Jeritan dan tangisan terdengar disetiap pelosok desa tersebut... Darah, mayat, semua bergeletakan dan tercecer dimana-mana. Suasana desa yang biasanya ramai oleh canda tawa dan keramahan penduduknya kini berubah seperti neraka di mata seorang gadis kecil. Perang. Sebuah kata itulah yang mengubah semua dunianya. Beginilah nasib desa yang terletak di perbatasan sebuah pemerintahan yang rakus akan wilayah dan kekuasaan, ditambah lagi, desa itu dekat dengan wilayah para pemberontak yang menentang pemerintahan. Jadilah sekarang desa itu menjadi medan perang.

"BUNUH SEMUANYA! JANGAN ADA YANG TERSISA BAIK WANITA MAUPUN ANAK-ANAK!" teriakan itu memekakan indra pendengaran gadis kecil itu, dan membuatnya merinding.

"Jangan takut, aku akan melindungimu," ucap seorang bocah lelaki disampingnya saat menyadari badan gadis kecil itu bergetar hebat. "Nah, ayo kita lari sekarang!" bocah lelaki itupun menggenggam tangan gadis kecil itu, dan melarikan diri bersama. Kemana saja, yang penting mereka keluar dari neraka ini. Sang gadis kecil berusaha menutup matanya saat melihat pemandangan di kanan dan kiri mereka, dimana mayat manusia korban perang bergeletakan bagaikan bangkai hewan yang dibiarkan begitu saja, belum lagi bau anyir darah yang menusuk indra penciumannya. Gadis kecil itupun semakin mengeratkan pegangannya pada bocah lelaki di depannya.

"Ah! Tunggu bocah!" geram seorang pria bertubuh besar. Di tangannya terdapat golok yang sangat tajam. Kedua anak itupun gemetaran, namun tetap melanjutkan larinya. Sayang, langkah kaki kecil mereka tidak bisa menyamai langkah kaki pria tersebut, dan sialnya lagi rambut panjang gadis kecil itu tertarik oleh tangan besar pria tersebut.

"Le-lepaskan!" jerit gadis kecil itu. Namun pria itu tidak mengindahkannya dan mengacungkan goloknya, bersiap untuk menebas gadis itu.

"Lepaskan dia!" teriak sang bocah lelaki dan dia melempari pria besar itu menggunakan batu, dan apapun yang ada disekitarnya, hingga tak sengaja sebuah batu yang dilemparnya mengenai mata pria tersebut, dan tanpa disadari genggaman tangannya di rambut gadis kecil itu terlepas. Bocah lelaki itu segera menarik gadis kecil itu dan mulai kembali berlari.

"BOCAH KEPARAT!" marah pria itu, dia mengacung-ngacungkan goloknya ke berbagai arah sambil mengejar mereka, hingga golok itu nyaris mengenai sang gadis kecil, beruntunglah bocah lelaki itu melindunginya, tapi sebelah mata bocah lelaki itu terkena sabetan golok pria tersebut.

"Kyaaa!" jerit gadis kecil itu ngeri, dia berniat menghampiri bocah lelaki yang sedang menahan sakit itu, namun dihentikan oleh bocah tersebut.

"La-lari,,," bisik bocah lelaki itu. Gadis itu menggeleng cepat.

"Ta-tapi kau…"

"Aku tidak apa-apa…" potong bocah itu dengan nada lemah. Bocah itu menyadari kalau pria besar itu akan menyerang lagi, diapun memberikan sang gadis kecil tatapan tajamnya, "CEPAT LARI!" bentak bocah itu. Mata sang gadis kecil mulai berkaca-kaca, dengan ragu gadis kecil itu mulai berlari meninggalkan bocah lelaki itu, dan tanpa sengaja saat gadis itu berbalik untuk melihat bocah lelaki tersebut, pandangan bocah lelaki itu melembut, dan mulai menggerakkan bibirnya.

"Lari, dan hiduplah…"

Gadis kecil itu menutup matanya, menolak untuk melihat lagi kebelakang, dan terus berlari, air matanya ia biarkan menetes begitu saja.

'Tuhan… Dimana kau sekarang?'

.

.

.

Sins

Kuroko no Basuke – Fujimaki Tadatoshi

Rate : M

Genre : Crime, Hurt, little Romance

Warning : OC, Little OOC, AU, (agak)sadis, bahasa kasar, pairing masih belum jelas, dll

.

.

.

"-i! Zai! ZAI!" panggil pria berambut abu kesal pada gadis berambut hitam yang tengah tertidur di depannya. Perlahan kelopak mata gadis itu terbuka dan menampakkan iris madunya. Gadis itu terbangun dan menatap pria berambut abu itu setengah tidak sadar. Mimpi masa lalunya yang samar itu membuat moodnya lumayan memburuk.

"Ada apa Chihiro-san?" pria berambut abu pun mengerutkan alisnya kesal mendengar pertanyaan 'polos' gadis itu tadi. Namun gadis itu langsung mengerti saat ingat 'ada apa' jika pria ini menghampirinya. "Misi?" kata gadis itu memastikan.

"Baguslah kalau kau mengerti," pria itu menyilangkan tangannya didepan dadanya, "Dan jangan panggil nama asliku saat bekerja," lanjut pria itu mengingatkan.

"Aku mengerti. Maaf, Chi," ucap gadis itu tenang, nyaris tidak ada emosi dalam nada suaranya, "Jadi, kali ini siapa?" tanya gadis itu lagi, dia sudah tahu arti kata 'misi' itu.

"Ketua klan Yasuchika, jika bisa, habisi saja semuanya," jawab pria itu singkat. "Jangan lupa, bawa kepalanya sebagai bukti," senyuman sadispun tercetak di wajah pria yang cukup tampan itu. Gadis bersurai hitam tersebut hanya menatap datar ke arahnya.

"Baiklah. Aku akan menyelesaikan secepatnya," gadis itu mengambil katananya dan menyarungkannya di pinggang, lalu secepat kilat ia menghilang dari pandangan pria bernama asli Chihiro tersebut. Pria itu menghela nafasnya.

"Dasar tidak sabaran," bisiknya. Tidak lama kemudian pria itu juga menghilang, mengikuti sang gadis.

.

.

.

Bulan bersinar terang malam itu. Cukup terang untuk menerangi katana yang berkilat karena ketajamannya, dan warna merah menyala yang melumuri katana tersebut. Jeritan kesakitan dan genangan darah mewarnai mansion Yasuchika itu.

'Kau cukup urus ketua klan itu, bawahan dan anggota klan lainnya biar aku saja,' ucap pria berambut abu seniornya saat keduanya memasuki mansion tersebut. Dan sekarang 'Zai' berjalan dengan anggunnya menuju kamar ketua klan Yasuchika yang merupakan buruannya tersebut. Katananya sudah terlepas dari sarungnya, karena sejak tadi ia sudah menggunakannya untuk melawan beberapa bawahan. Dia melawan mereka dengan sangat cepat karena langsung menyerang titik vital mereka. Berbeda dengan Chihiro dan 'ketua iblis'nya ataupun anggota lain, yang senang 'bermain-main' dulu dengan lawan mereka, Zai lebih suka menghabisi mereka dengan cepat.

"Disini kah?" kata Zai pelan saat melihat fusuma berlukiskan bunga sakura di depannya. Diapun membuka pintu itu dengan tenangnya. Dan muncullah lima orang bawahan Yasuchika.

"Apa-apaan ini? Orang yang menjatuhkan pasukan kita di bawah, perempuan?!" kata pria satu.

'Chihiro bukan perempuan,' batin Zai, namun ia memilih mengunci mulutnya.

"Dan dia sendirian kemari! Apa kau sudah siap mati,hah?!" kata pria dua menambahkan.

"Sayang sekali ya, padahal kau cantik juga, jika kau bukan musuh kami, mungkin kita akan berakhir di ranjang… ha ha ha!" tambah pria tiga sambil menyentuh wajah Zai. Gadis itu hanya menatap pria itu datar.

"Singkirkan tanganmu dari wajahku, menjijikan," ucap gadis itu pelan. Pria tersebut pura-pura tidak mendengarnya.

"Haa? Apa tadi kau bilang?"

"Hoy! Jangan bermain-main dengan-" ucapan teman pria tersebut terhenti saat Zai dengan tenangnya memotong lengan pria yang menyentuh wajahnya.

"Kubilang…" nada bicara gadis itu mendingin, "Singkirkan tanganmu dari wajahku, menjijikan," ulang Zai. Pandangan matanya berubah menjadi berbahaya.

"AAAH! TANGANKU!" jerit pria tersebut sambil menahan sakit karena tangannya baru saja terpotong tadi, dia menatap Zai dengan penuh kebencian, "PEREMPUAN SIALAN!" maki pria itu sambil mengacungkan katananya yang dengan mudah Zai tangkis, dan gadis itu dengan cepat menebas leher pria tersebut sehingga cairan merah pekat pun mengalir dengan lancarnya karena urat nadi yang terpotong, keempat rekannya yang lain hanya menatap itu shock.

"Ka-kau…" geram salah satu rekan pria tersebut dengan gigi yang bergemeletuk karena marah, "BUNUH DIAA!" teriaknya kemudian. Keempatnya pun menyerang gadis itu secara bersamaan, namun dengan gerakan yang sangat cepat, Zai mengayunkan katananya dan membuat gerakan mereka berhenti.

"Oyasumi," bisik Zai pelan dan keempat tubuh itu ambruk seketika, membuat pakaian dan wajah gadis itu 'sedikit' terkotori oleh darah mereka. Gadis itu melanjutkan langkahnya dengan tenang, meninggalkan tubuh kelima bawahan Yasuchika yang sudah tidak bernyawa itu dengan kepala yang nyaris terputus…

Zai kembali membuka fusuma yang berlapis-lapis itu, sambil tetap memegang katana untuk berjaga-jaga apabila ada bawahan Yasuchika lagi. Namun kosong. Dan sampailah di fusuma terakhir. Terlihatlah seorang pria bertubuh tambun meringkuk ketakutan di kasurnya karena melihat 'Dewi Kematian'nya telah datang.

"Ketemu," ucap Zai pelan.

"Hi-hiii… Kenapa?! Apa salahku?!" jerit pria itu. Zai hanya memandang 'pemandangan' tersebut kosong.

"Entahlah," jawab Zai singkat. Selama ini dia melakukan 'misi' tanpa mengetahui alasannya. Dia hanya 'boneka' dari pemerintah, 'alat' untuk membunuh. Tidak bertanya ataupun mengasihani 'buruan'nya. Yang penting misinya lancar dan dia bisa beristirahat.

"'Entahlah' katamu?! Lalu kenapa kau melakukan ini?!" tanya pria itu lagi dengan nada yang lebih tinggi.

"Karena ini misi," nada suara Zai berubah menjadi dingin. Dia berjalan mendekati pria tersebut. Pria itupun semakin panik melihatnya.

"Tu-Tuhan! Selamatkan aku Tuhan!" raung pria tersebut. Mendengar kata-kata pria itu Zai tersenyum kecil.

"Kau salah tuan…" 'Crash' kepala pria bermarga Yasuchika itu terpisah dari tubuhnya, "Tuhan itu tidak ada," kata Zai dengan nada dingin, mengabaikan pakaiannya yang bertambah kotor karena cipratan darah. Dia mengambil kepala pria itu dan menatapnya kosong, tapi perlahan senyum mengejek tersungging di wajahnya, "Lihat kan? Dia tidak menolongmu?"

.

.

.

Chihiro memandang gadis yang baru saja tiba dihadapannya tersebut. Dia melihat sebuah kain yang membungkus 'sesuatu' -yang tentu saja ia tahu isinya- di tangan gadis itu. Matanya menyipit melihat penampilan gadis itu, wajahnya terdapat beberapa percikan darah, dan bajunya juga sudah berubah warna.

"Penampilan yang buruk," komentar Chihiro, Zai hanya menatap pria itu dengan wajah tanpa ekspresinya. Dan gadis itu melempar bungkusan ditangannya itu ke Chihiro.

"Jadi, sekarang 'itu' mau di bagaimanakan?" tanya Zai sambil menunjuk mansion Yasuchika yang didalamnya sudah dipastikan tidak ada yang hidup lagi. Chihiro menatapnya bosan, dia sendiri tidak tahu mau dibagaimanakan, jika ada warga sipil yang melihat, pasti akan terjadi kehebohan.

"Bakar saja," kata sebuah suara yang tiba-tiba muncul dibelakang keduanya.

"Ketua," kata Chihiro dan Zai. Mereka menatap seorang pria berambut hitam dengan smirk yang cukup mengerikan. Mata sipitnya yang misterius tertutupi oleh kacamata yang bertengger di hidungnya. Dia mengambil bungkusan di tangan Chihiro dan menimang-nimangnya.

"Shou-san, jangan dimainkan," kata Zai datar saat melihat 'Shou' memainkan bingkisan itu.

"Aah… maaf-maaf…" pria itu tersenyum bodoh sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, "Kerja bagus. Disini serahkan saja padaku, kalian berdua pulang dan istirahat sekarang, terutama kau Zai," 'Shou' menunjuk gadis itu, "Bersihkan dirimu, Nijimura-dono tidak akan senang melihat penampilanmu itu."

"Aku tahu," gadis itu menjawabnya singkat, mengabaikan smirk di wajah 'Shou' yang semakin melebar.

"Baiklah, kalau begitu kami pamit duluan, ayo Zai," kata Chihiro, keduanya pun berbalik arah untuk pulang. Tidak lama kemudian bau 'kayu' yang dibakar tercium oleh indra penciuman mereka. Aah… Besok pagi , mansion itu pasti sudah rata beserta orang-orang, ah bukan… Mayat-mayat didalamnya.

.

.

.

TBC

Author's note :

Another gaje fic dari saya~ *tebar bunga 7 rupa*

Ukh, sebelumnya author minta maaf kalau ada kata-kata yang tidak mengenakan didalam fic ini, sungguh, itu tuntutan skenario… bukan bener-bener dari hati author *bow*

Dan maaf juga kalau adegan 'bunuh-bunuhan'nya aneh… T^T

Ah, sedikit penjelasan:

*fusuma : sejenis pintu geser ala jepang, tapi tidak tembus pandang dan biasanya ada motifnya, dan biasanya juga dipakai di rumah-rumah bangsawan Jepang

*mansion : uda pada tau kan? Rumah besar tempat tinggalnya bangsawan kalau di fic ini… :D tapi bisa juga kalo di jaman modern mah apartemen "^^)d

*katana : dijamin udah pada tau juga… pedang panjang yang biasa digunakan para samurai~ :3

Oh iya, nama disini pake code name ceritanya… xD

*OC pake nama 'Zai' dari kanji (tsumi) yang artinya dosa (nama asli OC akan terbuka seiring fic ini berjalan xD #plakk),

*Chihiro pake nama 'Chi' dari kanji (chi) yang artinya darah,

*Dan –ehem-udah tau kan itu siapa? Yap! Abang Imayoshi, pake nama 'Shou' dari kanji (sawaru) yang artinya menyakiti/membahayakan~ :3 *maaf sudah seenaknya~ Dx*

Yosh, author minta pendapatnya ya tentang fic ini, gabosen author minta reviewnya kalian semua, hehe…

Makasih buat yang udah baca~ xDD

Sign, Kaito Akahime