"Haaah~" sekali lagi namja tampan itu menghela napas. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ia bahagia, maka sejurus kemudian ia tersenyum. Memejamkan matanya bersembunyi dari pancaran cahaya yang berasal dari layar besar di depannya. Berbisik pelan seolah angin dapat mengirimkan doa tulusnya. Berharap Tuhan juga mendengar…selalu…
"Cepat kembali…Kibummie…"
.
.
.
I Always Have, I Always Will
This story belong to Fujimoto Yumi, 2014
Choi Siwon, Kim Kibum
Are belong to God and themselves
Yaoi content! DLDR, okay?
Happy SBDL~
SiBum Jjang!
Enjoy~ and RnR, 'kay?
.
.
.
A SiBum Fanfiction
I Always Have, I Always Will
Story by Fujimoto Yumi
.
.
.
Siwon tidak bisa menahan dirinya untuk menggeram, mengepalkan tangannya erat di atas pegangan bangku yang ia duduki. Matanya menatap televisi tidak berkedip. Napasnya serasa terus bersahutan. Seolah ada orang lain yang ikut merasakan kegelisahan dan kemarahan di dalam dirinya.
Tapi ia bisa apa. Ia sudah melakukan yang terbaik untuk tetap bertahan, kan?
Matanya memandang tanpa henti benda berlayar datar itu. Seolah apa yang tersaji begitu sayang untuk dilewatkan. Seolah ia tidak bisa melihatnya esok hari. Tapi memang pada kenyataannya…mengapa rasanya sulit sekali untuk melihat sosok itu lagi…
…sosok yang begitu ia rindukan. Sosok Kim Kibum yang telah lama menghilang…
…drrtt…drrtt…
Perhatian Siwon teralihkan, ia menatap ponselnya seksama. Seolah berpikir siapakah yang menghubunginya kini? Tanpa menunggu lama, Siwon mengambilnya dan melihat siapakah yang mengiriminya pesan.
'Deg'
Dan seolah organ vitalnya berdegup kencang, matanya memandang tak percaya ID pengirim yang tampak.
"Kibummie…"
Siwon membuka pesan itu tak sabaran. Baris pertama ia melihat tiga angka yang dipisah garis penghubung (-) yang membuatnya mengernyitkan alis.
"1-4-3?" gumamnya berusaha menebak maksud angka-angka itu. Dan seolah mendapat ilham, ia ingat jika dongsaengnya, Henry, pernah menyebut-nyebut angka itu karena memang menjadi judul lagu dalam albumnya.
Siwon tersenyum menyadari artinya. Ia tidak bisa menahan rasa bahagia yang datang ke dalam relung jiwanya. Segera saja ia berlalu ke baris berikutnya, dua kata yang berhasil membuatnya menahan napas.
'Marry me…'
.
.
Flashback
.
.
'Deg'
"Marry me?" Siwon memintanya dengan begitu tulus. Peduli apa jika hubungannya dengan Kibum baru seumur jagung. Ia hanya merasa jika tidak mengikat namja dingin itu sekarang lalu kapan lagi?
"Huh?" balas Kibum membuat Siwon mendengus kemudian memajukan tubuhnya merapat ke arah namjastoic di depannya. Menangkup pipi agak bulat itu. Mengelusnya lembut, berucap lembut membuat Kibum ikut melembutkan tatapannya.
"Kau mendengarku, Kibummie. Marry me?"
"…"
Kibum benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa memandang Siwon di depannya tanpa berkedip. Apa mungkin hyung yang merupakan kekasihnya itu sedang mengajaknya bercanda sekarang?
"Tidak lucu—"
"Aku tidak bercanda, Kibum-ah. Marry me?"
"Siwon hyung…apa yang kau tanyakan ini—"
"Aku mengerti. Aku tahu konsekuensinya. Aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Tapi aku hanya—" ucapkan Siwon terhenti ketika Kibum mengecup bibirnya, kemudian memegang kedua tangan Siwon yang sedari tadi menangkup pipinya.
Kibum tersenyum, manis sekali membuat Siwon sedikit melayang. Berpikir jika Kibum akan mengiyakan permintaannya. Tapi—"No."
"Mwo?"
"No, hyung."
"Kibummie…?"
"Kita masih terlalu awal. Lagipula kau tidak bisa meminta seseorang untuk menikahimu dengan cara begini dan juga pada saat—dia akan meninggalkanmu…" Kibum tersenyum kecut mengucapkannya lalu berpaling menatap langit. Ia melepaskan tangan Siwon yang memegang pipinya. "…kau tidak bisa melakukan ini, hyung."
Siwon buru-buru memutar arah pandangan Kibum lagi. Memegang kedua bahu namja yang dicintainya itu. "Kau hanya vakuum. Kau akan kembali. Jadi…"
"Kalau begitu kau tidak perlu menikahiku sekarang, kan? Kita belum apa-apa, hyung. Perjalanan kita masih panjang. Jika kau berpikir ini adalah akhir yang baik untuk memulai awal yang baru, kau salah. Masih banyak sesuatu yang menanti kita di masa depan."
"Kibum-ah…?"
Kibum tersenyum lagi. Kali ini ialah yang menangkup kedua pipi Siwon. "Tidak, hyung. Jawabanku tetap sama," bisik Kibum kemudian menempatkan ciuman di bibir tebal visual Super Junior itu.
Membiarkan salju jatuh di atas kepala mereka. Meleburkan semua rasa khawatir yang menggema. Menarik diri dari ciuman tanpa napsu. Lalu Kibum kembali berbisik. "Lamar aku lagi suatu hari nanti…ketika semua orang mulai merindukanku…dan siap menerimaku kembali sebagai Kim Kibum yang baru…Kim Kibum-mu…"
.
.
End of Flashback
.
.
Siwon masih sangat ingat ketika lamarannya ditolak. Bukan, bukan karena Kibum tidak mencintainya. Tetapi namja dingin itu ingin dirinya menunggu hingga keduanya benar-benar matang. Ia hanya tidak tahu bagaimana cara berpikir namja bernama Kibum itu.
Dan sekarang…Kibum mengiriminya pesan seolah meminta dia untuk menikah dengannya? Atau mungkin meminta Siwon untuk melamarnya lagi? Siwon tidak mengerti. Segara saja ia menghubungi nomor Kibum.
…tutt…tutt…tutt…
'Yeoboseyo…?' suara diseberang sana begitu terdengar merdu. Siwon juga tidak memungkiri ada nada bahagia dalam nada suara itu. 'Siwon hyung…?'
"Hei…snow white…?"
'Hm. Gwenchanayo, hyung? Ada apa dengan suaramu?' Siwon bisa mendengar suara Kibum yang begitu khawatir.
"Gwenchana. Menyenangkan bisa memeluk seorang gadis, huh?" tanya Siwon menggoda Kibum.
Ia bisa mendengar deru napas Kibum, juga dengusan dari kekasihnya itu. 'Tidak senyaman memelukmu. Pabbo. Kau cemburu pada ELF?'
"Tidak. Jadi…kau akan menikahi mereka atau aku?"
Siwon mendengar kekehan Kibum. 'Bahkan kau sudah menikahi mereka lebih dulu sebelum menikahiku. Jadi kau mau punya berapa banyak pendamping, huh, Choi Siwon?'
Siwon tersenyum lembut mendengarnya. "Satu yang abadi, Kibum-ah. It's You…"
Seandainya Siwon bisa melihat Kibum yang tersenyum sangat lembut di sana. 'Then…marry me?'
"Of course…I'll marry you, Choi Kibum…"
.
.
.
Setelah beberapa hari berada di Shanghai, akhirnya Kibum sampai di apartemennya. Ia sangat bersyukur setidanya bisa beristirahat sebentar. Kibum membawa kakinya menuju tempatnya tinggal sekarang. Sedikit menunduk tidak menyadari ada orang lain yang berdiri di depan pintu tempat tinggalnya.
"Hei, snow white."
'Deg'
Kibum merasa gila ketika ia mendengar suara Siwon. Namun tidak ingin kelihatan bodoh, ia mendongak dan mendapati sosok itu di sana. Sosok itu juga tersenyum, senyuman yang membuat Kibum selalu merasa percaya pada kekasihnya itu.
"Yo!" sapa Siwon lagi membuat Kibum mempercepat langkahnya kemudian menubrukkan diri ke dalam pelukan hangat namja tampan itu.
Ah, sepertinya malam ini benar-benar malam yang indah.
"Hei…?"
Siwon mendongakkan wajahnya menatap Siwon yang menunduk. Namja yang terkenal dingin di Super Junior saat sebelum vakuum itu tersenyum. Menjawab pelan. "Hei…"
"Welcome back…" bisik Siwon seraya menempatkan ciuman di kening, hidung dan bibir Kibum. Menyesapkan sebentar sebelum menarik diri. Membawa tubuh itu berjarak sedikit, dan mengambil tangan Kibum, memakaikan cincin di jari manis sosok yang sudah beberapa tahun ini menjadi kekasihnya. "…then you should have to marry me, right, Kim Kibum?"
Kibum tidak bisa menahan diri untuk terkekeh. Ia menganggukkan kepalanya lalu mengecup bibir namja tampan itu sebelum menjawab. "Yes. I do…"
Dan, ya. Ketika dalam hati Kibum berharap bisa beristirahat setelah kelelahan yang ia hadapi. Malam ini juga ia resmi dilamar lagi oleh sosok yang begitu ia cintai dan rindukan.
"Saranghae…" bisik Siwon sambil menempatkan beberapa ciuman di kepala Kibum.
"Nado saranghae…" balas Kibum lembut seraya merasakan angin yang berhembus melewati mereka. Yah, akhir seperti ini…ia hanya bisa berharap akan menjadi awal yang baik untuk mereka berdua kedepannya.
Dan sepertinya mereka lupa jika mereka masih berada di depan pintu apartemen Kibum yang memungkinkan siapapun bisa melihat apa yang mereka lakukan ketika mereka akhirnya kembali berciuman.
.
.
.
The End
.
.
.
Note : Tolong maafkan saya kalau ada kata-kata yang tidak berkenan. Happy SiBum Days Love, yooo!
Ah, yasudahlah. Menurut kalian bagaimana? Maaf yo jika hanya bisa membuat ini *bow*
Signed,
Fujimoto Yumi