L.O.V.E
Disclaimer : Vocaloid bukan milik saya, saya hanya meminjam beberapa character untuk dinistakan di fic saya.
Summary : Ini mungkin bukan sebuah kisah yang sempurna, hanya tentang seorang gadis penyuka jeruk yang bingung akan 'rasa' yang menyapa hatinya. "Gak akan ada yang ngerti perasaan seseorang selain dirinya sendiri, Rin."
.
.
.
Kembali kerumah, bukan berarti Rin bisa lepas dari hal-hal yang kemungkinan bisa membuat munculnya rambut putih dikepalanya.
Masalah loncat kelas saja sudah membuatnya pusing apalagi sekarang ditambah dengan sepupu—menyebalkan—yang tengah bermain komputernya dengan seenak jidat.
"Hei, Nero! Berapa kali kukatakan berhenti bermain dengan komputerku!"
Akita Nero, sepupunya yang lebih muda dua tahun menatapnya dengan malas. "Berisik! Cuma main bentar doang, kok!"
Rin semakin menatap tidak suka. "Kapan kamu datang?" tanyanya gusar.
"Dua jam yang lalu."
Rin melirik kearah jam tangannya. "Siapa yang buka pintunya? Mama dan Papa kan baru pulang jam 4 nanti?"
"Sudah berapa kali kujelaskan? Aku juga tahu tempat penyembunyian kunci itu, nenek cerewet!"
Dan hal itu sukses membuat empat siku-siku muncul dipelipis Rin.
"NERO BODOH! SUDAH BERAPA KALI KUKATAKAN?! BERHENTI MEMANGGILKU NENEK CEREWET!" teriak Rin, yang sukses membuat beberapa benda didekatnya bergetar.
"Cih, berisik! Sekali nenek ya tetap nenek!" Nero memasang headphone ketelinganya.
"Terkutuk kau, anak nakal yang kerjanya cuma bisa minjam komputer orang tanpa izin! Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta Kokone!"
Rin melangkah masuk ke kamarnya, tidak peduli dengan Nero yang sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakannya.
.
.
.
.
Rin menghempaskan tubuhnya keatas kasur, perasaannya semakin kacau sekarang. Biasanya hanya dengan bermain komputer dapat merubah mood -nya, dan sekarang? Bagaimana ia bisa mengubah mood-nya, jika sepupunya yang minta dihajar itu tengah duduk manis disana?
Bermain dengan teman? Ah, tidak mungkin. Sejak ia kelas 5 SD teman-temannya yang meliputi anak tetangga disekitarnya seakan mulai menjauhinya. Yah, kecuali Rinto sebenarnya. Tapi masa dia harus main kerumah Rinto? Bisa-bisa gosip tentang dirinya dan Rinto semakin bertambah.
For Your Information : Gosip tentang kedekatakan Rin dan Rinto sudah menjadi topik terhangat setelah RinxRei. Bahkan kedua kakak Rinto, Miki dan Yukari. Mendukung mereka untuk jadian.
Selain komputer, biasanya ia akan bertamu kerumah Len. Bermain playstation secara bergantian dengan Leon, kakak Len. Atau menggoda Lola, adik bungsu Len yang chubby itu.
Tapi itu dulu, bukan sekarang. Dan mengingat hal itu malah semakin membuat pikiran Rin menjadi kalut.
"Kenapa harus kelasnya, coba?"
Ia mengambil buku bersampul cokelat yang berada ditumpukan paling atas meja belajarnya yang cukup 'indah' itu. Mencari halaman yang masih kosong dan menuliskan semua hal yang ingin ditumpahkannya.
Hal paling menyebalkan itu saat kamu udah berhenti berharap pada suatu hal, dan tiba-tiba suatu hal buruk muncul dan berusaha menggali kembali hal yang gak penting itu. Dan… kenapa harus aku yang mengalami ini?!
Rin menutup buku bersampul cokelat tersebut dan mengatur posisi buku tersebut ketumpukan paling bawah. Buku diary? Bisa dibilang begitu, tapi Rin tidak akan senang jika kamu mengatakan dihadapannya. Dia lebih senang menyebut buku itu sebagai 'tempat sampah'.
"RIN!" suara cempreng Nero merusak ketenangannya, Rin mendengus kesal sebelum menjawab sahutan atau teriakan itu.
"Masuk!"
Dan dari balik pintu yang terbuka dapat kita lihat sosok Nero yang nyengir kearah Rin.
"Nero, kebiasaan burukmu itu harus diubah, tahu! Kalau mau masuk itu ketuk pintu bukan teriak!"
"Iya… iya. Aku ngerti," sahut Nero yang sukses membuat Rin menautkan kedua alisnya, heran. Biasanya kalau di-nasehati Nero akan membantah, tumben banget dia langsung meng-iyakan tanpa AIUEO dulu.
"Aku lapar."
GUBRAK!
Rin terduduk ke lantai, pantesan dia jadi anak baik gini tiba-tiba. Ada maunya ternyata.
"Iya… iya… aku masak!"
"Jangan masak ikan ya!" ingat Nero dan sukses membuat Rin mengangguk.
"Tenang aja… aku cuma campurin daging ikannya ke telur kok!"
"RIN!"
"Bercanda~!"
.
.
.
.
.
.
Terima kasih kepada Nero. Tingkah laku anak menyebalkan itu justru menyebabkan mood Rin sedikit membaik, menyiksa seseorang ternyata bisa membersihkan mood kita dari hal-hal yang memusingkan ternyata.
Dan kini Rin tengah sibuk mengisi formulir yang diberikan dimeja komputernya—Nerosudahpulangtentusaja—walaupun ia sedikit heran dengan sekolahnya itu. Jelas. Kalau ingin 'loncat kelas' kenapa harus mengisi formulir? Lebih baik memberikan surat persetujuan oleh orangtua daripada harus terlibat dengan urusan merepotkan ini.
Isi formulir? Kurasa kalian bisa membayangkannya sendiri… kurang lebih layaknya formulir untuk menjadi anggota di perpustakaan—tanpa foto diri pastinya.
"Rin?" suara lembut milik Kagamine Lily menyapa pendengarannya.
"Mama, ada apa?"
Lily menghela nafas, "Masih main komputer, heh? Sudah berapa kali Mama katakan… kalau main itu ingat-ingat waktu!"
Rin memanyunkan bibirnya, berniat membantah. "Siapa yang main?"
"Kamu, siapa lagi?"
"Mama asal nuduh! Aku hanya sedang mengisi formulir untuk 'loncat kelas'! Dan juga Nero yang daritadi main bukan aku!"
"Hah? Kamu 'loncat kelas'? Kenapa gak bilang?!"
Rin menghela nafas… "Siapa suruh sibuk sendiri! Anaknya yang imut ini sampai diabaikan!" dan sahutan asal itu sukses mendapat jitakan dari Lily.
"Siapa yang mengabaikan kamu, sayang? Bukankah kamu yang selalu tak peduli kalau Mama pulang?! Sibuk dengan komputermu bukan begitu…?"
Rin menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Iya… iya aku yang salah. Jadi Mama tanda tangan-in formulir ini."
"Dasar! Tapi… kamu pindah ke kelas yang mana?" tanya Lily sambil menanda tangani formulir milik anak tunggalnya itu.
"8-5, kelasnya Len." Jawab Rin malas.
"Kalau sekelas dengan Len, Mama gak perlu mencemaskanmu, ya?"
Rin mendengus kesal. "Kenapa?"
"Len kan anaknya baik… bertanggung jawab dan juga pastinya tampan kayak papanya~!"
"Mama! Nanti aku bilangin Papa, lho!"
"Coba saja!" cibir Lily, yang sukses membuat bibir anak perempuannya itu semakin maju.
.
.
.
.
.
.
Waktu memang cepat, ya? Tanpa sadar kini sang mentari perlahan mulai merangkak di ufuk timur seakan meng-elu-kan kepada para makhluk hidup di dunia untuk segera bangun dan kembali menyusuri aktivitas yang sempat terhenti karena pergantian waktu.
Dan disinilah Rin dengan wajah setengah mengantuk, berjalan dengan malas-malasan menuju sekolahnya. Tidak diantar? Mengingat posisi sekolahnya yang hanya membutuhkan waktu 15 menit jika berjalan seperti tidak perlu kan?
"Wajah bangun tidurmu masih nempel!" Rinto menepuk bahunya pelan, yang sukses memanggil kembali setengah rohnya yang masih berada di dunia mimpi itu.
"Bawel"
"Yang penting tampan!" cibir Rinto yang sukses membuat Rin ingin memukul wajahnya.
"Rinto, kamu nggak pernah melihat pantulan dirimu di kaca ya? Wajah mirip artis Korea lupa operasi plastik gitu dibilang tampan!" Rin tersenyum sinis.
"Sembarangan!" Rinto menjitak kepala Rin. "Kenapa kamu gak pernah jujur, huh? Dasar tsundere!"
Tsundere!
Itu adalah kata yang kedua yang paling tidak ingin Rin dengar setelah gendut. Dan bisa dipastikan kini 4 siku-siku mulai merangkak naik dipelipisnya.
"AKU BUKAN TSUNDERE! TERKUTUKLAH KAU MANIAK OPPAI PERVERT!" teriaknya dengan volume yang melebihi normal. Untungnya jalanan sekitar masih sepi sekarang hingga tidak ada yang menganggapnya gila disini.
"Sendirinya juga pervert, bisanya ngatain orang! Dasar gadis Tsundere Pervert dan juga childish!" bukannya meminta maaf Rinto justru semakin semangat menyulut api yang tengah membara di diri gadis berambut pirang itu.
"Ck... kau! Aku gak pervert! Dasar maniak oppai gila! Yang otaknya kayak 'tikus' yang hobinya korupsi!"
"Siapa bilang?! Aku bukan 'tikus' tahu!" Rinto tampak tidak terima.
"Aku tahu kamu pasti bisa juara kelas karena memberikan pelicin berupa game kepada Gakupo-sensei kan?!"
"YAK! JANGAN ASAL NUDUH DONG!" Rinto yang awalnya meng-kompori justru malah tersulut oleh Rin.
"KAMU DULUAN!"
"Kamu!"
"Kamu…! Dasar maniak!"
"Kamu…! Dasar pettan!"
"Maniak oppai gila!"
"Pendek!"
"Pirang!"
"Kamu juga pirang, bodoh!'
Dan pertengkaran tak ada guna itu terus berlangsung hingga mereka sampai didepan pintu gerbang sekolah.
"Bisa diam nggak?"
Sebuah suara berat misterius yang tiba-tiba muncul spontan membuat Rin dan Rinto yang tengah beradu mulut menoleh kebelakang. Dan bisa dilihat seorang pemuda berambut pirang dikuncir kecil tengah menatap mereka dengan dingin.
"Len?"
Nama itu berhasil lolos dari bibir milik Rin dan Rinto secara bersamaan, sepasang mata dengan warna sama milik mereka pun ikut terbelalak kaget, seakan-akan makhluk didepannya ini adalah monster berbahaya yang dapat membunuh mereka kapan saja.
"Sepertinya gosip yang beredar tentang kalian itu benar…" Len tersenyum sinis. "Kagamine Rin dan Kisaragi Rinto berpacaran."
"Len—" Rinto hendak membantah akan tetapi tangannya telah terlebih dahulu ditarik oleh Rin, meng-isyaratkan nya untuk diam.
"Memangnya kenapa?" Rin menatap sinis. "Kalau kami pacaran, memangnya kenapa?! Itu bukan urusanmu kan…, Kagami-san." Rin menarik lengan Rinto menyeretnya masuk kedalam sekolah, meninggalkan Len yang terdiam mematung disana.
.
.
.
.
.
"Hei, Rin! Aku gak mau tahu, yang pasti kamu harus memberi tahu yang sebenarnya pada Len! Aku gak mau lagi gosip tentang kita makin bertambah!" omel Rinto saat mereka tengah berjalan di koridor—untuk sedikit informasi, hari masih terlalu pagi sehingga koridor terlihat sepi—.
"Bawel!"
"Lagian, kamu… rada nyari gara-gara. Nanti gimana nasib kamu dikelas yang baru?! Kamu kan sekelas dengannya!" omelan Rinto yang aneh semakin bertambah.
"Kenapa aku harus kenal dengan cowok yang cerewetnya kebangetan kayak gini!" ujar Rin melirik sadis kearah Rinto.
"Terserah! Yang pasti aku katakan selamat bersenang-senang dikelas baru, Pervert Tsundere Childish." Rinto mencibir sebelum akhirnya berlari meninggalkan Rin.
Rin hanya diam menatap kepergian Rinto dengan hampa. Entah mengapa sedikit menyesali perkataannya yang terkesan 'meng-iyakan' pernyataan Len tadi.
Bagaimana nasibnya nanti?
To Be Continued
Chapter ini merupakan pelampiasan Rainna untuk 'LEN' yang asli ; w ; yang sekarang cueknya itu kebangetan... #SLAP jadi kalau gak jelas harap dimaklumi T.T
Yah Rainna cuma bisa bilang hal itu doang, dan sekian. Selamat membaca ^^ dan review kalau berkenan XD
Thanks to review : Reynyah, Kyoura Kagamine, Yuu ^^
