Naruto © Masashi Kishimoto
Knocked Out © Fey Isla

[AU—Alternate Universe, mild/heavy nudity, ooc, etc. Suitable for mature teens 16+ and older.]


.

.

.

Dalam buku seorang bijak di masa lampau selalu ada 1001 cara untuk meraih tujuan, untuk menggapai mimpi, agar bisa menggenggam kemenangan yang membuahkan seringai manis di wajah rupawan. Dalam dunia petarung sasana tinju dikenal istilah Technical Knock-Out mematikan sebelum kau bisa berdiri sebagai pemenang.

Dari sekian banyak cara yang tersedia di opsi, hanya satu yang kini terpikir olehnya. Kali ini tak ada gerak perlahan atau pendekatan lembut atau berhati-hati atau apalah itu. Tidak akan ada Tuan Baik Hati jika batu sandungan sudah berdiri di depan mata.

Gaara. Hey, Gaara. Beraninya kau mendekati Hinata. Naruto meremat setir tanpa sadar.

Sabar. Suara Shikamaru terngiang di kepala. Berapa kali ia bersabar, berapa kali ia menunggu—menanti, harus berapa lama lagi ia berkarib dengan lima huruf sialan itu? Dari satu hingga sepuluh, sebut angka untuk kesabarannya. Naruto lebih dari pantas mendapatkan nilai sempurna. Orang sabar takkan mendapat apa-apa jika tidak berusaha, menjadi orang tergesa pun pada akhirnya hanya menggenggam udara kosong bila tak cekatan. Lalu apa bedanya jika hanya bisa menatapnya dari kejauhan?

Senyum itu. Mata itu. Milik Hyuuga Hinata.

Tubuh sintalnya ditopang sepatu hak tinggi. Berdiri di depan kantor penerbitan, merapatkan coat-nya memeluk diri. Mungkin udara malam musim semi terlalu menggigit kulit di balik balutan pakaian kantor. Sementara udara AC membelai wajah keras Naruto yang sedang mengamati.

Hinata, siapa yang kautunggu?

Rahangnya terkatup rapat. Kenyataan wajah tirus pria insomnia tanpa alis yang menyeruak hadir dalam bayangan. Sosok apatis yang mengeret sisi liar yang lama terkunci rapat dari muka umum.

Di saat itu Naruto memutar kunci, menyalakan mobil. Keluar dari tempat persembunyiannya di bawah pohon rindang area pedestrian, menjemput Hinata yang tersenyum dan masuk tanpa menoleh padanya, tanpa curiga.

"Hai!" sapanya, memasang seatbelt. " Maaf mengganggumu malam-malam begini. Apa kau tidak sibuk Gaa—Naruto?!"

Klik—mobil terkunci. Si pemilik nama menoleh, "Halo sayang."

...

Sedan merah melesat membelah jalan kota malam hari. Kerjapan lampu jalan mengkilat-kilat di mata biru, mengabaikan bunyi tuntutan wanita di sebelah.

"Na-naruto! Kau... apa maumu? Turunkan aku!" Gertakannya tak lebih dari lirihan bibir mungil yang bergetar. Naruto menyeringai dalam diam.

"Ini—ini mobil Gaara 'kan? Naru—AH!"

Hinata tersentak maju mencengkeram seatbelt di dada, kepala nyaris terantuk dasbor. Mobil berhenti di lampu merah.

Naruto menoleh pada Hinata yang menggigit bibirnya takut. Kedua alis menukik ke dalam, mata biru yang memantulkan warna merah cahaya trafik jalan, tak ada senyum. Datar dan mengintimidasi. Terang-terangan tidak menyukai nama pria lain disebut- sebut.

Lampu hijau berkelip. Naruto kembali pada jalan di depan. Sisa perjalanan diisi oleh keheningan yang membungkam protes keras Hinata yang kini berpasrah. Ia berpaling pada jendela. Mobil membawa keduanya keluar dari hingar bingar suasana metropolitan. Jalanan sepi sepenuhnya.

Sekali Hinata mengerling pada Naruto, dua kali gemuruh menyergap dirinya. Hingga tiba di gerbang besar mereka masuk, area dalamnya menyembunyikan bangunan bergaya klasik. Mobil berhenti.

Naruto melepas seatbelt dan beralih pada Hinata yang merunduk. Tangan terulur ingin menyentuh—tep—sebelum menggantung di udara.

Hinata menepisnya.

"Naruto, kumohon, apa yang kauinginkan, dan di mana aku sekarang?"

Naruto mengepal telapak tangan, mencoba menahan gelegak emosi yang meletup-letup di pembuluh darah.

"Jika tidak begini, kau takkan mau bertemu denganku. Kau, semakin lihai kabur dariku. Aku ingin bicara sebentar saja."

"Bi-bicaralah sekarang."

Naruto menggeleng, "Sebentar saja—kumohon."

Langka bagi Hinata melihat Naruto dengan raut melas tak berdaya. Hinata tak sanggup menolak. "Baiklah."

Sebongkah harap hadir di balik topeng tanpa ekspresi. Naruto keluar, sigap membuka pintu sang belahan jiwa. Mengambil kesempatan menggenggam tangan Hinata yang dilepaskan sedetik kemudian. Di tengah acara membuka pintu, Naruto memberi waktu sejenak untuk mengendus wangi manis Hinata yang membekas di telapak tangan. Ha, sebentar lagi sayang.

...

Naruto menuntunnya masuk, menapaki tangga spiral—yang Hinata sempat berhenti ragu di awal hingga akhirnya mengikuti. Melewati koridor lantai atas memasuki ruang dengan rak-rak buku tinggi. Dengan meja laci di sudut ruang yang penuh pigura potret dirinya dengan Bolt dan Naruto. Hinata menggigit bibir.

"Naruto, di mana a-aku sebenarnya?"

Naruto masih diam, melepas jas dan dasi, melipat lengan kemeja. Pria itu menatap sekilas. Menuju meja sofa yang bercokol botol Cavôda vodka, membukanya, meraih gelas cawan. Sedang Hinata frustrasi karena diabaikan.

"Naruto... jawab aku." rengeknya.

Naruto melirik dari sudut mata, "Menurutmu ini di mana, hm?"

Vodka dituang, "Ini tempat yang telah lama kupersiapkan. Tempat seharusnya Aku, Kau dan Bolt berkumpul. Rumah kita."

Hinata gagal menarik napas lewat hidung. Mulutnya terbuka, merasakan dentuman kuat di jantung. Ia terperangah—bukan takjub—lebih kepada perasaan hangat yang pilu di dada. Ia menggeleng, menghapus belaian memori lama.

"Na-naruto, kita sudah bercerai—" Hinata tercekat, di seberang Naruto menenggak minuman sekali teguk, mengernyit.

"Aku tidak pernah menginginkannya."

"Kita sudah sepakat—"

"Tidak! Itu kau yang memaksaku. Mengirim Neji ke tempatku, dia mengancamku tidak bisa bertemu lagi dengan Bolt jika aku tidak menandatangani surat gugatan." Naruto menegak gelas kedua, ia melanjutkan, "Si bajingan licik."

"Naruto! Bajingan yang kausebut itu sepupuku."

Naruto tertawa. Tawa hambar pria menyedihkan. "Ya, dia sepupumu. Pria yang sudah menuduhku menyelingkuhi adik kecil manisnya. Lucu sekali."

Hati Hinata mencelos. Ia menggigit bibir.

"Itu cerita yang berbeda, Hinata. Aku tahu ada alasan lain yang kau sembunyikan. Katakan."

"A-Aku—Tidak, Naruto, diam di tempatmu!" Ancam Hinata menarik napas, di seberang Naruto berhenti melangkah. "Aku su-sudah pernah bilang aku ingin berkarir tapi kau melarang. K-Kau mengekangku, Naruto."

Suara decihan, "Itu perkara sepele. Aku sudah memberimu ijin jika kau lupa. Kau boleh bekerja setelah Bolt lepas ASI tapi jika kau ingin cepat kau tinggal datang kepadaku. Kita bicarakan berdua, and problem solve, tanpa harus bercerai. Aku bukan suami yang jahat yang melarang wanitaku berkarir walau aku lebih senang kau di rumah dan memanaskanku di ranjang."

Genggaman tangan pada tas menguat. Hinata merasa lidahnya tercuri, sulit berkelit.

"Sekarang katakan padaku alasan paling logis yang membuatku pantas kautinggalkan. Time keeps running, hun. Your answer?"

Detik jam mengisi kekosongan selagi Naruto menghabiskan separuh isi botol. Bagi Hinata yang mengerti tabiat sang mantan, pertanyaan tadi seperti mata pisau di kedua sisi. Tetap mengiris. Tetap melukai. Dan Hinata membiarkan itu menyakitinya bersama alasan lain yang ia simpan. Naruto tak perlu tahu.

"Lusa lalu, aku melihatmu menjemput Bolt bersama bajingan Sabaku itu. Apa hubungan kalian?"

"I-Itu bukan urusanmu lagi—"

Hinata berjengit mendengar suara gelas dibanting.

"Tentu sudah menjadi urusanku! Saat dia bisa pergi menemuimu kapan saja dan dengan bebas menjemput Bolt sedangkan aku hanya memiliki waktu bertemu akhir pekan saja. Bolt anakku. Bagaimana perasaanku, hh?!"

"A-Aku..."

Air mata di pelupuk tumpah. Sejenak Naruto pandangi wanita yang bergetar di seberang ruangan.

"Oke, lupakan."

Naruto melepas dua kancing teratas kemejanya. Ia berjalan menunduk meraba dinding dan berhenti, tangan bertumpu pada sofa, ia memijat pangkal hidung. Air muka kesakitan yang membuat Hinata melepas coat-nya, menaruh tas dan menghampiri Naruto.

"Naruto? Kau kenapa—Ahk!"

Tangan dicekal ditarik menabrak tubuh lebar Naruto. Ekspresi sakit beberapa saat lalu lenyap digantikan oleh sorot mata dingin yang mencekam. Sebelah tangan pria itu mendekapnya, hidung mereka berjarak tak lebih dari sesenti hingga bau pahit panas yang menyengat terhirup.

"Gotcha! Katakan, Hinata. Apa kesalahan fatal yang kuperbuat sampai kau meninggalkanku? Jika Sabaku brengsek atau pria lain mana pun terlibat..." Naruto memandang Hinata lama. "Akan kusingkirkan semua. Kembalilah padaku." desisnya, mencengkeram lebih erat.

"Gaara ngga ada hubungannya—"

"Jangan sebut namanya di depanku!"

"Ah, sa-sakit Naruto! Lepas—agh."

"Sakit?" Bariton rendah terdengar seperti ancaman manis di telinga. Naruto tersenyum pahit, mencengkeram lebih erat Hinata dalam rengkuhan posesif.

"Aw-ah."

"Lalu bagaimana denganku? Mmh..."

Hinata diam saja. Menumpahkan kegalauan di sudut mata yang menggenang. Satu yang melemahkan Naruto.

"Tidak, tidak. Jangan menangis. Kau yang salah, sayang."

"Kita sudah pernah membahasnya Naru..."

"Dengan sepupu pengacaramu yang menyudutkan dan menghalang-halangiku, iya tentu saja. Aku tidak tahu apa yang salah, aku selalu memastikan semuanya baik-baik saja. Hinata...kau menyiksaku." Naruto memejamkan mata, membawa telapak tangan Hinata ke dadanya. "Di sini." Menekannya hingga Hinata bisa merasakan denyut kencang di sana.

"Kembali padaku, Hinata."

Meringis pelan, Hinata menggeleng lemah.

"A-Aku tidak bisa..."

Salah. Naruto mendorongnya bersandar pada dinding, memerangkap di antara tangan-tangan masif dan tatapan yang melucuti.

"Kenapa?" hembusan napasnya menerpa wajah Hinata. "Kenapa?!" setengah membentak Naruto menggebrak dinding statis di samping.

Hinata balas menatap, membalas gugatan keras yang dilayangkan, "Tidakkah kau merasa pernah berbuat salah, Naruto?"

"Apa? Apa yang salah dariku? Kau bisa katakan padaku jika ada yang salah, tak perlu seperti ini. Aku mencintaimu."

"Ta-tapi aku tidak."

Tapi Hinata menekan tombol yang salah, pria itu tidak menerima penolakan. Tarikan kencang menghempas tubuhnya ke depan sebelum kembali merapat pada dinding. "Bohong!"

"Jangan menipu diri sendiri, sayang. Aku bisa melihatnya."

Naruto menyasar leher Hinata. Leher yang menyembulkan nadi yang berdenyut kencang. Meraupnya dengan deret gigi dan lidah yang membelai. Hinata mengerang lepas.

"Aku menginginkanmu. Dan... aku memaksa."

Tangan-tangan merayapi tubuh, meremas pelan pinggang ramping, jari-jari menyelusup ke sela pinggiran rok, menarik keluar blouse putih. Sentuhan tangan yang meremangkan kulit yang berkeringat.

"Naruto!"

"Yeah?"

"Jangan—" bergetar, Hinata mendorong dada bidang yang menekannya rapat. Menghalau tangan-tangan kekar yang menginvasi kulit di balik pakaian. Naruto menahannya di sisi kepala. Protesnya dibungkam bibir yang bertaut. Sesuatu yang tertahankan lepas. Kelaparan. Memagut kasar bibir yang sibuk mengeluarkan protes. Hinata ditarik jatuh ke atas sofa, meronta sia-sia dalam kungkungan tubuh besar yang sedang meremasnya dari luar serat kain.

Hinata merinding, menjeritkan penolakan saat telapak tangan dingin merayapi kulit di balik rok yang disingkap. Menarik turun dalaman. Jari-jari menyentuhnya, melesak masuk kala Hinata tak siap. Bibir Naruto di telinga, memberikan puji-puji, tangannya tak berhenti. Memicu gelombang yang menggetarkan.

"Haa—Ah!"

Naruto membubuhinya dengan kecupan-kecupan selagi mengangkat tubuhnya keluar ruangan.

Pikirannya berkabut mencoba fokus dengan sisa-sisa denyutan selepas klimaks. Tak berdaya, bersandar pada bahu Naruto. Melayang dalam rengkuhan pria yang menggendongnya sepanjang koridor.

"Na-naruto..." tangan membenam pada bahu.

"Ssh. Kita ke kamar."

Bibir kembali bertaut cepat lalu melambat dalam. Panas. Menggelitik sesuatu yang terlarang dalam diri. Hinata mendesah sepanjang jalan. Tubuhnya berkhianat, menyambut sentuhan itu sama baiknya. Tak meronta ketika dibaringkan di atas ranjang. Ranjang yang asing, ranjang yang biasanya terasa dingin sebelum kehadirannya.

Naruto menciumnya lagi sebelum melucuti pakaian yang dikenakannya. Sedikit tergesa dan mengumpat, Naruto merematnya hingga sobek. Di saat itu Hinata menahan tangannya, menolak dengan lirih, "Ja-jangan."

Naruto menjawab dengan tepisan dan pandangan yang menggelap, melanjutkan kegiatan buka baju dengan sedikit kekasaran. Tidak lama sebelum Hinata kembali lemah di bawah tatapan intens yang memberahi.

Naruto berdiri beralih membuka pakaiannya sendiri. Mata tak melepaskan Hinata sedikit pun. Kelinci kecilnya kembali pulang ke sarang musang malam ini. Di atas sana, begitu pasrah, begitu tak berdaya.

Naruto menyeringai melihat respons Hinata yang mengalihkan matanya. Ia meremas miliknya sendiri, kembali mendekati ranjang. Sprei satin berkerut di bawah lutut saat ia naik. Menangkap tangan-tangan mungil yang saling mencengkeram di samping kepala. Naruto membawanya ke arah pangkal paha, memaksanya menggenggam benda tegang yang berdenyut.

"Feel it," bisiknya, memejamkan mata. "This one misses you."

Naruto mendorong kedua kaki terbuka dan memposisikan sedemikian rupa. Kembali tenggelam dalam manis bibir Hinata. Ciuman merambah leher, tulang selangka, tangannya turun meremas dada. Stimulan yang membuahkan erangan merdu. Naruto bangkit.

"Dammit! I can't hold it much longer."

Napas memburu, Naruto mengarahkan ereksinya menuju pangkal. Badan merendah, mendorong masuk. Setiap dorongan menyengat saraf sekujur tubuh. Naruto melenguh, merasakan otot yang mencengkeram miliknya dari dalam. Hinata berpegangan pada bahu.

"Hah—!"

Naruto menghujam masuk. Merekam ekspresi wajah Hinata di bawah. "Hah! Ha-ha. Hinata..." Naruto tertawa, bernapas berat di samping telinga. "Kau tidak berubah, di sini."

Air mata menetes saat hentakan kuat datang sedetik kemudian. Hinata meraba lengan, pundak, punggung berkeringat dan membenamkan kuku di sana. Mencari pegangan saat sentakan selanjutnya semakin kencang. Hinata melemparkan kepala ke samping, mengerangkan hasrat menyambut penetrasi dalam.

"Ah-ahn!"

Di atas Naruto bernapas berat. Bergerak lambat kemudian menghentak dengan cepat. Memainkan kedua puting dengan lidah. Gelombang datang lebih kuat menghantam selangkangan yang beradu, menimbulkan bunyi-bunyi yang menggelitik pendengaran.

Badai di luar mengaburkan jeritan lemah Hinata yang terisak mengeratkan pelukan. "Na-naru... aku..."

"Keluarkan." Telapak tangan Naruto bertumpu di samping kepala. Mengunci setiap reaksi Hinata di bawahnya; mengejan dengan kulit memerah berkeringat, kontaksi orgasmik yang menggetarkan sekujur tubuh dan jeritan lepas yang lebih terdengar nikmat daripada nyeri. Naruto bergerak lambat, mengulur waktu klimaks di antara erangan dan geraman tertahan.

Dia tahu cara menyenangkan Hinata.

"Ugh—" Naruto tertawa putus-putus. Mengamati ekspresi atraktif wanita yang dicinta. Ia menarik diri dan menghujam kembali. Mengaitkan kedua kaki di pinggangnya. Melesak keluar masuk, memuaskan diri.

"Ah—Naruto! Tu-tunggu..."

"Sebentar, sayang." Kembali bergerak, menghentak dengan kuat. Tangan Hinata menahan pinggang, ditarik-genggam di sisi kepala. Mata Naruto menatap dalam, menyatukan kening, dan memagut bibirnya. Ciuman paling panas dan menggebu. Naruto tak perlu bicara, Hinata bisa merasakan emosinya sendiri. Pria itu sudah lama tersiksa.

Naruto memejamkan mata, mendorong dengan kuat dan cepat hingga ranjang berderit. Hentakan terakhir sebelum akhirnya melepaskan. Panas yang mengaliri dinding dalam. Pangkal paha Hinata masih bergetar, direngkuh dalam pelukan hangat. Naruto mengakhiri dengan ciuman lembut sarat akan kerinduan dan permohonan. Pria itu berbisik,

"Kembalilah padaku."

Tapi Hinata dengan sikap independensi yang memuakan tetap menggeleng, menggigit bibir.

Naruto memejamkan mata, terlihat kesal dan menahan diri, menarik napas pendek-pendek sebelum bangkit.

"Stubborn."

"Naruto—AH!"

.

.

.

.

Bersambung


A/N: Ngga ada alasan untuk gunain OC buat nama anak NaruHina. Mereka udah punya dua yang ofisial dari Kishi-sensei.