Sasuke dan Sakura berciuman di dekat gedung olahraga sudah sepi pengunjung walau hanya beberapa guru-guru sedang melakukan rapat di dalam bersama anggota-anggota Osis lain. Mereka berciuman tak tahu tempat saling berpelukan tak kenal waktu—sudah menunjukkan waktu makan siang.
Lalu, di mana Shikamaru dan Temari?
Mereka berdua diboyong pergi oleh sekumpulan anak-anak Konoha St. President ke kantin sangat besar telah disediakan pihak sekolah. Mereka berdua akan mentraktir seluruh penghuni kelas-kelas dipadati siswa-siswa mulai dari kelas X, XI dan XII terkecuali guru-guru, yayasan sekolah, kepala sekolah dan pendonor dana untuk sekolah.
Untuk Osis, mereka akan ditraktir oleh Deidara pulang dari negeri disebabkan pertukaran pelajar satu semester. Mereka memang sudah berjanji lagi pula Deidara merupakan wakil Ketua Osis paling diminati dan bersahaja di tingkatan XII dan siswa terpandai setelah Pein.
Ciuman mereka selesai, Sasuke merapikan sehelai rambut Sakura berantakan di depan wajahnya dan menyampirkan ke belakang telinga. "Sudah lama sekali bisa melakukan beginian di dalam sekolah. Aku tidak menyangka," kata Sasuke memeluk tubuh mungil Sakura. "Aku selalu bermimpi kamu ada di sisiku."
Sakura tersenyum, mukanya merona. Netra tertuju ke kelopak mata hitam berkilauan, menyentuh rahang Sasuke. "Selama kamu ada di sini—selalu melindungiku, aku pasti akan baik-baik saja." Tangan Sakura meraih tangan Sasuke di pinggang, menuntun ke perutnya. "Anak ini juga akan melindungiku."
Lelaki itu mengelus perut masih rata milik Sakura, beralih duduk sejajar dengan tangan diletakkan di perut tersebut. "Halo, anak Ayah. Di sini Ayah akan melindungimu dan Bunda. Jadi, jangan nakal di sana."
Kelopak mata Sakura muncul titik-titik air bening, menetes di pipi. Sakura menghapusnya dan tersenyum, mengelus rambut Sasuke sangat disukainya. "Iya, Ayah. Di sini anak Ayah dan Bunda akan selalu melindungi Bunda," katanya berpura-pura mirip suara bayi.
Sasuke memeluk perut Sakura, menciumnya di sana. Sakura tertawa terbahak-bahak merasakan gelitikan di sekitar pinggangnya. Suasana itu sangat membahagiakan walau mereka beda usia.
Sementara itu di balik tempat persembunyian, decakkan kesal meliputi laranya. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya menggertakkan gigi. Nyalinya kian menciut melihat orang disukainya tertawa bersama orang dicintainya.
"Kamu tak akan kulepaskan, Sakura."
.
.
Question & Answer
.
DISCLAIMER: NARUTO belong to KISHIMOTO MASASHI
WARNING: High School version. Ada typo. Out of Characters. Deskripsi biasa. Alternate Universe. Genre: Romance, Fluff, Family, Friendship, Humor. Genre mendominasi adalah Mystery dan Romance.
.
Chapter 13: Policies?
.
.
Bandara Narita dipadati pengunjung hilir mudik di dalamnya. Ada mengejar keterlambatan penerbangan. Ada mengecek tiketnya di loket. Ada mengantar dan menjemput. Ada juga pengawas sembari menjaga keamanan. Di antara itu semua ada sekumpulan orang-orang berpakaian putih biru berjalan mendampingi sosok tak ditampilkan wajahnya akibat wajahnya tertutupi kantung berwarna hitam.
Semua pengunjung terheran-heran dibuatnya. Ada sekelompok orang aneh berpakaian sekolah mengantar sosok berjalan di lingkaran tersebut, menutupi wajahnya dengan kantung belanjaan.
Sesampainya di mobil, seorang pemuda berambut jingga sedang melipat kedua tangan dan kedua kaki tanpa menoleh, berbicara. "Kenapa baru sekarang kamu mengetahuinya?"
Suara disamarkan, namun khas di dalamnya memberikan kernyitan dahi Nagato selaku teman senasib Pein. Khas ini memang ciri-ciri orang itu, ciri-ciri sering ditampilkan dalam apa pun. Tapi, bukankah anak itu ada di dalam sekolah dan belum keluar karena bukan waktunya jam pulang?
"Aku tidak tahu, Pein!" decaknya sebal. "Tiba-tiba saja aku berubah kayak begini, bukan aku banget. Ini sih, mirip dia banget. Tampananku berubah layaknya pemuda berambut tebal, alis tebal dan bulu mata tebal. Kegantenganku punah!"
"Apa kamu merasakan aneh beberapa minggu ini?"
"Hmm ..." Sosok berkantung wajah itu berpikir keras. "Sebelumnya aku ada di sini, bukan di Negara sana. Seolah-olah aku berputar dan mendarat di Negara sana tanpa mengetahui kebijakan juga perizinan sekolah. Dia 'kan seharusnya belajar sekalian melanjutkan apa yang ditunda."
"Kenapa bisa wajahmu diubah?"
"Makanya aku minta kebijakanmu untuk mengatur, Pein. Kamu tahu aku berusia berapa, 'kan? Aku ini wakil kepala sekolah bukan siswa sekolah tengah melakukan pelajaran. Di sana saja aku tidak tahu mata pelajarannya apa, aku bukan semuda itu!" gerutunya memberikan pengarahan di balik kerutan kening Nagato.
"Ini bukan ulah salah satu pembuat ancaman itu?" tanyanya membalikkan tubuh setengah, menatap Pein dan wajah berkantung belanja. "Aku merasa orang yang merencanakan ini semua, tetap mengincar Sakura. Walau pun beberapa bulan lalu dia datang meraung-raung gara-gara Sakura dipinang oleh Sasuke-sensei. Sungguh tragis melihatnya."
"He? Balas dendam?"
"Lebih tepatnya, mengambil apa menjadi miliknya."
"Memangnya dia siapa?" tanya si pengemudi, tak lain adalah Hidan. "Dia 'kan hanyalah seorang berusia sama dengan Sakura dan teman masa kecil Sakura. Kukira dia sudah insyaf tak akan melakukan apa-apa lagi karena Sasuke-sensei memiliki Sakura seutuhnya. Lagi pula Sakura 'kan hamil akibat ulah Gaara. Hamil anak Sasuke-sensei, pula." Tepukan keras mendarat di kepala Hidan. "Sakiit, Nagato! Main pukul saja!"
"Itu mulut jangan suka bocor! Mulut itu harusnya ditutup rapat, bukan seperti ember bocor. Rahasia terbongkar di mana-mana." Desisan muncul di bibir Nagato. "Sepertinya mulutmu itu disegel saja supaya kamu tidak menyebarkan virus-virus terkontaminasi."
"Enak saja mulutku dibilang virus!" Jitakan kembali dilayangkan dan mendarat bebas tanpa hambatan. "Nagatoo!"
"Bukan mulutmu jadi virus, tapi tersebarnya kata-kata bisa dijadikan virus. Hati-hati kalau berbicara, nanti kamu kena getahnya dan aku tidak mau menjadi korban ikut-ikutan."
"Menyebalkan."
"Biarin!"
Pein dan sosok berkantung melihat pertengkaran itu Cuma bisa menghela napas dalam diam. Mereka berpikir keras siapa dalang di balik kejadian-kejadian tak terhindarkan. Sosok berkantung itu juga tidak mau memperlihatkan wajah sebenarnya meski tiga orang tersebut sudah mengetahui siapa di balik wajah berkantung tersebut, sangat menyerupai wajah itu.
.
.
Jam pulang hampir selesai. Guru Kimia, Orochimaru, telah menyelesaikan mata pelajaran dalam bentuk dingin dan kosong namun semua anak-anak di dalam kelas di mana Sakura dan kawan-kawan berada hanya bisa tersenyum melihat aksi diam Orochimaru sambil memberikan pelajaran tersulit setelah mata pelajaran Sasuke.
Semua penghuni rata-rata keluar setelah Orochimaru memberi salam kepada mereka. Yang tersisa dalam kelas hanya Naruto beserta kawan-kawan dan saudaranya, Gaara. Dan tiga anak gadis adalah Tenten, Sakura dan Ino. Juga terakhir, Kakashi sedang membereskan perlengkapan ke dalam tasnya.
Kakashi berdiri dan mendekati Sakura. "Pulang bersamaku, Sakura."
Sakura terkesiap mendengar ajakkan Kakashi begitu tegas dan tak ada sedikit pun rasa takut. Sakura berpikir keras untuk menolak. "Maaf, Kakashi, aku harus ke tempat Sasuke-sensei. Aku berniat pulang bersama dengannya."
Wajah kuyu dan kecewa muncul di mimic Kakashi, menghela napas. "Baiklah, Sakura. Semoga besok aku mengajakmu pulang dan—" Sebelum Sakura berbicara, Kakashi memotong. "—aku tidak mau ada penolakan."
Kakashi undur diri, meninggalkan kelompok orang heran pada sikap Kakashi yang bikin mereka curiga. Terutama Sasori dan Sasuke sedari tadi berdiri bersisian melihat Kakashi meninggalkan lantai dua di mana kelas X berada.
"Dia itu patut dicurigai, Sasuke."
"Seperti kamu katakan, Sasori."
Sasuke muncul di ambang pintu kelas, tersenyum kepada Sakura berlari ke arahnya kemudian memeluknya. Romansa indah itu mengirimkan Tenten bergelayut manja di lengan Kiba, memeluknya erat. Ino dan Sai tersenyum sambil melirik-lirik. Kasihan pada Sasori, Shino, Naruto dan Gaa—
"Sorry, aku punya calon tunangan," kata pemuda berambut merah berwajah datar. Naruto melotot lebar ke arahnya. "Dan, aku tidak mau mengatakan padamu karena aku tahu mulutmu dan pikiranmu sama seperti Hidan-senpai mirip ember bocor. Jadi, kamu tidak punya hak mendapatkan jawaban dariku, Naruto."
"Kamu kejam, Gaara." Naruto merunduk bersimbah air mata.
Pemandangan ini membuat mereka tertawa terbahak-bahak, terutama Sasori sangat tahu siapa gadis disukai Gaara.
Sasori menatap ke pembaca, mengedipkan sebelah mata. "Itu rahasia," katanya enteng.
[To be continued ...]
.
A/N: Yihaaa! Setiap alasan setiap kritikan, tentu saja akan saya jawab. Makasih buat si Raja Kadal, kritikan pedas benar-benar menyakitkan hati. Ternyata tahu apa saja kesalahan di cerita ini. Tapi karena koneksi internet tidak mendukung, saya biarkan saja seperti itu. Maaf ... :P
Makasih sudah R&R!
Sign,
Zecka Fujioka
08 Januari 2015
