New Mission on Another Dimension
Disclaimer : Saya tidak mengakui kepemilikan Naruto dan Higschool DxD
Pairing : Naruto X Rias
Genre : Adventure, Action, Romance
Rate : T (rating dapat berubah sewaktu-waktu)
Warning : AR, gaje, abal, typo(s), OOC(maybe), Strong!Naru, Godlike!Naru (maybe)
Summary : Dengan terlahir sebagai anak dalam ramalan, dia telah menyelesaikan tugasnya untuk membawa perdamaian untuk dunia Shinobi. Tapi dia punya tugas baru yang telah menantinya. Perdamaian di dimaensi lain. Dan juga untuk menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari.
"abcd" untuk nama jutsu. (italic+bold)
"abcd" untuk percakapan dari biju
"abcd" percakapan biasa
'abcd' mindscape atau berbicara dalam hati
Don't Like Don't Read
.
.
.
.
THIS IS IT
Chapter 1
Perang dunia shinobi ke 4 telah berakhir 2 tahun lalu. Melahirkan seorang pahlawan baru. Namikaze Uzumaki Naruto. Bersama teman-temannya dia mengalahkan Juubi dan Madara serta menyegel mereka.
Setelah semua perjuangan yang dilakukannya, akhirnya apa yang diimpikan pemuda pirang itu terwujud. Menjadi Hokage. Tapi itu hanya mimpinya yang dulu.
Saat ini dia sedang menghadap Tsunade. Ada yang aneh di raut wajah pemuda itu. Raut wajahnya menunjukkan keragu-raguan.
"Jadi bagaimana Naruto? Kau siap menjadi Hokage?" tanya Tsunade.
Naruto terdiam. Keragu-raguan kembali melanda dirinya. Di sisi lain dia senang karena impiannya selama ini akan terwujud. Tapi di sisi lain dia ingat pesan kedua orang tuanya melalui mimpi.
FLASHBACK ON
Naruto dream
Naruto POV
Putih. Kenapa semuanya putih? Dimana aku? Apa yang terjadi?
Kemanapun aku memandang yang terlihat hanya warna putih. Dimana ini sebenarnya?
"Naruto?"
Suara siapa itu? Suara laki-laki yang tampaknya familiar.
"Naruto."
Ah sekarang suara perempuan. Aku pernah mendengar suara ini. Ah iya suara kaa-san dan tou-san. Tapi dimana mereka? Yang kulihat hanya putih.
"Kami disini, nak."
Ketika aku mengedarkan pandangan lagi, aku melihat sosok dua orang berbeda gender sedang berjalan ke arahku.
"Kaa-san, tou-san?"
"Ya, nak. Ini kami." Tou-san tersenyum kepadaku. Sontak saja aku berlari dan memeluk dua orang yang paling aku cintai di dunia ini.
"Kaa-san, tou-san. Aku rindu kalian." Mereka membalas pelukanku. Memang ketika perang dunia shinobi, aku bertemu tou-san. Tapi entah mengapa aku selalu rindu terhadap kedua sosok yang sedang kupeluk.
Aku lalu melepaskan pelukanku. Kulihat kaa-san tersenyum lembut kepadaku.
"Ada yang harus kami sampaikan, nak. Pesan dari Rikudou Sennin." Aku tertegun. Rikudou Sennin? Ada apa gerangan?
"Naruto. Perang dunia shinobi memang sudah berakhir. Tapi kamu memiliki tugas baru, nak." Tou-san melanjutkan.
"Tugas?" aku hanya memasang wajah kebingungan. Kaa-san tertawa kecil melihat wajahku.
"Tugas mulia, sayang. Maukah kamu menerimanya?" kaa-san bertanya kepadaku. Aku berpikir sejenak. Lalu aku tersenyum lebar.
"Tentu saja, ttebayo. Aku Namikaze Uzumaki Naruto. Putra Yondaime Hokage dan Akai Chisio no Habanero siap melaksanakan tugas dari Rikudou Sennin." Kedua orang tuaku tersenyum.
"Tugasmu membawa kedamaian." Ucap kaa-san. Aku kembali terdiam. Kedamaian? Bukankah dunia shinobi sudah damai?
"Bukan dunia shinobi, nak. Tapi dimensi lain." Tou-san membalas seolah dapat membaca isi pikiranku.
"Dimensi lain?" aku terdiam. Jika aku menerima tugas itu, berarti aku harus meninggalkan impianku. Tapi di sisi lain, Rikudou Sennin telah mempercayakan tugas ini kepadaku.
"Kami tahu kamu pasti bimbang. Pikirkanlah baik-baik, nak." Kaa-san tersenyum lembut. Tou-san tiba-tiba memberikan 3 buah gulungan yang datang entah darimana.
"Jika kamu yakin untuk mengemban tugas ini, bukalah ketiga scroll ini. Salah satu scroll adalah scroll untuk perpindahan dimensi. Kamu cukup menggunakan darahmu. Tapi jika kamu sudah berpindah dimensi, kamu tidak akan pernah kembali." Aku mengambil scroll itu.
"Waktu kami sudah habis Naruto. Pikirkanlah baik-baik." Setelah aku mengambil scroll itu, tou-san mengelus lembut kepalaku.
"Dan satu lagi, sayang. Kamu akan menemukan kebahagiaanmu disana." Kaa-san lalu mengecup lembut dahiku.
"Nah, Kami pergi dulu Naruto. Pikirkanlah baik-baik." Ah tou-san, kaa-san aku masih ingin bersama kalian. Tapi suaraku kenapa tidak keluar. Lalu tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap.
Normal POV
"KAA-SAN!"
Pemuda pirang itu terbangun dari tidurnya. Peluh membasahi dahinya. Dia lalu melirik ke kanan. Terlihat di sampingnya 3 buah scroll yang diberikan Minato.
"Ternyata bukan mimpi." Gumamnya. Dia lalu bangun dan mengambil ketiga scroll itu lalu termenung.
'apa yang harus kulakukan?'
FLASHBACK OFF
Pemuda pirang itu memejamkan matanya sejenak. Lalu dia menghembuskan nafasnya pelan. Kelopak matanya langsung terbuka dan menampakkan iris birunya yang telah dipenuhi keyakinan.
"Gomen baa-chan. Aku tidak bisa jadi Hokage."
Tsunade tersentak, "bukankah ini impianmu dari dulu? Kenapa kau menolaknya?"
Mendengar pertanyaan wanita di depannya, Naruto hanya tersenyum, "memang itu impianku. Tapi aku masih memiliki tugas yang sudah dipercayakan oleh Rikudo Sennin melalui mimpiku."
Tsunade hanya menghela nafas, "jika memang itu keinginanmu, aku tidak akan memaksa. Aku jadi penasaran dengan tugas itu."
"Perdamaian baa-chan. Dimensi lain." Ucap pemuda pirang itu. Tsunade lagi-lagi tertegun ketika Naruto mengucapkan dimensi lain.
"Kenapa kau mau melaksanakan tugas itu Naruto? Itu berarti kau akan pergi dari sini?" tanya wanita pirang itu bertubi-tubi.
Naruto hanya tersenyum, "aku berpikir mungkin tugas ini hanya aku yang sanggup melakukannya. Lagipula..."
"Lagipula?"
"Mungkin aku dapat mendapatkan kebahagiaan baru di sana." Tsunade hanya tersenyum miris. Wanita pirang itu ingat, gadis yang dicintai orang di hadapannya baru saja melangsungkan pertunangan dengan sahabat pemuda itu sendiri.
"Kau masih patah hati, eh?" Tsunade bertanya kepada pemuda itu. Naruto hanya nyengir sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Yah bisa kau katakan begitu. Tapi aku sudah ikhlas. Mungkin Sakura-chan akan bahagia bersama teme." Cengiran itu hilang digantikan senyuman miris.
"Hhh. Kalaupun aku melarang kau pasti akan bersikeras," Naruto tersenyum lebar mendengar itu, "Jadi kapan kau akan pergi?" lanjut Tsunade.
"Sekarang. KAI!"
BOFF
3 buah scroll langsung muncul di meja Tsunade.
"Apa ini?" tanya wanita itu heran.
"Scroll yang diberikan tou-san lewat mimpi. Yang aku ingat, merah berpindah, kuning ingatan dan hijau tou-san tidak memberitahu." Jawab Naruto.
Pemuda pirang itu lalu mengambil scroll kuning. Tsunade hanya mengamati dengan cermat apa yang dilakukan pemuda yang sudah dianggapnya cucu sendiri. Naruto lalu membuka scroll itu dan menggigit jarinya.
Dengan sekali hentakan tiba-tiba kanji pada scroll itu bercahaya dan seolah bergerak menuju tubuh Naruto. Kanji-kanji itu terus bergerak hingga akhirnya berhenti dan perlahan-lahan menghilang. Menyisakan Naruto yang dahinya sudah dibanjiri keringat dingin.
"Mengerikan." Gumam pemuda itu. Sayang Tsunade tidak mendengarnya sama sekali. Setelah itu Naruto juga melakukan hal yang sama dengan scroll hijau. Sama halnya dengan yang kuning, kanji pada scroll hijau pun bercahaya dan menghilang di tubuh pemuda pirang itu.
"Jadi apa yang kau rasakan?" tanya Tsunade.
"Aku mendapat semua ingatan tentang dimensi itu. Tapi untuk scroll hijau sendiri aku tidak tahu."
"Jadi kau akan benar-benar pergi, eh?" Tsunade tersenyum sedih. Dia bangkit dari bangkunya dan langsung memeluk pemuda itu. Bahunya bergetar menandakan kalau wanita itu sedang berusaha menahan tangis.
Naruto hanya bisa membalas dekapan orang yang sudah dia anggap sebagai neneknya sendiri itu sambil berkali-kali mengucapkan kata maaf.
Wanita pirang itu lalu melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. Iris matanya menatap pemuda pirang di hadapannya.
"Ne, baa-chan. Bisa kau panggilkan teman-teman yang lain. Aku ingin mengucapkan perpisahan." Naruto tersenyum sedih.
"Tidak perlu. Kalian, masuklah!"
Dengan itu, pintu ruang Hokage terbuka dan menampakkan semua rookie 12. Sakura langsung berlari dan memukul Naruto.
DUAKK
"It-ittai. Kenapa memukulku Sakura-chan?" Naruto langsung menatap Sakura sambil mengelus kepalanya.
Yang di dapatinya adalah gadis yang dicintainya itu menangis.
"Ba-baka. Apa yang kau pikirkan? Kenapa mau meninggalkan kami?" Sakura bertanya dengan suara bergetar.
"Gomen ne." Hanya itu yang dapat diucapkan Naruto. Pemuda pirang itu lalu mengambil scroll terakhir di meja Tsunade. Dibukanya di lantai ruang Hokage. Setelah mengoleskan sedikit darahnya yang masih tersisa akibat digigit untuk scroll sebelumnya, kanji-kanji pada scroll itu mulai bergerak mengelilingi Naruto. Kanji itu bercahaya di atas lantai.
"Saatnya aku untuk pergi. Selamat tinggal semuanya. Aku sayang kalian." Dengan itu Naruto memberikan cengiran terakhirnya. Semua yang ada di sana langsung menangis. Bahkan Sasuke yang terkenal irit ekspresi mulai menunjukkan ekspresi sedih.
"Ah iya. Sasuke-teme. Jaga Sakura-chan baik-baik. Dan Kiba, aku titip Hinata-chan padamu." Kedua pria yang disebutkan Naruto tadi hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi yang benar-benar sedih.
Perlahan-lahan tubuh pemuda itu seolah terhisap ke dalam lantai. Hingga akhirnya menghilang sepenuhnya. Menyisakan semua orang yang sedang menangis di ruangan itu.
"Hiks.. ke-kenapa, kenapa kau membiarkannya shisou?" tanya Sakura dengan wajah berlinang air mata.
Tsunade berjalan ke arah jendela. Matanya masih memerah. Wanita itu menengadah dan setetes liquid bening jatuh mengenai bingkai jendela.
"Dia selama ini selalu menderita. Aku juga ingin dia meraih kebahagiaannya sendiri.".
"Kenapa tidak menyerah saja, Rias?" Pemuda dengan surai pirang itu hanya tersenyum meremehkan kepada gadis berambut merah di depannya.
"Tutup mulutmu, Raiser. Aku tidak akan menyerah!" gadis itu membalas tanpa rasa takut. Berbanding terbalik dengan kondisi pakaiannya yang sudah robek sana-sini dan luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Baiklah jika itu maumu." Pemuda yang dipanggil Raiser itu hanya menyeringai. Dia membentuk bola api seukuran bola sepak dan langsung melemparkannya ke arah Rias.
Tepat di saat bole api itu hampir mengenai Rias, sesuatu jatuh dari langit dan menghantam bola api itu.
BLARRR
Asap langsung mengerubungi atap sekolah replika yang digunakan untuk rating game itu. Tepat ketika asap menghilang menampakkan seorang pemuda berambut pirang jabrik dengan pakaian berwarna orange hitam (A/N : pakaian Naruto yang biasanya) dengan jubah berwarna putih dengan jilatan api di bagian bawah jubah.
"It-ittai." Pemuda pirang yang diketahui bernama Naruto itu berusaha bangun dari posisi jatuhnya. Setelah berhasil dia celingak-celinguk dan memasang tampang bingung.
"He? Dimana ini? Pendaratan yang menyakitkan." Dia masih celingak-celinguk hingga suara seseorang memanggilnya.
"Hei, Kau siapa? Bagaimana mungkin kau bisa masuk arena rating game?" Naruto menoleh dan mendapati seorang pemuda pirang dengan sayap api sedang tersenyum meremehkan.
"Rating game? Apa itu?" Naruto menjawab dengan nada bingung yang berhasil membuat Raiser kesal.
"Grrr. Kutanya lagi kau siapa?" Raiser mulai kesal. Terlihat dari perempatan yang terbentuk di jidatnya.
"Namaku Namikaze Uzumaki Naruto. Pahlawan Perang Dunia Shinaobi ke 4, ttebayo!" Naruto menjawab dengan pose ala Gai-sensei.
"Heh. Aku tidak peduli denganmu. Menyingkir dari sana atau aku akan menghajarmu." Raiser menyeringai.
Perempatan urat langsung tercetak jelas di dahi pemuda itu.
"Kau, siapa?"
Naruto langsung menoleh ke belakang ketika mendengar suara seorang perempuan di belakangnya. Di detik itu juga dia langsung terdiam.
'cantik'
"AWAS!" Rias berteriak. Tapi terlambat, bola api itu langsung menghantam pemuda yang berada di depannya tadi.
"Sudah kubilang. Menyingkir dari sana atau kau akan babak belur." Raiser tersenyum sinis.
"Yare-yare. Benar-benar pengecut. Menyerang dari belakang." Asap hasil bola api Raiser tadi menghilang dan menampakkan Naruto yang masih dalam kondisi baik-baik saja.
"Aku tidak suka seseorang yang menyerang dari belakang. Apalagi tampaknya kau yang membuat gadis berambut merah itu babak belur." Lanjut Naruto sambil menunjuk Rias yang ada di belakangnya.
"Bukan urusanmu!" Raiser lagi-lagi melemparkan bola api. Tapi Naruto tidak diam kali ini. Dia langsung membuat hand seal.
"Earth Release : Earth Wall!" dinding dari tanah langsung terbentuk di depan Naruto dan melindungi pemuda itu. Setelah dinding itu menghilang dia malah menatap tangannya dengan tampang bodoh.
"Loh? Bagaimana aku bisa menggunakan elemen tanah? Bukankah elemenku angin?" pemuda pirang itu bingung dengan yang terjadi barusan.
"Gaki. Kurasa karena scroll hijau itu." Suara berat terdengar di kepala Naruto, suara Kurama.
'Jadi begitu. Hehehe, pantas aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku.'
"Sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Lihat ke depan, tampaknya makhluk pirang itu belum selesai."
'Aku juga pirang, rubah sialan!' Kurama hanya mendengus.
"Hmm menarik. Tampaknya kau orang kuat. Aku jadi ingin mengalahkanmu." Ucap Raiser.
"Tunggu! Jangan melibatkan orang lain Raiser! Ini rating game!" Rias langsung berteriak tidak setuju.
"Heh? Dengan tubuh seperti itu kau yakin bisa mengalahkanku? Aku berikan tawaran menarik. Jika pria ini menang aku akan mambatalkan pertunangan kita, tapi jika aku yang menang pertunangan kita akan dilanjutkan." Balas Raiser dengan senyum meremehkan.
Rias tidak bisa membalas apa-apa karena pada kenyataannya tubuhnya sudah penuh luka. Selain itu, para budaknya masih bertempur di bawah sana. Sedangkan Asia yang tadi ada di belakangnya sudah kalah karena terkena bola api Raiser.
"Tenang saja, nona. Aku akan mengalahkannya untukmu." Rias langsung menoleh ketika mendengar Naruto bicara.
"Tapi, kau itu siapa? Kenapa membantuku?" tanya gadis berambut merah itu bertubi-tubi.
"Hehehe. Alasan aku membantumu karena aku tidak suka melihat seorang laki-laki membuat wanita babak belur." Ucap Naruto disertai senyuman lebar.
"Sudah cukup mengobrolnya!" Raiser langsung membentuk bola api dengan ukuran 3x lipat dari sebelumnya. Pemuda pirang itu langsung melemparkan bola apinya.
Naruto yang akan menghindar langsung berhenti.
'kalau aku menghindar, gadis ini yang akan jadi sasaran.'
Naruto langsung mengangkat Rias ala bridal style dan melompat. Rias yang mendadak di gendong tentu saja langsung meronta.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya gadis itu ketika Naruto menurunkannya.
"Ah tunggu di sini sebentar. Aku akan menyelesaikannya." Dengan itu Naruto langsung shunsin dan muncul di depan Raiser.
'Ne, Kurama. Jadi apa yang kau tahu?'
"Kau bisa menggunakan 5 elemen dasar. Dan tampaknya kau sudah mulai mendapatkan memori tentang jutsu-jutsunya."
'Baiklah. Terima kasih rubah pemalas.' Kurama mendengus dan melanjutkan tidurnya.
"Bersiaplah, pirang!" Raiser melemparkan dua buah bola api ukuran sedang ke arah Naruto. Pemuda itu langsung menghindar ke samping.
"Sadar diri! Kau juga pirang, bodoh!" Naruto berteriak dengan nada kesal. Pemuda itu langsung membentuk hand seal.
"Wind Release : Wind Slash!" Sayatan angin yang tak terlihat terbang ke arah Raiser dan langsung melukai tubuh pemuda itu. (A/N : untuk ke depannya saya akan langsung mengucapkan nama jutsu tanpa menyebutkan kalau Naruto membuat hand seal)
"Tidak buruk." Raiser menyeringai. Perlahan luka di tubuhnya menghilang. Naruto langsung terkejut.
'regenerasi?!'
Keterkejutannya berakhir ketika Raiser melaju kencang dan langsung menghantam wajah Naruto dengan tinju api.
DUAKK
Naruto langsung terjatuh ke belakang. Dia lalu perlahan-lahan berdiri lagi.
"Heh, bukan hanya kau saja yang bisa regenerasi." Dengan ucapan itu, luka di wajahnya perlahan menghilang. Membuat Raiser terkejut.
"Heh, ini patut dicoba." Naruto menyeringai kepada Raiser.
"Thunder Release : Thunder Armor!" petir langsung menyelimuti tubuh Naruto. Pemuda itu langsung melesat ke arah Raiser.
Naruto langsung mengarahkan tinjunya yang terlapisi petir ke wajah Raiser, tapi pemuda Phenex itu langsung menghindar ke samping. Naruto tidak menyerah, dia langsung mengayunkan kakinya untuk menghantam pinggang Raiser dan berhasil.
DUAKK
Raiser terjatuh ke samping. Tapi tentu itu tidak menyurutkan niatnya mengalahkan tinju api dia langsung melesat dan menghantam Naruto.
DUAKK
Pemuda Namikaze itu langsung menyilangkan tangannya untuk bertahan. Tetapi tetap saja tinju Raiser membuatnya terdorong mundur. Di tangan Naruto mulai muncul RasenShuriken.
"RasenShuriken!" dia langsung melemparkan jurus andalannya itu ke arah Raiser. Raiser langsung membentuk pertahanan dengan apinya tapi terlambat. Rasenshuriken menghantam tubuhnya sebelum dia sempat membentuk perisai.
BLARR
Asap menelimuti Raiser yang terkena jutsu Naruto. Perlahan asap menghilang dan menampakkan Raiser dengan nafas terengah-engah. Perlahan lagi-lagi lukanya menutup. Tapi lebih lambat daripada tadi.
Naruto yang melihat itu langsung mengerti.
'jadi begitu. Semakin berat luka yang diterimanya maka kemampuan regenarasinya akan semakin melambat'
Pemuda pirang itu menyeringai.
"Wind Release : Twin Tornado!"
Dari samping kiri dan kanan Naruto, muncul dua tornado berukuran sedang dan langsung melaju dengan kecepatan penuh ke arah Raiser.
Raiser yang lukanya belum pulih langsung terjepit oleh dua tornado terhempas ke belakang dengan luka sayatan yang banyak di bagian tubuhnya.
'sial! Kalau dia terus menyerangku, aku akan tewas' batin pemuda Phenex itu.
"Jadi, bagaimana? Masih ingin melawanku?" tanya Naruto sambil berjalan ke arah Raiser.
"Cih! Jangan bercanda! Aku tidak akan kalah oleh orang asing sepertimu!" Raiser lalu bangkit. Sayap api miliknya langsung muncul lagi.
"Baiklah jika itu maumu. Bersiaplah, ttebayo!"
"Kagebunshin no Jutsu!"
Lima bunshin langsung muncul di depan Naruto. Kelima bunshin itu langsung melesat dengan kecepatan penuh ke arah Raiser. Salah satu bunshin langsung mengarahkan tinjunya ke arah pemuda itu.
Raiser langsung menyiagakan tinju api miliknya. Tepat beberapa detik sebelum tinju apinya mengenai bunshin Naruto, bunshin itu menghilang.
"Nani?!"
"Jangan lengah!" Raiser menoleh ke arah asal suara hanya untuk mendapati bunshin Naruto yang sudah bersiap dengan tinjunya ke arah dagu Raiser dari bawah.
DUAKK
Dengan sekali pukulan, pemuda pirang itu langsung melayang ke atas. Tidak sampai disitu, 2 bunshin Naruto langsung muncul di depannya dan menendang perustnya secara bersamaan.
DUAKKK
Dia terlempar. Lag-lagi bunshin Naruto yang lain datang. Bunshin itu menahan tubuh Raiser yang terhempas dengan menendang punggungnya.
DUAKK
KRAKK
"UAGHHH!" Suara tulang patah terdengar jelas. Penderitaan Raiser tidak hanya sampai disitu, Ketika tubunnya akan jatuh ke tanah, bunshin Naruto yang satu lagi langsung menghantam perutnya dengan lutut, lalu dilanjutkan dengan menggunakan kepalan tangannya.
DUAKK DUAKK
"GUAHHH!" Darah segar keluar dari mulut Raiser.
Raiser lagi-lagi melayang. Tepat di saat itu, Naruto yang asli langsung muncul di belakangnya dengan bola chakra berwarna biru di tangannya.
"Serangan pamungkas. Rasengan!"
"ARGHHHH!"
Teriakan memilukan itu muncul dari mulut Raiser ketika bola chakra itu menyentuh punggungnya. Dia langsung jatuh ke bawah dengan kecepatan penuh.
BLARRR
Asap membumbung menutupi area tempat Raiser jatuh.
Pemuda itu berlari tertatih-tatih menaiki tangga. Pemuda itu, Hyoudou Issei. Pion milik Rias. Dia baru saja menyelesaikan pertarungannya dengan budak Raiser. Dengan keadaan yang sudah babak belur, dia berusaha keras berlari menaiki tangga.
Dia khawatir dengan keadaan majikannya. Apalagi ketika terdengar suara raungan dan asap yang membumbung tinggi dari atap sekolah.
BRAKK
"BUCHOU!"
Rias langsung menoleh.
"Ise?" Issei langsung berlari mendekati Rias.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Issei. Rias hanya mengangguk sebagai jawaban.
Pemuda bersurai colkat itu langsung mengedarkan pandangannya dan mendapati sosok pemuda pirang yang berdiri membelakanginya. Issei langsung berdiri dan memasang ancang-ancang bertarung walaupun tubuhnya babak belur.
"Siapa kau?" tanyanya dengan nada tajam.
Naruto langsung menoleh. Dia mendapati seorang pemuda berambut coklat memandangnya tajam dan dalam kuda-kuda bertarung.
"Hoi,hoi. Tenang dulu. Aku tidak bermaksud jahat." Ucap Naruto santai. Tapi Issei tidak mengubah kuda-kudanya sama sekali.
"Tenanglah Ise. Dia orang yang menyelamatkanku." Rias langsung berdiri dan ikut menenangkan Issei. Pemuda itu lagsung menurunkan kuda-kudanya tapi tidak mengubah pandangan tajamnya.
"Jadi, boleh kutahu tujuanmu disini?" tanya Rias.
"Ah. Aku terjatuh." Naruto menjawab dengan polosnya. Membuat Kurama mendengus keras.
"Baka gaki! Bukan itu maksudnya!" Naruto hanya memasang wajah bingung. Rias hanya menghela nafas.
"Baiklah kuubah pertanyaanku. Kenapa kau bisa masuk arena rating game?" tanya Rias dengan pandangan tajam yang entah kenapa membuat Naruto merinding.
"Eh. A-ano. Rating game itu apa?" dan pertanyaan ini sukses membuat sang rubah ekor sembilan yang bersemayam di tubuhnya ingin memakan Naruto saat ini juga. Begitu pula dua orang dihadapan Naruto yang malah memasang wajah seolah berkata 'bagaimana-mungkin-kau-tidak-tahu-tapi-bisa-masuk-ke-sini'.
"Baka Gaki! Bukankah kau sudah diberikan gulungan tentang dunia ini! Coba kau ingat lagi." Kurama jadi benar-benar kesal.
"Etto..."
10%
25%
40%
70%
100%
"Ah! Aku ingat!" dan Kurama rasanya ingin membenturkan kepalanya ke benda apa saja yang terbuat dari beton. Sedangkan Rias hanya memandang bingung pemuda di depanya.
Rias yang ingin bertanya lagi terpaksa menghentikannya ketika melihat lingkaran sihir muncul dan menampakkan sosok Sirzech Lucifer berserta istrinya Grayfia.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Sirzech langsung to the point.
Naruto langsung nyengir lebar dan menunjuk dirinya sendiri dengan jempolnya.
"Namikaze Uzumaki Naruto. Pahlawan Perang Dunia Shinobi ke-4. Aku datang untuk membawa kedamaian di dunia ini, dattebayo!"
TBC
Yoo, minna-san. Hikaru disini! *ditendang*
Ano, ini ff crossover pertama saya, jadi maklum kalo jelek. Padahal fic yang laen masih dalam tahap pengerjaan tapi malah bikin baru lagi. Hehehe *bletak*
Yak jika ada pertanyaan, kritik, saran, dsb. Bisa langsung melalui review atau PM.
Ensiklopedi :
Earth Release : Earth Wall : teknik elemen tanah yang membuat penggunanya dilindungi oleh dinding yang terbuat dari tanah.
Wind Release : Wind Slash : teknik elemen angin berupa sayatan sayatan angin yang dapat mencabik-cabik tubuh lawan.
Thunder Release : Thunder Armor : teknik elemen petir yang menyebabkan tubuh pengguna diselimuti oleh petir.
Wind Release : Twin Tornado : teknik elemen angin berupa dua buah tornado berukuran sedang yang akan muncul di kiri dan kanan tubuh pengguna. Tornado ini akan menjepit lawan dari dua sisi yang berbeda sehingga menyebabkan luka berupa sayatan-sayatan.
Saya membuat Asia kalah duluan untuk mendukung jalan cerita yang saya buat. Gomen ne.
Mohon maaf bila banyak kesalahan karena saya hanya manusia biasa.
Jaa ne.
See you next chap.
RnR?