SQUEL of Matchmaking

Special pake t-e-l-o-r Hunhan :3

Full Hunhan Moment

.

.

It's Miracle

By Lieya EL

.


Sinar matahari yang cerah menyembul melalui celah-celah jendela yang terbuka. Cahayanya yang penuh dengan kehangatan masuk dan menerpa kulit pucat lelaki bermata rusa yang kini tengah terlelap diatas ranjang king size miliknya. Dengan perlahan tubuh mungil Luhan – lelaki manis itu mulai menggeliat tak nyaman. Mata bulat bak rusa itu mengerjap-ngerjap hendak terbuka. Ketika binarnya terbuka sepenuhnya, seulas senyum tersungging dibibirnya yang pucat saat melihat sebuah lengan kekar yang tengah memeluknya dengan erat. Hatinya menghangat diikuti dengan pipinya yang mulai bersemu merah saat ia memberanikan memegang lengan itu.

Luhanpun mulai tersenyum sendiri dalam keterdiamannya.

Waktu menunjukkan tepat pukul tujuh pagi setelah Luhan melirik jam weker yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. Ugh masih terlalu pagi untuk bangun dihari Minggu– pikirnya. Lelaki bermata rusa itu kemudian membalikkan badannya agar berhadapan dengan sosok yang kini tengah memeluknya erat.

Jantungnya berdebar saat melihat sosok tampan nan indah yang tengah terlelap didepan wajahnya sekarang. Binar rusanya menelusuri setiap lekuk wajah yang bersih tanpa bercak noda sedikitpun itu terkagum. Uh, Betapa beruntungnya Luhan, memiliki sosok sempurna yang telah berada disisinya selama dua tahun ini – Yah, Suaminya. Suaminya yang sangat perhatian. Suaminya yang sangat menyayanginya melebihi apapun di dunia ini. Sosok pemimpin rumah tangga yang sangat bertanggung jawab dan menjadi Appa yang baik untuk dijadikan sebagai panutan anaknya. Oh Sehun, suaminya itu adalah anugerah terindah yang telah diberikan Tuhan untuk Luhan, selain putera kecilnya tentunya.

Oh, betapa Luhan sangat menyayangi keluarga kecilnya itu.

"Aku mencintaimu" gumam Luhan sembari merapatkan tubuhnya kedalam dada bidang sang suami.

"Aku tau" sahut suara seseorang yang kini tengah mengulas senyum tipis dibibirnya. Perlahan mata tajam yang tadinya tertutup itu kini terbuka. "Dan aku juga sangat-sangat mencintaimu" tambahnya kemudian merundukkan sedikit kepalanya untuk mengecup surai madu sang suami - ah sang istri lebih tepatnya.

"Maaf, apa aku membangunkanmu?" tanya lirih lelaki bermata rusa itu sembari mendongak menatap bersalah suaminya.

"Tidak" sergah Sehun sembari membelai surai madu Luhan "Aku memang sudah bangun dari tadi" tenangnya.

Luhan membalasnya dengan sebuah senyuman.

"Apakah ada yang sakit? Wajahmu terlihat pucat" tanya Sehun tiba-tiba. Luhan segera menggelengkan kepalanya setelah melihat wajah khawatir suaminya.

"Anio. Hanya sedikit mual seperti biasa" jawab Luhan dengan suara lemahnya.

"Mianhae" sesal Sehun kemudian mengeratkan pelukannya sembari mengecup pucuk kepala Luhan berkali-kali.

Dan sebuah bayangan yang terekam jelas di kepalanyapun berputar kembali, kala itu...

Seoul Hospital

Didalam ruangan bercat putih disertai dengan berbagai alat-alat medis yang tersusun rapi itu nampak sosok lelaki tampan berkulit pucat tengah berdiri tegang sembari memegang tangan kurus sosok lelaki cantik yang tengah terbaring disampingnya. Matanya yang tajam bergerak-gerak gelisah mengamati kegiatan sosok lelaki yang mengenakan pakaian serba putih didepannya dengan teliti.

Badannya sedikit berjengit ketika melihat sebuah pisau kecil yang sepertinya sangat tajam itu berada ditangan kanan sang dokter yang kini tengah bertugas. Lelaki berkulit pucat itu kemudian menatap khawatir sosok lelaki cantik yang kini menatapnya dengan senyuman tulusnya, memberitahu bahwa ia baik-baik saja. Sehun-lelaki pucat itu kemudian mengeratkan gengaman tangannya seolah-olah memberikan kekuatan pada suami cantiknya kemudian mengalihkan perhatiannya kembali mengamati sang dokter.

"Maaf, mungkin ini akan terasa sakit. Bertahanlah" kata sang dokter memberi tahu pasiennya. Luhan-sang pasienpun membalasnya dengan sebuah anggukan disertai dengan senyuman kepastiannya.

Setelah mendapatkan tanggapan dari pasiennya dokter itupun melanjutkan kegiatannya kembali. Dengan hati-hati ia menggoreskan pisau bedah itu keperut sang pasien.

"Ssshhh" desisi Luhan saat benda tajam itu mengenai perutnya. Meskipun separuh tubuhnya sudah dibius, namun rasa sakit itu masih terasa juga.

Sehun semakin menatap khawatir Luhan yang tengah meringis kesakitan sembari menutup matanya. Wajah Sehun berubah pucat saat melihat darah yang cukup banyak keluar dari perut Luhan "Dok-" Suaranya tercekat.

Dokter itu menghentikan sebentar kegiatannya, kemudian menatap Sehun penuh tanya. "Ap-a" Suara Sehun tergagap.

Ingin sekali ia menghentikan ini semua, sungguh ia tidak bisa melihat sosok yang sangat disayanginya itu tersakiti namun-

"Sehun-ah, aku baik-baik saja" gumam Luhan.

Sehun mengalihkan perhatiannya menatap Luhan "Biarkan dokter menyelesaikan pekerjaannya" pinta Luhan dengan suara yang lemah.

Sehunpun mengangguk mengerti kemudian sang dokter melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda itu kembali.

Tidak kuat melihat darah yang terus keluar dari perut sosok yang di cintainya itu, Sehunpun memilih untuk berlutut disamping ranjang Luhan mengecup tangan mungil yang tengah ia pegang erat itu berkali-kali sembari merapalkan doa.

"Bertahanlah sayang. Aku sangat mencintaimu" Ujar Sehun pelan.

Tanpa disadarinya sebuah cairan bening telah jatuh dari pelupuk matanya.

"Jangan menangis, Sehun" lirih Luhan saat merasakan cairan hangat yang mengenai tangannya "Aku baik-baik saja" tenangnya.

Sehunpun mendongak menatap sosok yang tengah tersenyum hangat kearahnya itu dengan sendu "Mianhae" Lirihnya sembari mengecup ujung tangan Luhan kembali.

Tiga jam telah berlalu. Sehun, Luhan, Dokter dan para suster yang bertugas telah keluar dari ruangan yang sangat menegangkan itu- ruang operasi. Tubuh Luhan yang tidak sadarkan diri akibat obat bius dan kelelahan itu telah dibawa keruangan pasien, sedangkan dokter yang menangani proses operasi Luhan tadi mengajak Sehun ke ruangannya.

Dan disinilah Sehun sekarang, duduk tepat didepan meja sang dokter dengan perasaan tegang.

"Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat, karena proses operasi berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun dan terimakasih karena sudah mempercayai kami" Ujar sang dokter memecahkan keheningan.

Sehun menatap dokter itu kemudian tersenyum kecil "Saya yang seharusnya berterimakasih pada anda, Dok. Terimakasih karena telah bersedia membantu kami" kata Sehun tulus.

Dokter bername tag Kim Myungso itu tersenyum ramah "Haha. Jangan terlalu sungkan untuk meminta bantuan pada sepupumu sendiri, Hun-a. Hyung akan selalu bersedia membantumu" timpalnya tak kalah tulus dengan suara non formal menghilangkan ketegangan.

"Ne. Terimakasih hyung. Aku akan sangat berhutang budi padamu jika semua ini nantinya berhasil" kata Sehun.

"Yah, semoga saja semuanya berhasil. Namun ada beberapa hal yang juga harus selalu kau ingat Sehun" Myungso menatap Sehun dengan sungguh-sungguh "Operasi penanaman rahim ini memiliki resiko yang tinggi dan akan sedikit mengganggu kesehatan Luhan. Kau harus selalu memantaunya agar tidak melakukan hal-hal yang berat, mungkin untuk beberapa bulan setelah operasi ini Luhan juga akan mengalami rasa mual yang berkepanjangan, karena tubuh Luhan masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kehadiran rahim buatan itu. Cukup konsultasikan dengan dokter dan kau tidak perlu panik ataupun menangis seperti tadi" kata Myungso dengan gurauan diakhir kalimatnya.

Sehun tersenyum simpul "Baik. Terimakasih" Ujarnya kemudian.

'Aku berjanji, Lu. Aku akan selalu berada disampingmu, menjagamu dan mencintaimu' batin Sehun.

.

Sejak saat itulah Sehun semakin overprotektif kepada Luhan. Tidak sedikitpun Sehun membiarkan Luhan melakukan pekerjaan yang akan membuatnya kelelahan. Bahkan acara antar dan menjemput Ziyupun Sehun sendiri yang melakukannya. Di sela-sela kegiatannya mengerjakan dokumen-dokumen kantor, ia akan meluangkan sedikit waktunya untuk menjemput Ziyu ataupun menengok suami cantiknya dirumah.

Ah, ada yang perlu kalian ketahui bahwa kini Sehun, Luhan dan Ziyu telah pindah ke Seoul dan semenjak saat itu pula semuanya telah berubah. Sehun dengan keinginannya menjadi guru itu telah kandas, pada akhirnya ia jugalah yang mengurus perusahaan Appanya. Sedangkan Yifan sang hyung, Ia telah mengurus perusahaan yang dibangunnya sendiri dan tinggal di China bersama keluarga kecilnya lalu mengalihkan semua tanggungjawabnya di perusahaan sang Appa kepada Sehun.

Lalu bagaimana dengan asrama yang dikelola Luhan di Pulau Nami itu?

Well, Luhan telah mempercayakannya kepada Kaisoo dan TaoHo agar mengurusnya.

Di Seoul, Luhan dan Sehun memutuskan untuk membangun rumah sederhana yang letaknya tidak jauh dari tempat Sehun bekerja sekarang.

Kenapa mereka memilih tinggal sendiri dan tidak bersama Tuan Oh ataupun Tuan Xi?

Jawabannya, karena mereka ingin hidup mandiri.

.

Mandi sendiri. Cari makan sendiri. Ngurus rumah sendiri dan tidurpun send-eh berpelukan dong. Mana bisa Sehoon tidur sendiri #bhak takutnya Mas Luhan ntar aku anuin xD

.

"Mianhae" sesal Sehun kemudian mengeratkan pelukannya sembari mengecup pucuk kepala Luhan berkali-kali.

"Hei, jangan meminta maaf seperti itu Hun-a. Bukankah kita sudah bersepakat melakukan ini. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, lagi pula aku baik-baik saja kan sekarang-ughphh" Secara tiba-tiba Luhan menutup mulutnya.

Luhan berkelit dari pelukan Sehun hendak bangun dan pergi ke kamar mandi, namun keinginannya terhenti saat tangan Sehun yang semakin mengeratkan pelukannya.

"Lepaskan-ugh dulu Sehun. Aku-hhugg ingin ke kamar mandi sebenbbghh-tar" Ujar Luhan susah payah menahan rasa mualnya.

"Tidak." Tolak Sehun "Kau akan kelelahan jika terus bolak-balik kekamar lalu ke kamar mandi" tambahnya.

Ah, rupanya sifaf ke-overprotektifan (ah, terlalu berbelit -_-) Sehun muncul kembali sekarang

"Tapi-uegg Sehun-gg-" Luhan menatap memelas suaminya.

"Muntahkan saja disini, aku akan membersihkannya nanti" tukas Sehun menghentikan penyangkalan Luhan.

"Aku tau kondisimu sedang tidak sehat hari ini, jadi jangan menolak keinginanku sekarang" Sehunpun bangkit dari tidurnya seraya membantu menegakkan tubuh Luhan yang lemas itu.

"Keluarkanlah. Jangan ditahan" kata Sehun sembari memijit tengkuk bagian belakang Luhan dengan pelan. Luhan sedikit menggeser tubuhnya agar mengarah kelantai kemudian dengan terpaksa mengeluarkan isi perutnya disana, karena jujur ia tidak bisa menahannya lagi sekarang.

"Huwoeekk...hwooeekk"

Seluruh makanan yang bersarang diperut Luhan, ia keluarkan kembali hingga tercecer mengotori lantai. Tanpa ada rasa jijik sedikitpun, Sehun tetap setia memijit tengkuk suami cantiknya dengan telaten dan sesekali mengusap sisa makanan yang tertinggal dibibir suaminya.

"Aku tidak tau jika efeknya akan berlanjut selama ini. Kata Myungso hyung hanya beberapa bulan setelah operasi, tapi ini sudah terlalu lama dan hampir setiap hari kau mengalaminya, Lu. Aku jadi ragu, Jika Myungso hyung itu seorang dokter hebat" gerutu Sehun sedikit mengejek.

Gerutuan Sehun terhenti saat Luhan mulai mengeluh

"Ugh, Sehun. Kepalaku pusing" lirih Luhan setelah selesai dengan acara muntahnya.

Sehun segera menghentikan pijatannya kemudian menyandarkan kepala Luhan didadanya lalu mengelus pelan kepalanya "Apa kau ingin berbaring?" Tanya Sehun.

Luhan menggeleng pelan "Anio. Aku ingin seperti ini saja" jawabnya sembari merapatkan tubuhnya ke dada bidang sang suami.

Setelah lima menit berlalu akhirnya lelaki bermata rusa itu terlelap di pelukan Sehun. Dengan sangat hati-hati Sehun membaringkan tubuh Luhan kemudian menyelimutinya.

Cup

"Aku mencintaimu" Sehun mengecup kening Luhan sebentar kemudian berlalu untuk membersihkan lantai kamarnya.


.

It's Miracle

By Lieya EL

.


Kruyuk... kruyuk... kruyuk...

Suara perut yang tengah keroncongan meminta di isi makan itu menggema di ruangan dapur keluarga Oh Sehun. Suara itu berasal dari perut sosok bocah kecil berusia enam tahun yang kini tengah duduk didepan meja makan sembari memegangi perutnya.

"Appa? Ziyu lapar, kapan masakannya jadi?" tanyanya penuh harap pada sosok Appa yang kini tengah berkutat dengan bahan-bahan makanan di meja dapur.

"Sebentar lagi sayang. Tunggu lima menit lagi, kay?" Kata sang Appa disela-sela kegiatannya memasukkan bumbu-bumbu kedalam wajan penggorengan.

"Sebenarnya Appa sedang memasak apa sih? Lama sekali" Keluh Ziyu sembari mengerucutkan bibirnya imut.

"Appa sedang memasak bubur untuk Baba dan nasi goreng untuk kita sayang, jadi tunggu sebentar, ne" kata Sehun memberi pengertian pada anaknya.

"Baba sakit apa, Appa? Kenapa Ziyu tidak boleh menemuinya?" Tanya Ziyu penasaran dan mulai merajuk karena tidak boleh bertemu dengan Babanya.

"Baba hanya kelelahan dan sedikit demam, Ziyu. Maaf Appa tidak bermaksud melarangmu bertemu Baba, tapi Baba memang harus beristirahat saat ini sayang" Ujar Sehun lembut kemudian menyodorkan sepiring nasi goreng didepan puteranya "Jha, makanlah" ujarnya.

Ziyu mengangguk dengan semangat kemudian mengambil sesuap nasi goreng lalu dimasukkan kedalam mulutnya "Emm, enak."Sehun tersenyum puas "Tapi masih enak buatan Baba" kata Ziyu kemudian tersenyum lebar. Seketika raut wajah Sehun berubah datar -_-.

Memang takdir lelaki tampan dan super manly seperti Sehun bukan berada didapur!

Meninggalkan putra kecilnya yang tengah berkutat dengan nasi gorengnya, Sehun lebih memilih kembali kedapur untuk melepas apron bergambar rusa milik suami cantiknya itu kemudian meletakkan ketempat semula.

"Tidak buruk juga" komentar Sehun setelah mencicipi hasil karya nasi goreng serta bubur yang dibuatnya.

Dengan semangkuk bubur dan segelas air putih ditangannya, Sehunpun meninggalkan dapur.

"Habiskan makananmu, Appa akan ke kamar Baba sebentar" Ujar Sehun.

Ziyupun mengangguk disela-sela kegiatan sarapannya sebagai tanggapan.

Cklek

Pintu berwarna cokelat itu terbuka menampilkan sosok tampan dengan kulit pucatnya tengah memasuki ruangan mendekati sosok cantik yang tengah terbaring dengan nyaman di ranjangnya. Sehun meletakkan bubur serta air yang dibawanya tadi diatas nakas. Tangannya dengan perlahan menelusuri bagian wajah yang terpampang dihadapannya itu dengan hati-hati.

Sehun merundukkan tubuhnya kemudian bebisik "Saranghae" ditelinga Luhan lalu mencium bibir lelaki bermata rusa itu cukup lama.

Setelah semua pengorbanan, cinta, serta kasih sayang yang tulus Sehun dapat kan dari suami cantiknya selama ini, Sehun telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membalasnya berkali-kali lipat nanti. Ia pastikan tidak akan pernah ada lagi tangis kesedihan di dalam kisah hidup keluarganya. Sehun pasti akan menjaga keluarga kecilnya ini dengan sepenuh jiwa dan raganya.

"Mmmhh" Lenguhan kecil keluar dari bibir Luhan yang masih terbungkam oleh bibir tipis Sehun itu.

Mata rusanya terbuka diikuti dengan deru nafas yang sedikit terengah saat ciuman panjang itu terlepaskan.

Bibir sehun melengkung keatas setelah melihat rusa cantiknya yang tengah mencebikkan bibirnya kesal "Mianhae, aku membangunkanmu ya?" Tanyanya sembari memasang wajah polos dan itu berhasil membuat bibir Luhan maju kedepan (?)"Ouch, sepertinya sayangku marah" kekeh Sehun

"Kau curang, Hun-a" kata Luhan sembari menatap sebal kearah Sehun.

"Itu karena kau terlalu lama tidur, sayang. Jha, ayo bangun" kata Sehun lembut kemudian membantu menegakkan tubuh Luhan agar bersandar pada kepala ranjang. "Sekarang waktunya makan" kata Sehun setelah mengambil mangkuk berisikan bubur diatas nakas tadi. Sehun menyendok nasi lembek itu kemudian sedikit meniup-niupnya sebelum menyuapkannya pada Luhan "Bilang aaa~"

Luhan mengikuti perintah Sehun untuk membuka mulutnya.

"Anak pintar" Kata Sehun setelah Luhan menerima suapannya.

"Aku bukan bayi Sehun. Kau tidak perlu menyuapiku" gumam Luhan disela-sela acara mengunyah makanannya.

"Siapa yang bilang kau bayi, hem? Aku menyuapimu karena aku ingin memanjakan istriku yang sedang sakit, bukan karena dia bayi" Kata Sehun tenang

Blush

Pipi Luhan merona. Setelah hidup hampir dua tahun lebih dengan Sehun, sejak itu pula Luhan telah mengetahui betapa hangatnya sosok yang terkesan dingin itu. Sehun selalu memperhatikannya, memanjakannya dan terkadang sosok itu juga sering sekali menggombal dengan kalimat-kalimat rayuannya.

"Apakah masih pusing?" Tanya Sehun sembari menatap Luhan dengan khawatir. Luhan menganggukkan kepalanya kemudian.

"Aku sudah menghubungi Myungso hyung agar memeriksamu. Mungkin sebentar lagi dia sampai" Ujar Sehun menenangkan kemudian mengelus pipi chubby rusanya dengan sayang.

"APPA~ PAMAN MYUNGSO DATANG!" Teriakan cempreng dari depan pintu kamar itu menghentikan aktivitas Sehun yang sedang menyuapi Luhan.

Cklek

"Maaf aku masuk tanpa permisi" Ujar sosok dibalik pintu itu seraya tersenyum ramah. "Apa aku mengganggu kalian?" tanyanya memastikan.

"Tidak hyung" jawab Luhan menampilkan senyuman hangatnya dibibirnya yang pucat.

"Kau tidak mengganggu hyung. Tapi kau terlalu lama, bahkan makanan Luhan sudah habis sekarang. Kau bilang akan sampai sebelum makanan Luhan habis, hem? Aku jadi ragu untuk mengandalkanmu" Ujar Sehun sedikit ketus.

"Tidak tidak hyung, jangan dengarkan perkataan Sehun. Dia hanya sedang lapar, makanya marah-marah tidak jelas" Ujar Luhan menengahi kemudian mencubit pelan perut Sehun dan dihadiahi sebuah tatapan tajam dari suaminya.

"Haha. Ada-ada saja kau Sehun. Jika memang kau sedang lapar, lebih baik kau segera makan agar tidak ada lagi korban pelampiasanmu" kikik Myungso.

"Ck. Diamlah hyung" Decaknya "Lebih baik kau segera periksa keadaan Luhanku sekarang" ujar Sehun kemudian.

Myungso menghentikan tawanya "Baiklah. Bisakah kau ehm menyingkir dari situ sebentar, Sehun" kata Myungso dan perkataannya itu berhasil membuat Sehun mendelik tajam kearahnya.

Siapa dia, berani-beraninya melontarkan kalimat seperti itu kepadanya? Menyuruhnya menyingkir dari sisi suami cantiknya, huh? – batin Sehun.

"Haha, aku hanya bercanda Sehun-a, jangan menatapku seperti itu. Wajahmu seperti singa yang akan mengeluarkan tanduknya jika seperti itu" gurau Myungso.

Sehun semakin mendelikkan matanya, Hell, memangnya ada singa yang bertanduk? Iya kali rusa yang memiliki tanduk.

Dengan sedikit tak rela Sehun menggeser tubuhnya, membiarkan Myungso mendekati Luhan yang tengah terbaring.

Myungso mengeluarkan alat-alat pemeriksaannya dari tas setelahnya ia mulai memeriksa denyut nadi serta tekanan darah Luhan.

"Semuanya normal" gumamnya "Bisakah kau angkat sedikit kaosmu, Lu?" pinta Myungso. Luhan mengangguk mengerti kemudian menyikap kaos yang dipakainya keatas.

Perhatian Sehun tak luput dari Myungso yang mulai memakai stetoskop ditelinganya kemudian menempelkan alat beruntung( beruntung bisa menjamah perut suaminya) itu keperut Luhan. Perasaannya mulai campur aduk saat melihat wajah Myungso yang mengkerut, apakah ada yang salah? Pikirnya.

Tak lama kemudian Myungso mulai melepaskan stetoskop yang dipakainya lalu memasukkan seluruh peralatannya ke dalam tas kembali.

"Bagaimana, Dok?" tanya Luhan penasaran.

"Kau memang beruntung, Lu" Jawab Myungso dengan senyuman hangatnya. Luhan mengerutkan keningnya tak mengerti atas perkataan Myungso.

"Bisakah kita bicara sebentar, Hun-a" Pinta Myungso dengan suara ramahnya, namun tatapan tajam ia layangkan kepada Sehun.

Sehun menggaruk tengkuknya yang tak gatal kemudian berjalan mengikuti Myungso keluar kamar.


Cklek

"Ada apa Hyung-Auch" Pekik Sehun sembari memegangi ujung kepalanya yang baru saja diberi hadiah jitakan ala Myungso. "Kenapa kau memukul kepalaku?!" Teriak Sehun tak terima.

Myungso tak mengindahkan pertanyaan Sehun kemudian menyidekapkan tangannya didepan dada "Kenapa kau tidak segera menghubungiku saat Luhan mulai merasakan keluhannya, eumm?" Tanya Myungso menatap tajam Sehun.

"Eh," Sehun menurunkan tangannya yang tengah mengelus kepalanya "Bukannya hyung yang bilang sendiri bahwa aku tidak perlu khawatir jika Luhan mengalami mual-mual ataupun pusing selama beberapa bulan karena rahim buatan itu belum bisa menyesuaikan dengan tubuh Luh-"

"Sudah berapa bulan Luhan mengalaminya?" Tanya Myungso memotong penjelasan Sehun.

"Eh...eum, hampir satu tahun. ah tidak enam bulan mungkin" Jawab Sehun setelah mengingatnya "Aku juga sempat bingung hyung, kau bilang hanya beberapa bulan. Aku pikir hanya 2 atau 3 bulan, tapi ini sudah terlalu lama. Atau mungkin kau salah mengambil kesimpul-"

"Luhan hamil"

"-an. APA?!" mata Sehun membola.

Myungso terkikik geli saat melihat wajah terkejut yang sangat menggemaskan milik sepupunya itu "Luhanmu hamil bodoh dan usia kandungannya sudah memasuki bulan ketiga" katanya sok ketus.

Sehun melangkah mendekat kearah Myungso kemudian memegang pundanya dengan erat "Kau tidak berbohong kan, hyung?" tanyanya memastikan, dengan lekat mata tajam itu menatap Myungso dengan penuh harap.

Myungso mengangguk pasti kemudian tersenyum tulus kearah Sehun "Ne. Aku tidak berbohong, Hun-a"

"Gomawo" Sehun mememeluk erat tubuh Myungso "Gomawo, gomawo, gomawo" katanya mengucapkan terimakasih berulang kali.

Myungso tersenyum turut merasakan perasaan bahagia sepupunya yang akan segera menjadi ayah. Dengan sangat lembut ia menepuk pundak Sehun "Temuilah dia" Sehun mengangguk dalam pelukannya "Terimakasih, hyung" Sehun membungkuk kearah Myungso kemudian dengan penuh rasa haru dan mata yang memerah lelaki berkulit pucat itu memasuki kamarnya dengan tergesa.

"Hah, bocah itu" decak Myungso. "Ah, Ziyu-ya" Panggil Myungso saat melihat bocah berusia enam tahun yang hendak menuruni tangga.

Ziyu menghentikan langkahnya kemudian berlari kecil ke arah Myungso "Ada apa paman?" Tanya Ziyu dengan wajah polosnya.

Myungso berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Ziyu kemudian mengulurkan sebuah kertas kearah Ziyu "Tolong berikan ini pada Appamu, ne" pinta Myungso.

Ziyu mengambil kertas itu dengan kening yang mengkerut lucu "Ini apa, paman?"

Myungso mengusak surai hitam Ziyu dengan sayang "Itu resep obat dan vitamin yang harus ditebus Appamu diapotek" Jawab Myungso. Ziyu mengangguk mengerti sembari melihat-lihat tulisan rumit yang kurang dipahaminya itu.

"Ziyu" Panggil Myungso mengalihkan perhatian bocah berusia enam tahun itu "Selamat ya" tambahnya.

Mata bulat yang mirip dengan milik Luhan itu mengerjap "Selamat untuk apa, paman?" tanyanya.

"Selamat karena sebentar lagi keinginanmu untuk memiliki adik akan terkabul" Jawab Myungso dengan senyuman lebarnya.

Kerjap

Kerjap

Kerjap

"BENARKAH?!" Tanya Ziyu antusias "Benarkah, paman? Ziyu akan segera memiliki adik kecil?" Tanya bocah itu. Kedua tangan kecilnya memegang pundak Myungso dengan erat. "Emm" gumam Myungso sembari mengangguk.

"YEAY! AKHIRNYA ZIYU PUNYA DONGSAENG!" Teriak Ziyu bersemangat sembari mengangkat kedua tangannya keatas.

Cup

"Terimakasih paman" Ujar Ziyu seraya mengecup pipi Myungso kemudian berlari memasuki kamar orang tuanya.

"Hah, Anak itu sama saja" decak Myungso kemudian memasang senyum kecil dibibirnya.

.

.

.

"Terimakasih sayang, karena sudah memberikan kesempurnaan bagi keluarga kita"

Gumam Sehun sembari mengecupi seluruh wajah Luhan bergantian dengan Zziyu yang juga melakukan hal yang sama.

"Terimakasih Baba, karena sudah memberikan Ziyu dongsaeng"

"Saranghae!"

Teriak Sehun dan Ziyu secara bersamaan kemudian berhambur memeluk tubuh Luhan dari samping kiri dan kanan.

Senyum bahagia terpancar di wajah Luhan.

"Terimakasih Tuhan" batinnya

Puji syukur ia sampaikan kepada Tuhan yang telah memberinya sebuah keajaiban ini. Memberinya kepercayaan untuk menjaga buah hati yang kini tumbuh diperutnya.

"Aku juga sangat menyayangi kalian"

Ujar Luhan kemudian membuka lebar lengannya untuk mempermudah kedua jagoannya agar bisa lebih leluasa memeluknya.

"Jika nanti dedek bayi lahir Ziyu yang akan memberikannya nama, ya Baba?" Pinta Ziyu tiba-tiba.

" Ziyu mau memberinya nama siapa?" Tanya Luhan antusias.

"Jika dedek bayi perempuan, Ziyu akan memberinya nama Oh Mira"

"Oh Mira?" Sehun menaikkan alisnya.

"Iya, Appa. Mira adalah gadis yang sangat cantik. Dia teman sekelas Ziyu disekolah. Ziyu memberi nama dedek bayi Oh Mira agar cantik seperti Mira, teman sekolah Ziyu, hehe."

Luhan terkikik geli mendengar penjelasan putranya, sedangkan Sehun tengah menyunggingkan smirkynya. Taulah apa yang ada dipikiran si mesum itu -_-

"Lalu jika laki-laki, Ziyu akan memberinya nama siapa?" Kini giliran Sehun yang bertanya.

"Eum" gumam Ziyu sembari memikirkan nama yang kira-kira tepat "Oh Yuhan"

Kening Sehun dan Luhan mengkerut "Oh Yuhan?" Tanyanya bersamaan.

"Iya. Oh dari marganya Appa, Yu dari nama belakang ZiYu dan Han dari nama belakang Baba. Jadi nama kita bertiga akan dipakai dedek bayi, hehe"

"Astaga. Bocah ini"

Sehun dan Luhan yang gemas dengan tingkah putra sulungnya itupun mencubit pipi chubby Ziyu secara bersamaan.

"Yak! Sakit Appa! Baba sakit!" Teriaknya protes.

.

Real End!

.


Cinta datang secara tiba-tiba, karena manusia tidak akan tau kapan datangnya cinta.

Cinta tumbuh karena terbiasa, berawal dari kebiasaan yang sulit dilupakan. Entah itu kebiasaan apa. Bisa jadi, biasa berantem? Gak ketemu sehari jadi kangen. Biasa bertemu? Gak ketemu sehari jadi rindu. hoho

Dan Cinta sejati juga akan berakhir dengan bahagia


Jangan bilang masih pada belum puas -_- dan minta lagi, Lieya udah kehabisan anu buat buat dimasukin tau(?) jadi cukup sampe disini aja ya wkwkwkw... tapi ntar kalau ada anu jatoh dari sana(?) mungkin aku tambahin 1 chapter spesial ngidamnya Luhan + ENCEH #Plak tapi enggak janji loh ya~ SEE YOU.

REVIEW?