Dua keluarga tersebut saling memandang satu sama lain. Bingung. Yah, satu kata tersebut yang mewakili perasaan mereka saat ini. Dalam hati mereka, mengapa meja yang seharusnya sudah di pesan oleh anak mereka, terdapat keluarga asing yang juga duduk di meja yang sama? Apakah itu suatu kebetulan saja? Hanya dua orang saja yang tampak tak bingung dengan situasi tersebut. Hanya saja ketegangan saat ini yang menyelimuti mereka berdua.
"Naruto, em, bisa kau jelaskan keadaan ini?" Seorang lelaki paruh baya menoleh ke samping dan menatap lelaki yang mirip dengannya.
"Hinata, apa maksudnya ini?" Sedangkan seorang pria paruh baya lainnya menoleh dan bertanya pada gadis yang duduk di sampingnya.
Gadis bernama Hinata itu tampak kesulitan untuk menemukan jawaban. Ametystnya berkali-kali melirik sana-sini. Keringat dingin turun melalui pelipisnya. Sedangkan lelaki yang dipanggil Naruto tadi mengamati Hinata yang tampak tegang. Ia menghirup nafas sejenak. Setelah cukup tenang, Naruto mulai bangkit dari duduknya. Semua orang di meja tersebut menatapnya, termasuk Hinata. Naruto berjalan ke depan sehingga semua orang dapat melihatnya dengan jelas. Orang-orang tersebut semakin penasaran. Terlebih sikap Naruto tersebut yang tergolong formal sekali.
"Otou-san, Okaa-san, Hiashi-san, dan Hikari-san…" Naruto menatap satu per satu orang-orang tersebut. Dengan membungkuk penuh hormat, "… Ijinkan saya untuk melamar dan menikahi Hyuuga Hinata…!"
"EH?!"
Keempat orang tersebut cengo. Perkataan Naruto sukses membuat mereka tak berkutik untuk beberapa saat. Dan ketika akal mereka telah kembali, mereka…
"EEEEEEH?! MENIKAAAH?!"
Keempat orang itu kaget dan berteriak bersamaan. Diikuti oleh anggota keluarga yang lainnya.
.
.
.
.
.
.
Hinata… Kapan Kau Menikah?
.
Last Chapter
.
Story By : Neko Nichibana
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Rate : M
.
Genre : Romance, Drama, Comedy (Little)
.
Pairing : Hyuuga Hinata x Namikaze Naruto
.
WARNING : AU, TYPO, OOC, OC, alur cepat, Lemon (maybe lime?), Hinata's OOC, Naruto's OOC, dll…
DON'T LIKE, DON'T READ!
NOT FOR UNDER 18TH. TETEP MAKSA? DOSA TANGGUNG SENDIRI!
.
.
.
.
.
.
De Léux Restaurant, KONOHA, 19.00 P.M.
.
Namikaze Naruto masih dalam posisi membungkuk hormatnya. Keempat orang paruh baya tersebut juga masih membelalakkan mata dan kaget. Pernyataan dari laki-laki tampan tersebut membuat mereka kehilangan kata-kata. Namikaze Minato, selaku orang tua Naruto, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh putra bungsunya. Sebenarnya, Minato cukup senang karena anak laki-lakinya sudah menemukan calon pendamping hidup. Ia jadi tidak perlu memaksa Naruto untuk berkenalan dengan anak gadis dari beberapa koleganya. Berbeda dengan suaminya, Kushina justru terkikik pelan. Di dalam benaknya, wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu tertawa dengan bahagia. SANGAT BAHAGIA. Karena wanita itu kini tidak perlu mencarikan Naruto jadwal kencan buta seperti yang selalu dilakukannya.
Sedangkan dari pihak keluarga Hyuuga, sang kepala rumah tangga Hyuuga Hiashi berdeham kecil untuk menekan kekagetannya. Mendengar seorang laki-laki tampan, terlebih dia adalah atasan putrinya di tempat kerja, melamar dan meminta restu untuk menikahi putri keduanya, tentu saja membuat laki-laki paruh baya itu senang. Ia jadi tidak perlu repot-repot mencarikan putrinya pendamping hidup seperti dulu. Sedangkan Hyuuga Hikari, sang ibu dari Hyuuga Hinata, menoleh dan menatap putrinya. Amethyst yang sama seperti milik Hinata tersebut menangkap rona kemerahan dan ekspresi tersipu malu di wajah anak gadisnya. Melihat hal itu, Hikari hanya tersenyum kecil. Ternyata selama ini dia tidak tahu jika putrinya itu menjalin hubungan dengan direkturnya sendiri.
"T-Tunggu dulu, Naruto!" Namikaze Minato menyela. "K-Kenapa mendadak seperti ini?" Lelaki itu kebingungan.
"Ah, benar juga. Kenapa kau tiba-tiba meminta restu dariku untuk menikahi putriku?" Hiashi juga bertanya, membutuhkan kejelasan dari sang lelaki bungsu Namikaze tersebut.
"Mohon maafkan aku, Otou-san, Hiashi-san! Aku dan Hinata tidak sengaja melakukan kecelakaan kecil. D-dan… dan… H-Hinata saat ini m-mengandung… a-anak… ku…" Naruto menutup kedua matanya. Masih dalam keadaan membungkuk, ia membungkuk ketakutan, menunggu reaksi kedua kepala keluarga tersebut.
"Ap–" Wanita dengan surai kuning menutup mulutnya tak percaya. "Baka Otouto!" Makinya.
"HAH?!" Kini berganti dengan pria dewasa bersurai kecoklatan dari pihak Hyuuga kaget. Ia menatap Hinata. "Hinata… kau… k-kau… HAMIL?!" Lelaki itu melotot.
"Nee-chan, k-kau… Waaaaahh…" Kini gadis muda yang mirip dengan Hinata juga memandang tak percaya pada kakak wanitanya.
Dan reaksi dari para orang tua? Tentu saja mereka tak bisa berkata-kata. Belum genap kaget dengan ucapan Naruto mengenai lamaran untuk menikahi Hinata, kini justru ia mengatakan bahwa Hinata mengandung anaknya. Namikaze Minato terduduk lemas. Hyuuga Hiashi memangku wajahnya gusar. Namikaze Kushina yang sebelumnya meminum air putih, kini tersedak. Dan Hyuuga Hikari hanya terbengong. Kedua orang tua Naruto dan Hinata benar-benar dibuat kaget seketika. Namikaze Naruko hanya bisa mendesah panjang, sedangkan suaminya, Hidan, berusaha menenangkannya. Hyuuga Neji terduduk lemas seperti Minato, Sara istrinya hanya menatapnya cemas. Dan yang cukup aneh dilihat adalah adik perempuan Hinata, Hyuuga Hanabi yang justru tersenyum lebar dan memancarkan kekaguman pada kakak perempuannya.
"Saya benar-benar minta maaf karena menghamili Hinata. Namun, saya akan bertanggung jawab. Jadi saya mohon tolong ijinkan saya menikah dengan Hinata!" Naruto memohon.
Hinata yang sedari diam saja, hanya bisa menundukkan wajahnya. Tak berani sedikitpun wanita itu untuk sekedar menatap anggota keluarganya, terlebih lagi anggota keluarga Naruto yang juga di hadapannya. Jemarinya saling bertautan. Kecemasan menyelimuti dirinya. Reaksi yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya membuatnya takut jika ia tidak diterima oleh keluarganya lagi atau bahkan justru mendapat hinaan dari keluarga Naruto. Tindakannya tempo hari dulu mungkin akan menjadi buah bumerang baginya sekarang.
"Haah…" Minato mendesah. "Mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi…"
"Hinata… kau…" Hiashi menoleh sejenak. "Aku tidak tahu harus berpikir bagaimana lagi…" Ia memijit pelan pelipisnya.
"Yah… Karena semuanya sudah terlanjur jadi seperti ini. Aku hanya bisa mengikuti keputusan Otou-sanmu, Naru-kun…" Kushina memandang Naruto pasrah.
Berbeda dengan Hikari. Wanita paruh baya itu hanya memandang sendu suaminya. Menanti ucapan suaminya tersebut. Pemikiran Hikari tidak jauh berbeda dengan keputusan Kushina. Dia akan mengikuti apa saja keputusan dari suami tercintanya itu.
"Baiklah…" Hiashi mulai angkat bicara. "Karena sudah terjadi, pernikahan ini harus segera diputuskan. Jika pernikahan diselenggarakan terlalu lama, aku takut kedua belah pihak akan semakin malu dengan aib yang ada di masyarakat nanti. Jadi, bagaimana menurut Anda, Namikaze-san?" Hiashi menatap serius Minato.
"Hmm, apa yang Anda katakan memang benar. Lagipula hal ini juga terjadi karena kesalahan yang mereka buat. Saya setuju saja jika pernikahan dilaksanakan secepatnya…" Minato menjawab pasti.
Percakapan antara Hyuuga Hiashi dan Namikaze Minato tersebut membuat Naruto yang masih membungkuk tiba-tiba saja mendongakkan kepalanya. Safirnya menatap wajah ayahnya dan calon ayah mertuanya dengan ekspresi tak bisa dijelaskan. Antara kaget, cemas dan bercampur senang. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Naruto menatap haru ayahnya dan Hiashi bergantian. Begitu pula dengan Hinata yang langsung saja mendongakkan kepala setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan ayahnya dan ayah Naruto. Manik bulannya terasa berkaca-kaca. Ia terisak pelan. Ia terharu dengan keputusan yang dibuat oleh dua orang tersebut. Jauh dalam hatinya, ia merasa senang bercampur dengan rasa kelegaan. Ia sedikit tersenyum dalam isakannya.
"J-Jadi… Anda m-merestui dan menerima lamaran saya, Hiashi-san?!" Naruto menatap Hiashi penuh binar.
"Yah… Ini juga demi kebaikan kalian berdua. Lagipula aku juga tidak ingin jika putriku melahirkan anaknya tanpa bersuami…" Hiashi menatap Naruto serius.
"Terima kasih banyak, Hiashi-san! Terima kasih! Terima kasih!" Naruto berulangkali membungkuk hormat pada calon mertuanya itu.
"Karena sudah diputuskan, em…" Kushina tampak berpikir. "Bagaimana jika 1 minggu lagi pernikahannya dilaksanakan?" Usulnya.
"Secepat itu?" Minato menatap Kushina.
"Aku hanya menyarankan. Selebihnya itu keputusanmu dan keputusan keluarga Hiashi-san, Anata…" Kushina memandang lembut suaminya.
Minato dan Hiashi saling memandang. Mereka tampak berpikir. Hiashi lantas menoleh untuk mengetahui jawaban istrinya. Hikari yang sedang dimintai pendapatnya itu hanya mengendikkan bahu, tanda ia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sang suami. Mengerti akan isyarat dari istrinya itu, Hiashi kembali menatap Minato.
"Menurutku tidak ada salahnya pernikahan dilaksanakan 1 minggu lagi." Hiashi menoleh menatap Hinata. "Kau harus siap, Hinata!" Tuturnya.
"Karena Hiashi-san sudah memutuskan begitu, kurasa aku juga tidak keberatan jika pernikahan dilaksanakan 1 minggu lagi." Minato lantas menatap Naruto. "Naruto, kau harus benar-benar siap. Sekarang, duduklah!" Perintahnya.
Naruto mengangguk. Ia melangkah kembali ke kursinya. Pergerakan Naruto tersebut tidak lepas dari pengamatan Hinata. Wanita itu tersenyum lembut pada Naruto yang sudah duduk rapi. Naruto mengalihkan pandangannya cepat ke arah Hinata, dan menemukan wanita itu tengah tersenyum padanya. Hinata yang ketahuan tersebut lantas menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang sudah merona total. Naruto tersenyum kecil melihatnya. Aksi malu-malu diantara dua orang tersebut kini menjadi perhatian Naruko, Hidan, Neji, Sara dan Hanabi. 'Dasar mereka berdua ini…'
Dan malam itu, di salah satu restoran Prancis di Konoha, dua keluarga dari pihak Namikaze dan juga Hyuuga menghabiskan malam untuk saling mengobrol satu sama lain.
.
.
.
.
.
.
NAMIKAZE CORP, 10.00 A.M.
.
"Ssstt!"
Desisan dari Emi sukses membuat Hinata tersadar dari lamunannya. Ia pun menoleh.
"Ada apa?"
"Direktur memanggilmu ke ruangannya. Katanya penting!" Emi berucap pelan.
"Benarkah?" Kini Hinata nampak keheranan.
Karena mendengar bahwa panggilan tersebut penting, Hinata segera beranjak dari duduknya. Ia pun berjalan pelan dan memasuki ruangan direkturnya berada. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Hinata dapat mendengar sahutan kecil dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Dengan hati-hati wanita itu membuka pintu. Setelah ia masuk, dapat ia lihat Naruto sedang sibuk berkutat dengan beberapa dokumen di atas meja kerja. Hinata perlahan melangkahkan kakinya mendekat.
"A-Ano… Direktur memanggil saya?" Hinata bertanya.
"Oh, rupanya kau, Hinata! Duduklah!" Naruto menyuruh Hinata untuk duduk.
Wanita itu menurut.
"Begini, tadi aku mendapat telepon dari kakakku. Ia ingin mengajak kita keluar. Katanya sih untuk mencari perlengkapan pernikahan." Naruto yang sudah meninggalkan berkas-berkasnya memandang serius Hinata.
"E-Eh? Perlengkapan pernikahan?" Hinata tampak kaget. "B-Bukankah itu terlalu cepat, Direktur?" Hinata bertanya bingung.
"Awalnya aku juga berpikiran seperti itu. Tetapi, setelah mempertimbangkannya, justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan. Em, seperti mencari Wedding Organizer yang bagus, lokasi pernikahan, dan yang lainnya. Undangan pernikahan juga belum dibuat." Naruto bangkit dari kursinya. "Jadi, sekarang ayo kita menemui kakakku di ruangannya dan mendiskusikan masalah pernikahan ini!" Naruto masih menatap Hinata.
"S-Sekarang, Direktur?!" Hinata menatap direkturnya tak percaya.
"Hn!" Sahut Naruto. "Berdirilah! Kita akan segera ke ruangan kakakku!" Naruto menyuruh Hinata untuk mengikutinya.
"H-Hai…"
Hinata pun menuruti ucapan dan perintah Naruto. Keluar dari ruangan Naruto, gadis itu hanya mengekor di belakang Naruto. Semua anak buah Naruto pada bagian pemasaran memandang heran dan penasaran pada Hinata. Kazuha yang memberikan isyarat pada Hinata seperti 'kau mau kemana', hanya dibalas gelengan kepala oleh Hinata. Setelah bayangan kedua manusia itu telah hilang sepenuhnya dari departemen pemasaran, semua karyawan di situ berdiri mengerumpul.
"Kira-kira Direktur mau membawa Hinata-chan kemana ya?" Kazuha bertanya heran.
"Hmm, entahlah…" Kiba menyahut.
"J-Jangan-jangan Direktur mau memecatnya!" Chouji justru memekik keras.
"Baka!" Emi menatap remeh Chouji. "Mana mungkin Hinata-chan akan dipecat oleh Direktur!"
"M-Mungkin saja 'kan?" Chouji berusaha membela argumennya sendiri. "Lihat, akhir-akhir ini Hina-chan juga sering membuat Direktur kesal…"
"Hmm…" Semua orang menggumam dan memikirkan perkataan Chouji.
Apa yang dikatakan Chouji memang ada benarnya. Tetapi…
"Aaah… Yang jelas kita tunggu saja Direktur dan Hinata-chan kembali! Setelah itu kita interogasi Hinata-chan!" Kazuha berkata mantap.
"Hm!" Semuanya mengangguk.
.
.
.
.
VICE PRESIDENT OFFICE, NAMIKAZE CORP
.
Naruto mengetuk pintu ruangan kakaknya berada. Hinata hanya diam saja di balik punggung Naruto, menunggu sang pemilik ruangan mempersilahkan mereka berdua masuk. Tak lama, terdengar sahutan dari arah dalam yang menyuruh mereka berdua untuk masuk. Naruto pun mendorong pintu dan menahannya sebentar untuk memberi kesempatan Hinata masuk. Setelah Hinata masuk, barulah ia menutup pintu ruangan kakaknya tersebut. Ini adalah kali pertama Hinata memasuki ruangan kakak Naruto yang notabene menjabat sebagai wakil presiden perusahaan Namikaze Corp.
Hinata dapat melihat wanita bersurai kuning dengan balutan baju kantor sedang menatap serius komputer meja. Naruto berdeham kecil dan memberikan perhatian bagi wanita itu. Wanita cantik tersebut menoleh sekilas dan tersenyum lembut mengetahui siapa yang memasuki ruangannya. Kacamata baca yang bertengger di hidungnya, ia taruh kembali di tempatnya. Kini ia benar-benar meninggalkan pekerjaannya. Fokusnya kini adalah pada pasangan yang ada di depannya.
"Aku sudah membawanya, Nee-chan!" Naruto berseru.
"Yosh! Kalau begitu kita pergi sekarang saja. Kita pakai mobilmu ya, Naru-kun!" Wanita itu bangkit dari posisinya.
"A-Ano… Wakil Presiden…" Hinata berucap lirih. "K-Kita akan kemana?"
"Hmm…" Wanita tersebut memangku dagu. "Pertama, jangan panggil aku wakil presiden. Panggil saja aku Naruko-nee atau sama seperti Naru-kun memanggilku seperti biasanya. Hal itu berlaku baik di kantor atau pun di rumah, oke?" Naruko, kakak perempuan Naruto mengedipkan sebelah matanya. "Kedua, lebih baik Hinata-chan ikut saja denganku. Aku akan membantu persiapan pernikahan kalian. Oke?!"
"H-Hai…" Hinata mengiyakan. "N-Naruko-nee…?"
"Nah, begitu lebih baik!" Naruko lantas menggandeng tangan Hinata. "Kau ini 'kan sebentar lagi juga menjadi bagian anggota keluarga Namikaze, jadi jangan terlalu kaku seperti itu. Dan ingat, jangan pernah lupa untuk memanggilku begitu! Hehehe…" Naruko terkekeh pelan.
"Nee-chan, Hinata bukan anak kecil lagi. Ia pasti akan memanggilmu begitu…" Naruto memutar bola matanya, bosan.
"Mou, Naru-kun ini. Aku 'kan hanya bersikap manis kepada Hinata-chan!" Naruko menatap adiknya tajam. "Kau ini benar-benar menyebalkan!"
"Yah, yah, terserah saja!" Naruto memandang ke arah lain.
Kini mereka bertiga mulai berjalan keluar ruangan. Hinata yang masih digandeng erat oleh Naruko menjadi bahan perhatian oleh karyawan lain. Naruto yang berjalan di belakang kedua wanita itu hanya menatap satu per satu karyawan tersebut. Memberikan tanda untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Melihat tatapan garang dan menyeramkan dari direktur muda itu, para karyawan-karyawan itu hanya gelagapan dan kembali pada aktivitas mereka masing-masing.
Mereka bertiga sudah sampai pada basement parkir mobil. Naruto mengaktifkan pengaman kunci otomatis mobilnya. Naruko pun menghamburkan diri masuk ke dalam. Sementara Hinata yang akan mengambil kursi di samping Naruko, dihadang oleh wanita itu. Membuat Hinata mengernyitkan dahi tanda heran.
"Hinata-chan, tempatmu bukan di sini. Kau harus duduk bersebelahan dengan Naru-kun. Hehehe…"
"Hei, hei, hei… Kenapa harus begitu?" Naruto menyerukan nada protes.
"Cih… Dasar laki-laki payah. Dia 'kan calon istrimu, jadi wajar saja jika harus duduk di kursi penumpang di depan!" Naruko mendesah pelan.
"Haah…" Naruto menghela nafas. Ia pun memandang Hinata. "Hinata, duduklah di depan bersamaku!" Perintahnya.
"H-Hai… Direktur…" Jawab Hinata sambil memasuki mobil.
"Eeeeh… Apa itu tadi? Naru-kun, kau masih membiarkan Hinata-chan memanggilmu 'Direktur'? Astaga!" Naruko facepalm.
"Apa ada yang salah?" Naruto menatap kakaknya heran.
"Hinata-chan, harusnya kau memanggil nama kecil Naru-kun!"
"Eh?" Hinata cukup kaget.
"Sekarang, kau harus memanggil Naru-kun dengan nama kecilnya, oke?!"
"Hei, kau kenapa jadi cerewet sekali sih, Nee-chan? Terserah Hinata 'kan mau memanggilku apa?!"
Hinata yang melihat perdebatan kakak-adik itu hanya tersenyum kecil. Kembali dengan perintah calon kakak iparnya tersebut yang menyuruhnya untuk memanggil nama kecil Naruto. Mendadak Hinata menjadi merona. Membayangkan dirinya memanggil nama Naruto tersebut, membuatnya gugup. Ini adalah hal yang tidak pernah dilakukannya. Dan sekarang, ia diminta langsung oleh calon kakak iparnya untuk memanggil Naruto demikian. Dengan segenap hati, Hinata mengambil nafas dan menghembuskannya pelan. Ia pun melirik Naruto dari sudut matanya. Naruto tengah menatapnya.
"N-Naruto…-kun…" Ucapnya lirih.
Mendengar Hinata memanggil nama kecilnya, Naruto merasakan ada yang aneh pada dirinya, khususnya pada hatinya. Mendadak laki-laki itu merasakan kehangatan kasat mata menyelimuti hatinya. Menurutnya, ketika Hinata memanggilnya seperti itu, ia merasa sangat senang. Entah mengapa ia bisa sesenang itu hanya dengan mendengar Hinata menyerukan nama kecilnya. Yang jelas ia begitu menyukainya.
"Nah, begitu! Kalian ini seperti orang asing saja tahu kalau tidak memanggil nama satu sama lain!" Naruko berkomentar. "Nah, sekarang ayo berangkat!" Naruko berseru senang.
Hinata yang sudah berada di samping Naruto hanya sweatdrop mendengar seruan penuh semangat dari calon kakak iparnya. Sedangkan Naruto hanya menggeleng pelan. Lambat laun mobil perlahan melaju meninggalkan basement parkir Namikaze Corp.
.
.
.
.
.
.
SAVERIO'S GOWN AND BOUTIQUE, 11.00 A.M.
.
"Iya, Kaa-san. Aku, Naru-kun dan Hinata-chan sudah menemui wedding organizer-ku yang dulu… Hm, kita mendapatkannya… Iya, aku juga sudah mencari lokasi pernikahan yang bagus… Iya, kami sekarang ada di depan boutique… Apa? Langsung masuk saja?... Hmm, baiklah… Jaa~" Namikaze Naruko menutup teleponnya.
Naruko lantas menatap pasangan yang ada di depannya. Ia tersenyum lebar.
"Hora, ayo cepat turun dan kita menemui Kaa-san di dalam!" Naruko berseru.
"Eh? Sekalian mencari gaun pernikahan?" Naruto menoleh ke belakang dan menatap kakaknya.
"Tentu saja, ttebane!" Dan keluarlah kata-kata yang mirip seperti ibunya. Naruto sweatdrop.
"Yah… Baiklah…" Naruto mengiyakan. "Ayo turun, Hinata…"
"U-Uhm…" Hinata menurut.
Ketiga orang tersebut mulai memasuki salah satu boutique terkenal di kota Konoha. Sebuah boutique yang memang merancang gaun khusus untuk pernikahan dan juga gaun-gaun pesta. Sepanjang memasuki boutique tersebut, Hinata tak henti-hentinya menatap kagum tiap gaun pernikahan yang dipajang di manekin. Amethyst bulan itu bersinar kagum. Naruto yang sedari tadi mengamati ekspresi kekaguman Hinata, hanya tersenyum lembut. Entah mengapa, dengan mengamati wajah ceria dan bahagia Hinata menjadi kesenangannya akhir-akhir ini.
"Oh, kalian di sini?!" Terdengar suara wanita.
Naruko melambaikan tangan pada sang pemilik suara. Naruto dan Hinata menatap arah datangnya suara tersebut. Di depan mereka kini telah ada Kushina beserta Hikari dan Hanabi. Hinata sempat kaget karena terdapat ibunya dan adiknya di situ. Ia pun menoleh dan menatap Naruto, meminta penjelasan melalui pancaran tatapannya. Naruto hanya membalasnya dengan mengendikkan bahu, tanda bahwa laki-laki itu tidak mengetahui sama sekali akan hal tersebut.
"Nah, Hinata-chan, kemarilah!" Kushina memanggil. "Aku dan Hikari-san sudah memilihkan beberapa gaun cantik untuk pernikahanmu nanti!"
"Iya, Nee-chan! Kau pasti sangat suka dengan gaun pilihan Kaa-san dan Kushina-kaa-chan!" Hanabi berseru senang.
'Kushina-kaa-chan? Sejak kapan Hanabi menjadi sangat akrab dengan Nyonya Namikaze…' Batin Hinata.
"H-Hai… Namikaze-sama…" Tanpa sadar Hinata memanggil Kushina secara formal.
"Astaga! Jangan panggil aku begitu! Panggil aku Kaa-san, oke?!" Kushina menatap Hinata penuh dengan harap.
"H-Hai… K-Kaa-san…" Dengan malu-malu Hinata mengiyakan dan mengucapkan kata tersebut.
"Naruto-kun, sebaiknya kau juga bersiap-siap. Kami juga telah memilihkan baju untukmu…" Hikari berucap lembut pada calon menantunya itu.
"Hai, Okaa-san…"
Mereka pun mengikuti Kushina dan Hikari. Hinata dan Naruto berpisah di salah satu bilik ruang ganti. Salah satu pegawai boutique menyodorkan satu gaun cantik untuk Hinata. Dengan senang hati, Hinata menerimanya. Perlahan Hinata melepas bajunya dan mengenakan gaun itu dibantu oleh pegawai tadi. Setelah selesai, tirai tempat Hinata berganti terbuka secara perlahan. Kushina, Naruko, Hikari dan Hanabi yang sedari tadi menunggu Hinata selesai ganti baju, kini menyunggingkan senyum lebar. Dalam pandangan mereka, Hinata terlihat cantik. Aah, bukan, sangaaat cantik. Gaun putih tanpa lengan yang terjuntai ke lantai dihiasi beberapa renda-renda kecil dan pita, sangat cocok dengan penampilan Hinata. Semua orang disitu memuji kagum Hinata. Mereka mempertimbangkan sejenak untuk menilai gaun tersebut. Keputusan pun dibuat. Dan semua wanita yang ada di situ setuju jika Hinata mengenakan baju tersebut di pernikahannya.
Sedangkan Naruto baru saja selesai dengan kemejanya. Tirai milik Naruto juga terbuka. Kini lelaki itu mengenakan tuxedo hitam dengan sedikit corak silver di sekitar area kerah jas tuxedo. Naruto benar-benar terlihat gagah dengan mengenakan setelan tuxedo itu. Para wanita tadi kini mengamati Naruto. Mereka benar-benar dibuat terpesona dengan penampilan Naruto. Hanabi dan Naruko memberikan jempol tanda mereka setuju dengan setelan tuxedo yang dipakai Naruto. Kushina dan Hikari saling menatap, dan mengangguk bersamaan.
Naruto yang melihat tanda setuju dari wanita-wanita tadi, kini megalihkan pandangannya ke tempat Hinata berdiri. Safirnya tidak berhenti berkedip saat menatap sosok cantik Hinata terbalut gaun cantik yang terlihat mempesona. Dalam hati Naruto, ia begitu mengakui bahwa Hinata benar-benar cantik dan cocok dalam balutan gaun tersebut. Gaun tersebut seolah-olah menunjukkan padanya bahwa Hinata adalah salah satu harta milik Kami-sama yang berharga. Hinata tampak berkilau di matanya. Tubuh mungil dan rampingnya terpampang jelas di matanya. Kulit seputih porselen indah miliknya. Aah… Naruto tidak tahu lagi harus menilai penampilan Hinata seperti apalagi sekarang. Yang jelas, jika ia ditanyai apakah Hinata cocok mengenakan gaun tersebut? Pria itu akan menjawab 'tentu saja'.
"Nah, kalian sudah selesai dengan fitting baju. Sekarang kalian lanjutkan saja dengan mencari cincin pernikahan. Aku sudah menghubungi pihak A Nds Jewerly jika kalian akan datang ke sana dan memilih cincin pernikahan!" Kushina berucap.
"Eh? Sekalian mencari cincin?" Naruto bertanya pada ibunya.
"Tentu saja, ttebane!" Kushina menjawab penuh antusias. "Kami akan melanjutkan dengan persiapan lainnya!" Kedipnya pada Naruko, Hikari dan Hanabi.
"L-Lalu bagimana dengan undangannya?" Hinata bertanya.
"Nee-chan tenang saja. Untuk undangan biar aku saja yang mengurusi. Kalian pergi saja, oke?!" Hanabi berucap semangat.
"Baiklah! Kami pergi dulu kalau begitu! Ayo, Hikari-san, Naru-chan dan Hanabi-chan!"
Kushina dan lainnya pun meninggalkan Naruto dan Hinata di sana. Keduanya saling menatap dalam diam. Lalu bersamaan mereka menghembuskan nafas pelan. Menuruti apa kata Kushina, mereka pun bergegas untuk melepas setelan gaun dan tuxedo yang mereka kenakan. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka selesai dan keluar dari boutique tersebut.
.
.
.
.
.
.
A Nds JEWERLY, 11.30 A.M.
.
Hinata dan Naruto tampak mengamati satu per satu deretan cincin pernikahan yang ada di sana. Naruto sebenarnya tidak begitu memperdulikan bentuk cincin seperti apa yang nanti ia kenakan pada pernikahannya. Ia sepenuhnya menyerahkan keputusan pemilihan cincin tersebut pada Hinata. Dan inilah akhirnya, gadis lavender tersebut kini sibuk memilih cincin untuk pernikahan mereka nanti. Diamatinya wajah serius Hinata, Naruto hanya menyunggingkan senyum kecil.
"Ah!" Hinata tiba-tiba berseru. "Aku coba lihat yang ini!" Hinata menunjuk salah satu pasangan cincin pernikahan.
Pegawai toko mengambilkan cincin yang dimaksud oleh Hinata. Pegawai itu mengambilkan cincin silver yang mana salah satunya berhiaskan ukiran-ukiran kecil seperti bentuk bunga sakura dan dipenuhi oleh berlian-berlian kecil. Sedangkan salah satu cincin yang menjadi pasangan cincin tadi, hanya polos tanpa ada hiasan seperti yang satunya. Naruto yang melihatnya hanya memangku dagu. Pilihan Hinata untuk memilih cincin tersebut tidak jelek juga.
"Bagaimana, N-Naruto-kun?" Karena masih belum terbiasa, Hinata mengucapkan nama Naruto sedikit ragu.
"Hm, bagus juga. Aku setuju saja jika kau memilih cincin itu!" Ia bergumam lirih mengiyakan.
"B-Benarkah?" Hinata kembali bertanya.
"Ya. Kurasa cincin tadi juga cocok untukmu. Akan telihat sangat manis di jarimu." Naruto menatap Hinata lembut.
Hinata yang mendengar pujian tersebut dari Naruto hanya menundukkan kepala. Menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar di seluruh area wajahnya. Dengan gugup, Hinata pun mengatakan pada pegawai toko bahwa mereka akan mengambil cincin tersebut. Sang pegawai toko hanya tersenyum kecil melihat Hinata yang salah tingkah akibat pujian dari Naruto. Menurutnya, melihat Hinata dan Naruto seperti pasangan muda yang baru saja menjalin hubungan antar kekasih. Sungguh lucu dan menggemaskan.
"Baiklah kami akan mengemasnya untuk Anda berdua." Sang pegawai toko pun mengambil sepasang cincin tadi untuk dikemas.
Kini tinggal Naruto dan Hinata saja yang ada di sana. Sembari menunggu pegawai tadi, Naruto dan Hinata hanya menghabiskan waktu untuk berdiam diri. Tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ingin salah satu diantaranya memulai percakapan kecil agar tidak terkesan hening. Namun, keraguan justru melingkupi. Alhasil, mereka tetap saja terdiam hingga sang pegawai tadi kembali dan membawa cincin mereka yang sudah dikemas rapi.
"K-Kalau begitu k-kami permisi." Hinata berpamitan sopan.
Naruto dan Hinata berjalan meninggalkan toko perhiasan tersebut. Keheningan yang ada di setiap langkah mereka semakin membuat Hinata gugup. Apalagi Naruto yang berjalan di sampingnya beberapa kali tanpa sengaja tangan mereka bersetuhan. Hinata yang sebenarnya merasa tidak nyaman, hanya diam saja membiarkan hal tersebut. Ia tidak terlalu berani jika mengatakannya dan lebih memilih berjalan di belakang Naruto, sama seperti apa yang selalu dilakukannya di kantor.
Naruto yang menangkap gelagat Hinata tersebut hanya mendesah. Entah ada angin apa, tiba-tiba tangannya tergerak untuk menggenggam jemari kanan Hinata yang kosong. Tentu saja hal tersebut mengagetkan Hinata. Wanita itu lantas menatap heran atasannya tersebut. Naruto yang mendapat tatapan penuh heran dari Hinata hanya diam saja dan tetap melanjutkan jalannya. Sebenarnya ia juga merasa cukup malu jika melakukan hal tersebut di depan publik seperti sekarang. Namun, kembali lagi. Ia seperti tak memperdulikan egonya tersebut dan hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan sekarang. Dan keinginannya saat ini yaitu menggandeng jemari mungil Hinata.
.
.
.
.
.
.
A WEEKS LATER…
.
ON WEDDING PARTY, HALL OF KONOHA HOTEL, 08.00 A.M.
.
Beberapa pasang mata tersebut tidak percaya dengan pandangan di depannya itu. Uchiha Sakura, Yamanaka Ino, Sehara Shion, Chibuya Tenten, Emi Takeda dan Kazuha Shirayuki menatap Hyuuga Hinata penuh dengan pandangan kaget, heran, dan yah, bercampur-campur. Keenam wanita itu seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Seorang Hyuuga Hinata yang mereka ketahui berstatus LAJANG alias JOMBLO, tiba-tiba saja mengumumkan dan menyebarkan undangan pernikahan. Jika mereka berenam adalah orang Korea, mereka pasti akan berteriak 'DAEBAK!' di depan Hinata. Dari keenam wanita tadi, justru dua diantaranya lebih kaget dua kali lipat. Emi dan Kazuha, rekan sekantor dan satu divisi dengan Hinata, justru tidak mengetahui jika rekannya itu menikah. Terlebih jika wanita lavender tersebut menikah dengan direkturnya sendiri. Sekali lagi. DENGAN DIREKTURNYA!
Hinata yang mendapat tatapan seperti itu dari sahabat-sahabatnya hanya tertawa lirih, penuh dengan rasa canggung. Mengerti dengan apa maksud dari tatapan mereka, Hinata hanya menatap ke arah lain, mencoba melarikan diri dari tatapan yang penuh dengan sirat akan penjelasan tersebut. Melihat Hinata yang melarikan diri seperti itu, membuat keenam sahabatnya itu mendesah pelan.
"Ne, setidaknya kau memberitahu kami jika kau berkencan dengan atasanmu sendiri, Hinata-chan…" Uchiha Sakura bersuara.
"Apa yang dikatakan Sakura itu benar, Hinata." Yamanaka Ino menimpali. "Kukira kau memang jones, ternyata kau justru berkencan dengan direkturmu sendiri!"
"Kalian benar-benar melakukan hubungan backstreet di belakang kami, Hinata-chan!" Emi menggeleng pelan. Dan Kazuha ikut mengangguk, mengiyakan ucapan Emi tersebut.
"G-Gomenasai… Minna…" Hinata tampak menyesal.
"Hah… Pokoknya sekarang, jangan ada hubungan diam-diam lagi ya, Hina-chan!" Tenten menatap sahabatnya itu. "Kami ini sahabatmu tahu!"
"Waah… Akan jadi seperti apa besok Senin keadaan di kantor?" Kazuha berusaha membayangkannya.
"Tentunya akan sangat heboh, Shirayuki-san…" Shion menanggapi pertanyaan retoris tersebut.
"Ah, kau benar, Sehara-san." Kazuha pun mengiyakan ucapan Shion.
Belum selesai para wanita tersebut mengungkapkan rasa penasaran mereka, pintu ruang tunggu pengantin wanita itu terbuka. Sesosok laki-laki dengan setelan tuxedo yang tampak gagah memasuki ruangan tersebut. Kedatangan calon pengantin pria tersebut secara tidak langsung menandakan bahwa mereka berenam harus meninggalkan Hinata sendirian bersama sang calon suami, Namikaze Naruto.
"Kami permisi dulu ya, Hinata-chan!" Sakura mengedipkan sebelah matanya.
Kepergian keenam wanita tadi menjadi perhatian Naruto. Setelah semuanya benar-benar keluar, kini yang ada di ruangan tersebut hanyalah Naruto dan Hinata. Lelaki tersebut mulai melangkahkan kakinya mendekati Hinata yang terlihat sangat cantik. Naruto menghamburkan diri untuk bergabung duduk di samping Hinata. Lelaki itu mendesah pelan. Hal tersebut tentu saja mencuri perhatian Hinata.
"Tak kusangka jika pernikahan begitu mendebarkan…" Naruto mulai angkat bicara.
"U-Uhm…" Hinata hanya mengangguk.
"Kau juga gugup?" Naruto kini menegakkan duduknya dan menatap Hinata.
"I-Iya…" Hinata menjawab lirih. "S-Sangat gugup…" Tambahnya.
"Yah… Namanya juga acara yang sakral. Hahaha…" Naruto tertawa hanya untuk menenangkan keadaan.
TOK TOK TOK…
Bunyi ketukan pintu membuat pasangan tersebut menoleh. Dapat mereka lihat jika pintu tergerak dengan sendirinya dan tak lama menampilkan seorang wanita cantik bersurai merah dengan balutan dress warna hijau berjalan mendekati Naruto dan Hinata. Senyum lebar terpampang jelas di wajahnya. Namun, ekspresi jahil tidak terlepas dari wajah cantiknya tersebut.
"Hehehe…" Wanita itu terkekeh pelan. "Tak kusangka aku menerima undangan pernikahan kalian secepat ini, Naruto, Hinata-san!"
"Yah, orang tua kami menginginkan agar pernikahan ini segera dilaksanakan." Jawab Naruto santai.
"Oh iya, ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian ya, Naruto, Hinata-san!" Wanita tersebut mengerlingkan mata kanannya.
"A-Arigatou, Karin-san…" Hinata menanggapi malu-malu.
"Aaah… Aku tidak sabar sebentar lagi akan memiliki keponakan lucu dari sepupu nakalku, Naruto. Kira-kira anakmu nanti seperti apa ya? Hmmph!" Karin menahan tawanya sembari membayangkan anak Naruto.
"Hoi, hoi! Jangan membayangkan yang aneh-aneh, Karin!" Naruto memperingatkan Karin.
"Hahaha… Gomen, gomen, aku hanya bercanda, Naruto!" Wanita tersebut tertawa lepas.
"Cih! Dasar kau ini…" Naruto mendecih pelan.
PIP… PIP… PIP… PIP… PIP…
Suara ponsel berbunyi. Naruto dan Hinata tampak keheranan dengan suara nada ponsel yang terdengar asing di telinga mereka. Keduanya lantas memandang Karin. Sang pemilik ponsel tersebut hanya menampakkan wajah sungkan. Dengan cepat, Karin mengambil ponsel dan mengangkat teleponnya.
"Ya, Mizuno-san, ada apa? ... Hm, aku? ... Aku ada di pernikahan Naruto dan Hinata, ada apa? ... Kesalahan apa?!" Kini mimik muka Karin berubah menjadi serius. Naruto dan Hinata yang menatapnya hanya memandang heran Karin.
"… A-Apa?!" Sudut mata Karin menatap Naruto dan Hinata bergantian. "B-Bagaimana bisa?! ... Kau yakin apa yang dikatakan mereka benar? … Ah, ya, aku mengerti. Hmm, jaa…~" Karin menutup teleponnya.
"Ada apa, Karin-san?" Hinata bertanya penasaran.
"Apa ada pasien yang mau melahirkan?" Kini Naruto juga ikut bertanya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari dua orang tersebut, Karin justru menelan ludah dengan susah payah. Kabar yang baru saja diterimanya tersebut cukup membuatnya merasa bersalah pada kedua orang di depannya itu. Ingin ia menyampaikan berita tadi, namun ia takut. Ia merasa takut jika mereka berdua akan kecewa dan berakibat dengan pembatalan pernikahan. Tetapi jika ia tidak mengatakannya dari sekarang, ia akan merasa menyesal kemudian hari. Dengan memantapkan tekad, Karin pun menarik nafas panjang.
"Naruto, Hinata-san, ada yang ingin kusampaikan pada kalian!" Karin menatap mereka berdua serius.
"Apa itu?" Naruto bertanya.
"Begini, sebelumnya aku meminta maaf pada kalian berdua." Karin memberikan jeda. "Etto… Apa kalian ingat dulu kalian pernah memeriksakan Hinata di klinikku?"
Keduanya mengangguk.
"Etto… Sebenarnya… terjadi kesalahan saat itu. Em, kurasa hasil pemeriksaan labolatorium Hinata telah tertukar dengan pasien lain. T-tadi, Mizuno-san b-baru saja mendapatkan kabar itu dari orang-orang labolatorium…" Karin yang menyesal tersebut, tak berani memandang mereka berdua.
"Bagaimana bisa Karin?!" Naruto menatap tajam Karin. "L-Lalu, tanda-tanda awal kehamilan Hinata itu bagaimana? Jika dia tidak hamil, kenapa ia memiliki tanda-tanda kehamilan seperti Nee-chan?!"
"I-Itu… stress dan ketidakstabilan hormon bisa berpengaruh, Naruto…" Karin berucap lirih. "Bahkan terlalu lelah juga bisa berpengaruh…" Imbuhnya.
Pasangan yang akan menikah tersebut diam membisu. Kaget dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Karin. Pikiran mereka mendadak kosong. Naruto berdiri kaku. Hinata yang juga berdiri di sampingnya, mendadak menjadi lemas dan terduduk di sofa. Karin yang mendapati ekspresi dari dua orang tersebut hanya semakin melontarkan kata maaf. Tidak tahu jika reaksi keduanya akan menjadi seperti ini.
"Karin…" Naruto berucap lirih setelah selesai dengan kekagetannya.
"Y-Ya…?"
"Bisakah kau meninggalkan kami berdua sendirian?!"
"Uhm, baiklah…" Karin pun beranjak dari situ, meninggalkan Hinata dan Naruto sendirian.
Sekarang yang tersisa hanyalah Naruto dan Hinata. Melihat Hinata yang terduduk dengan pandangan kosong, membuat Naruto ikut duduk di sampingnya. Safir Naruto membulat ketika tiba-tiba saja ia melihat bulir-bulir air mata menuruni pipi Hinata. Calon pengantin wanitanya itu menangis masih dengan tatapan kosong. Naruto yang melihatnya hanya merasa sedih dan sendu. Ingin ia mengucapkan satu atau dua kata yang mungkin bisa menenangkan wanita tersebut. Namun, ia merasa lidahnya sangat kelu sekarang.
"D-Direktur…" Hinata berucap lirih. "B-Bagaimana ini… hiks…" Ia menoleh dan menatap Naruto. "S-Semua keluarga k-kita menganggap a-aku hamil. Dan… dan… hiks… hiks…"
Hinata tak melanjutkan kata-katanya. Ia sudah menangis tersedu-sedu. Kedua jemarinya sudah menutupi wajah cantiknya yang penuh air mata. Tak tahu harus berucap apa, Naruto hanya menarik Hinata ke dalam pelukannya. Wanita itu masih menangis tersedu-sedu di dada bidangnya. Naruto yang mendengar isakan pelan Hinata, hanya semakin mengeratkan pelukannya.
"Hiks… m-mereka telah percaya a-aku hamil… hiks… a-aku harus bagaimana?" Hinata terisak.
"Tenanglah…" Naruto masih memeluk erat Hinata.
"Hiks… hiks… k-kurasa k-kita harus membatalkannya, D-Direktur!" Tiba-tiba saja Hinata berucap seperti itu.
Naruto yang mendengar ucapan Hinata barusan langsung saja menjauhkan Hinata dan menatap tajam wanita itu. "Apa maksudmu?!" Naruto bertanya serius.
"K-Keluarga Anda pasti akan menganggap saya p-penipu jika kita tetap melanjutkan pernikahan ini. M-mereka akan mengira… hiks… a-aku hanya memanfaatkanmu s-saja… d-dan… dan–"
CUP!
Ucapan Hinata terpotong karena tiba-tiba saja Naruto membungkam bibirnya dengan ciuman. Hinata hanya membelalakkan mata tak percaya. Seakan ia tenggelam dalam kekagetannya, Hinata hanya mampu diam saja sementara Naruto masih terus menciumnya lembut dan cukup lama. Naruto semakin membenamkan ciumannya secara dalam. Dan Hinata masih tidak menolak dengan apa yang dilakukan Naruto terhadapnya.
Perlahan Naruto menyesap lembut bibir Hinata dan menggigit pelan bibir itu. Hinata yang sedikit kesakitan tentu saja membuka mulutnya. Ini adalah kesempatan bagi Naruto untuk menjelajahi bibir ranum Hinata. Dengan cepat ia memasukkan lidahnya dan mengobrak-abrik isi di dalam mulut Hinata. Mengabsen satu per satu gigi rapi Hinata. Melumat dan mengajak lidah Hinata untuk saling beradu. Pertukaran saliva pun terjadi. Hinata yang awalnya diam saja, kini mulai sedikit demi sedikit membalas lumatan Naruto. Perlahan, tangannya terangkat dan mengalungkannya di leher Naruto. Mendapat respon seperti itu dari Hinata, tentu saja membuat Naruto semakin berani untuk melumat lebih dalam bibir Hinata. Ia kecup dan hisap bibir Hinata berulang-ulang. Hingga keduanya merasakan bahwa pasokan udara sangat mereka butuhkan. Naruto lantas melepas pagutan panasnya tersebut dan menempelkan keningnya pada kening Hinata.
"Hosh…" Naruto terengah-engah. "Kau tahu… Aku tidak mempermasalahkan jika kau hamil atau tidak." Bisiknya lirih.
"…"
"Bagiku, menikah denganmu, entah mengapa membuatku bahagia. Sungguh! Aku tidak tahu alasan pastinya. Namun satu hal yang kutahu, aku sangat menginginkanmu. Semenjak kejadian malam itu, aku tidak bisa melepaskan pikiranku terhadapmu. Aku selalu memikirkanmu. Bahkan di setiap tidurku, aku selalu bermimpi tentangmu dan menjelajahi tubuh polosmu di atas ranjang. Heh, terdengar sangat mesum, bukan?" Naruto terkekeh pelan. "Tetapi, aku benar-benar serius jika aku tidak bisa melepaskan perhatianku terhadapmu. Kau sudah membuatku kehilangan akal sehat setiap aku bersamamu. Sikap polosmu itu secara tidak langsung telah menghipnotisku. Memberikan candu padaku untuk terus dan terus memperhatikanmu dan berubah menjadi keinginan untuk memilikimu…"
"…"
"Kurasa… Aku sudah jatuh cinta padamu, Hyuuga Hinata…"
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Naruto tersebut sukses membuat Hinata membelalakkan mata. Kata-kata cinta dari bibir Naruto terngiang di kepala Hinata. Seakan ia tak percaya, jemari kanan Hinata mencubit jemari kirinya sendiri. Sakit. Ia merasakan sakit pada bagian yang dicubitnya barusan. Ini nyata. Ini bukanlah mimpi. Ciuman panas dan pernyataan dari Namikaze Naruto tersebut bukanlah khayalan Hinata. Dan kening lelaki yang menempel di keningnya juga bukanlah sebuah ilusi. Gadis itu berkaca-kaca. Kembali ia terisak dan kini jemarinya menutupi bibirnya. Tak tahu harus berucap apa lagi. Bulir air mata kembali jatuh. Ia menangis. Bukan tangis sedih seperti sebelumnya, tetapi lebih tepatnya adalah tangis haru.
Selama ini Hinata tidak menduga jika direkturnya itu begitu memikirkannya dan menyukainya. Apakah hal ini berarti bahwa perasaan suka dan cinta Hinata terbalas? Apakah Hinata harus mengakui jika saat ini dirinya begitu senang dan bahagia karena perasaannya tersebut terbalas?
"Jadi, maukah kau tetap melanjutkan pernikahan ini dan menerimaku sebagai suamimu serta nantinya akan mengandung dan melahirkan anak-anakku, Hyuuga Hinata?" Tanya Naruto lirih.
Dengan mengeluarkan segenap tenaga, Hinata berusaha menjawab pertanyaan Naruto. "Y-Ya! Ya! Aku sangat mau! Aku mau menikah denganmu, Naruto-kun!" Hinata berseru senang dan kini ia lebih memilih untuk membenamkan dirinya dipelukan laki-laki itu.
Naruto membalas pelukan Hinata dengan dekapan yang lebih erat.
"Aku juga sangat mencintaimu, Naruto-kun! Sangat, sangat, dan sangaaat mencintamu!" Aku Hinata.
"Ya… Aku tahu itu, Hinata…"
"K-Kau membuat make up dan lipstickku berantakan, Naruto-kun…" Hinata sedikit cemberut dalam dekapan Naruto.
"Hahaha… Tapi kau masih terlihat cantik dan seksi walaupun seperti itu!"
Dan mereka berdua pun tertawa bersama-sama.
.
.
.
.
.
.
Pernikahan Naruto dan Hinata berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan termasuk kerabat-kerabat mereka berdua tertawa bahagia atas pernikahan dua sejoli tersebut. Tak ayal banyak ucapan selamat berdatangan kepada Naruto dan Hinata. Keduanya tersenyum bahagia. Hingga sampai di penghujunga acara, semua orang masih tetap menghujani mereka dengan kalimat selamat. Kini tibalah saatnya bagi mereka untuk meninggalkan lokasi pernikahan menuju tempat istirahat mereka yang sebelumnya telah dipesan. Kedua pengantin tersebut melambaikan tangan bahagia ketika mobil pernikahan mejemput keduanya. Semua orang di sana membalas lambaian tangan Naruto dan Hinata. Aah, tak lama mobil yang mereka tumpangi mulai melaju pelan.
Dan kini, hanyalah tinggal Naruto dan Hinata di kursi penumpang belakang.
"Dan, apa kau bahagia, Nyonya Namikaze Hinata?" Naruto merangkul bahagia istrinya.
"Ya, aku sangaaat bahagia. Aku sangat bahagia karena memiliki suami sepertimu, Tuan Namikaze Naruto." Hinata membenamkan kepalanya di dada bidang Naruto.
"Hmm…" Naruto bergumam.
"Apa?" Hinata mendongak menatap suaminya.
"Kurasa dengan pernikahan kita sekarang ini, tidak akan ada lagi orang yang akan menanyaimu seperti, 'Hinata, kapan kau menikah?'. Hahahaha…"
Keduanya lantas tertawa dengan bahagia setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Naruto.
Ya, pertanyaan memuakkan tersebut tak akan Hinata dengar kembali. Pertanyaan yang selalu mengusiknya. Pertanyaan yang selalu menghantuinya. Kini pertanyaan itu telah pergi dari kehidupannya.
Ya, pertanyaaan 'Hinata, kapan kau menikah?' tidak akan ia dengarkan lagi.
Karena Hinata telah menemukan sesorang yang telah menghapus pertanyaan tersebut dari hidupnya. Dan orang tersebut adalah Namikaze Naruto. Lelaki yang dulu adalah direktur galak yang kini menjadi raja dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
.
.
Jeng jeng jeng…
Akhirnya fict HKKM ini telah usai… hehehe… XD
Yah, walaupun tak ada adegan lemonnya, namun adegan kissu tadi sudah tergolong lime bukan? Kalo imajinasi neko sih bilang itu sudah lime, soalnya neko ngerjain bagian kissunya itu sambil nyalain kipas angin sih… yah, rada-rada gerah gitu, nyehehehe…. XD
Baiklah, mohon maafkan neko jika berending seperti ini. Dan tidak memberikan kesan puas terhadap readers sekalian. Namun, dibalik cerita yang awalnya, em, erotis (?) ini, neko ingin memasukkan sedikit unsur-unsur romance drama di dalamnya. Dan, well alhasil jadinya seperti itu deh.
Okelah, neko berterima kasih sekali pada readers, reviewers, dan bahkan silent readers yang setia mengikuti fict HKKM neko ini. Neko sangat dan sangaaat berterima kasih sekali. Selain itu, motivasi-motivasi dari readers dan reviewers sekalian sudah memberikan neko penyemangat dalam mengerjakan fict HKKM ini. Beneran deh… :D
Dan mohon maaf pula jika ada mungkin saran untuk alur cerita yang tidak sesuai dengan harapan. Sekali lagi maaaaaf banget… Sebenarnya masukan dari para readers sempat neko pertimbangin loh. Tapi yah.. gitu deh… neko hanya ingin membuat alur cerita yang, em, mungkin tidak disangka dan tidak terduga sama sekali oleh readers. Jadi mohon maaf jika ending HKKM ini tidak sesuai dengan harapan readers sekalian. Oh iya, karena banyak request buat anak naruhina yg lahir, em, mungkin neko akan buat sequel HKKM ini. Yaah.. ditunggu saja yaa…
.
Yap, sekarang waktunya buat balas review bagi yang blm log in. Trus buat yang udah log in, silahkan baca pm masing2 yaa.. :D
Virgo24 : hehehe… kan neko awalnya pengen buat 1-2 shoots aja, em, untuk anak yg lahir mungkin di sequelnya yaa… :D
Hana : hahaha… semoga chap terakhir ini seru..
Semanggi : em, mungkin hamil belakangan.. oke ini udah lanjut..
Soputan : hehehe,,, thankyou soputan-san..
Guest 1 : ini sudah lanjut.. sudah nggak penasaran lagi kan? Padahal ini udah cepet lho dr update fict lainnya..
Ppai Daisuki : anoo.. sayangnya hina nggak jadi hamil, gomen, mungkin bolt blm saatnya lahir.. :D
Guest 2 : siaap.. ini sudah lanjut.. :D
Guest 3 : thankyou… :D
Guest 4 : hahaha… soalnya neko kepikirannya Cuma itu sih, hehehe… sayangnya kushi kena php sama naruhina :D
White kitsune : hahaha.. hina memang neko buat sepolos itu.,. :D oke ini sudah lanjut, yah, meskipun bolt harus antri di belakang.. :D
The bavarian : thankyouu… neko hanya ingin buat yg beda saja, trus masalah alur, neko lebih bisa menghayati yg alurnya sederhana gtu, tp klo terkesan aneh ya neko minta maaf.. neko mampunya masih segitu.. :D untuk perpanjang fic, emmm… nanti nggak sesuai sama konsep awal dong yg 1-3 shoots aja.. oke ini udah lanjut.. :D
Guest 5 : hehehe… disini hina neko buat agak beda saja, em, klo untuk perpanjang, mungkin d,sekuelnya.. :D
Boo : bukan, kakak naru itu naruko.. iya nak kau sangat polos #dibyakuganhinata,, neko awalnya mau ngebiarin sih, Cuma neko prihatin aja gtu klo ada flamer yg jelek2in ff orang lain dan tidak menghargainya. Kan bikin ff juga susah.. #numpangcurcolsekilas
Guest 6 : hahaha.. iya ya neko pikir2..
Xd : hehehe.. terlalu polos malahan.. :D dan akhirnya tetap berending :D
Naruhinatj : gpp kok, jd silent reader gak masalah juga sih yg penting menghibur, masalah kasih review neko hanya sangat berterima kasih.. :D ettoo… sepertinya neko lupa kasih tanda warning buat chap di atas.. hehehe.. :D
Guest 7 : oke ini lanjut..
Guest 8 : ini udah lanjut.. :D
Anon : tau nih hina, kau polos sekali.. #dibyakuganhina,, dan kehebohannya justru dipernikahan.. :D
White kitsune : tau tuh hina.. :D btw, yuhee, the witch itu apa ya? (maaf neko kudet), oiya, apa ini white kitsune yg review sebelumnya?
Ardnith : ini sudah lanjut, iya semoga menghibur dengan chap terakhir ini.. :D
Hikariaihime : dan akhirnya mereka bertemu.. :D
Aisawa : thankyou… ini sudah lanjut.. :D
Frans : sudah lanjut.. :D
Guest 9: ini sudah lanjut.. :D
.
Oke, neko sudah selesai menjawab review, etto…
Akhir kata, please review this last chap please? :D