Disclaimer : J.K. Rowling
Pairing : Drarry
Rated : M
Genre : Romance, Drama, and little bit sci-fi
Warning : OOC, BL/Boys Love, Typos and Miss Typos, Alternative Universe, Bastard|Draco, Lemon—in next chapter, Half Kitty Harry, dll
.
Summary: Harry Potter tadinya seorang mahasiswa jurusan biologi manis dengan nilai yang selalu bagus. Memiliki seorang saingan bernama Draco Malyof—si jenius kedu—dengan sifat bejat yang mendarah daging. Hanya dengan memerlukan satu sentuhan jari dewi takdir, serbuk cinta, satu kata sihir, dan satu ikatan kasat mata. Yang terjadi, biarlah terjadi.
Saya menganut istilah, "Don't like, don't read" ok!
-Chapter 1-
Harry Potter—seorang pemuda dengan rambut hitam yang selalu berantakan, wajah manis dengan kedua mata hijau emerald yang memikat berbingkai kaca mata bulat, hidung mancung, pipi putih sedikit tirus yang merona, bibir plum merah jambu alami—semakin merapatkan mantel coklat yang sedang dipakainya. Cuaca hari ini memang sangat buruk, dengan salju yang turun terus-menerus dari pagi—hingga Harry berpikir kalau mungkin London sebentar lagi akan berubah menjadi antartika—mengingat udara yang memang semakin dingin setiap harinya.
Menghembuskan nafas hangat ke kedua tangan dan menggosokkan keduanya berulang kali, Harry mendelik jengah saat mendengar suara menyebalkan memanggil namanya dengan nada memuakan. Memasukkan kedua tangannya pada saku mantel. Harry berbalik untuk melihat orang yang selalu mengganggunya, ia berpikir untuk benar-benar harus belajar menenangkan diri pada salah satu temannya yang sedang belajar psikologi nanti siang, atau... meminta Cedric—temannya—untuk mengajarinya material art juga, dan membuat orang ini bertekuk lutut.
—untuk beberapa detik, Harry meruntuki keputusannya untuk meminjamkan mobil sebentar pada sahabat karibnya—Ron Weasley.
Harry langsung berbalik, dan terus berjalan tanpa mengidahkan orang tidak tahu diri—yang sedari tadi mengikutinya dari samping dengan menggunakan mobil sport merah keren—meneriakinya dengan kencang.
"Hey, baby Potty, ayo naik! Kau pasti kedinginan bukan, sayang?"
Ok, sekarang batas kesabaran Harry benar-benar diujung tanduk.
Dengan wajah memerah—antara malu dan marah—Harry berbalik melihat orang yang sedari tadi memanggilnya tersenyum, menyebalkan. Berjalan mendekat ke arah mobil dengan menghentakan kaki, Harry lupa kalau ada beberapa lapis es yang cukup licin. Lagi-lagi untuk beberapa detik, Harry meruntuki keputusannya, dan saat dirasa tubuhnya oleng, Harry langsung merubah ekspresi wajahnya dan berseru kaget hingga suara 'gedebum' pelan terdengar.
Tergelincir karena kesalahan sendiri—di depan orang yang paling kau tidak inginkan untuk melihat, memalukan. Harry meringis kecil sambil mengelus bagian bawahnya yang berbenturan langsung dengan lapisan es. Uh, semoga bagian tulang ekornya tidak apa-apa, pikir Harry merasa bagian itu berdenyut, nyeri.
Pemuda di dalam mobil sontak tertawa dengan terpingkal-pingkal sambil menunjuk Harry. "Oh, baby Potty, jangan seperti itu. Nanti aku akan masuk lewat mana, jika kau melukai bagian itu?" tanyanya dengan nada meledek.
Harry mendongakkan kepala. Melihat pemuda dalam mobil dengan geram. "Diam kau, Malfoy!" bentak Harry kesal. Menerima tawa yang lebih kencang dari pertama, Harry akhirnya berusaha berdiri dan berjalan lagi, mendekat. "Dan jangan harap aku mau menampung bendamu itu! Walaupun aku harus menjadi gay, aku tidak sudi untuk merasakanmu! Asal kau tahu saja Draco Bastard Malfoy!" teriak Harry murka, tanpa melihat situasi tempat.
Draco Malfoy—pemuda berambut pirang platina lembut, kulit putih pucat, dengan mata abu-abu tajam, dan bibir tebal menggoda—hanya menambah intensitas tertawanya. "Oh, ayolah sayang, jangan seperti itu," ledeknya. Melihat Harry berbalik untuk meninggalkannya, Draco segera menginjak gas mobil untuk mengerjar Harry. "Hey, baby! Ayo naik, biarkan aku mengantar pangeran manisku!" teriaknya dengan sangat tidak tahu malu.
Draco sama sekali tidak risih dipandang dengan kikikan kecil dari beberapa pejalan kaki yang melihatnya. Mungkin mereka mengira kalau Draco adalah seorang pemuda yang sedang merayu kekasihnya—Harry dalam kasus ini—untuk tidak marah lagi. Entah karena apa pemuda manis—yang mereka lihat—sedang menghalangi wajahnya itu dengan kerah mantelnya marah pada kekasih tampanya. Tapi, mereka cukup terhibur melihat drama picisan yang begitu romantis.
Oh, mereka tidak tahu saja kalau Draco bukanlah kekasih dari Harry, tetapi musuh yang paling dijauhi Harry. Mungkin jika mereka satu universitas, dan juga satu jurusan dengan Draco dan Harry, mereka baru akan tahu kebenarannya. Pertama, kebenaran kalau memang nama tengah Draco itu adalah brengsek. Siapa yang tidak tahu Draco Malfoy. Pemuda penyandang nama Malfoy, tampan, kaya, memikat dan... penakluk di hebat di ranjang. Hampir semua wanita di kampus bahkan hampir dia rasakan—bahkan hampir seperempatnya ia yang merebut harga diri wanita itu—mengingat betapa buruk pergaulan—dan beberapa laki-laki pun pernah dia taklukan.
Pesona yang membuat Harry muak.
Kedua, kenyataan kalau Draco selalu seperti anjing kelaparan saat berhadapan dengan si kucing manis Harry.
Tiada hari tanpa bertengkar, mungkin adalah kalimat yang melekat dipikiran para mahasiswa lain saat melihat Draco mulai menggoda Harry—atau mungkin lebih tepat, mengerjai Harry.
Ketiga, Draco selalu merasa kalau semua yang berhubungan dengan Harry pasti akan menarik perhatiannya.
Bukan tanpa alasan kenapa Draco bisa meraih peringkat kedua—tercerdas—di kelas mereka. Draco hanya ingin tahu reaksi pemuda manis itu jika dia bayangi terus-menerus. Ya, anggap saja Draco itu sebenarnya seperti fans Harry yang gila. Tertarik tapi karena pelampiasan rasa penasaran.
Harry berhenti berjalan, melihat Draco dengan pandangan membara. "Berhenti untuk mengikutiku, Malfoy!" Teriak Harry kesal. Berteriak dengan kekuatan penuh, Harry bahkan sampai menutup matanya. Suaranya tiba-tiba saja serak karena berteriak tadi. Harry meruntuki Draco sekali lagi karena pemuda itu membuat tenggorokannya sakit.
Draco menyeringai, "Tidak sebelum, baby Potty mau untuk aku antar," katanya membuat Harry lagi-lagi melangkah menghentak. Tapi bukannya untuk membentak, tapi untuk masuk dalam mobil sport merah Draco. Membuat pemuda platina itu menyeringai, menang.
"Nah, Pottyku memang paling manis," kata Draco mendapat tatapan tajam dari Harry. "Ok, ok. Kita berangkat sekarang, sayang." Katanya menaikkan kaca pintu di sebelahnya dan mulai melaju. Tidak memperdulikan Harry yang bergumam kesal di sampingnya.
Entahlah, Draco memang paling senang mengerjai si nomor satu di kelasnya itu. Baginya, menggoda Harry—si teladan manis—seperti berhasil memecahkan persilangan antara tumbuhan dan hewan, aneh.
Draco terus menyeringai senang sepanjang perjalanan sambil melirik Harry sesekali.
.
.
.
Benar-benar, hanya dalam satu kaki yang turun, Harry sudah bisa mendengar jeritan histeris orang-orang yang melihatnya—kaget. Seorang Potter muncul dari mobil sport seorang Malfoy, seperti sepasang kekasih!
'Ok, itu pikiran yang berlebihan, Harry!' batin Harry menjerit.
Mencoba untuk biasa saja, Harry mencoba untuk keluar dan berjalan dengan tanpa menghiraukan bisikan histeris mahasiswi dari semua jurusan itu. Tapi sepertinya Draco membiarkannya saja. Dengan seenak jidat, Draco berteriak dengan kecang. Melontarkan kata-kata yang membuatnya membatu dan berlari dengan cepat.
"Hey, sayang! Jangan marah lagi ya! Aku janji tidak akan kasar lagi padamu saat 'melakukannya' di mobil!" Teriaknya absurd.
Hey memangnya apa yang mereka lakukan di mobil?
Oh, ayolah jangan bertanya seperti yang sedang dilontarkan para wanita yang sedang melihat punggung Harry itu. Mereka sama sekali tidak melakukan apapun, dan Draco berteriak seperti itu hanya untuk—lagi-lagi—menggoda Harry.
"Memang kau apakan dia, Drake?" tanya seseorang di belakang Draco.
Draco menyeringai, dan menjawab tanpa melihat orang itu. "Hanya memegang tanganya dengan kencang saat mengebut tadi," jawabnya terkekeh.
"Ah, kesenangan dan kebiasaan menyebalkanmu itu," desah pemuda di belakang Draco.
Draco tertawa. "Sudahlah, aku harus mengejar pangeran manisku itu, Blaise." Katanya melenggang pergi setelah mengunci otomati mobilnya. Tidak memperdulikan pemuda hitam yang menghela nafas lagi.
"Otaknya benar-benar sudah rusak," katanya Blaise melihat Draco di depan sana sedang berhenti dan menerima sesuatu dari seorang wanita. Wanita itu terlihat sangat sexy dengan ukuran beberapa anggota tubuh di atas normal. Bagian depan yang terlalu menonjol dan bagian belakang yang sengaja diangkat. Ah, Blaise tahu kalau temannya itu pasti sedang membicarakan rencana ranjangnya nanti malam. "—benar-benar rusak," lenguhnya melenggang pergi saat Draco mencium bibir wanita itu dan juga pergi.
.
.
.
BRAK
Harry mendengus kesal, sembari duduk di bangku yang paling depan—paling dekat dengan dosen. Dengan malas, Harry membuka tas yang dari tadi dibawanya, mengeluarkan buku yang 'lumayan' tebal, dan mulai membaca. Mata emerald itu menjelajahi setiap kata yang berada di sana. Begitu fokusnya, Harry bahkan tidak tahu kalau Ron—salah satu sahabatnya—datang menghampiri. Melihatnya dengan pandangan bertanya.
Harry memang pintar, tapi tidak biasanya pemuda itu akan membaca sebelum ada dosen yang masuk ke kelas—walau Ron sebenarnya tidak sekelas dengan pemuda itu, tapi dia cukup tahu dengan kebiasaan sahabatnya. Karena hampir setiap harinya, Ron hanya akan menemani Harry bercerita sebelum jam kuliah Harry dimulai.
Ron melihat ke sekeliling. Matanya melihat Harry lagi.
"Malfoy itu belum datang. Jadi, kau kenapa?" tanya Ron menepuk meja Harry. Membuat pemuda di depannya berjenggit—sedikit kaget. Ron nyengir kaku melihat pandangan Harry yang tajam padanya.
Mengusap wajahnya frustasi. "Hanya sedang kesal,"jawabnya. Ditutup buku di tangannya—setelah sebelumnya memberi tanda sampai mana dia berhasil membaca. Harry membenarkan sedikit letak duduknya, lalu melihat Ron lagi dengan pandangan malas dan mengeluarkan ponsel canggil di saku celananya. Tidak terlalu memperdulikan Ron. Dia pikir, Ron pasti mengerti tentang perasaannya yang sedang tidak nyaman dan tidak ingin diganggu sekarang.
Ron mengangkat halisnya bingung, lalu dengan acuh melenggang pergi. Harry masih malas berkata apapun sebelum dengan cepat dia mengalihkan perhatiannya pada Ron. Menyimpan kembali ponselnya, dan melihat Ron dengan pandangan menimbang-nimbang. Harry segera memanggil sahabatnya itu dengan suara yang sedikit kencang.
Ron sontak menghentikan langkahnya, dan segera berbalik. Berpose dengan gaya kuno—kedua tangan diregangkan di sisi pintu, "Ada apa?"
Harry sedikit mengenyit melihat pose Ron.
"Err... kapan kau akan mengambalikan mobilku?" satu deret kalimat tanya itu akhirnya keluar setelah Harry keluar dari khayalan anehnya tentang Ron. Sekarang gantian Ron yang mengenyit sedikit tersinggung.
Harry tersentak saat sangat mungkin Ron akan tersinggung dengan pertanyaan barusan, jadi dengan cepat Harry mengoreksi perkataannya agar Ron tidak salah paham. "Bu-bukannya aku tidak mau meminjamkanmu. Tapi... kau tau, aku baru saja dikerjai Bastard Malfoy itu, hanya karena tidak menggunakan mobil tadi," kata Harry jujur.
Ron terbelalak. Melangkah mendekati Harry—tidak jadi keluar kelas. Duduk di hadapan Harry setelah mengambil satu bangku yang tidak dipakai di sebelah tempat Harry. Melihat Harry dengan pandangan bertanya—tertarik. "Apa yang dia lakukan lagi padamu, mate?" tanyanya.
Harry menghela nafas. "Dia menggodaku habis-habisan,"—sampai berhasil mempermalukanku, lanjut Harry dalam hati.
Ron kehilangan kata-kata. Hanya melihat Harry dengan prihatin. Sekarang dia berhasil mengambil andil yang besar dalam godaan Draco pada sahabatnya—kemajuan.
"Bisa kau kembali ke kelasmu, Weasley? Bangku yang sedang kau duduki itu milikku!" suara yang paling dibenci Harry lagi-lagi terdengar. Memerintah pada sahabatnya dengan nada super arogan. Harry ingin sekali membantu Ron, tapi mengingat beberapa jam ke depan dia akan berada dalam ruangan yang sama dengan si pemilik suara, membuat Harry jadi enggan sedikit pun mengeluarkan suaranya.
Bukannya takut, hanya saja... siapa yang mau digoda terus dalam kelas saat dosen yang ilmunya sangat berharga itu berbicara. Tidak! terima kasih. Harry masih ingin mengambil satu dua kata ilmu dari bibir dosennya.
Ron melihat Draco yang menatapnya tanpa minta. "Oh, aku tidak ingat sejak kapan kau menjadi pemiliknya," jawabnya kasar. Dalam bayangan Ron, Draco begitu menyebalkan dengan tampangnya yang begitu tampan itu. Melihat Draco dengan pandangan mencela, Ron berdiri dari bangkunya. "Ya, ambil saja bangkumu itu. Aku juga tidak sudi untuk duduk di tempat orang kulitnya pasti penuh dengan panu!" ejek Ron melenggang pergi setelah sebelumnya berpamitan pada Harry. Membisikkan kalimat yang sontak membuat Harry terkekeh geli sambil melirik Draco yang menatapnya bingung.
"Apa?" Draco bertanya sambil duduk di tempat yang tadi Ron tempati—duduk sambil berhadapan Harry langsung.
Harry tersenyum mengejek, "Apanya?" tanyanya meledek.
Draco mendengus, "My Prince ternyata sedikit bodoh," katanya mengejek.
Sontak Harry melotot kesal. "Kembali ke tempatmu, Malfoy!" teriaknya sambil menunjuk Draco kesal.
Untungnya Draco langsung mengerti, dan hanya mengerling nakal lalu menempatkan bangku itu ditempatnya semula—samping tempat Harry.
Pagi yang begitu ribut untuk anak-anak jurusan biologi.
.
.
.
Satu lagi masalah untuk Harry, dan ini bukan hanya masalah biasa. Tapi masalah luar biasa. Lebih dari luar biasa, tapi super tidak biasa. Dia pikir, mungkin setelah professor Snape datang ke kelas, mengajar dengan wajah galak sekaligus menyeramkan dan—seperti biasa—membagi kelompok untuk satu tugas, Harry akan terbebas dari marabencana. Tapi ternyata sekarang, hal ini lah yang menjadi sumber bencana untuknya. Menopang dagu dengan wajah yang terlihat sangat jengkel, Harry sama sekali tidak ingin melirik sedikitpun ke sebelah kanannya.
"Hei, baby... kau tidak ingin melihat?" tanya Draco sedikit menggeser microscope di depannya hingga pas berada di antara mereka berdua.
Terbagi menjadi satu kelompok bersama Draco Malfoy.
Hell! Dia tidak tahu kalau sekarang laboratorium ini menjadi gua kesengsarannya.
Draco tahu kalau pemuda di sebelahnya sedang meruntuki nasib, tapi dia sama sekali tidak tersinggung sedikitpun. Lagipula, Draco cukup senang karena bisa berdekatan dengan manis di sampingnya. Jujur kata, sebenarnya Draco cukup tertarik pada Harry. Bukan tertarik karena perasaan, tapi melihat tubuh Harry yang cukup berisi—sexy. Draco yang memang 'bi' jadi ingin menaklukan Harry juga. "Kau yakin tidak ingin melihat? Bagaimana kalau tugas kita ini salah?" tanya Draco lagi.
Harry melirik Draco, "Terserah. Bukannya kau si ranking 2 juga cukup mengerti pelajaran ini? Hanya masalah jaringan organisme, tidak mungkin kau tidak bisa, kecuali jika kau memang ingin membuat tugas kita jelek," jawab Harry sedikit menuduh.
Draco tersenyum. "Baiklah, jadi keputusannya, My potty sudah sangat percaya padaku,"
Harry tidak menatap tajam Draco—karena sedikit waras, dia pikir memang itu yang diinginkan Draco.
"Selesai. Silahkan kumpulkan kertas jawaban. Dan, untuk pembelajaran hari ini saya tutup dengan tugas akhir kalian. Buat suatu percobaan dengan bukti otentik yang bisa kalian pertanggung jawabkan. Tugas ini tidak perlu dipresentasikan, karena aku hanya ingin melihat hasil dan beberapa pernyataan dari kalian," Snape berkata sambil merapihkan beberapa buku tebal di mejanya. "Tugas akan saya beri waktu sampai lima bulan ke depan. Silahkan buat sesuatu yang tidak pernah ada di dunia ini. Lakukan semua percobaan yang kalian perlukan. Tugas ini kelompok, dan—"
Harry mematung dengan mata terbelalak di mejanya. Semua kata-kata Snape serasa menelan semua kesadarannya.
Satu pikirannya.
Dia akan terus bersama dengan Draco Malfoy selama 5 bulan ke depan—karena sebuah tugas bajingan yang mengikat.
'Oh, betapa sialnya aku!' runtuk Harry.
.
.
.
.
.
Tbc~
A/N: Jangan tanya kenapa aku buat fic baru padahal ficku yang lain belum pada selesai. Ok, aku emang author kurang kerjaan—gara-gara belum masuk kuliah—yang Cuma bisa menyalurkan imajinasi lewat sini. Huwee, maaf readers... aku gak bisa menghilangkan imajinasi tentang Draco dan Harry—YAOI'an—begitu aja tanpa membaginya pada kalian. Karena aku punya kesenangan tersendiri membagi cerita pada teman-temanku—disini kalian semua readersku.
Jadi, maafkan daku yang tiba-tiba aja buat fic baru T.T... Apalagi Loshi belum tahu mau buat berapa chapter fic ini.
Oh iya, aku butuh temen rundingan tentang fic ini. Gimana ada yang mau? Yang mau tinggal PM aku, atau kita bisa rundingan di FB^^
Udah ah curhatnya, Loshi Cuma minta seperti biasa ya. Kalau readersku tercinta senang, semoga kalian memberi kritik, saran, dan komentar yang bisa membuat tulisanku semakin rapih dan nyaman untuk kalian baca^^
Oh, iya... aku bukan anak kuliah jurusan biologi jadi maaf kalau ada salah-salah. Tapi nanti delapan puluh persen setting bukan di kelas, tapi lebih ke outdoor, ok.
So, mind to give me review?