Hai hai wink wonk. (?)

Emm, chapter ini sebenernya nggak terlalu fluffy (?) dan nggak ada smut juga (?). Cuma penggambaran betapa dalem (?) hubungan Minho dan Newt diliat dari sudut pandang lain. (?) Oke, ada Thomas, Alby, Nick, dan Ben di sini, tapi mereka belum masuk ke maze. (?) Dan kita belum baca Kill Order, jadi nggak begitu tau cerita childhood-nya Teresa sama Thomas, so chapter ini asli karangan aja. (?) Oh, btw kita ngarang soal appearance-nya si Nick, ya? Oh, dan ada Teresa in here, just because we love her and she is our baby. /shrugs. (?)


Redamancy

Maze Runner Trilogy Ⓒ James Dashner

Setting : pre – maze (?);

Pairing : MINEWT FTW (?);

Warning : OOC, typo, etc (?), kalo ada typo tolong kasih tau ; u ; (?);


Redamancy
A love returned in full; an act of loving the one who loves you.


Age 9.

.

Thomas tidak tahu. Dia masih belum mengerti pada saat itu. Dia tidak tahu jika suatu hari dia akan bekerja dengan mereka. Maka dari itu ia hanya mengikuti Teresa. Mereka berdua sama-sama belum memiliki ide akan apa yang akan ditunjukkan oleh mereka saat itu.

Ruang kerja itu luar biasa luas (Thomas tidak tahu ruangan itu disebut apa, namun orang dewasa biasanya menyebut ruangan itu sebagai ruang kerja, so be it). Banyak layar-layar bertebaran di dinding, semua monitor menyala, semua orang dewasa terlihat sibuk, dan Thomas mempererat genggaman tangannya pada Teresa, completely confused and lost.

Teresa meremas lembut tangannya, melemparkan tatapan menenangkan seolah berkata tidak ada yang akan menyakitinya.

Mereka berdua masih sangat muda pada saat itu.

"So, Thomas." Thomas menoleh pada seorang wanita yang sedang berbicara padanya, "you are going to mingle with them."

"Is Teresa going with me?" tanyanya penuh harap sambil kembali melirik ke arah Teresa.

Teresa menatapnya balik dan hendak buka suara ketika wanita dewasa di hadapannya memutuskan untuk menjawab terlebih dahulu. "No. She needs to stay with her parents. But don't worry, Thomas. You will meet her at least once a day if that can makes you feel better."

Bibir Thomas membentuk lengkungan cemberut yang kasat mata, namun sekali lagi remasan lembut dari tangan Teresa membuatnya menoleh pada sahabatnya itu. Teresa melemparkan seulas senyum manis padanya. "It's okay, Tom," katanya, seperti biasa, suara Teresa sangat halus dan selalu berhasil membuatnya tenang. "She's right. My parents promised me that I'll see you at least once a day."

Thomas akhirnya mengangguk perlahan. Mungkin memang sudah sewajarnya Teresa tetap bersama orangtuanya. Seingat Thomas, orangtua Teresa adalah orang dewasa lain yang selalu bolak-balik masuk ke ruangan kerja ini, memakai jas lab putih sama seperti yang lain, dan selalu menatap ke arah monitor seolah itu adalah hal paling menarik yang ada di dunia.

"Try to socialize, okay?"

Itu adalah kata terakhir Teresa kepadanya hari itu sebelum ia dibawa ke bagian lain dari gedung bernuansa serba putih-putih yang entah seluas apa, Thomas belum tahu. Sepertinya wanita dewasa yang saat ini sedang menuntunnya pernah memberitahu nama tempat ini, namun Thomas lupa. Sesuatu yang berawalan dengan World—World in Cata— experiment, department. Thomas menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung sendiri karena berusaha mengingat nama tempat tersebut. 'Well, whatever,' pikirnya saat itu, 'it's not like it's important or something.'

Mereka sampai di bagian gedung yang cukup jauh dari ruang kerja. Thomas sekarang berdiri di koridor panjang yang entah sampai mana berujung, Thomas tidak tahu. Di masing-masing sisi kiri dan kanan koridor tersebut terdapat pintu-pintu yang menurut wanita dewasa di hadapannya adalah kamar-kamar bagi anak-anak seumuran dirinya. Thomas ingat wanita dewasa itu sempat menjelaskan bagaimana anak-anak itu akan sangat penting bagi kehidupan manusia setelahnya, bagaimana aktivitas otak mereka akan dipelajari, bla, bla, bla bla.

Thomas benar-benar masih belum mengerti saat itu.

Wanita dewasa itu mengantarnya ke satu kamar (yang sudah ditempati anak lain, Thomas harus berbaur dengan mereka, kata wanita itu) yang kosong saat mereka masuk. Thomas mengingat sepertinya si wanita bilang kalau teman sekamarnya sedang melakukan tes—something about body measurements?—entahlah, sekali lagi, Thomas tidak terlalu mendengarkan, dan tidak terlalu mengerti.

Wanita itu pergi. Dan tinggallah Thomas sendirian di kamar itu.

Anak laki-laki itu duduk di salah satu kasur yang ada di sana. Kamar itu tidak bisa dibilang luas, memang, namun cukup besar untuk ukuran kamar tidur. Ada dua kasur bertingkat di kamar itu, di ujung paling kiri ruangan dan ujung paing kanan ruangan, saling berhadapan. Thomas duduk di kasur yang ada di pojok kanan, hanya berdiam diri, tidak tahu harus melakukan apa.

Beberapa jam lamanya, ia mulai mendengar suara langkah kaki, semakin lama suara itu semakin dekat dan ia juga mendengar beberapa suara anak-anak yang sedang mengobrol, entahlah. Ia menatap lurus ke arah pintu kamarnya sampai benda itu melayang terbuka dan tiga orang anak yang ia asumsikan sebagai teman sekamarnya berjalan masuk.

Seorang bocah Asia sedang tertawa sambil menyeret seorang bocah brunette dalam sebuah playful head-lock. Si bocah berambut cokelat yang terseret itu juga sedang tertawa sambil berusaha membebaskan dirinya dari kekangan lengan si bocah Asia. Di belakang mereka mengekor seorang bocah kecil berambut pirang yang hanya tersenyum simpul dengan kelakuan kedua orang di depannya.

Thomas tidak heran melihat tidak ada dari mereka yang menyadari kehadirannya melihat betapa asiknya mereka bercengkrama satu sama lain. Jadi ia masih diam dan hanya menatap lurus sampai pandangannya bertemu dengan pupil berwarna cokelat gelap milik si bocah pirang. Anak yang pertama kali menyadari kehadiran Thomas itu menggamit lengan baju sang bocah Asia dan memberi sedikit tarikan supaya bocah berambut hitam pendek itu berhenti dan menoleh ke arahnya. Si bocah pirang menunjuk ke arah Thomas dengan jemarinya yang lain dan kedua bocah lainnya akhirnya menoleh.

Dan sekarang ditatap oleh tiga pasang mata sekaligus membuat Thomas merasa risih dan gugup.

"Oh, oh. Hi there. Sorry, didn't see ya," ujar si bocah brunette akhirnya, menjadi yang pertama untuk memecahkan keheningan mendadak di ruangan itu. Ia menggeliat keluar dari cengkraman si bocah Asia dan nyengir ke arah Thomas. "So you are the new kid, huh. We've heard about you. My name is Nick."

"Thomas," balas Thomas seadanya, masih menatap tiga anak itu secara bergantian.

Nick mengangguk sedikit dan membuat gerakan menunjuk melalui bahu dengan jempolnya, menunjuk dua anak yang ada di belakangnya. "And they are—"

"Minho." Si bocah Asia berujar lantang—yang membuat Nick memutar kedua bola matanya dan mendengus—kemudian menghampiri Thomas dan duduk di kasur pojok kiri, tepat di hadapan Thomas. "Nice to meet you, new kid."

"I'm sorry, Minho is just that sassy so please ignore him as much as you can," ujar Nick lagi sambil mendudukkan dirinya di samping Thomas.

"Hey, that's not—"

Thomas tidak terlalu mendengarkan saat Minho dan Nick mulai adu mulut mengenai sesuatu yang tidak menarik minatnya. Matanya melekat pada sosok kecil sang bocah pirang yang sebelumnya mengekori Nick ke arah mereka namun mendudukkan dirinya di sebelah Minho. Thomas hanya menatap dan menatap.

Dan si pirang menatap balik ke arahnya. Anehnya Thomas tidak merasa awkward sama sekali saling menatap dengan si pirang itu. Mereka sama-sama saling berpandangan dengan mata yang menyiratkan rasa penasaran.

Apapun perdebatan yang sedang berlangsung diantara Minho dan Nick kala itu terhenti saat Thomas melayangkan pertanyaan kepada si pirang, cukup kencang untuk menyaingi suara Nick yang saat itu sedang melontarkan sanggahan entah apa pada Minho. "And you are?"

"Newt."

Senyum yang Thomas lihat saat itu mengingatkannya pada cahaya matahari.

.

.

Keesokan harinya, Thomas bertemu anak-anak lain.

Mereka ada banyak, Thomas hampir tidak bisa mengingat masing-masing dari mereka. Hanya sekedar berkenalan, lalu melupakan wajah atau nama mereka. Anak-anak di sana terlalu banyak. Ada George, Siggy, Zart, Winston, Jeff, dan lain-lainnya, Thomas tidak ingat.

Hanya saja ada dua anak yang dekat dengan trio teman sekamarnya dan Thomas langsung mengingat mereka berdua di hari itu juga. Satu bernama Alby. Sarkastis seperti Minho, pandai bicara seperti Nick, dan cukup ramah sehingga Thomas lumayan menyukai anak itu. Satu lagi bernama Ben.

Saking banyaknya anak-anak di sana, semua membentuk kubu masing-masing, tidak semua anak di sana bermain bersama. Dan Thomas tergabung dalam kubu Minho, Newt, Nick, Alby, dan Ben. Thomas tidak keberatan, semenjak ia memang merasa nyaman dengan Minho, Newt, dan Nick. Alby tidak menunjukkan tanda-tanda ia menolak kehadiran Thomas dalam kubu mereka, bahkan ia memperlakukan Thomas seperti sobat lama, membuat Thomas semakin menyukai perangai pria berkulit gelap itu. Menurutnya Alby adalah sosok natural seorang pemimpin. Ben juga tidak jauh berbeda. Bocah berwajah pucat itu lebih pendiam, walaupun sepertinya tidak ada yang lebih pendiam diantara mereka berlima selain Newt, namun Thomas menemukan jika dirinya lumayan menyukai Ben, mungkin karena bocah jangkung itu menjadi yang pertama untuk membela Thomas saat Minho dan Nick menggodai Thomas karena dia sering kedapatan sedang memandangi Newt.

"Come on, Tom boy," ujar Minho kala itu, wajah bocahnya berseri-seri seperti biasa, selayaknya anak kecil yang tidak tahu menahu apa alasan ia berada di sebuah gedung aneh yang tidak pernah ia pertanyakan. "Stop staring, will ya? I know he's pretty, but your gaze can burn a hole through his skull."

Newt, mengetahui jika dialah yang menjadi subjek pembicaraan, hanya memutar bola matanya dan mendengus geli. "Minho, you don't usually call boys with 'pretty'. Stop being such a clown."

"Well, but you are," jawab Minho simpel. Dan Thomas diam-diam menyetujui pernyataan itu meskipun tidak menyuarakannya.

"Seems like someone agrees with it." Nick menyodok lengan Thomas main-main dengan sikunya. "Who are you gonna stare at next? Jorge over there?"

"Cut the crap, guys. Seriously? He's new and this is how you guys welcomed him on his first day with us?" Ben akhirnya bersuara, meskipun ada nada main-main dalam kalimatnya. Dan mereka bertiga mulai berceloteh entah tentang apa, dengan Alby yang sesekali menyelipkan kalimat-kalimat nasihat.

Lalu ada Thomas yang kembali menatap Newt.

Si pirang sepertinya kali ini tidak menyadarinya, terlalu sibuk menertawakan sesuatu yang diutarakan Minho. Dan Thomas mengambil kesempatan itu untuk memandangnya lagi. Thomas bahkan tidak tahu kenapa, memandangi orang bukanlah kebiasaannya, apalagi hobinya. Hanya saja Newt seperti memiliki magnet khusus yang menarik Thomas untuk selalu melihat ke arahnya.

Mungkin karena di dalam kubu mereka, Newt yang paling menarik perhatian (hanya menurut Thomas, tentu saja). Diantara yang lain, penampilan Newt bisa dibilang yang paling kontras karena kulitnya yang sangat pucat. Selain itu tubuhnya juga sangat kecil dan kurus, membuat Thomas tercengang pada hari sebelumnya begitu tahu kalau Newt lebih tua darinya. Masih sulit untuk mempercayainya sampai saat ini, karena bahkan Thomas beserta beberapa anak yang lebih muda dari Newt—termasuk Minho—bertubuh lebih tinggi dari Newt. Baik pergelangan tangan maupun pinggang Newt juga terlihat begitu kecil hingga Thomas yakin pergelangan tangan si pirang hanya sebesar lingkaran yang terbentuk melalui kelingking dan jempolnya dan jika ia melebarkan jari-jari telapak tangannya maka telapak tangan itu saja akan cukup untuk membungkus pinggang langsing Newt.

Dan senyum Newt yang seperti cahaya matahari.

Thomas menceritakannya pada Teresa saat mereka bertemu hari itu.

Wajah cantik Teresa memancarkan rasa penasaran yang kuat. "Let me repeat that. He smiles like a sunshine?"

"Exactly," Thomas membenarkan dengan anggukan singkat. "And he got accent, too."

Teresa terlihat seperti ingin menanyakan sesuatu. Thomas sendiri seakan ingin melanjutkan pembicaraan mengenai si pirang. Namun dua orang dewasa menyela pembicaraan mereka, memasangkan sesuatu di kepala mereka, dan mulai membicarakan sesuatu yang tidak Thomas mengerti.

.

Pertemuannya dengan Teresa hari itu berakhir sampai di sana, Thomas hanya sempat memberitahu Teresa tentang senyum cahaya matahari milik Newt.

.

Thomas memasuki kamarnya sepelan mungkin. Dengkuran halus datang dari arah kasur Minho dan Nick yang berada di pojok kiri. Memang mengagetkan mengetahui mereka berdua setuju untuk berbagi tempat tidur yang sama mengingat seberapa seringnya mereka adu mulut. Dalam kegelapan, Thomas bisa melihat Minho yang tidur di bagian bawah—menggeliat sedikit dan berputar untuk berbaring dengan perutnya sebelum kembali mendengkur—dan tersenyum tipis dengan cara tidur bocah Asia itu.

Thomas sendiri bergegas ke tempat tidur bagian bawah miliknya di pojok kanan (ternyata sebelum ia tiba pun, Newt memang sudah memilih tempat tidur bagian atas) dan merebahkan tubuhnya di sana. Ia masih belum bisa tidur, jadi ia hanya berbaring dan melamunkan senyum cahaya matahari milik Newt sampai ia mendengar matras diatasnya menimbulkan suara bergeser. Tak lama kemudian sejumput rambut pirang mengintip dari atas sebelum dilanjutkan dengan munculnya kepala Newt, menggantung dengan posisi aneh dari atas untuk melihat ke bawah, lebih tepatnya ke arah Thomas.

Thomas terdiam. Newt juga terdiam. Mereka hanya saling tatap beberapa saat lamanya.

"Uh," mulai Thomas ragu-ragu, "you haven't sleep yet?"

Newt malah bertanya balik. "Where did they take you?"

Karena Thomas tidak terlalu tahu, maka ia memutuskan untuk menjawab sejujurnya. "Uh, I don't really know."

Newt masih menatapnya, terlihat seperti sedang berpikir. "For what?"

Untuk apa? Thomas mengerutkan keningnya samar. "I don't really know either. Something to do withnext procedure... I think they said something like that, I forgot."

Newt terdiam cukup lama kali ini, masih memandang lurus ke arah Thomas. Kebingungan kembali melanda Thomas dan ia hendak membuka mulut menanyakan apakah ada yang salah ketika Newt berbisik pelan, "Are you okay?"

Kali ini Thomas yang memberi jeda. Apakah ia baik-baik saja? Apa—

—Newt khawatir padanya?

Thomas menarik nafas perlahan sebelum memberikan anggukan kecil. "Yeah. They didn't really do anything to me. I'm fine."

Newt melemparkan senyum kecil padanya. Dan Thomas mengamati saat kepala pirang itu beringsut kembali pada tempatnya, menghilang dari balik matras tempat tidur. "Good night, Tommy."

Ada sebuah jeda lagi selama beberapa detik lamanya sebelum Thomas menjawab. "Good night, Newt."

Tommy ...

.

.

Thomas lebih banyak tertawa keesokan harinya.

Ia mendapati bahwa Minho dan Nick ternyata adalah anak-anak yang menyenangkan. They are so lively, enthusiastic, sebagaimana anak-anak semestinya. Dan Thomas sudah mendapati dirinya bergulat dengan Minho pagi itu, tertawa lepas sambil berguling-guling di lantai diiringi suara tawa Nick. Bocah berambut cokelat itu sudah terduduk di dekat mereka sambil memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.

Mereka baru kerhenti ketika Newt memisahkan mereka. Bocah pirang itu juga sedang tertawa ketika menarik lengan Minho, membantu Thomas berdiri dengan tangannya yang satu lagi. "Come on, you big babies. It's time for breakfast, Alby and Ben are probably waiting for us."

"You," Minho menunjuk ke arah Thomas, nafasnya tersengal-sengal entah karena ia kelelahan dengan gulat barusan atau karena ia kebanyakan tertawa, "are lucky this time. Next time you call me sassy, I'm so gonna whip your ass."

"I'm shaking with laughter," balas Thomas ringan, mengindikasikan ia tidak takut sama sekali dengan ancaman main-main Minho. Pandangannya tidak luput dari bagaimana Minho membebaskan lengannya dari pegangan Newt dan menyelinapkan lengan yang sama ke pinggang Newt, menarik bocah pirang itu lebih dekat ke arahnya.

"I can still whip your ass while you shake in laughter," ujar Minho lagi dan Newt tertawa kecil di pundaknya.

Nick bangkit berdiri sambil menyeka air mata dari sudut matanya, akhirnya berhasil reda dari rasa geli di perutnya. "I'm starving."

"So am I," ujar Minho, kemudian mereka bertiga mulai berjalan keluar kamar, Thomas mengikuti dari belakang.

Matanya tetap tertuju pada lengan Minho yang masih berada di sekitar pinggang Newt.

.

Thomas menceritakan bagaimana ia mulai merasa nyaman dengan kelima teman barunya pada Teresa.

Dan seperti biasa, gadis itu mendengarkan dengan sikap terbuka, tersenyum setiap kali Thomas mereka ulang baik adegan maupun percakapan dengan teman barunya secara antusias.

"I'm glad that you have fun."

"Thanks," ujar Thomas langsung. "I hope I can introduce you to them one day."

Senyum Teresa semakin mengembang. "I'd love to meet them one day."

"I'm sure they will like you."

Teresa tersenyum simpul, wajahnya terlihat senang atas pernyataan Thomas. Mereka kembali diinterupsi oleh orang dewasa yang tiba-tiba muncul. Lalu percakapan mereka terpaksa terhenti ketika orang dewasa itu membuat mereka menjalankan 'prosedur' yang sama persis seperti yang mereka jalankan kemarin.

.

Thomas melambaikan tangannya pada Teresa sebelum mereka berpisah. Teresa melempar senyum lembutnya, berkata 'good night' kepada Thomas sebelum berbalik pergi, meninggalkan Thomas yang tak lama kemudian berbalik ke arah yang berlawanan dan berjalan menuju kamarnya.

.

.

Hari-hari Thomas selama berbulan-bulan berikutnya selalu diisi dengan kegiatan berulang yang sama, seperti sebuah chip yang sudah ditanamkan dalam program aktivitasnya. Pagi hari, sarapan bersama anak-anak lainnya. Setelah itu mereka dibebaskan di sebuah ruangan besar dimana terdapat banyak sekali rak-rak buku dan peralatan menulis atau menggambar. Biasanya dia, Minho, Newt, Nick, Ben, dan Alby akan berselojor di dekat perapian yang tidak pernah menyala di ruangan itu. Alby selalu mencari sebuah buku yang berbeda setiap harinya dan membaca. Ben dan Nick lebih suka mengambil beberapa lembar kertas putih dan pensil untuk mencoret-coret, kadang mereka bermain tebak-tebakan dengan coretan itu. Newt berbeda lagi. Adakalanya dia akan menggambar. Kadang dia juga lebih memilih membaca. Minho tidak pernah benar-benar melakukan apapun. Kadang ia akan terlihat sedang berbicara dengan anak lain di luar kubu mereka. Atau ketika Newt sedang menggambar, Minho akan menempel tepat di sampingnya, menatap lurus ke arah polesan gambar Newt, tidak berisik dan surprisingly calm. Dan ketika Newt sedang membaca sesuatu, Minho akan ada di belakang si pirang, menatap melalui bahu Newt seolah ikut membaca halaman yang sedang ditekuni Newt. Tetapi ketika ditanya, ia akan memberikan cengiran khasnya dan mengangkat bahu, berkata kalau ia tidak benar-benar membaca apapun. Thomas tidak terlalu pandai menggambar dan menurutnya ia tidak punya sesuatu atau pikiran yang bisa dituangkan ke dalam tulisan, yang membuatnya terjebak dalam kegiatan membaca sama seperti Alby. Namun ada kalanya juga ia tidak membaca sama sekali. Hanya duduk diantara Ben dan Nick, mengamati coretan-coretan abstrak mereka dan terkadang ikut berusaha menebak apa sebenarnya yang berusaha kedua bocah itu tulis.

Mereka akan dibebaskan dalam ruangan itu sampai jam makan siang. Dan Thomas akan berpisah dari mereka untuk sementara waktu seusai makan siang untuk bertemu Teresa. Terkadang ia akan kembali tepat saat jam makan malam. Terkadang ia malah kembali saat mereka semua telah tertidur. Yang Thomas tidak mengerti adalah Minho dan Nick tidak pernah mempertanyakan kemana ia pergi, begitu juga dengan Alby dan Ben. Mungkin Newt yang memberitahu mereka. Atau mungkin sebelumnya ada orang dewasa yang pernah menjelaskannya kepada mereka, entahlah. Thomas memang penasaran kenapa mereka tidak bertanya, tapi ia cukup berterimakasih di sisi lain karena kalaupun mereka bertanya, Thomas tidak tahu harus menjawab apa. Orang dewasa bilang kalau pertemuannya dengan Teresa harus dirahasiakan dari anak-anak lain, bahwa Thomas dan Teresa itu special dan berbeda dari seluruh anak-anak yang ada di sana.

Thomas pernah bertanya apa yang mereka lakukan saat ia tidak bersama mereka. Minho menjawab dengan antusias, mengatakannya sebagai 'that was the best part of the day, it's actually no fun that you can't be there'. Turns out that mereka dibawa ke ruangan lain setelah selesai makan siang, sebuah ruangan yang menurut Nick sungguh teramat sangat jauh lebih luas dari ruangan buku dan terbagi empat berisi masing-masing lapangan kecil yang berbeda. Kata orang dewasa, mereka membutuhkannya untuk tetap fit dan bla bla bla. Yang Minho dan Nick tahu hanyalah mereka menikmati permainannya (Minho selalu mengumbar bagaimana ia selalu mengalahkan Nick ketika mereka bertanding football sementara Nick terlihat sangat bangga ketika dia 'pernah' mengalahkan Minho dalam lomba lari mini—turns out lagi kalau lomba lari mini ini adalah satu-satunya momen dimana semua anak-anak berinteraksi tanpa membeda-bedakan kubu). Newt berkata dia sesekali ikut dalam lomba lari yang terdengar heboh itu, dan tidak sekalipun ia bisa mengalahkan Minho. Well, Thomas tidak terkejut. Minho memang terlihat atletis untuk anak seumurannya, meskipun tidak tergolong tinggi.

Dan, ya, itulah yang dilakukan Thomas selama berbulan-bulan lamanya. Bangun pagi, sarapan, bermain, lunch, bertemu Teresa, dinner, tidur, repeat.

Hal yang sama berlaku hari ini. Mereka sedang berada di ruang baca, di spot favorit mereka yaitu di depan perapian yang entah kenapa tidak, atau mungkin belum, pernah dinyalakan. Alby duduk berselojor di lantai, memegang sebuah buku terbuka yang lumayan tebal. Di kakinya, Nick dan Ben berbaring telentang sambil mencoret-coret kertas mereka. Thomas duduk tidak jauh dari mereka di salah satu bangku yang tersedia, membolak-balik buku cerita bergambar yang ia ambil secara random dari rak terdekat di pintu masuk. Pandangannya bergerak-gerak antara mengamati gambar yang ada di bukunya dan temannya yang sedang duduk bersama di samping perapian.

Minho duduk berselojor di lantai seperti Alby, punggungnya bersandar dengan nyaman di dinding sementara di antara kedua kakinya yang terbuka, Newt duduk dengan nyaman sambil menyandarkan punggungnya ke tubuh Minho. Bocah Asia itu menopangkan dagunya di puncak kepala Newt sementara Newt menekuk kedua lututnya dan menjadikannya sebagai tumpuan buku yang sedang dibacanya. Newt terlihat sangat rileks bersandar pada Minho dan Minho terlihat sangat tenang, kedua mata gelapnya tertuju pada buku yang sedang Newt baca, dan sekali lagi, mereka berdua terlihat seperti sedang membaca buku bersama meskipun Thomas secara garis besar sudah tahu kalau Minho tidak benar-benar sedang membaca.

Thomas terkadang menyalahkan rasa keingintahuannya yang luar biasa besar karena itu membuatnya sangat penasaran dengan apa yang membuat Minho dan Newt begitu dekat. Kenapa mereka sangat dekat? Jika dibandingkan dengan anak-anak lain—keakraban Minho dengan Nick misalnya—kedekatan mereka berbeda. entah kenapa Thomas merasa mereka seperti memiliki bond—semacam ikatan tak kasat mata yang sungguh kuat. Dan Thomas selalu menemukan dirinya bertanya-tanya, apa yang menjadi penyebabnya?

Thomas selalu ingin bertanya; apa mereka sudah kenal sebelum mereka dikumpulkan di gedung ini, sudah berapa lama mereka saling kenal hingga mereka bisa mempunyai hubungan yang sedemikian erat antara satu sama lain, bagaimana mungkin Alby, Ben, dan Nick tidak pernah mempertanyakan kedekatan mereka, dan lain-lain sebagainya. Namun karena tidak ada yang bertanya, ia merasa ia juga tidak berada di tempat untuk bertanya.

Thomas menatap cukup lama ke arah dua temannya itu (saat tubuh Newt sedikit merosot dari posisi duduknya—menyebabkan dagu Minho kehilangan pijakan—dan Minho melingkarkan lengan kanannya disekitar perut Newt, membetulkan posisi duduk bocah pirang itu kembali seperti semula sambil kembali meletakkan dagunya terhadap helai rambut pendek Newt) sebelum kembali menatap gambar di bukunya.

Saat Thomas kembali melirik, Minho masih mempertahankan lengannya di tubuh Newt.

.

"That, Thomas," mulai Teresa, "is what you called as close friends."

"They are too close," ujar Thomas keras kepala.

"It's normal." Terasa memutar kedua bola matanya yang indah dan mendengus. "Maybe they both were friends since toddler, like us, or even when they were babies."

Thomas menghela nafas cukup keras sebelum kembali bersikukuh. "But, Teresa, it's .. They're .. Their affection and fondness are just .. different."

Seulas senyum tipis terukir di bibir tipis Teresa. Ia memandang Thomas dengan tatapan yang sulit diartikan. "And why is it bothering you?"

"I'm curious."

"Curiosity kills the cat, Thomas," sahut Teresa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah sudah menduga jawaban Thomas sebelumnya. "But if you really are that curious, why don't you just ask?"

"Because no one seems curious about it and I think I'm not in the place to ask, you know." Thomas mengangkat bahu, jari-jemarinya bergerak-gerak gelisah.

Senyum Teresa masih ada saat ia membalas, "Well, if you think you're not in the place to ask, you have to keep your curiosity just for yourself and deal with their fondness towards each other."

Gantian Thomas yang memutar kedua bola matanya. Pembicaraan mereka terhenti saat orang dewasa muncul untuk membantu mereka kembali menjalankan prosedur yang—menurut Thomas—super membosankan.

.

Teresa mengecup pipi Thomas sebelum mereka berpisah hari itu. Thomas sempat melongo sebentar, dan saat ia sadar, Teresa sudah menghilang dari ruangan. Ia memutuskan untuk tidak terlalu memusingkannya dan berbalik pergi menuju kamarnya.

.

Ternyata saat ia sampai di kamarnya, Newt belum tidur.

Bocah pirang itu sedang duduk—sepertinya—melamun, kakinya berayun di sisi tempat tidur bagian atasnya, menggantung di udara. Newt menatap ke bawah tepat ke arah Thomas saat ia masuk, tatapannya datar dan Thomas tidak bisa menebak arti pandangan itu.

"Haven't sleep, Newt?" tanyanya menyerupai bisikan. Dengkuran halus dari Minho dan Nick menyertai pertanyaannya.

Newt memberikan Thomas senyum kecil seperti yang selalu ia lakukan dan menggeleng perlahan. "Took you long enough to get back today. Are you okay?"

'There he goes, worrying about me, again.' Thomas memberikan anggukan yakin, berusaha menyampaikan pesan bisu kepada Newt untuk tidak khawatir dengan gesture-nya yang tegas. "Yeah, I'm okay. I didn't realize I took more than usual. Did I really?"

Newt tidak menjawab pertanyaannya. Mungkin si pirang menganggap itu bukan pertanyaan yang harus dijawab karena selanjutnya si pirang memiringkan kepalanya dan terlihat seperti sedang mengobservasi wajah Thomas diantara kegelapan ruangan mereka. "Did you eat something for dinner?"

Thomas terdiam sesaat. Kadang ia kembali untuk mendapati semua teman sekamarnya telah terlelap kecuali Newt. Dan Newt belum pernah menanyakan pertanyaan seperti itu sebelumnya. "Y-yeah, I did. They gave me food, don't worry." Dan Thomas tidak berbohong. Orang dewasa memang selalu membiarkan ia dan Teresa melahap makan malam bersama sebelum melanjutkan kembali prosedur tes mereka. Namun mungkin karena memakan makan malamnya lebih awal dan kelelahan, perut Thomas berbunyi tepat setelah ia mengatakan hal itu. Wajahnya memanas dan tiba-tiba saja ia merasa seperti badut paling bodoh yang ada di dunia. Thomas bahkan tidak menyadari kalau ia mulai lapar lagi.

Diantara kegelapan ruangan mereka, Thomas bisa melihat Newt tersenyum lagi ke arahnya, bukan senyum kecil seperti sebelumnya, tapi senyumnya yang seperti cahaya matahari. "We had spaghetti meatballs and blueberry muffins for supper tonight." Tangannya meraih ke bawah selimutnya dan Thomas menatapnya penuh tanya. "Kind of thinking you might want some."

Detik berikutnya Newt melemparkan sesuatu ke arah Thomas dan dia menangkapnya murni karena reflek (dimana membuatnya bersyukur karena dia memiliki reflek yang cukup bagus sehingga tidak mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Newt). Thomas menunduk menatap bungkusan kain yang baru saja dia tangkap dan membukanya perlahan. Ada dua blueberry muffins di sana, dan aroma kue itu membuat perut Thomas kembali bergejolak.

"Take your time." Saat Thomas mendongak lagi, Newt sudah beringsut ke dalam selimut dan membaringkan tubuhnya, membuat Thomas tidak bisa melihat wajahnya lagi. "And go get some sleep soon."

Thomas tersenyum lebar sampai pipinya terasa sakit. "Thanks, Newt."

"Don't mention it, Tommy."

Thomas beranjak duduk di tepi kasur bagian bawahnya dan melahap muffin itu dengan perasaan aneh yang menggelitik di kedua bagian dada dan perutnya. Perasaan itu memang asing baginya, namun Thomas tidak mendapati dirinya merasa tidak nyaman atau terganggu dengan perasaan itu.

Tommy ...

.


Age 10.

.

Thomas tidak menyangka ia akan menjalankan rutinitas yang sama selama setahun lebih tanpa mempertanyakan apapun.

Mungkin karena ia senang bermain dengan Minho, Newt, Nick, Ben, dan Alby. Apalagi ia masih bisa bertemu dengan Teresa. Selama mereka masih bisa bersama-sama seperti itu, Thomas rasa tidak ada yang harus dipermasalahkan. Thomas juga tidak menyangka kalau Minho dan yang lainnya tidak pernah mempertanyakan apapun, meskipun aneh sekali mendapati mereka selalu berada di dalam gedung dan benar-benar tidak pernah keluar sekalipun dari sana.

As long as we have each other, yeah.

Selama mereka saling memiliki satu sama lain, Thomas rasa tidak ada masalah dengan kesehariannya yang terus-menerus melakukan hal yang sama.

Atau mungkin itu hanya karena umur meraka yang masih muda.

Tulisan Ben dan Nick mengalami kemajuan dimana mereka tidak lagi bisa saling menebak apa yang mereka tulis karena hasil tulisan mereka menjadi lebih mudah untuk terbaca. Alby masih asik dengan kesibukannya dalam membaca, untunglah rak buku di sana terlalu banyak untuk dihabiskan dalam setahun sehingga Alby masih memiliki bahan bacaan. Nick dan Ben kadang bergabung dengan Alby, masing-masing memiliki buku bacaan yang berbeda dan saling berbaring bertumpu pada satu sama lain sebelum hanyut dalam kegiatan membaca mereka.

Thomas jadi lebih sering menghabiskan waktunya dengan Minho dan Newt. Terkadang ia dan Minho hanya akan mengamati gambar Newt saat si pirang sedang asik membuat pensilnya menari di atas kertas.

Gambar Newt terbilang sangat bagus untuk ukuran gambar anak kecil, membuat Thomas bertanya-tanya inikah yang disebut talenta? Gambar Newt terlihat seperti gambar orang dewasa, Newt bahkan menambahkan detil-detil kecil seperti bayangan, arsiran halus di beberapa tepi gambar, perincian tebal tipisnya tarikan garis untuk gambar tersebut, dan detil lainnya. Dan Newt bahkan tidak terlihat seperti ia sedang berusaha keras ketika melakukannya. Raut wajahnya rileks dan postur tubuhnya santai. Terkadang ia akan berhenti sebentar, seperti berpikir bagaimana ia harus melanjutkan gambarnya dari sana, dan kembali menggerakkan pensilnya dengan lugas.

"You should try to color them," ujar Minho. Matanya menatap gambar Newt tanpa berkedip. "It looks lively just like that but don't you think colors will make it looks even more better?"

"I like it black and white," balas Newt kalem.

"You're so gloomy." Minho melontarkan sebagian tubuhnya ke atas meja, tepat di sisi kiri Newt dan gambarnya, menghempaskan kepalanya di atas lengannya dan menghela nafas. "Though I'd love to see you do some coloring one day."

"It's nice enough," Thomas berkomentar dari sisi kanan Newt sambil menyeringai kecil. "I like it."

"I thought you'd be on my side!" Minho menyuarakan protesnya dengan nada merengek yang sukses membuat Thomas dan Newt tertawa terbahak-bahak.

Dan ketika Newt sudah bosan menggambar, mereka akan menghampiri Alby, Nick, dan Ben, dan ikut berbaring dengan posisi terkapar di kaki Alby, di dekat Nick dan Ben. Ketiga anak itu akan membiarkan mereka dan tetap membaca sementara Newt akan merapat ke arah Minho sambil menggenggam longgar sebelah tangan Thomas saat mereka bertiga hanya berbaring di sana tanpa melakukan atau membicarakan apapun. Rutinitas ini baru berlangsung sebelum genap satu tahun mereka saling mengenal satu sama lain dan Thomas menemukan dirinya tidak mempermasalahkan kebiasaan baru yang satu ini. Jemari Newt lebih kecil jika dibandingkan dengan miliknya, namun merasakan bagaimana mereka melengkung diantara jari-jarinya sendri membuat Thomas merasa aman dan tanpa beban. Terkadang mereka akan jatuh tertidur, dibangunkan oleh Alby, lalu berjalan menuju ruang makan, sebelum berpisah karena Thomas masih harus bertemu Teresa. Namun Thomas selalu merasa ia lebih senang di tiap hari dimana Newt menggengam tangannya.

.

"Until when do we have to go through this?"

Akhirnya pertanyaan itu sampai ke otak Thomas dan Thomas tidak menghabiskan waktunya untuk langsung bertanya. Teresa menatapnya tanpa berkedip, terlihat murni kebingungan, sepertinya pertanyaan yang sama tidak pernah sampai di benak gadis itu.

"I mean .. We've doing this over a year already, what's the point?"

Teresa mengangkat bahu dan mengibaskan rambut hitam panjangnya. "Have no idea. But my parents said they're experimenting on us."

"Experimenting?" Mata Thomas membulat akan rasa terkejut. "Is it for a bad term?"

"No, of course not." Teresa memberikan Thomas senyum yang menenangkan dan itu berhasil karena Thomas kembali menghempaskan punggung di tempat duduknya. "They said it's for our sake. I don't really know what's the meaning of it, but we're gonna be just fine, Thomas."

Thomas tersenyum samar pada Teresa sebelum orang dewasa muncul di hadapan mereka. Dan prosedur yang sudah mereka jalani selama setahun itupun kembali dimulai. Thomas tidak pernah mempertanyakannya lagi.

.

Teresa memberikan Thomas pelukan singkat sebelum mereka berpisah di hari itu. Thomas memeluknya balik sebelum mereka benar-benar saling menarik diri dan beranjak meninggalkan laboratorium.

.

.

Newt terlihat lebih pucat pagi itu.

Bahkan dari Thomas membuka mata, Newt sudah bertumpu pada Minho, selalu bersandar pada bocah Asia yang lebih muda itu. Saat berjalan ke kamar mandi, selesai berpakaian, dan saat berjalan menuju ruang makan untuk sarapan, Newt masih bertumpu pada Minho. Matanya tidak fokus dan bahunya merosot lesu. Nick selalu berada di samping mereka berdua layaknya seorang bodyguard. Thomas dapat melihat raut khawatir di wajah Minho dan Nick, dan ia yakin wajahnya sendiri menyorotkan raut yang sama.

"Maybe you can just stay in bed and we will ask for a permission to bring you something to eat," ujar Thomas.

"No, it's okay," jawab Newt pelan.

"You don't look good, Newt," tambah Nick, sepertinya dia juga lebih memilih Newt untuk mengikuti saran Thomas.

"I'm fine."

Nick melirik ke arah Minho, seperti meminta bocah Asia itu untuk mengatakan sesuatu, tapi Minho sendiri juga melontarkan tatapan seolah bertanya apa yang harus ia lakukan sebelum mengangkat sebelah bahu.

"Okay, maybe you're fine. You think you're fine," ujar Nick lagi, masih mencoba, "but you definitely don't look good today, Newt. If something is—"

"Nothing is wrong." Newt memotong dengan datar. Suaranya kecil dan halus, tidak ada unsur kemarahan atau kejengkelan dari nada suaranya, namun entah kenapa Nick langsung menyerah saat itu juga dan berhenti bicara.

"Okay." Akhirnya Minho mengeluarkan suara untuk pertama kalinya. "But always stay close to me for today, okay? If you need something just tell me."

Newt mengangguk pelan dan mereka meneruskan perjalanan menuju ruang makan.

Bahkan Alby dan Ben membuat raut wajah yang sama.

"Newt, you sure you are ... fine?" Alby bertanya pelan-pelan, berjaga-jaga agar Newt tidak kesal dengan pertanyaan sama yang terus dilontarkan padanya.

Newt menghela nafas, tatapannya masih tidak fokus saat ia mengangguk ke arah Alby. Tangannya bergerak-gerak menusuk-nusuk pancake di piringnya dengan garpu. Alby saling bertukar pandang dengan Ben. Dari tatapannya, mereka berdua terlihat percaya jika Newt sendiri tidak yakin dengan jawabannya. Newt duduk sedikit bersandar pada Minho, Nick masih mengawasinya dengan saksama. Dan Thomas juga mendapati dirinya sedang mengawasi. Minho sendiri meletakkan telapak tangannya di bahu Newt beberapa saat lamanya, seolah ia takut Newt akan kehilangan keseimbangan dan roboh ke belakang. Namun setelah melihat Newt duduk dengan rapat ke arahnya tanpa gerak-gerik yang menunjukkan kelimbungan, Minho menarik kembali tangannya dan memakan sarapannya dalam diam.

Newt bahkan tidak menghabiskan lebih dari setengah sarapannya.

"Maybe you really need to rest," ujar Nick saat mereka digiring ke ruang buku. Thomas mulai berpikir mungkin Nick sebenarnya memiliki leader skill yang lebih tinggi dibandingkan dengan Alby melihat bagaimana ia terus-menerus memastikan apakah Newt masih kuat berdiri dengan kakinya. Well, ia tahu Alby juga melakukannya, namun bocah berkulit gelap itu sepertinya lebih memutuskan untuk diam melihat sikap Newt yang acuh-tak-acuh. "Come on, Newt, I will talk to them, alright?"

"No, Nick. Let me stay." Newt beringsut ke arah Nick dan kali ini bersandar pada bocah berambut cokelat gelap itu. Tangan Minho secara reflek bergerak mengikuti tubuh Newt, tergantung setengah jalan di udara sampai Newt benar-benar bersandar pada Nick, sebelum akhirnya ia turunkan lagi melihat Newt aman bertumpu pada Nick. "I swear nothing makes me better than being with you guys."

Ekspresi Nick langsung melunak. Ia mengangguk sedikit, terlihat jelas seperti masih tidak menyetujui keputusan Newt, tapi memutuskan untuk tidak memaksakan opininya lebih lanjut. Ia membiarkan telapak tangannya bergerak ke sisi kepala Newt dan menepuknya beberapa kali dengan lembut. "Okay. But do tell us if you don't feel good, alright? And listen to Minho."

Newt tersenyum samar. "I always listen to him."

"That's my point of telling you to listen to him. Because you always listen to him." Nick menyeringai main-main.

"Genius." Newt memutar kedua bola matanya sebelum tersenyum. Setidaknya sekarang ia terlihat lebih ceria.

Ben dan Alby tertawa kecil dan Thomas menyadari dia ikut tertawa bersama mereka. Thomas melirik ke arah Minho yang entah kenapa terlihat luar biasa tenang hari ini, tidak berisik dan aktif seperti biasa. Minho bahkan tidak ikut tertawa bersama mereka, hanya diam menatap lurus ke arah Newt. Butuh waktu beberapa menit lamanya bagi Thomas untuk menyadari kalau Minho sebenarnya sedang gusar. Alisnya berkerut samar dan ada semacam ketakutan di balik iris gelapnya, entahlah, Thomas tidak terlalu yakin.

Mereka melakukan rutinitas yang sama di ruang buku hari itu.

Alby membaca buku yang sama seperti yang kemarin ia baca, sepertinya memang terlalu tebal untuk diselesaikan hanya dalam waktu beberapa hari. Nick dan Ben berbaring berserakan di dekat kakinya, entah membaca buku apa. Thomas duduk di dekat Minho dan Newt, sebuah buku tentang hewan tergeletak manis di pangkuannya. Thomas sedang membaca sebuah paragraf yang menjelaskan tentang ovipar ketika ia memutuskan untuk melirik ke arah the duo (ya, Thomas menamai Minho dan Newt dengan nama itu dan seringkali menyebut mereka berdua dengan nama tersebut ketika ia sedang bercerita pada Teresa).

Newt tidak menggambar atau membaca apapun hari itu, jadi Thomas pikir Minho tidak akan punya sesuatu untuk dilihat dan (akhirnya) akan melakukan sesuatu seperti membaca, menulis, atau menggambar. Namun ternyata Thomas salah. Di dekatnya, Minho dan Newt duduk berdampingan, punggung Newt sedikit bersandar pada lengan Minho sementara Minho sendiri sepertinya membuat Newt lebih bersandar ke arahnya. Kemudian Minho sedikit memiringkan posisi duduknya dan menarik lengan yang dipakai Newt untuk bersandar, membuat tubuh bocah pirang itu merosot ke arah Minho dengan kepala terkulai di pundak sang bocah Asia. Barulah Thomas sadar jika Newt sebenarnya sedang tidur. Dan dilihatnya Minho menahan tubuh Newt dan merapatkan tubuhnya sendiri untuk dijadikan sandaran si pirang, lengan si bocah Asia itu bergerak melingkari pundak Newt dan telapak tangannya beristirahat di lengan bagian atas Newt.

Minho holds him so gently as if Newt will break at any point if he held the blond too hard. His eyes shine with the same fondness as they stare affectionately at Newt's sleeping face.

Dan Thomas kembali menunduk menatap buku bacaannya. Ia membaca beberapa halaman (dengan tidak fokus, banyak kata yang ia baca namun tidak satupun menempel di ingatannya) sebelum kembali mendongak untuk melirik the duo.

Minho masih memandangi Newt yang juga masih tidur.

Newt tidak bangun saat Nick berusaha membangunkannya dan mereka sepakat membiarkan Minho membawa Newt di punggungnya. Newt juga tidak bangun saat mereka makan siang, Minho membiarkannya tidur di pangkuannya, memastikan kalau kepala Newt bersandar dengan aman dan nyaman di bahunya. Mereka mengobrol dan bercanda seperti biasa, Newt tidak terlihat terganggu sama sekali dengan suara mereka dan terus melanjutkan tidurnya.

Newt juga tidak bangun saat Thomas berpisah dengan mereka untuk bertemu Teresa.

.

Thomas tidak banyak bicara dengan Teresa hari itu. Pikirannya terus-menerus kembali pada Newt.

.

Thomas biasanya kembali saat makan malam. Atau saat teman-teman sekamarnya sudah tidur. Atau terkadang, saat teman-teman sekamarnya sudah tidur kecuali Newt yang masih terjaga untuk menunggunya.

Jarang sekali ada orang dewasa di area mereka kecuali di ruang makan. Itupun hanya sekedar untuk menaruh makanan ke baki mereka, mengawasi mereka sejenak. Biasanya orang dewasa hanya akan ada untuk menggiring mereka ke ruang buku atau lapangan sampai waktunya habis dan menggiring mereka kembali ke kamar. Mereka juga yang menggiring anak-anak menuju ruang makan. Namun pekerjaan orang dewasa diantara para anak-anak hanya menggiring. Mereka tidak pernah ada di dalam ruang buku maupun lapangan, apalagi kamar. Mereka menaruh kebebasan terbatas pada anak-anak yaitu dimana mereka membiarkan para anak-anak lepas dan bebas bermain di ruang buku dan lapangan, lalu bisa dengan nyaman beristirahat di kamar tanpa diganggu orang dewasa manapun.

Oleh karena itu Thomas merasa terkejut saat ada orang dewasa di dalam kamar mereka.

Sangat terkejut.

Hari sudah larut dan Thomas memperkirakan semua teman sekamarnya sudah terlelap. Ia juga sudah menduga Newt tidak akan menunggunya dengan kondisinya yang terlihat tidak begitu bagus pagi ini. Jadi, Thomas bahkan tidak berusaha menyembunyikan ekspresi kagetnya saat melihat Nick berdiri di depan ruangan kamar mereka, sendirian, bersandar pada dinding lorong yang gelap. Nick menoleh saat Thomas berjalan mendekat. Ekspresinya sulit ditebak dan Thomas bertanya-tanya apa yang salah?

"Oh, you're back," ujar Nick ringan, nadanya terdengar santai seperti biasa, namun wajahnya agak datar. "So you always come back this late? Poor soul."

Thomas mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah pintu kamar mereka. "What are you doing here?" Karena sudah pasti Nick bukan menunggunya. Tidak ada yang pernah melakukan hal itu pada Thomas sebelumnya kecuali Newt. Kalaupun memang Nick menunggunya, tidak mungkin ia menunggu di luar, kan? Ada apa di dalam?

Nick mengikuti arah pandangan Thomas, mereka berdua sama-sama memandangi pintu selama beberapa detik lamanya. "Maybe you can go inside. Maybe Minho needs a companion. I can't. I just ... can't."

Thomas tiba-tiba saja merasa aliran darah terkuras dari wajahnya. Tidak yakin seberapa pucat wajahnya saat ia membuka pintu dan menyeruak masuk dengan terburu-buru. Hal yang paling pertama dilihatnya adalah dua sosok orang dewasa yang sedang membungkuk di kasur pojok sebelah kiri.

Mata Thomas memicing di kegelapan. Apa yang sedang mereka lakukan di sana? Apa yang mereka lakukan di sini?

Kemudian Thomas melihat sosok Minho yang berdiri tidak jauh dari mereka, seperti ingin mendekat namun juga sebisa mungkin ingin menjauh dari sana. Mereka bertiga memunggungi Thomas, sepertinya tidak terganggu sama sekali dengan suara keras pintu yang menjeblak terbuka. Thomas melirik keluar kamar dimana Nick memberikan anggukan singkat ke arahnya. Ia balas mengangguk dan menutup pintu sebelum berjalan ke arah Minho.

Ekspresi wajah Minho tidak jauh berbeda dengan Nick. Thomas tidak yakin apakah itu karena kegelapan atau Minho memang terlihat begitu saat itu. Raut wajahnya datar saat ia menatap punggung para orang dewasa. Bibirnya terkatup rapat, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

"Minho," panggil Thomas lambat-lambat. Nadanya terdengar hari-hati dan was-was. "What's going on here, what's wrong?"

Minho bahkan tidak menatap ke arahnya saat menjawab. "We're all thought that he was just sleeping. And yet when we tried calling his name countless time to wake him, he didn't budge." Ada jeda beberapa detik yang terasa panjang bagi Thomas, rasanya seperti berjam-jam. "He doesn't wake up."

Newt ... Thomas merasa nafasnya tercekat. Ia kembali menoleh kepada para orang dewasa dan memicingkan matanya lagi, berusaha melihat melalui punggung mereka. Dan matanya melebar saat akhirnya ia bisa melihat sosok teman sekamarnya itu.

Newt terbaring di kasur Minho, mata terpejam erat dan tidak bergerak sama sekali. Mata Thomas yang sudah terbiasa dengan kegelapan ruangan dapat melihat bukaan lebar di perut Newt yang kemudian tersambung dengan selang yang sedang dipegang oleh satu orang dewasa berkacamata tebal. Satu orang dewasa lain yang wanita terlihat sedang mengisi selang dengan cairan bening kekuningan. Thomas mengamati saat wanita itu membuang bungkusan kosong dan meraih bungkusan lainnya, menuangkan lagi cairan itu ke dalam selang, dan Thomas mengamati dengan awas saat cairan itu mengalir dari selang masuk ke dalam perut Newt. Ada noda gelap samar di seprei yang ditiduri Newt dan Thomas baru menyadari bau besi berkarat yang kabur di ruangan mereka.

"They cut his stomach open..." Thomas bergumam samar saat kesadaran menghantamnya. Mungkin ini alasan mengapa Nick lebih memilih berada di luar. Thomas merasa ada yang menekan dadanya, membuatnya juga ingin keluar dari tempat itu, namun ia tidak mau bergerak dari sana. "What..."

Thomas tidak dapat melanjutkan pertanyaannya dan Minho sepertinya mengerti karena detik selanjutnya ia kembali menjawab. "Severe malnutrition, they said. They need to give him the micronutrients. They need to impose it into his body, the protein, vitamins, minerals—something like that. That's why they had to open his stomach."

"But..." Newt is just a kid. Namun lagi-lagi Thomas tidak dapat melanjutkan kalimatnya. They're all just kids. Pandangannya mulai kabur dan detik berikutnya Thomas sedang berusaha agar air matanya tidak jatuh. Ia membuang pandangannya dari sosok kecil Newt yang berbaring seolah dia hanya sedang tidur di kasur dan menghadap ke arah Minho. Bocah Asia itu tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari sosok Newt. Thomas bahkan mulai bertanya-tanya kenapa Minho terlihat begitu tenang, memasang wajah datar, dan semuanya.

"He's always like that."

Thomas mengerjap beberapa kali, menyingkirkan blur pada matanya dan memandang Minho penuh tanya meskipun Minho masih tidak melihat ke arahnya.

Suara Minho datar. Raut wajahnya rileks saat ia berbicara, seolah sebenarnya ia sedang bercerita kepada dirinya sendiri, mengenang masa lalu. "Always been so frail and sickly ever since I met him. Found him one day, in a small dirty alley that smelled like grown-ups' spue. Trembling, cold, starving, frightened, and lost. And yet when I tried to pull his hand, he backed away and glared at me. He didn't trust anyone. He looked like he could collapsed by any second and yet he still tried to stand up for himself. He fought back as best as he could."

Thomas mendengarkan dengan seksama. Ternyata dugaan Teresa benar, mereka sudah bersama bahkan sebelum mereka dibawa kesini. "You guys are ... homeless child?"

"Waif." Minho melakukan gerakan kecil mengangkat bahu. "Ever since I can remember. I mean, the Flare took everything from anyone, right. Your family, your life. Anything."

Thomas mengangguk setuju. Meskipun ia juga kehilangan orangtuanya, ia beruntung karena orangtua Teresa menyelamatkannya dan memperlakukan Thomas seperti anak mereka sendiri. Makanya dia dibawa kesini, dimana mereka dijanjikan perlindungan dari bahaya dunia luar.

"We struggled to survive. Until one day this grown-ups found us and took us here." Raut wajah Minho mengeras tiba-tiba dan Thomas bergidik sedikit. "Ever since that time, I thought everything will be alright. I thought we finally could sleep without being afraid of the nightmares and eat without the need to worry about being hungry tomorrow. I thought I'm doing it right."

Thomas mengernyit bingung.

"I thought I protect him right."

Oh ...

Minho mengusap dahinya dan mulai mengatur nafas, mendadak terlihat tegang dan tertekan. "I thought I watch over him just right. I thought he was okay, I thought we are okay. I thought I take care of him right. I always keep an eye on him, how could I not see this? Why didn't I see it coming, why haven't I realize it sooner?"

"Minho..." Thomas meletakkan telapak tangannya ke pundak bocah Asia itu.

"I should have done something." Nada suara Minho agak meninggi dan Thomas menyadari sepenuhnya jika kedua orang dewasa sedang mendengarkan mereka, tapi ia tidak peduli. "I should—why am I so useless..."

"You can't say that," Thomas menyela buru-buru, "Newt would be so upset if he heard what you said just now. It isn't your fault, Minho. We're always together and if something's wrong with Newt, me and the others should have realized it, too."

"I know him longer than anyone else, Thomas." Minho akhirnya mendongak pada Thomas. Nada frustrasi terdengar jelas dari suaranya dan Thomas menyadari kilatan bening di kedua mata yang sekarang menatap balik ke arahnya. "It's normal if you guys didn't realize it, no one knows him better than me. I'm the one who supposed to see it coming, I—"

"It's still not your fault," Thomas kembali memotong, "think about it, Newt said it himself that nothing makes him better than being with us. If you think it's your responsible, then it's ours, too. You two are no longer alone, Minho. You didn't just have Newt now and so did Newt. You already have us, okay? There are Nick, Alby, Ben, and me. We have each other, right? He's going to be okay because we're all gonna be there for him, okay?"

Minho mengerutkan alisnya dan menunduk. Kedua tangannya masih terkepal erat dan mendadak Thomas tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tangannya masih bertahan di pundak Minho. Detik selanjutnya Minho kembali menatap ke arahnya, wajahnya sedikit terlihat lebih tenang, dan ia mengagguk kecil pada Thomas. "Guess you're right. Thanks."

Thomas menghela nafas lega. Ia menepuk-nepuk pundak bocah Asia itu beberapa kali sebelum menarik kembali tangannya dan menoleh pada para orang dewasa. Mereka sedang membereskan peralatan mereka, Thomas menoleh tepat di saat si wanita memasukkan jarum panjang bersimbah darah ke salah satu tasnya dan ia kembali bergidik. Matanya berpindah fokus ke sosok terbaring Newt yang sekarang sudah berbalut selimut, tanpa perut terbuka yang terpasang selang lagi. Sudut matanya menangkap pergerakan Minho yang mulai berjalan mendekat ke arah kasur, hendak menghampiri Newt. Dan Thomas memutuskan untuk tetap ditempatnya dulu untuk beberapa saat lamanya.

"Night, kids," ujar si wanita ketika berjalan melewati mereka, sementara yang berkacamata tebal langsung keluar dari sana tanpa sepatah katapun. Lagi, tidak berarti Thomas peduli.

Saat Nick masuk setelah para orang dewasa pergi, Thomas sudah berdiri di samping kasur, dimana Minho duduk di tepinya sambil memandangi Newt. Nick beringsut ke arah mereka dan berhenti di samping Thomas, ikut memandangi wajah Newt yang terlihat damai.

"He's sleeping, right?" tanyanya entah kepada siapa.

"We should, too." Minho akhirnya mendongak ke arah Nick. Wajahnya terlihat sedikit rileks. "It's okay now."

Nick menatap ke arah Minho cukup lama, seakan kali ini lebih khawatir pada bocah Asia itu dibandingkan pada Newt. "You will go to sleep, too, yeah?"

"Okay."

"Now, Minho."

Thomas terkadang bingung bagaimana mungkin Nick bisa membaca seseorang dengan begitu mudah. Minho menatap ke arah Newt, lalu pada Nick, sebelum kembali pada Newt, begitu terus beberapa kali sebelum menghela nafas kecil dan menunjuk melalui bahunya. "Can I ... well, I just want to stay with Newt."

"Then stay with him." Nick memberikan anggukan singkat pada Minho dan Thomas sebelum mulai memanjat ke kasur bagian atas miliknya. "Catch you guys later in the morning. Nite."

"Nite." Thomas dan Minho menyahut bersamaan. Lalu Minho mengangkat dahunya, seakan meyakinkan Thomas jika semua sudah baik-baik saja dan sebaiknya ia segera tidur. "You, too, go to sleep."

"Alright." Thomas beringsut mundur sampai ia terduduk di tepi tempat tidurnya sendiri dan mulai membaringkan dirinya sambil menarik selimut. Ia bahkan tidak menyadari betapa dingin tangannya karena ketegangan beberapa menit yang lalu. Jujur saja, Thomas rasa terakhir kali ia merasa setegang dan setakut itu adalah ketika ia melihat ayahnya yang terinfeksi Flare merobek wajah ibunya sebelum kemudian ditembak tepat di bagian kepala oleh Mr. Agnes.

Dilihatnya Minho juga mulai membaringkan dirinya di samping Newt, nampak berhati-hati saat ia dengan lembut menggeser sedikit posisi Newt untuk memberinya ruang di kasur yang tidak telalu besar itu. Minho melingkarkan kedua lengannya disekitar tubuh kecil Newt—protectively—dan mendekap bocah pirang itu dengan erat dalam pelukannya.

(Thomas berusaha mengabaikan rasa aneh yang menyeruak di dadanya ketika melihat pemandangan itu. Ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri kalau Minho dan Newt telah melalui banyak hal tidak menyenangkan bersama-sama dan itulah sebabnya mereka berdua begitu dekat. Masa kecil kebanyakan anak-anak di sini memang sangat, sangat tidak menyenangkan dan bisa berada bersama mereka semua dalam keadaan aman adalah segalanya bagi Thomas, setidaknya itulah yang berusaha Thomas yakini pada dirinya sendiri.)

.

Thomas yakin ia sudah jatuh tertidur beberapa jam lamanya. Ia lelah dan mengantuk, namun entah kenapa suara bisikan-bisikan halus itu membangunkannya. Apa ia sedang berada di sesi lain eksperimen bersama Teresa? Apakah itu suara-suara orang dewasa?

Bocah lelaki itu membuka matanya perlahan dan mengerjap, berusaha membiasakan pupil matanya dalam kegelapan ruangan itu. Beberapa detik lamanya barulah ia sadar ia masih ada di kamarnya. Entah jam berapa sekarang, melihat kondisi yang masih gelap gulita di ruangan tersebut, Thomas dapat menduga jika hari masih larut.

Newt.

Tiba-tiba saja Thomas kembali teringat akan sahabatnya itu. Ia menoleh ke arah kasur yang ada diseberangnya, mencoba untuk melihat sekilas kecil bayangan si pirang sekaligus memastikan jika bocah itu baik-baik saja. Suara bisikan lembut itu kembali terdengar, membuat Thomas teringat akan apa yang membuatnya terbangun. Ia berusaha menajamkan pendengarannya dan menangkap sedikit-sedikit suara yang sepertinya berasal tepat diseberangnya.

It's Minho and Newt.

"Shush, I bloody told you I am fine now."

"Youyou ... they .. thought .. horrible."

Butuh waktu beberapa detik lamanya untuk menyadari jika suara Minho yang terputus-putus dan tidak terlalu jelas itu adalah karena si bocah Asia sedang menangis. Atau mungkin menahan tangis, entahlah. Ada suara isakan kecil yang ditangkap telinga Thomas. Mungkin pilihan pertama yang paling tepat.

"Minho, it's alright. Look at me, I'm here. I'm fine."

"Don't do that to me. Please don't. Not ever again."

"I'm sorry, Ijust please stopdon't cry, alright? I'm sorry."

"I seriously thought I was going to lose you. That was horrible, I mean, you looked like you were djust promise me you'll stuff yourself good from now on. Promise me. Now."

"Okay, sshh, calm down, you're gonna wake Tommy and Nick."

"Newt, promise me."

"I promise, I promise. I promise you, Min, that I'll stuff myself good and you're going to be there to make sure I'm going to do that."

And there's a silence.

Thomas memicingkan matanya sedikit, berusaha melihat diantara kegelapan sambil berusaha membuat gerakan seminimal mungkin. Ketika pupilnya lebih terbiasa melihat melalui ketidakadaan cahaya, ia menemukan Minho yang menyembunyikan wajahnya di balik rambut pirang halus milik Newt. Kedua lengannya yang masih mendekap Newt begitu erat dan dekat terlihat sedikit gemetar. Thomas menangkap gerakan kecil yang kemudian ia sadari adalah tangan Newt yang sedang menepuk-nepuk sisi lengan atas Minho, berusaha menenteramkan bocah Asia yang sepertinya berangsur-angsur terlihat lebih tenang.

"Don't leave me, Newt. We promised to always stick together. Don't go away from me, I don't think I can live with that."

"And you think I can?" Thomas mendengar suara tawa kecil, tawa khas Newt, tawa yang terdengar seperti nyanyian dan selalu berhasil membuat Thomas merasa lebih baik. (Namun entah kenapa tidak untuk kali ini.) "I'm not going anywhere, Minho."

"Good."

Thomas mendengar helaan nafas kecil. "I'm sorry that I made you worried, Min."

"Dead worried." Minho mengoreksi.

"Yeah, I'm sorry about that."

"It's okay, I got you now."

"You're holding me a little bit too tight, actually."

"I'm not letting you go."

"Try to loosen it up a bit, perhaps?"

Wajah childish Minho yang sedang menggelengkan kepala stubbornly muncul di bayangan Thomas. "No can do. I'll do anything you want me to, but not this one. I'm still not letting you go."

Dan bayangan Newt yang sedang memutar kedua bola matanya muncul di kepala Thomas kali ini. "Cracker Jack."

"Thanks, I know I'm that awesome." Minho menyedot ingusnya, diiringi 'eww, you big snotty baby' dari Newt yang disusul kekehan pelan dari Minho. "I will protect you. From now on, I'll never gonna let anything happen to you."

Sejenak, ada sebuah jeda yang janggal sebelum datang balasan lain dari Newt. "Well... where is this coming from..?"

"I just think you should know." (Thomas bahkan tidak harus melihatnya untuk merasa yakin kalau Minho saat ini —pasti—sedang tersenyum.) "I'll always keep you safe. From any harm, from anything. I'll never leave your side and I'll watch over you forever."

Jeda lagi. "Forever is ... a very long time, don't you think?"

"My point, exactly."

Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat lamanya sebelum Newt kembali berbisik. "Can I hold onto that?"

"That's my purpose, you know. I mean, why would I tell you that if I didn't mean it, right?"

"... Right."

"I love you, Newt."

(Thomas memejamkan matanya. Ia berusaha untuk kembali tidur, sungguh. Namun jantungnya berdegup kencang dan menghalanginya untuk mendapatkan tidur yang lain. Sementara itu, otaknya memaksa Thomas untuk memikirkan—atau lebih tepatnya, hatinya memaksa otaknya untuk akhirnya menyadari—betapa penting Newt bagi dirinya. (Tentu saja Teresa, Minho, Ben, Nick, dan Alby juga penting baginya, namun Newt mungkin sedikit lebih penting baginya). Dan tiba-tiba saja Thomas mendapati tangannya kembali dingin. Ia membalut tubuhnya rapat-rapat dengan selimut, berusaha menenangkan degup jantungnya yang masih berpacu. Minho dan Newt pasti sudah tidur sekarang, menyadari bisikan-bisikan mereka sudah berhenti sejak lama. Jadi apa yang membuat Thomas tidak bisa tidur juga tidak diketahui oleh bocah yang bersangkutan. Setiap kali ia mencoba menutup mata, pikirannya selalu bergerak dengan liar hingga mau tidak mau ia harus kembali membuka matanya dan mengatur nafasnya yang entah kenapa mulai memburu. Saat matanya terbuka pun, ia tidak bisa menghilangkan suara-suara dalam kepalanya. Suara itu terdengar sangat nyata dan dekat, seperti bisikan tepat di samping telinganya. Dan suara itu juga sangat, sangat mengusiknya, membuat perutnya melilit dan dadanya bergemuruh. Suara yang sangat menyerupai suara Newt—or in the matter of the fact, it indeed is Newt's voice—yang baru saja didengarnya beberapa jam yang lalu. Suara bisikan lembut yang tidak berhenti berputar di kepalanya.)

.

(Adalah suara saat Newt membalas Minho dengan "and I love you, Min").

.

.

Newt terlihat benar-benar sudah sehat keesokan harinya.

Pipi pucatnya bersemu dengan rona pink samar—warna yang sehat, pikir Thomas—saat Ben merangkulnya menuju ruang makan untuk sarapan. "Damn, you totally got us yesterday. Minho almost pissed on his pants when you slept like a bull, ignoring all our hysterical calls as an attempt to wake you up."

"Pissed on my pants?" Minho menyahut dari belakang. "I almost shitted all over my pants." Dan komentar itu mengundang tawa dari yang lain, termasuk Thomas.

Newt meringis kecil sebelum melemparkan tatapan meminta maaf pada teman-temannya. "I'm sorry, guys. I didn't mean to make all of you that worried."

"What worried, we were all freaking out, I thought Minho was gonna shit on my pants, too," ujar Nick dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat, dihadiahi oleh geplakan kecil dari Minho di bagian belakang kepalanya.

Alby tersenyum kecil ke arah Newt dan menepuk punggung si pirang dengan pelan saat mereka mentertawakan ekspresi Nick yang sedang memelototi Minho. "We're all just happy to have you here again, Newt."

"Thanks, Alby," ucap Newt, terdengar tulus saat ia membalas senyum Alby dengan seulas senyum yang sama. "Glad to be around, all fresh and healthy," lanjutnya sambil melirik ke arah Minho.

Ben akhirnya melepaskan rangkulannya dari Newt dan berusaha menarik Nick menjauh dari Minho yang sedang bersembunyi di belakang Thomas, menjadikan bocah malang itu sebagai tameng hidup untuk melindungi dirinya sendiri dari pembalasan Nick. Alby tertawa kecil dan mendorong punggung Nick dan Ben untuk berjalan lebih dulu di depan sementara Minho melemparkan kedua tangannya ke udara dalam posisi kemenangan, Thomas dan Newt tertawa disampingnya.

Semuanya nampak sama seperti hari-hari sebelumnya. Mereka kembali ke rutinitas mereka yang biasa dan merasa senang akan hal tersebut.

(Dan Thomas berusaha untuk tidak menyadari—ketika Alby, Ben, dan Nick sudah berada lebih jauh di depan—saat Minho dan Newt diam-diam saling menautkan jari-jemari mereka dan berjalan bergandengan tangan seperti itu sampai ke ruang makan.)

(Dan ia juga berusaha untuk tidak menyadari saat Minho dan Newt diam-diam masih saling menggenggam tangan satu sama lain di bawah meja saat mereka sedang sarapan.)

(Again, there's a sudden pang on his chest, something that he can't describe nor understand.)

.

"Newt?" panggil Thomas pelan.

Saat itu mereka sedang berada di ruang baca. Alby, Ben, dan Nick berselojor bersama seperti biasa di lantai dengan buku mereka masing-masing. Duduk sedikit jauh dari mereka bertiga adalah Newt dan Thomas. Minho kali ini tertidur di lantai, kepala beristirahat dengan nyaman di pangkuan Newt. Sesekali bocah Asia itu akan mendengkur halus atau mengeluarkan igauan-igauan yang tidak dimengerti baik oleh Newt maupun Thomas. Namun sesekali Newt akan menepuk-nepuk kepala atau bahu dan membelai rambutnya sampai Minho kembali tidur dengan tenang. Thomas sendiri sedang duduk menyamping dengan punggung yang bersandar pada bagian lengan kanan Newt. Bocah pirang itu tidak protes, ia membiarkan Thomas bersandar padanya seperti itu. Masing-masing dari mereka memegang sebuah buku dan Newt tidak terlihat kesusahan membaca bukunya dengan posisi seperti itu.

"Yes, Tommy?" Newt menjawab pelan. Suaranya lembut dan halus. Dan ia bahkan tidak mendongak dari bukunya saat merespon.

"Are you alright, like all right alright now?"

Pertanyaan itu membuat Newt mengalihkan pandangannya dari buku ke bagian belakang kepala Thomas. Bocah berambut gelap itu masih bersandar padanya sehingga Newt tidak bisa melihat wajahnya secara langsung dan hanya bisa menduga-duga ekspresi macam apa yang sedang dibuat Thomas saat itu. "I'm alright, Tommy. What's the matter?"

Berat di lengan kanan Newt hilang saat Thomas kembali menegakkan punggungnya dan berbalik menghadap si pirang. "I know they've said it countless time. But yesterday, was truly, a chaos. I freaked out the moment I came back last night. I saw what the adults did." Thomas menarik nafas sejenak. "And I hope it won't happen ever again. So if you ... if I can help you with something, anything at all, please don't hesitate to ask, okay?"

Senyum Newt merekah dengan perlahan. Ia meraih puncak kepala Thomas dan mengacak-acak helai hitam anak itu. "Aren't you such a sweet little guy." Newt berhenti sesaat untuk menatap Thomas (dimana Thomas merasa jantungnya berhenti berdetak selama sedetik saat ia beradu pandang dengan warna cokelat hangat itu) dan memberikan cengiran senang. "Thank you, really. I'll keep that in my mind. In return, if you need someone to talk to, don't hesitate to come. You know where to find me."

(Dan Thomas merasa ia ingin membicarakan tentang perasaan aneh di dadanya pada Newt, namun karena perasaan itu sepertinya disebabkan oleh si bocah pirang itu sendiri dan Thomas juga tidak tahu bagaimana harus memulainya, ia mendorong pemikiran itu jauh-jauh ke bagian belakang kepalanya dan menguncinya rapat-rapat.)

Newt menarik tangannya dari kepala Thomas (mendadak Thomas merasa kehilangan dan langsung merindukan kehangatan dari tangan mungil itu) dan membalik halaman bukunya ketika Minho kembali mengigau tidak jelas. Newt tertawa pelan dan membelai rambut bocah Asia itu sampai Minho kembali diam dan mendengkur kecil.

Thomas memandangi pergerakan kecil itu dan menyadari cara Newt memandang Minho adalah bagaimana selama ini Minho memandang Newt. Irisnya berkilat penuh dengan adoration dan affection yang mendalam, senyum Newt melukiskan kelembutan yang sepertinya hanya ditujukan untuk Minho (dan—mungkin—membuat Thomas iri terkadang). Thomas menggigit bagian dalam pipinya sebelum kembali berujar, "Minho said you guys have known each other ever since kids day."

"He did?" respon Newt sambil menaikkan sebelah alisnya, perhatiannya kembali tertuju pada Thomas. "Hmm, yeah. Have been always with him ever since as long as I remember." Kali ini mata Newt terlihat menerawang, seperti sedang mengingat masa lalu. "We struggled to survive. Not a very nice days of living," Newt menambahkan, pandangannya kembali turun ke arah Minho, "but I think it's worth it. To be honest, I'm not going to make it through if it wasn't for Minho. I think I'm still alive because of him. And to be more honest, I keep going not because I want to, but because of him. The thing that's kept me going was him. It was always Minho."

Thomas menarik nafas—yang tidak sadar telah ditahannya sedaritadi—lagi dan melempar senyum separuh yang sering ia gunakan untuk para orang dewasa saat mereka menanyai dirinya dan Teresa dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sakit kepala. "I can feel how important he is to you. And how important you are to him, of course. You guys sure are close."

Newt tersenyum manis, sebuah senyum yang membuat matanya melengkung dan hidungnya sedikit mengerut in the most adorable way. Tangannya kembali menarik Thomas dan ia memberi bocah yang lebih muda itu sebuah pelukan singkat. Sebuah pelukan yang mampu membuat Thomas kembali menahan nafas. "You're also important to me now, Tommy. To us. You guys are my family and I'd do anything to stay with you."

Thomas agak ragu awalnya, namun ia tidak mau membuang kesempatan berharga itu dan perlahan melingkarkan sebelah tangannya disekitar tubuh Newt, memeluk bocah pirang itu balik dengan cukup erat. "Thanks, Newt. You have no idea how important you are to me."

"You're a good kid, Tommy. And you are precious. So, so precious."

(Thomas berusaha untuk mengabaikan rasa bahagia yang meletup-letup liar di aliran darahnya saat Newt mengatakan hal itu padanya.)

(Ditambah pelukan itu, ughthat damn hug. Thomas masih bisa mencium harum samar tubuh Newt dan aroma rambutnya. Dan pipinya sempat bergesekan dengan rambut pirang Newt yang ternyata memang sangat halus.)

(Newt just doesn't know how precious he is and Thomas is just too shy at the moment to say the same thing to the blond. But Thomas' sure that Minho's probably already told Newt that. And he doesn't want to think about it so let him builds his courage till the day he's brave enough to say it directly to Newt.)

(Dan Thomas berpura-pura tidak pernah menanyakan tentang masa kecil Newt dan Minho. Ia menganggap ia telah melupakan bagaimana cara Newt menatap Minho dan bagaimana jawaban dari Newt membuat hati Thomas mencelos, seperti organ itu telah copot dari rongganya.)

Tommy ...

.

"You're getting even more closer to them, aren't you?"

Thomas menatap ke arah Teresa dengan sedikit bingung. Gadis cantik itu tersenyum padanya seperti biasa, rambutnya yang mulai panjang diikat kuncir kuda. "How can you tell?"

Teresa sedikit mengangkat bahu. "The look on your face? I don't know, you seem happier and happier by the times. I guess you're doing great with them."

Thomas nyengir sedikit. Ya, memang benar, ia merasa jauh lebih mengenal teman-temannya sekarang (and there's Newt) dan Thomas memang merasa senang berada di dekat mereka. Bukan berarti mereka lebih penting dari Teresa, though. "But you're still irreplaceable, don't worry."

Teresa tertawa. Dan menurut Thomas, suara tawa Teresa adalah suara tawa kedua (dulu pertama, sekarang setelah Newt) yang dapat membuatnya merasa lebih tenang. "Aren't you a sweet talker."

Gantian Thomas yang mengangkat bahu.

Teresa kembali tertawa geli. Namun perlahan-lahan suara tawanya padam dan raut wajahnya berubah datar sebelum berangsur-angsur mengeras menjadi sebuah raut wajah yang terlihat lebih serius.

'This can't be good.' Entah darimana datangnya pemikiran itu, namun itulah yang sampai di pikiran Thomas.

"Listen, Tom," mulai Teresa pelan, suaranya terdengar sangat berhati-hati, "everything is going to change."

Thomas mengerutkan alisnya. Ia berusaha membaca raut wajah Teresa namun tidak menemukan apapun di sana. Tiba-tiba saja ia merasa gusar, seperti ada yang salah namun ia tidak dapat mendefinisikannya. "What? What's that supposed to mean? What's your point, I think you lost me."

"Everything is going to change," ulang Teresa, matanya masih menatap lurus ke arah Thomas. Gadis itu menggigit bagian bawah bibirnya sebelum kembali melanjutkan dengan nada, yang secara mengejutkan, terdengar dangerously calm di telinga Thomas. "My parents... they're working to find a cure for The Flare, Tom."

Thomas terdiam beberapa saat lamanya untuk mencerna perkataan Teresa. Mereka berusaha membuat obat untuk virus gila itu? Bukankan itu sesuatu yang bagus? Namun Thomas tetap merasa ada sesuatu yang salah dan berusaha memikirkan apa, what the hell is wrong with that news, dan lagi, tidak ada satu petunjuk pun yang mampir ke kepalanya. "Well, that's a good thing, right?" Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya meskipun agak ragu. "What is it? What can I do to help?"

Tatapan Teresa tiba-tiba berubah muram. Thomas benci melihat gadis itu sedih dan ia baru saja hendak menampar dirinya sendiri karena telah melontarkan pertanyaan yang membuat gadis itu menampakkan ekspresi seperti itu...

...kalau saja penjelasan Teresa yang selanjutnya tidak membuatnya membatu di tempat dengan keringat dingin yang mengalir di tengkuknya.

Everything is going to change ...

.


(Thomas kembali ke kamarnya lebih awal dan menangis. Ia mendengar pertanyaan-pertanyaan penuh nada cemas dari Nick dan Minho ("Thomas, what's wrong?", "What did they do to you?", "Are you hurt?", "Does it hurt somewhere?", "You don't wanna talk about it?", "Hey, easy, buddy. We're here with you", "You're safe, Thomas, do you need something?") namun tidak ada yang digubrisnya. Ia menangis, meratap dan meraung seperti bayi baru lahir, menangis tersedu-sedu dan membuat teman-teman sekamarnya panik dan semakin khawatir. Tetapi ketika Thomas tidak menjawab sama sekali, mereka entah kenapa mengerti dan berusaha menenangkan Thomas meskipun hanya dengan gerak kecil. Nick mengusap punggungnya dalam gerakan melingkar sementara Minho mengusap lengan kirinya dengan gerakan naik-turun, Thomas memang merasa sedikit lebih baik dengan gesture kepedulian mereka.)

(And then there's Newt, asking question with tone clear in confusion. And when Thomas didn't answer, Newt is still there, wrapping his slender and thin arms around Thomas' torso, trying to calm the wailing kid. He whispers reassuring words on Thomas' ear and wipes the rolling tears on Thomas' cheek. And Thomas hugs him back tightlyso tight as if his lfe depends on it. Newt caresses his hair and wipes more of his tears, he cradles Thomas' head in his arms and once in awhile Newt will run his fingers through Thomas' hair. The movement is so gentle, so tender, it makes Thomas calm and yet at the same time it only makes him cry harder. He holds Newt tighter into his chest, clinging like a terrified lost kid that needs a cover. His whole body is trembling and it makes Newt holds him a little more tighter, too. 'Tommy, it's okay, we're here,' he whispers softly through Thomas' hair. And Thomas still can feel Nick's and Minho's hand on his back and arm. He feels grateful but then again the cry continues. He hugs Newt like he never hug anyone in his life before. The blond is the only thing that matters to him now and to hold him close like that, Thomas cries more into Newt's smooth blond hair and silently promises himself that he'll try anything, he'll do anything, to keep the blond safe.)

(And he doesn't let go of Newt until they fall asleep together that night. He doesn't let go.)

(He thinks maybe he can't let go. He just can't. He really can't let go of Newt.)

(While actually he indeed doesn't want to let go of Newt. He just doesn't want to.)

(He really doesn't want to let go.)

.


KEPANJANGAN, MAAP. (?)

Ini seharusnya childhood mereka yang ditulis dari waktu mereka dikirim ke maze, dimonitor sama Thomas, sampe Thomasnya sendiri nongol di maze, TAPI KOK MALAH KEPANJANGAN GINI. (?) Tanpa curcol author aja kayaknya ff ini word-nya nyampe 10k deh. (?) YA AMPUN, MAAP BANGET. (?)

Jadi nanti di bakal ada chapter lain. (?) TERUS INI KENAPA MALAH JADI NEWMAS YA (?). Kita histeris sendiri sambil guncang-guncang laptop, tapi tenang aja, OTP kita tetep minewt, kok. MINEWT FTW! (?) Terus, bales review anon bentar, yaaa.


Tamu baru : HALO (?) makasih ya reviewnya, huhuhu, sini kita cium, umumumumu (?) maafnya di chapter ini minewtnya seiprit beud, hiks. Semoga kita bisa menulis cerita yang lebih baik untuk pair ini. Makasih loh ya supportnya~

sangsterain : KITA JUGA SUKA SAMA KAMU (?) /nggak/ Eh, eh, makasih loh udah baca fanfic ini. ; u ;

Sangster58: HAI ANAK MUDA BERJIWA EMAS (?) ; A ; minewt juga pair favorit kita, huhuhu, tapi maaf ya mungkin di chapter kali ini mereka nggak explisit (?) gimana gitu ; u; DAN JANGAN BACA BUKU KETIGA, JANGAN (?) /nggak/ Bacalah, nak ; u ; dan rasakan angst-nya. Angst. Angst everywhere. Feel the angst and you will try to survive the day embracing the angst. (?)


See ya~ (?)