Konoha no Nichijou

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Family/Humor

Pairing: NaruHina

Chapter 3 : Ulang Tahun Hinata

"Hmm...sebentar lagi rupanya," gumam Naruto.

Uzumaki Naruto, sang Hokage ketujuh tengah sibuk memandangi kalender yang tergantung di dinding rumahnya. Wajahnya yang nampak serius menandakan kalau dia sedang menggunakan otaknya untuk berpikir. Walau nampaknya bukan mengenai masalah yang berhubungan dengan desa.

"Tou-chan, apanya yang sebentar lagi?" tanya Himawari sembari menarik jubah Hokage Naruto, putri kecil Naruto yang satu ini memang selalu ingin tahu.

"Hari yang istimewa Himawari-chan, hari ulang tahun Mama," kata Naruto dengan tersenyum.

"Ulang tahun?! Ka-kalau begitu kita harus merayakannya kan, Tou-chan?" ujar Himawari antusias.

"Em, tentu saja, dattebayo!"

"Eh? Siapa yang ulang tahun? Aku mau ikut ke pesta dan makan gratis!" ujar Boruto yang mencuri dengar.

"Boruto, ulang tahun itu adalah hal yang paling menggembirakan dalam hidup seseorang. Kau tidak boleh hanya memikirkan dirimu sendiri seperti datang ke pesta hanya untuk makan gratis, setidaknya kau harus memberinya hadiah," nasehat Naruto yang sweatdrop melihat kelakuan putra pertamanya yang persis seperti dirinya dulu.

"Iya, iya, aku juga mau kasih hadiah kok! Memangnya siapa sih yang ulang tahun?"

"Kaa-chan, sebentar lagi sih. Kalau tidak salah tanggal 27 Desember."

"Wuah! Sebentar lagi kan?! Kalau begitu kita harus mempersiapkan pesta dan hadiah kejutan untuk Kaa-chan!" seru Boruto bersemangat.

"Itu yang sedang kami bicarakan daritadi, dasar kau ini. Nah sekarang berikan Tou-chan ide mengenai hadiah yang cocok untuk Kaa-san kalian."

"Himawari, Mama sangat senang dengan Himawari!" seru Himawari bersemangat.

"Hi-Hima-chan, Tou-chan tahu kamu itu anak yang manis dan cantik, tapi jangan juga terlalu narsis seperti itu dong. Masa hadiah untuk Mama itu kamu, kan tidak lucu," ujar Naruto sambil mencubit pipi Himawari dengan gemas.

"Bu-Bukan begitu! Maksudnya bunga Himawari! Mama kan suka sekali dengan bunga itu!" ujar Himawari sambil melepaskan diri dari cubitan sang ayah.

"Ooh begitu, Tou-chan kira kamu sudah jatuh ke lembah kenarsisan seperti Sasuke Oji-san itu," kata Naruto sambil tersenyum garing.

Sementara itu di tempat lain...

"Acho! Sial, pasti ada yang membicarakanku saat ini! Yah, memang sudah jadi resiko orang terkenal sih!" kata Sasuke cuek sambil melanjutkan perjalanannya.

Kembali ke keluarga Uzumaki...

"Tapi darimana kita bisa mendapat bunga matahari di musim seperti ini ya?" tanya Naruto bingung.

"Iya darimana ya?" Himawari nampaknya juga kebingungan.

"Ada usulan lain selain bunga?"

"Cinnamon rolls! Mama kan sangat menyukainya!" seru Himawari lagi.

"Ah iya, benar juga!" sahut Naruto.

"Ra-Ramen!" timpal Boruto.

"Jangan menyebutkan nama makanan kesukaanmu sendiri di saat seperti ini Boruto!" Jdak! Jitakan Naruto melayang ke kepala Boruto.

"Mama juga suka dengan zenzai, lalu udang dan juga kepiting!" seru Himawari lagi.

"Himawari-chan, kenapa dari tadi kamu terus menyebut makanan kesukaan Mama? Masa kita mau memberi Mama makanan sebagai kado ulang tahun? Memangnya tidak ada yang lain?"

"Eh? Memangnya kenapa? Tidak boleh ya?" tanya Himawari polos.

"Bukannya tidak boleh, hanya saja sepertinya kurang baik dan lagipula semua nanti akan dimakan oleh Onii-chanmu yang rakus itu," ujar Naruto sambil menunjuk Boruto.

"Apa sih?! Tou-chan tuh yang bakal menghabiskan semuanya!" kata Boruto tak mau kalah.

"Apa!?"

"Hei, hei, sudah jangan berkelahi. Memangnya meributkan apa sih sampai segitunya?"

Kata Hinata melerai, dia baru saja dari dapur setelah selesai memasak sarapan untuk pagi hari itu. Senyuman dan suaranya yang lebut itu tak pernah gagal untuk membuat seorang Uzumaki Naruto untuk selalu jatuh cinta padanya.

"Himawari-chan, bisa bantu Mama sebentar?" kata Hinata pada Himawari. Himawari pun segera berlari ke dapur, membawakan makanan yang masih tertinggal.

"Memangnya ada apa sih tadi?" sambung Hinata.

"Masa kata Tou-chan, aku bakal menghabiskan makanan yang disiapkan untuk ul...Hmpf! Hmpf!"

Mulut ember Boruto langsung ditutup paksa oleh Naruto agar tidak membeberkan rahasia pesta dan hadiah kejutan untuk Hinata.

"Ada apa sih? Kok sepertinya mencurigakan sekali?" tanya Hinata menyelediki.

"Bu-Bukan apa-apa kok! Iya kan Boruto? Aku bilang padanya kalau dia akan menghabiskan semua sarapan yang ada karena lelah sehabis berlatih shuriken denganku! Iya kan?" tanya Naruto pada Boruto sembari memberi tatapan teror ala Yamato.

"I-Iya!" jawab Boruto mengangguk takut.

"O-Oh begitu, selamat berjuang dengan latihannya ya," ujar Hinata dengan senyum manisnya.

"Ba-Baik!" jawab mereka berdua yang terpesona dengan senyuman manis Hinata.

Konoha no Nichijou

"Hinata, ada yang kau inginkan tidak akhir-akhir ini?" tanya Naruto di sela-sela saat sarapan.

"Emm...aku rasa sih tidak ada, kalaupun ada mungkin hanya ingin melihat Boruto mendapat nilai sempurna saat ujian di akademi," kata Hinata sambil menatap putranya itu.

"Eh? I-Itu mustahil Kaa-chan! Aku tidak mungkin dapat nilai sempurna, bahkan jika belajar semalaman!" sahut Boruto.

"Iya itu benar Hinata, bahkan bagi dewa sekalipun tidak mungkin mengabulkan permohonanmu itu," ujar Naruto pesimis.

"Yah, padahal aku ingin sekali seumur hidup melihat Boruto mendapat nilai sempurna."

"Hinata, tidak ada yang lain?"

"Apa ya? Kalau ditanya seperti itu malah jadi bingung? Ngomong-ngomong kenapa malah bertanya begitu sih? Kalian sedang merencanakan sesuatu ya?"

"Ti-Tidak kok! Ha-Hanya iseng saja, iya kan?" Naruto berusaha memberikan kode dengan kedipan matanya pada Boruto dan Himawari.

"Tou-chan matanya kenapa? Kelilipan?" tanya Boruto polos.

Brak! Pertanyaan polos Boruto barusan sukses membuat Naruto jatuh dari kursinya dengan tidak elitnya.

Konoha no Nichijou

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, itu adalah waktu dimana Hinata biasanya berbelanja untuk makan malam. Naruto melihat ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengikuti Hinata, dengan begitu dia bisa mengetahui barang apa yang cocok untuk dijadikan hadiah untuk ulang tahunnya. Begitu Hinata keluar dari rumah, Naruto, Boruto dan Himawari langsung bersiap melakukan misi rahasia ini.

Pemberhentian pertama adalah toko bunga Yamanaka, toko bunga yang dikelola oleh Ino dan keluarganya. Hinata sering sekali mampir disini, sekedar membeli bunga ataupun mengobrol mengenai keluarga mereka. Nampaknya Hinata sangat senang berbicara dengan Ino, mereka mengobrol selama hampir 30 menit. Hinata sepertinya meminta tolong sesuatu pada Ino dan sepertinya Ino menyanggupinya. Setelah itu dia keluar dan melanjutkan perjalanannya.

Tak membuang waktu, Naruto segera berlari masuk ke toko bunga dan bertanya pada Ino mengenai pembicaraan mereka barusan.

"Ino, barusan kau membicarakan apa dengan Hinata?!"

"Eh, tumben kau mampir ke sini Naruto? Aku kira kau sedang sibuk dengan tugas Hokage," ujar Ino.

"Sudahlah itu tidak penting! Cepat ceritakan saja!" desak Naruto.

"Dasar kau ini, selalu saja memaksa! Baiklah akan kuberitahu, Hinata tadi menanyakan apakah dia bisa mendapatkan bunga matahari dimusim seperti ini. Lalu aku berjanji padanya akan membantunya, tokoku kan punya rumah kaca khusus. Jadi aku tidak kesulitan memperolehnya, ya meski tidak sebanyak musim panas sih."

"Ino, aku boleh meminta semua bunga mataharimu! Nanti jika Hinata datang meminta, katakan saja tidak ada!" pinta Naruto.

"Eh? Kok begitu, memangnya ada apa?"

Naruto akhirnya menceritakan tentang rencananya memberi pesta kejutan ulang tahun untuk Hinata dan akhirnya Ino pun menyanggupi untuk ikut serta dalam rencananya tersebut. Setelah itu Naruto akhirnya pamit dan kembali mengikuti Hinata.

Pemberhentian Hinata yang kedua adalah rumah Kiba dan Tamaki yang dipenuhi dengan anjing dan kucing peliharaan mereka. Disana, dia, Kiba dan juga Shino yang entah kapan datangnya nampak mengobrol dengan akrab. Walau saat ini mereka sudah jarang mengerjakan misi berkelompok lagi karena kesibukan masing-masing, mereka bertiga masih tetap akrab seperti saat di tim 8 dan Kurenai dulu. Tamaki juga nampaknya tidak keberatan mendengarkan kisah masa lalu mereka bertiga, dia juga sesekali menanggapinya. Setelah selesai bernostalgia sedikit Hinata kembali melanjutkan perjalanannya.

Naruto dan pasukannya pun melakukan hal yang sama seperti saat dengan Ino, dia meminta bantuan Kiba dan Shino untuk menanyakan hadiah yang cocok untuk Hinata. Setelah mendapatkan informasi yang diinginkan mereka pamit untuk kembali menguntit Hinata.

Hinata akhirnya berhenti ditempat tujuannya, yaitu toko daging Konoha. Dia sepertinya berencana untuk memasak sukiyaki untuk makan malam. Ketiga penguntit kita bisa membayangkan betapa nikmatnya makan malam nanti dengan air liur yang menetes dari mulut mereka masing-masing. Ketika tengah berbelanja, dia tak sengaja bertemu dengan Haruno Sakura dan juga Sarada yang juga berbelanja di toko itu. Mereka nampak mengobrol santai. Sementara Sarada menatap Hinata dan menunggunya berhenti mengobrol dengan Mamanya, kemudian dia menarik lengan baju Hinata.

"Oba-san, kenapa Naruto Oji-san dan yang lain menemani berbelanja dengan sembunyi-sembunyi begitu? Seperti stalker saja," kata Sarada dengan polos.

"Kamu tidak pantas bilang begitu Sarada!" ujar Boruto dan Naruto kompak, sekaligus mengakhiri misi penguntitan mereka.

"Mou, kalau mau menemani berbelanja kan tidak usah sembunyi-sembunyi begitu. Untung saja ada Sarada-chan yang memberitahu," Hinata berkata sambil memeluk Himawari yang nampaknya sangat nyaman berada di sana.

"Justru karena ada Sarada, rencana kami jadi hancur berantakan!" ujar Boruto dan Naruto membatin.

"Ya ha-habisnya kan tidak seru kalau menemani secara terang-terangan, iya kan Boruto?" kata Naruto mencari alasan.

"I-Iya, aku kan ingin berlatih seperti shinobi sejati seperti Tou-chan!" sahut Boruto.

"Yasudahlah kalau begitu. Oh iya, malam ini Mama akan memasak sukiyaki untuk semua. Jadi siap-siap puas kekenyangan ya!"

"Sukiyaki! Himawari sangat suka sukiyaki!" teriak Himawari bersemangat.

"Sukiyaki banzai!" kata Naruto dan Boruto kompak.

Konoha no Nichijou

Hari ini adalah hari ulang tahun Hinata, Naruto dan yang lain sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna. Namun yang jadi masalahnya adalah, bagaimana cara menyiapkan pesta yang Hinata sendiri tidak menyadarinya. Berkat semalaman tidak tidur, akhirnya Naruto mendapat ide cemerlang.

"Hinata, bagaimana kalau kita keluar? Cuacanya sedang bagus loh?" ajak Naruto.

"Eh? Sekarang? Kalau begitu biar aku memberitahu Himawari dan juga Boruto untuk bersiap-siap..."

"Tidak usah, aku hanya ingin kita berdua saja. Lagipula, kita kan sudah jarang berdua semenjak Boruto dan Himawari lahir."

"Eh? Ka-Kalau begitu se-seperti kencan saja dong? A-Apa kita masih pantas untuk melakukan hal itu?"

"Tidak usah memikirkan pantas atau tidak? Yang penting hari ini kita bersenang-senang saja dulu."

"Tapi anak-anak?"

"Aku sudah meminta Fukasaku Jii-chan dan Shima Baa-chan untuk menjaga mereka. Tenang saja, mereka berdua itu sangat pandai dalam mengurus anak-anak."

"Ta-Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian, kita berangkat. Anak-anak jaga rumah dengan baik ya, Tou-chan dan Kaa-chan akan berkencan sebentar. Aku serahkan pada kalian!" ujar Naruto pada Himawari dan juga Boruto.

"Siap!" jawab keduanya kompak.

Naruto dan Hinata memang sudah lama tidak jalan berdua semenjak anak-anak mereka lahir, ditambah lagi saat ini Naruto disibukkan oleh tugas-tugas Hokage yang semakin mempersempit waktunya dengan sang istri. Jadi ini adalah kesempatannya untuk menebus waktu-waktu yang hilang itu, yah bisa dikatakan sesuai peribahasa, sekali dayung satu dua pulau terlampaui. Walau ini adalah sebuah kegiatan yang terencana, tapi Naruto sendiri belum memikirkan tempat tujuannya, jadi dia masih bingung menentukan tempat untuk menghabiskan waktu berdua dengan sang istri.

"Kita mau kemana Naruto-kun?" Hinata bertanya pada suaminya.

"Kemana ya? Aku juga bingung, soalnya kita sudah lama tidak jalan berdua seperti ini sih. Aku jadi gugup, haha," Naruto tertawa menutupi rasa canggungnya dan Hinata seperti biasa, wajahnya merah karena tersipu-sipu.

"Ah! Aku tahu! Bagaimana kalau ke Ichiraku saja? Kau sudah lama tidak makan ramen Ichiraku kan, Hinata?"

Seperti yang sudah diduga, usul Naruto selalu sederhana, tidak jauh-jauh dari kata ramen.

"Ah iya, aku sudah tidak sabar lagi!"

Memang sih tidak butuh waktu lama perjalanan ke Ichiraku, tapi genggaman tangan Naruto yang erat sepertinya sudah membuat Hinata sesak nafas daritadi karena bahagia. Sepertinya dia harus membiasakan diri lagi dengan hal-hal seperti ini.

"Irashaimase! Aah ternyata tamunya Hokage kita dan istrinya yang tercinta ini, Ayame siapkan yang spesial seperti biasa!" Teuchi memberi salam kepada kedua pelanggan tetapnya itu.

"Baik Tou-san!" kata Ayame.

"Wah, wah, kalian ini setiap hari semakin mesra saja ya. Persis seperti orangtuamu dulu Naruto!" kata Teuchi menggoda mereka berdua.

"Aah Occhan sudah cukup! Jangan menggoda kami lagi, tidak lihat tuh wajah Hinata yang semakin memerah."

Perkataan Naruto tadi refleks membuat Hinata langsung menutupi wajahnya dan berkata, "Me-Memangnya semerah itu ya?"

"Haha, aku kan cuma bercanda tadi Hinata. Jangan dianggap serius, tapi wajahmu memang memerah kok," sambung Naruto lagi.

"Mou Naruto-kun jangan menggodaku terus!"

"Hei, hei sudah! Jangan bermesraan terus, lebih baik makan saja ramen kalian," kata Ayame sambil membawakan pesanan mereka berdua.

"Wah Ayame Nee-chan memang yang terbaik! Ittadakimasu!" seru Naruto sambil menyantap ramennya.

"Wah enaknya, a-aku boleh minta semangkuk lagi?" kata Hinata dengan nada malu-malu. Wajar saja sih, dia baru saja menghabiskan ramen ukuran dewasa hanya dalam hitungan detik, bahkan Naruto sendiri tidak menyangka selera makan ramen istrinya itu.

"Hi-Hinata, yang benar saja? Kamu baru saja menghabiskan ramen ukuran dewasa hanya dalam hitungan detik dan masih mau menambah lagi?"

"Ha-Habisnya aku lapar, aku belum sempat makan siang tadi," ujar Hinata malu-malu.

Naruto masih belum tak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya barusan, ternyata selera nafsu makan ramen Hinata lebih besar darinya.

"Naruto, Hinata memang pantas jadi istrimu. Seleranya terhadap ramen tak kalah, bahkan melebihimu," ujar Teuchi terkesima.

"Iya, aku juga baru ingat kalau Hinata pernah mengalahkanku dalam lomba makan ramen."

Konoha no Nichijou

"Waah cantiknya!" seru Himawari sambil memandangi mahkota bunga matahari yang dibuat Shima, si nenek katak.

"Hoho, begini-begini aku masih pandai membuat yang seperti ini Himawari-chan."

"Obaa-chan! Ajari Himawari! Himawari mau membuat yang banyak untuk Mama!"

"Baik, Obaa-chan akan mengajarkan padamu Himawari-chan!"

"Aah kenapa Himawari mendapat bagian yang enak sementara aku harus memasang dekorasi seperti ini," gerutu Boruto.

"Boruto-chan, jangan banyak mengeluh! Lakukan saja, ayahmu saja tidak pernah mengeluh selama menjalani latihan menjadi sennin denganku," komentar Fukasaku.

"Tapi Jii-chan, aku lapar. Kami daritadi kan belum makan siang, jadinya tidak berenergi dan malas deh," ujar Boruto mencari alasan.

"Ah benar juga. Kaa-chan, bisa masakan makan siang untuk Himawari-chan dan Boruto-chan? Masakan saja yang mudah dan cepat matang," pinta Fukasaku.

"Baik, baik, kalau begitu onigiri dan kaarage saja ya?"

"Aah terserah deh, yang penting aku bisa makan!" seru Boruto tak sabar.

Setengah jam berlalu, dan nampaknya Shima Baa sudah menyiapkan semua kemampuannya untuk menghasilkan masakan nomor satu untuk para anak Hokage ketujuh ini. Namun begitu Boruto melihat wujud masakannya...

"Wa-Waaaah! Ke-Kenapa ada serangga di meja makan?"

"Itu bukan sekedar serangga Boruto-chan, itu makan siangmu," sahut Fukasaku.

"Ayo, ayo dimakan selagi hangat!" timpal Shima Baa.

"A-Aku harus makan yang begini? Ini sih bukan makanan manusia, tapi katak!"

"Kami kan memang katak," jawab Fukasaku dan Shima kompak.

"Waah lucu! Aku mau mencobanya!" kata Himawari.

"Himawari jangan! Nanti aku yang kena omel Kaa-chan!"

"Eh? Tapi sepertinya lezat..." Himawari memandang makanan itu dengan mata ingin mencicipi.

"Pokoknya tidak boleh!" sahut Boruto.

"Boruto-chan, ayahmu saja dulu makan ini ketika dia berlatih di Myƍbokuzan."

"Eh? Serius? Tou-chan makan yang seperti ini? Jangan-jangan Tou-chan sudah bukan manusia!"

Konoha no Nichijou

Setelah mengisi perut di Ichiraku, Hinata mengajak Naruto pergi ke toko bunga Yamanaka untuk mengambil bunga yang dipesannya dari Ino. Namun sayang, begitu sampai disana ternyata bunga pesanannya sudah habis dibeli seseorang. Naruto tentu saja susah payah menahan tawanya, karena dia sendiri yang membeli semua bunga itu. Tak ingin melihat wajah Hinata yang kecewa, Ino memutuskan untuk memberi bunga lili putih sebagai gantinya. Meski kecewa, setidaknya kini Hinata bisa tersenyum bisa mendapat gantinya. Bunga itu rencananya akan ditaruh di makam Neji.

"Naruto-kun..."

"Apa Hinata?"

"Kira-kira Neji Nii-san marah tidak ya?"

"Kenapa dia harus marah? Harusnya dia senang kan dikunjungi?"

"Dia pasti marah karena bunganya berbeda, aku dan Himawari selalu memberikan bunga matahari di makamnya."

"Jangan konyol Hinata, Neji tidak akan marah karena hal sepele seperti itu. Lagipula lili putih ini juga kan bagus, bunga itu sangat cocok denganmu Hinata. Aku yakin Neji juga pasti senang."

"Naruto-kun, aku jadi berpikir... apa selama ini Neji Nii-san hidup bahagia ya? Dia hidup dengan kekangan dari anggota keluarga utama sepertiku, dia pasti menderita selama ini sebagai anggota keluraga cabang. Saat itu...saat terakhirnya, apa dia bahagia?"

"Kalau Neji mendengarnya kau pasti dimarahi Hinata, Neji yang dulu selalu hidup dengan memegang kepercayaan bahwa dia tidak bisa mengubah takdir. Namun seiring waktu dia berubah, dia percaya takdir bisa dirubah. Dia ingin mengubah takdirnya, takdir Hyuuga yang membelenggunya selama ini dan dia berhasil. Dia berhasil menentukan takdirnya sendiri, hidup sesuai keinginannya dan berkorban demi keluarga yang dicintainya. Itulah pilihannya, pilihan Neji, Hinata. Aku rasa kau tidak sopan jika meragukannya, aku yakin Neji bahagia karena bisa menentukan takdirnya sendiri."

"Iya, kau benar Naruto-kun... aku yakin Neji Nii-san pasti bahagia."

"Kalau kau tidak percaya, kita bisa ijin untuk melakukan edo tensei," kata Naruto bercanda.

"Eem," Hinata menggeleng. "Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan Neji Nii-san yang sudah bahagia di alam sana!"

"Haha, aku cuma bercanda kok. Tapi mungkin dia juga senang kalau dibangkitkan, bisa melihatmu yang sekarang, bisa melihat kedua keponakannya, Boruto dan Himawari."

"Tidak usah... karena aku selalu menceritakan tentang kita di hadapan Neji Nii-san, disini. Lagipula, Naruto-kun kan dulu pernah bilang, kalau Neji Nii-san yang asli selalu bersama kita, dihati kita."

"Kau benar Hinata, rasanya kau jadi semakin dewasa saja ya?"

"Mou Naruto-kun! Aku kan sudah jadi ibu-ibu, aku sudah bukan anak kecil lagi!"

"Iya, iya, aku mengerti. Oh iya, sudah jam segini, bagaimana kalau kita pulang? Boruto dan Himawari pasti juga sudah menunggu."

"Ayo!" Hinata menggenggam tangan suaminya yang besar dan hangat itu, dia tidak pernah melepaskan genggaman yang nyaman itu. Tidak akan pernah.

Konoha no Nichijou

"Kok lampunya gelap ya? Apa mereka lupa menyalakan lampu?" tanya Hinata heran melihat suasan rumahnya yang gelap gulita.

"Mungkin saja, ayo masuk!" Naruto menarik masuk Hinata ke dalam rumah dan tiba-tiba saja...

Pyar! Pyar! Suara ledakan konfeti dan juga pita yang berterbangan memenuhi ruangan, rupanya mereka semua sudah bersiap-siap sedari tadi dan menunggu Hinata masuk untuk memulai pesta kejutannya.

"Otanjoubi omedeto!" teriak Boruto dan Himawari bersamaan.

"Boruto, Himawari!" Hinata tak kuasa lagi menahan tangis harunya dan memeluk erat kedua buah hatinya itu.

"Otanjoubi omedeto, Hinata!" Naruto juga tak mau kalah, dia memeluk Hinata dari belakang.

"Kami semua yang merencanakan ini! Tou-chan yang memberi idenya, Himawari dan aku yang mengurus hadiahnya!" seru Boruto.

"Mama ini hadiahnya!" Himawari memberikan mahkota dan kalung bunga matahari buatannya pada Hinata.

"Terimakasih Himawari-chan! Eh, kata Ino-san sudah tidak adalagi bunga matahari, lalu dari mana kalian mendapatkannya?"

"Itu semua kejutannya Tou-chan! Tou-chan yang membeli semua bunga mataharinya dan menyuruh Ino Ba-chan merahasiakannya dari Kaa-chan!" kata Boruto.

"Naruto-kun..." Hinata berkata sambil memandang lembut ke arah suaminya itu.

"Sekali-kali bersikap romantis boleh kan?" ujar Naruto dengan wajah yang sedikit memerah.

"Wah turun salju! Turun salju!" Himawari tiba-tiba saja berteriak girang ketika melihat hujan salju yang tiba-tiba turun.

"Wah benar! Himawari ayo turun! Kita akan membuat boneka salju!" seru Boruto sambil menggandeng adiknnya itu.

"Kau jahat Naruto-kun, melakukan seperti ini tanpa bilang-bilang padaku!"

"Kalau bilang-bilang namanya bukan kejutan lagi kan Hinata, lagipula kau kan tahu julukanku. Ninja penuh kejutan nomor satu, Uzumaki Naruto!" Naruto berkata sambil memamerkan cengirannya yang lebar.

"Oh iya ada satu lagi hadiah untukmu."

Naruto merogoh sakunya dan mengambil sebuah kotak hitam panjang dari sana, dan setelah dibuka isinya adalah sebuah kalung permata yang indah.

"Na-Naruto-kun, bukannya ini terlalu mahal?"

"Tidak apa, lagipula warnanya cocok dengan matamu kok!" senyuman Naruto kembali membuat wajah Hinata memerah.

"Hinata, aku memang bukan pria romantis yang pandai merangkai kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya. Yang bisa kulakukan hanyalah dengan sebuah tindakan untuk membuktikan perasaanku padamu."

"Kau tidak perlu melakukan itu semua Naruto-kun, aku bisa melihatnya dengan jelas tanpa byakugan sekalipun. Semuanya tercermin dari dirimu, sikapmu, senyummu, darisana aku sudah tahu kalau kau selalu mencintaiku. Terimakasih atas hadiahnya, sayang."

Cup! Hinata mengecup lembut bibir Naruto, membuat wajah Naruto menjadi merah karenanya. Sebelum Naruto bisa membalasnya, Boruto memanggilnya.

"Tou-chan! Cepat kemari, ayo main sama-sama!"

"Baik! Tou-chan akan kesana sebentar lagi!" Naruto menyambar muffler merah yang Hinata berikan padanya dulu dan langsung berlari ke arah anak-anaknya.

Hinata memandang keluarga kecilnya itu dengan senyum lembut, dari sekian banyak hadiah yang pernah dia dapatkan, Hinata rasa ini adalah hadiah terbaik yang dia dapatkan selama ulang tahunnya. Kebersamaan bersama keluarganya inilah, hadiah terbaik dalam hidupnya.

"Boruto, Himawari! Mama juga akan ikut main ya!" seru Hinata.

"Eh Mama mau main? Asiik!" si kecil Himawari langsung bersorak gembira.

"Kalian lebih baik hati-hati, karena kalau Kaa-san kalian serius dia bisa jadi menakutkan loh!" kata Naruto pada anak-anaknya.

Hari itu tidak hanya Hinata yang mendapatkan hadiah istimewa di hari ulangtahunnya, melainkan semua anggota keluarga. Cinta dan kebersamaan yang tidak akan pernah hilang walau ditelan waktu.

EnD