Because, it's you

Appa

.

Gender Switch: Kyungsoo = Yeoja

.

.

Masih di rumah sakit, siang ini Kyungsoo menyuapi Lay makan siangnya. Lay tidak banyak berbicara, selain karena masih lemah, ada hal lain yang membuat pikirannya sibuk memikirkannya. Sedangkan Kyungsoo, ia berusaha bersikap seperti biasa di depan Lay namun sebenarnya ia sangat gelisah, bertanya-tanya dalam hati dimana Jongin. Semenjak Lay sadar, Jongin belum menampakkan batang hidungnya sedikitpun. Membuat dirinya kebingungan mencari alasan mengapa Jongin kembali menghilang.

Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Perasaan saat Jongin meninggalkan dirinya sendiri kembali menyelimuti hati dan pikirannya. Kyungsoo sangat ketakutan saat ini, dan dengan ketidak mampuan untuk menunjukkan perasaannya memperburuk kondisi rohaninya. Walau Kyungsoo nampak tenang di luar tapi dia sangat berantakan di dalam.

Kyungsoo berusaha menghubungi Kris untuk menanyakan tentang Jongin, tapi Kris sendiri susah untuk dihubungi. Kemana aku harus bertanya?!

"Eomma, aku sudah kenyang.." Ucap Lay. Kyungsoo hanya mengangguk dan tersenyum.

"Istirahatlah." Kyungsoo mengecup kening Lay, setelah itu ia mengelus-elus lembut pipi Lay sambil memandangi wajah Lay dengan sayu.

Cklek. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Terlihat seorang anak tinggi mengenakan celana selutut dan kaos polo putih memasuki ruangan.

"Selamat siang.."

"Chanyeol-ah."

"Hi, Kyungsoo eomma." Ucap Chanyeol mendekati Kyungsoo dan Lay. setelah mendengar Lay sadar kemarin, ia berniat untuk menjenguk Lay. Dan sampailah dia kini di ruang rawat Lay.

"Chanyeol, apa kau baik-baik saja sekarang? Apa kau masih merasa sakit?" tanya Lay. Yang terakhir ia ingat, Chanyeol sudah terkapar tak sadarkan diri saat ia menolongnya.

"Lay.. Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Apa kau baik-baik saja?" Lay hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.

"Oh, aku lupa. Tunggu sebentar." Chanyeol berlari kecil keluar ruangan. Lay dapat mendengar suara Chanyeol menyuruh seseorang untuk masuk. Pintu terbuka kembali, sekarang Chanyeol terlihat menarik seorang gadis masuk ke dalam ruangan. Gadis itu menguncir dua rambutnya, dan memakai seragam sekolah Lay.

"Lay, Baekhyun menjengukmu." Chanyeol menarik Baekhyun mendekati Kyungsoo dan Lay. Sedangkan yang ditarik hanya menunduk diam.

"Lay, eomma akan keluar sebentar. Chanyeol, dan.. Baekhyun?" Kyungsoo menunjuk ke Baekhyun.

"I-iya nyonya." Kyungsoo tersenyum kecil mendengar jawaban dari Baekhyun.

"Jangan panggil nyonya, panggil aku Kyungsoo eomma. Baiklah, Chanyeol dan Baekhyun, aku titipkan Lay kepada kalian ya."

"Eomma, sudahlah. Aku tidak berumur lima tahun lagi." Kyungsoo tersenyum mendengar sanggahan dari Lay, ia pun pergi keluar ruangan, melepaskan semua emosi yang telah ia tahan sejak lama dihadapan Lay.

.

Setelah Kyungsoo keluar ruangan, suasana sunyi seketika.

"Lay, aku tidak tahu apa yang kau suka, jadi aku membawakanmu cupcakes." Beakhyun menaruh kantong plastik putih di meja sebelah ranjang. "Aku buatkan beberapa rasa. Ya, aku tidak tahu apa yang kau suka."

Lay tertawa kecil. "Terima kasih, Baek."

"Lay.. Waktu itu.. Terima kasih, dan maaf telah membuatmu seperti ini." Ucap Chanyeol.

"Sama-sama, Chanyeol. Tenanglah, ini bukan salahmu. Tapi karena kau meminta maaf, baiklah, aku maafkan kau." Jawab Lay dengan senyum jail terpasang dalam wajahnya.

"Benarkah?"

"Sudahlah, jangan mendramatisir. Kau tidak percaya aku memaafkanmu?"

"Ck. Kau terlalu baik.."

"Dan kau terlalu menyebalkan. Kau tahu?" Mereka bertiga tertawa kecil

Hening kembali menghampiri.

"Lay, Chanyeol. Aku pulang dulu ya. Lay, kau cepat sembuh dan keluar dari sini, ujian akhir akan segera dimulai.." Baekhyun berjalan mendekati pintu.

"Tidak akan pulang bersamaku?" Pertanyaan Chanyeol menghentikan langkahnya.

"Tidak, aku harus ke tempat lain dulu. Kau jangan pergi sebelum Kyungsoo eomma datang, ingat Kyungsoo eomma menitipkan Lay padamu." Baekhyun menarik pintu dan keluar.

"Ya! Byun Baekhyun! Apa kau meledekku?!" Terdengar suara pintu tertutup dan suara tawa Baekhyun yang mulai menjauh.

"Chanyeol-ah , sebenarnya aku juga harus berterima kasih kepadamu. Karena tanpa kau ketahui dan secara tidak langsung, kau telah mempertemukanku dengan.." Suara Lay terasa berat untuk menyelesaikan kata-katanya.

"Appamu." Chanyeol melengkapi ucapan Lay yang tak terselesaikan, sedangkan Lay hanya tertunduk.

"Lay, mau mendengar cerita tentang appamu?" Lay tidak menjawab tapi Chanyeol menyimpulkan Lay ingin mendengar apa yang akan ia ceritakan.

"Seperti yang kita tahu, orangtua-ku dan orangtua-mu adalah sahabat. Dulu, beberapa bulan sekali, Jong appa, atau appamu, selalu datang menemui appaku lalu mereka selalu pergi berdua dan kembali lagi dengan wajah yang sedih dan kecewa, terutama di wajah appamu. Saat itu aku masih kecil yang tidak mengerti apa-apa penasaran, hingga aku mulai besar dan mulai mengerti. Dari situ, aku tahu jika Jong appa mencari-cari anak dan ibu dari anaknya itu kemanapun dari yang mungkin hingga yang tidak mungkin tapi hasilnya selalu mengecewakan. Dulu, diam-diam aku sempat melihat Jong appa menangis-nangis di hadapan eomma dan appaku. Bertemu dan hidup bersama mereka adalah kata yang paling sering aku dengar dari mulut Jong appa. Saat aku melihat Jong appa menangis, aku ikut-ikutan menangis di balik pintu. Dia terlihat sangat menyedihkan."

Chanyeol terus menceritakan bagaimana tersiksanya Jongin dulu pada saat mencari keluarganya. Lay yang mendengarkannya terus menahan sesak di dada dan sakit di tenggorokannya karena berusaha mati-matian menahan tangis dan air mata agar tidak jatuh di hadapan Chanyeol. Mendengarkan Chanyeol memberikannya pencerahan, sekarang ia dapat melihat Jongin secara positif . Selama ini ia berpikiran buruk tentang Jongin, tanpa menyadari mereka menderita di tempat masing-masing.

Chanyeol yang sudah selesai bercerita terdiam melihat Lay. Wajah Lay diam tapi menyiratkan dengan jelas rasa sedih, sesal, sakit dan rindu yang mendalam. Sebagai sesama anak laki-laki, Chanyeol mengerti perasaan Lay saat ini. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Lay yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Lay, kalau begitu aku pulang ya." Chanyeol meninggalkan Lay dengan perasaan yang tak tergambar di dalam hatinya.

Untuk pertama kalinya, ia menanti kehadiran Jongin di ambang pintu kamarnya. Tapi orang yang ditunggu tak kunjung datang.

Apa dia benar-benar pergi?

Dulu, Lay bersumpah untuk tidak lagi menunggu sesosok ayah untuk datang kedalam kehidupannya. Tapi kini, ia mengingkari janjinya dan menunggu sosok ayah itu untuk datang kembali. Tatapan matanya tidak lepas dari dari pintu, hingga ia lelah sendiri dan tertidur.


A/N: Halo, para penggila fanfiction.

Maaf ff Appa tidak update-update. Maaf chapter ini updatenya sedikit banget.. Alasannya bukan gara-gara saya marah silent readers dan jadi mogok kerja.. Alasannya, saya sedang mengalami penyakit klasik seorang author. Apa penyakitnya? Tebak aja sendiri ;D

DAN, karena ulangan kenaikan kelas sudah dekat, ff ini tidak akan update mungkin dalam beberapa minggu. Mohon atas pengertian /deep bow/

Bagi para siswa yang menghadapi ulangan ini, fighting! Ingat jika nilai rapot menentukan fasilitas yang kita gunakan dalam hidup! Kalo nilainya jelek, fasilitas diambil. Kalo nilainya bagus, dikasih pujian kata. #klasik

Chapter selanjutnya adalah final Appa. Semoga apa yang ada di otak saya sesuai dengan apa yang kalian harapkan :D

See ya next chapter!

Xoxo,

aquaeructo