~New Family~


by: PrinceStraw

chapter : 1

pairing : KrisxTao

genre : Fluff, CRACK! XD

rating : T

warning: Weird story as usual, Language, Male's pregnancy, sissy Tao

disclaimer: Kris and Tao are mine, they are JGV actor in my company *is lying*

A/n: Yay! Ini adalah sequelnya ff remake-ku yang Perfect Family. Disini ceritanya Taoris sudah menikah :) tapi saya memakai kata 'kekasih' bukan istri atau suami karena kurang sreg begimanaaa gitu~ wkwkwk

.

.

.

Enjoy...


Kris baru saja keluar dari ruangan kerjanya ketika waktu menunjukkan pukul 9 malam. Ia berjalan dengan agak tergesa menuju elevator yang akan membawanya ke basement. Masuk ke kotak metalik itu dengan dihinggapi perasaan gelisah, tiap satu menit—atau lebih—sekali ia melirik arlojinya. Ini terhitung lewat dari dua jam dari waktu kerja yang seharusnya, Kris sangat mengutukki meeting yang diadakan mendadak itu yang sudah menahannya di kantor lebih lama.

Selagi menunggu tiba di lantai paling dasar, pria berambut pirang itu pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya untuk menge-check sesuatu. Disana—di ponselnya ia tidak menemukan apapun; panggilan telepon dan bahkan pesan. Kerutan samar tampak di dahi Kris yang tengah memandangi layar ponselnya, ia merasa heran karena tidak seperti biasanya kekasih cantiknya tidak menghubunginya. Pasalnya malam ini ia membuat janji pada kekasihnya itu pulang tepat waktu, dan hal itulah yang memunculkan pertanyaan besar di kepala Kris sekarang.

Apa Tao marah?

Sedikit menimbang-nimbang akhirnya Kris menghubungi Tao, namun yang ia dengar malah suara operator. Nomor Tao sedang dalam keadaan tidak aktif. Ia kembali mengantongi ponselnya setengah kesal. Bunyi ding lalu terdengar dan pintu terbuka, Kris keluar dari lift bersama beberapa orang karyawan. Ia menyusuri parkiran dan segera menemukan mobilnya tipe mercedes berwarna membuang waktu segera melesatkan mesin canggih itu keluar dari area kantornya, sebisa mungkin Kris mengatur kecepatan mobilnya agar cepat sampai di apartemennya.

Dan dua puluh lima menit berlalu, Kris yang sudah berada apartemennya dikejutkan oleh ruangan-ruangan apartemennya yang gelap menyeluruh tidak ada penerangan dari cahaya lampu sama sekali, jendela dan gorden pun tertutup rapat, ditambah hening membuat Kris berpikiran kalau apartemennya memang dalam keadaan kosong sejak tadi. Kris melangkahkan kakinya dengan hati-hati, meraba-raba dinding lalu menaikan saklar lampu ruang utama. Ketika ruangan terang, ia meliarkan pandangannya dan memanggil nama kekasihnya.

"Tao,"

Sambil berjalan ke kamarnya Kris menyalakan lampu-lampu yang lain. Ia tersenyum sendiri dan menyiapkan hati alih-alih Tao di dalam kamar sedang menyiapkan kejutan, misalnya berbaring di atas ranjang yang ditaburi kelopak mawar sambil berpose menggoda dan memakai pakaian seksi, mungkin (XD). Kris membuka kamar, namun sayangnya disana ia tidak menemukan Tao termasuk dengan bayangan-bayangan mesumnya.

"Kemana dia?" batin Kris tidak tenang. Tao tidak menghubunginya sama sekali, tidak memberi kabar dan tidak bisa dihubungi. Makhluk kesayangannya itu menghilang entah kemana, rasa gelisahnya jelas saja bertambah. Kris takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Tao, apalagi tadi pagi kekasihnya itu sedang dalam keadaan kurang sehat. Ia semakin khawatir.

Disaat pikirannya masih berkelut bel apartemennya berbunyi. Bunyi yang cukup tidak sabar karena orang diluar sana tampak menekannya berkali-kali. Kris dengan sedikit berlari ke depan dan membuka pintu. Berharap kalau orang itu Tao.

"Selamat da—"

Cup!

Kris tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena disaat yang sama bibirnya menerima ciuman kilat, pria tampan itu stagnan sepersekian detik lalu menghembuskan napasnya. Lega. Kris menutup pintu, menguncinya kembali, dan mengikuti langkah Tao yang masuk ke apartemen. Wajah kekasihnya tampak lelah, ia duduk bersandar di sofa sambil meluruskan kaki. Melihat itu Kris menyimpan keinginannya bertanya, ia berjalan ke dapur mengambil segelas air untuk Tao.

"Kris, maafkan aku ya, tadi a—aku—" Tao kelihatan gugup.

"Sudah..sudah, lebih baik kau minum dulu."

Kris meletakkan gelas itu diatas meja, duduk disamping pria manis itu. Tao menggumamkan kalimat 'terima kasih' sambil memperbaiki posisi duduknya, mengambil gelas berisi air dingin itu namun tidak segera meminumnya melainkan menatap wajah Kris yang diberkati ketampanan luar biasa dan mengeratkan pegangannya pada gelas.

Kris sedikit bingung dengan gelagat Tao, ia menggeser badannya lebih dekat kemudian mengusap surai kelam milik Tao lembut. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya kekasihnya pikirkan saat ini, Kris ingin membuatnya tenang.

"Jadi?" tanya Kris akhirnya.

"Kau tidak marah padaku, Kris." kata Tao agak ragu.

Kris mengangkat bahunya sedikit dengan alis tertarik keatas, tak sepenuhnya mengerti pernyataan yang baru saja ia dengar. "Heh? Mengapa aku harus marah padamu?"

"Aku tidak menyiapkan makan malam kita—kukira acaranya sebentar tapi ternyata.."

Kris tersenyum samar, tanpa mendengar penjelasan Tao lebih lanjut ia sudah paham alasan kenapa Taonya terlihat sangat bersalah dan meminta maaf. "Oh. Tidak apa-apa sayang.. lihat aku juga baru pulang," Tao melihat Kris masih rapih dengan pakaian kantornya, dan ia mengangguk. "Sebenarnya kau habis dari mana? Tidak menghubungiku dan tidak bisa dihubungi, membuatku khawatir saja." lanjut Kris. Tangannya yang kokoh merangkul pundak Tao, membawa kepala Tao bersandar nyaman di bahunya.

"Nee.. tadi aku datang ke acara Pekan Raya salah satu stasiun televisi swasta, padahal aku tidak mau tapi Chanyeol terus memaksaku! Huh.. Dia yang mau pedekate sama Baek kenapa aku juga di libatkan." Tao menggembungkan pipinya yang sudah tembem, wajahnya tampak sangat lucu.

Dan ia meneruskan, "Parahnya aku lupa membawa ponselku, jadi tidak bisa mengabarimu. Tapi kau tahu tidak, Kris?"

"Hm?" Ah, sejujurnya Kris tidak benar-benar menyimak. Sibuk menikmati harum wangi rambut dan aroma manis kekasihnya sambil tetap mendekapnya.

"Chanyeol 'menembak' Baek tapi Baek menolaknya karena ia hanya menganggapnya sebagai kakaknya. Kasian sekali ya Chanyeol." Namun lagi-lagi dehaman yang keluar dari tenggorokan Kris. Tao seketika mendongak, melihat kekasihnya dari sudut yang tidak begitu baik.

"Kau tidak mendengarkanku!"

Kris melepaskan dekapannya, membalikkan tubuh Tao tepat menghadapnya dengan fokus yang sempurna. Meneliti keindahan di depannya yang begitu memikat.

"Aku dengar sayang," ujar Kris seraya mempersempit jarak. Wajahnya kini beberapa senti saja dari telinga Tao, Kris melesakkan wajahnya ke leher putih Tao, menemukan kelembutan pada kulit itu. Bibir Kris yang tak bisa menahan bergerak tanpa diperintah menelusuri permukaan lehernya. Rambut Tao tersangkut diantara jemarinya dan ia semakin dalam menyesapi salah satu bagian sensitif kekasihnya.

"K—Kris, kau sedang apa sih?" Suara Tao agak bergetar.

Melihat riak air yang tidak tenang lagi di dalam gelas, Tao mengigit bibir bawahnya dengan perasaan berdebar merasakan sentuhan di sudut bibirnya. Ia ingin berkata sesuatu namun lidah Kris lebih dulu membungkam mulutnya, dijulurkan masuk kemudian menjelajahi rongga hangat itu. Saling mempertemukan lidah mereka, mengelus, menjilat, tangan Kris menekan tengkuk Tao hingga lidahnya masuk makin jauh ke dalam mulutnya. Tao mengatur napas ketika Kris menyudahi ciumannya, sesaat mendadak seperti kehabisan napas. Pahanya terasa basah.

"Kris airnya tumpah," ucapnya sengau.

Pria dihadapannya tertawa kecil. Dagu Tao diangkatnya dan mata mereka bertemu. "Kau bisa menahanya 'kan?"

Tao mengangguk malu setengah berharap. Satu detik setelahnya bibirnya kembali diserang oleh bibir Kris, dan ia sama sekali tak keberatan, karena apa yang dilakukan Kris selalu berhasil mengalahkan penolakan dirinya. Ciuman kali ini lebih pelan dan manis, penuh kelembutan. Kecupan-kecupan kecil menghasilkan lenguhan yang mengembalikan gairah keduanya, Tao tampak menikmati saat Kris mengelus punggungnya, dan itu tak berlangsung lama sampai ketika ia mendengar bunyi yang cukup aneh, dan berulang-ulang.

Kruyuuuuuuuuuuk~ kruuk~ (?)

"Ekh?! Kau—kau lapar?" Tao mengerlingkan matanya yang agak membulat.

Kris terkekeh sebentar, lalu menciumi pipi Tao. Menghirup napas Tao, merasakan getaran kecil dari tubuh pria yang demikian dekat dengan tubuhnya. "He-eh' aku lapar—ingin memakanmu." Ia berbisik penuh konsen pada suaranya.

"Aissh! Bodoh! Jangan bercanda. Menyingkir dariku! Akan kubuatkan kau sesuatu." Tao berusaha menjauhkan dirinya dari Kris, tapi Kris langsung menarik pinggangnya. Semakin merapatkan tubuh Tao ke tubuhnya.

"Yah.. Tao di oleskan mayonaise kurasa cukup enak." Pria jangkung itu menjilat bibirnya sendiri.

"Hey?!"

"Haha.. aku bercanda. Kau beristirahatlah dan segera pergi tidur. Aku yang akan menyiapkan makanan untukku sendiri." Kris berkata sambil tersenyum. Mensematkan surai-surai hitam Tao kebelakang telinganya dan Tao tampak tersipu. Pipinya merona, manisnya melebihi wanita manapun yang pernah Kris jumpai.

"Tidak bisa begitu Kris."

Kris meletakkan ibu jarinya di bibir basah Tao, menelusuri bibir bawah itu dengan jarinya yang berkuku terawat rapi. "Tao aku senang sekali kau selalu memperhatikanku, tapi kau kekasihku bukan pelayanku. Sekarang berisitirahatlah aku mengkhawatirkan kesehatanmu, babby."

Ucapan Kris terdengar lembut dan tulus menyentuh hati Tao. Akhirnya Tao mengangguk, patuh pada kata-kata Kris. "Selesai makan kau langsung temani aku tidur ya," kata Tao kalem namun terdengar sangat manja hingga menggelitik telinga Kris dan Kris tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum. Tao mengecup kening Kris sebelum meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya.

Kris memperhatikan langkah Tao sampai pria itu menghilang dibalik pintu. Kris tersenyum. Senyum yang tak bisa ia hitung sudah keberapa kali kala ia mendapati gelagat manis Tao yang akhir-akhir ini lebih manja, sedikit keras kepala, jauh lebih sensitif, kekanakkan dan sangat memperhatikkannya.

Ia tersenyum sekali lagi, membatin. Selamat tidur sayang...

...

Hari masih tengah malam ketika ia terbangun. Matanya tiba-tiba saja terang jauh dari rasa kantuk. Tao membalikkan posisi badannya ke kanan. Dan ke kiri, mencoba kembali tidur. Terus begitu tapi ia tak juga kembali terlelap, yang ada hanya menggeliat resah selama lima belas menit.

Tao bangkit duduk. Hanya ada satu lampu tidur berwarna jingga yang menerangi kamarnya, sehingga tampak remang. Membawa suasana aneh dan membuatnya paranoid. Ia menoleh ke sisi kanan melihat Kris berbaring disampingnya, tertidur sangat lelap seolah dipulaskan oleh mimpi indah. Sedikit tidak tega jika harus membangunkan pria itu, tapi mau bagaimana lagi, Tao juga tidak mau terbangun sendirian malam-malam. Takut.

Tao pun mengguncang pelan bahu Kris,

"Kris," panggilnya pelan. Terus mengguncang.

"Ya! Kris.. bangun," Kris tak menampakkan reaksi yang berarti.

"Kris.. bangun.. bangun," Tao mengguncangnya lebih kuat dan cepat. Kris sudah mengulatkan badan dan mata Tao berbinar senang melihat itu.

"Nghn..Hey, ada apa?" tanya Kris dengan suara seraknya sambil mengusapkan matanya yang terasa sepet. Kemudian melirik jam dinding, yang dimana jarum pendeknya menunjukkan pukul satu, dini hari tentunya. Ia menguapkan rasa kantuk dan duduk.

"Aku terbangun dan sekarang tidak bisa tidur," jelas Tao cenderung terlihat seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada orangtuanya karena mimpi buruk.

"Kau haus?"

Tao menggeleng. "Lapar?" tebak Kris lagi dan Tao menggelengkan kepalanya lagi. "Lalu?"

"Kurasa aku mau sesuatu Kris~" Tao memberikan jeda pada kalimatnya hanya untuk menarik kaos piyama Kris.

Oh, tidak. Kali ini apa lagi?

"Aku mau es krim rasa pisang.. ya, ya.." ucap Tao sangat antusias.

Kris menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya perlahan. Sejujurnya ini bukan pertama kalinya Tao terbangun malam-malam dan meminta sesuatu. Akhir-akhir ini Tao suka yang aneh-aneh, Kris jadi kesal sendiri bila mengingatnya. Seminggu yang lalu Tao meminta Kris membelikan sate ayam(?) untuknya, Kris yang tidak tahu kuliner apa itu pun menghubungi neneknya. Dan syukurlah, berkat informasi yang ia terima dari neneknya ia bisa mendapatkan makanan itu.

Berikut hari-hari selanjutnya; Kris terus disibukkan oleh permintaan Tao; Jika tidak dipenuhi Tao-nya akan terus merengek dan merengut. Sama seperti dugaan Chanyeol—manager Tao—Kris mengira pasti ada sesuatu yang salah dengan kekasihnya, tapi ia tidak mengetahui jelas apa sebabnya.

"Jangan bercanda Taozi.. ini dini hari. Hari ini aku capek dan ngantuk sekali," ujar Kris seketika menyulutkan mendung di wajah Tao. Kris merebahkan badannya lagi, dan memunggungi Tao. "Kembalilah tidur. Aku janji besok ku belikan es krim pisang sebanyak yang kau mau." Nadanya sangat terganggu.

"Tapi aku maunya sekarang Kris," ucap Tao terlampau pelan, yang mendengar hanya dirinya sendiri. Sekilas ia melihat Kris yang sedang mencoba kembali tidur. Mengerucutkan bibir, merebahkan badan disamping Kris dan menarik selimut sampai ke dadanya. Pada akhirnya ia pun ikut memejamkan mata.

.

.

.

.
.

.

Hey,

Namun,

15 menit kemudian...

"Kris.."

"Kris!"

"Ya! Kris! Kris!"

"Ayolah! Bangun Kris! Wu Yi Fan!"

Kris mengerjapkan matanya beberapa kali, mendengar suara yang semakin lama semakin terdengar cempreng dan berisik yang mengusik tidurnya. Ketika ia akan bangkit seketika langsung terkejut mendapati Tao duduk diatas perutnya.

"WTF! Tao apa yang kau lakukan?!"

"Aku tidak bisa tiduuuuuur~! Aku mencobanya tapi tetap tidak bisa, es krim pisangnya selalu berputar-putar didalam kepala kuuu~ Bagaimana ini?" Tao seperti mau menangis dan memainkan ujung kaos piyama Kris. Pria jangkung itu memijat keningnya. Tao menyingkir dari perut Kris membiarkan Kris untuk duduk.

"Gzz! Kau tinggal usir es krim pisangnya dan bayangkan saja wajahku, ok?" Saran yang tidak bagus dalam menghadapi Tao yang keras kepala.

"Tetap tidak bisaa~!" Ia malah mulai merengek.

"Cukup Tao! Kau tidak berpikir ini jam berapa? Aku harus mencarinya kemana?" Kris hampir frustasi. Tao mengangkat bahu dengan entengnya, memasang ekspresi favoritnya. Yah, Innocent. Apa kalian tahu? Setiap kali melihat ekspresi itu rasanya Kris ingin sekali memulangkan Tao ke rumah mertuanya.

"Aku tidak tahu. Kau cari saja kemana kek," suara Tao pun terkesan tidak peduli.

"Wu Zi Tao!" Kris menahan gerahamnya, mencoba untuk tidak marah.

"Wu Yi Fan~" Terbalik. Tao membalas memanggil namanya dengan riang.

"Panda!"

"Naga~"

Ugh.. Rasanya mendadak sakit kepala kalau terus beradu mulut dengan Tao. Kris ingin kembali tidur tapi tangan Tao mencegahnya, menariknya. "Ayolah Tao, jangan begitu.. aku ngantuk," Kris menjatuhkan badannya ke ranjang, tangannya mencari-cari bantal, lalu segera membekap kepalanya untuk menghindari ocehan Tao.

"Kau tinggal mencarikan es krim pisang untukku lalu kembali tidur. Gampang 'kan? Aku janji setelah itu tidak mengganggu tidurmu lagi,"

"Yeah, yeah, whatever." gumam Kris sambil mencari posisi nyenyak.

Tao melayangkan guling ke badan Kris. "So mean! U don't hear me! Not love me anymore! Fine! I'll find it myself." Tao kesal sekali. Ia berpikir Kris sudah tidak peduli, tidak mau memperhatikannya lagi. Menahan genangan air mata dan dadanya yang terasa sesak. Ia sudah akan beranjak, hendak turun dari tempat tidur akan tetapi tiba-tiba tubuhnya tertahan.

"Sssh.. sorry, I'm sorry, beb. Stay here," Kris yang melingkarkan tangannya di pinggang Tao kian mempererat rengkuhannya. Mana bisa ia membiarkan Tao-nya keluar sendirian, malam-malam pula, Kris memang kesal tapi mengacuhkan seorang Tao adalah sesuatu yang salah. Ia meletakkan dagunya di bahu Tao, lanjut berbicara. "Baiklah, akan kucarikan, dan kau tetap disini. Janji padaku setelah kubawakan es krimnya jangan mengganggu tidurku lagi."

"Oke boss' aku janji!" seru Tao gembira.

Kris melepaskan rengkuhannya dari pinggang Tao sebelum ia turun dari tempat tidur. Mau tak mau malam ini ia harus menembus dinginnya angin malam hanya untuk mencari es krim pisang, strawbery, mangga, atau apapun itu; dan setidaknya yang Tao minta kali ini agak mudah dicari, tidak seperti waktu itu saat ia meminta makanan tradisional dari negara lain.

Dengan berat hati Kris meninggalkan kamarnya yang hangat, ia memegang handle pintu berniat memutarnya.

"Kris?" Tao memanggilnya, spontan Kris berbalik. Berdiri di ambang pintu.

"Apa lagi?"

Tao menutupi mulutnya dengan satu tangan, seperti sedang menahan tawanya. Tapi terlihat manis sekali, Kris jadi ingin menerjangnya saja. "Kau.. Pftt.. Kau yakin keluar pakai begitu?"

Reflek Kris mengerutkan kening. Lalu melihat dirinya sendiri. Se-setel piyama kusut masih melekat di tubuhnya.

Ah.. Sial.

.

.

.

.

.

Pria bertubuh jangkung itu menepuk-nepuk kepalanya, sebisa mungkin menghilangkan titik-titik air yang ada di rambutnya. Hampir saja ia kehujanan, kalau tidak cepat mungkin keadaanya sudah basah kuyup. Keluar dari minimarket tadi tanpa terduga jutaan rintik air merembes dari langit dan membasahi Seoul. Cuaca memang sulit untuk di prediksi terlebih jika malam hari. Mendung atau tidak, ya tidak ada bedanya.

Kris menenteng dua kantong plastik besar; satunya berisi aneka snack, dan yang lain tentu saja pesanan Tao; es krim. Kris membelinya bukan hanya rasa pisang saja melainkan berbagai rasa. Ia meletakkan belanjaannya di lantai saat ingin mengunci pintu apartemennya. Terlebih dahulu melepas sneakersnya, lalu membuka jaket kulit hitam yang sedikit basah dan mencantelkannya di hanger. Di dalam apartemennya, sayup-sayup ia mendengar suara televisi yang menyala.

Ia bergegas ke ruang tengah dan langsung mematikan televisinya yang menampilkan berita tengah malam itu karena tidak ada orang yang menontonnya. Ia menaruh belanjaannya diatas meja. Dilihatnya malaikatnya tengah berbaring di sofa, manik hitam besar yang memancarkan keteduhan di balik bulu matanya yang indah dan panjang itu terkatup rapat. Dengkuran halus terdengar konstan, teratur dengan napasnya. Tao tertidur pulas sekali layaknya bocah polos dalam kehangatan pelukan ibunya.

Kris tersenyum kecil, ia ulurkan tangannya menyentuh pipi tembam Tao dan mencubitnya, tanpa berniat membangunkan.

"Hh.." Kris mendesah. "Kau ini ya benar-benar..."

Tak terbesit sedikit pun penyesalan di hatinya. Selalu. Kris selalu merasa beruntung menjadikan Tao sebagai pendamping hidupnya.

===TBC===

A/n: Wkwkwk gaje ya. Bodo ah. Di cut dulu ah biar greget *plak*

Saran dan Kritik dipersilahkan. Thanks :)