawa lucky item-nya yang berupa pensil warna!
Aku pun memetik jari dengan cukup kencang. "AHA!"
"JANGAN BERTERIAK NANODAYO!"
"aku dapat ide, kau selalu membawa lucky item-kan?"
" Ya, lalu?
"bagaimana ceritanya jika Tomy Breifer suka membawa lucky item dan pada hari itu ceritanya si Tomy Breifer lupa membawa Lucky-itemnya, jadi dia terkena kecelakaan atau apapun yang buruk!"
Midorima terdiam. "Kurasa itu ide yang cukup bagus nanodayo"
"aku tahu aku memang hebat!"
"... terserah kau..., sudah aku akan menutup telfonnya nanodayo" "eeeiiiitt! Tunggu dulu!" teriakku kencang.
"Apa?"
" boleh aku menanyakan sesuatu padamu? Aku sudah menyimpan pertanyaan ini di benakku sejak dulu?"
" Ya, silahkan"
( Kise : hoi! Ayo kita bertaruh kira-kira apa yang akan ditanyakan oleh Aumocchi!
Kisedai : ayo!
Aomine : aku bertaruh bahwa Aumo akan bertanya bagaimana cara Midorima dapat menembak sangat jauh!
Kisedai minus A(h)omine : pertanyaan yang tidak berkelas...
Kise : aku bertaruh bahwa Aumocchi akan bertanya apa Midorima mencintainya, lalu Midorima akan menjawab 'iya'-ssu
Kisedai minus Kise : dasar korban model kagak modal...
Aumo menarik nafas dan siap untuk bertanya." Bagaimana caranya rambutmu bisa berwarna hijau seperti itu? maksudku itu hijau benerankan? Apa orang tuamu memberikanmu susu ASI campur cat hijau? Atau mungkin rambutmu di pylox?"
"..."
"halo?
piipiipiipiipiipiipiipiipiipiip
telfonnya di putus...
.
.
.
"KEJAMNYA MIDORIMA TEME! PERTANYAANKU KAN BELUM DI JAWAB! AWAS SAJA KAU! BESOK KAU AKAN MERASAKAN KEHEBATANNYA GUNTING KERTAS BERBENTUK KODOK!"
Bipbipbipbipbipbip
Jengjengjengjeeeeeeng...
Siapa lagi kah yang menelfonku kali ini?
Apa aku sanggup bertahan menghadapi cobaan dari PEMAIN BASKET PALING SINTING di dunia ini?
Apakah...
Gendang telingaku pecah?
Akankah...
NEGARA API AKAN MENYERANG?!
Saatnya mengatakan...
*drumroll*
TUBERCULOSIS (tbc)
...
YEEEY KELAR SELESAI JUGA! YUHUUU!
Secara pribadi, curut sangat senang dalam penulisan chapter ini karena bebeb curut muncul di chapter ini!
Midorima : aku tidak sudi kau jadi bebeb-mu tahu
Curut : APA?! Kukutuk kau jadi abang-abang jualan cilok!
Intinya adalah, CURUT TIKUS GOT INI SANGAT SENANG!
Terimakasih banyak kepada yang telah mem-fav atau mem-follow cerita ini. Curut benar-benar berterimakasih! *bow**bow**bow**bow*
Ada satu hal lagi, curut ngerjain fic chapter ini di kelas looh! (gak ada yang nanya -_-)
Curut minta maaf karena kemungkinan besar fic ini adalah Fanfiction yang renyah... bukan garing lagi, tapi renyah...
Ternyata, pas kemarin pas curut nge-cek chapter 1, kesalahannya banyak banget, jadi curut meminta maaf sebesar-besarnya jika chapter kemaren sangatlah jelek dan berantakan. Mungkin ada yang bisa membantu curut dalam cara penulisan?
tinggalkan lah beberapa comment mengenai tulisan curut ini (saya tidak memaksa), dan tolong perbaiki cara penulisan saya ini karena saya hanyalah seorang newbie yang tidak tahu apa-apa (dasar sinting)
Sekian basa-basinya, intinya...
CHAPTER 3 :: YEAH
SEE YOU LATER!
Cengiran yang kelebaran, Manusia Curut :b
(A/N : oh ya, curut ada rencana nge-publish fic baru looh! /gak ada yang peduli/)
(A/N lagi : Curut gak yakin kapan curut akan update chapter 3, dan jangan tanya kenapa curut update di tengah jam sekolah)
