Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst / Adventure

Rated: M (For mature scene, No Lemon)

Pairing: SasuSaku, NaruSaku,

Warning: Canon, Angsty, OOC, Super Power Sakura, Mary Sue, Dramatic, Lebay, Full of SPOILER dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Summary:

Sakura tahu semenjak perang besar melawan Uchiha Madara, hidupnya takkan pernah sama lagi. Ia telah kehilangan segalanya. Cahaya dan cintanya. Naruto dan Sasuke. Baginya dunia seolah berhenti berputar. Ia akan melakukan apapun untuk mengubah takdir, walaupun ia harus menggunakan jurus terlarang sekalipun.

Akina Takahashi presents,

Rewrite

Story by: Akina Takahashi

Chapter 4: Secret Mission

Sakura baru saja hendak mengambil seragam Ne-nya ketika ia merasakan ada keberadaan chakra yang tak asing lagi baginya. Chakra misterius milik Uchiha Sasuke. Sedikit mengernyit ia membuka jendelanya berusaha mencari sosok itu.

Ketahuan kau, Sasuke-kun!

Entah kenapa rasanya ia ingin tertawa ketika ia sempat melihat bayangan Sasuke yang sedikit kelabakan ketika tiba-tiba saja ia membuka gorden jendela kamarnya. Sebenarnya ia sedikit curiga dengan kelakuan pemuda bukan tipe pemuda yang suka mengintip kamar anak gadis seperti ini. Pasti ada hal lain yang mengharuskannya melakukan itu. Mungkinkah ia sudah dicurigai oleh pemuda itu?

Yah mungkin saja. Salahnya sendiri tidak mengontrol kemampuannya sebelumnya. Namun selama belum ada bukti yang jelas, siapapun yang memerintahkan Sasuke untuk misi ini tak dapat melakukan apapun padanya. Sepertinya Sakura harus berpura-pura menjadi dirinya yang lemah dan menyebalkan saat berusia 12 tahun dulu. Sasuke tak boleh mengetahui bahwa saat ini ia dapat merasakan keberadaan si pemuda berambut raven itu.

Mungkin tidak ada salahnya jika aku sedikit mengerjai Sasuke-kun. Hihihi.

Sakura menyeringai. Mungkin jika ia adalah dirinya yang dulu mungkin ia akan senang setengah mati dan segera berlari ke balkon kamarnya dan memanggil-manggil nama Sasuke seperti fangirl gila. Tapi sekarang ia adalah Haruno Sakura yang berbeda. Ia adalah pemimpin aliansi lima negara yang terkenal bertangan dingin.

Beragam misi telah dijalaninya selama nyaris dua puluh tahun terakhir. Bahkan sebagai Kunoichi andalan Konoha, Sakura telah menjalani beberapa misi rahasia yang berkaitan dengan skandal para pejabat di negara-negara aliansi. Tak jarang ia harus menyamar menjadi seorang Geisha untuk mendapatkan beragam informasi rahasia dari seluruh penjuru negeri. Sedikit beruntung dengan kemampuannya berargumentasi dan wajahnya yang rupawan, ia dapat memperoleh informasi dengan mudah tanpa harus melakukan hubungan badan dengan para pria yang menjadi incarannya.

"Kenapa malam ini panas sekali sih?" Sakura memulai sandiwaranya. Ia berjalan menuju jendela. Memastikan Sasuke masih berada di tempat persembunyiannya. Saat yakin chakra pemuda itu masih berada di sana, Sakura dengan segera membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Membiarkan pemuda itu melihat dirinya dengan jelas.

"Bajuku sampai basah terkena keringat." Ia membuka lemarinya dan mengambil baju tidur terusan tanpa lengan seolah ia hendak berganti baju dan tanpa pikir panjang segera melepas baju merah dan melemparnya ke lantai. Sementara Sasuke nyaris saja melompat dari tempat persembunyiannya ketika melihat kejadian itu. Untung saja ia seorang Uchiha yang pandai mengatur emosi jadi ia masih dapat menjaga agar dirinya tidak melakukan hal bodoh yang dapat membuatnya ketahuan (Walaupun sebenarnya Sakura sudah mengetahuinya, tentu saja)

Sakura tertawa dalam hati. Walaupun ia tak dapat melihat wajah Sasuke saat ini, ia dapat menebak bahwa wajah pemuda itu sudah memerah tak karuan sekarang. Ia kembali melanjutkan aktingnya dengan berjalan ke cermin besar yang ada di kamarnya. Saat ini ia hanya mengenakan bra hitam dan celana pendek ketat berwarna hitam yang biasanya ia gunakan saat latihan. Jendela yang terbuka lebar memberikan akses bagi sang Uchiha untuk melihat dan mendengar Sakura dengan jelas.

"Huuh—" Sakura memanyunkan bibirnya di depan cermin. "Kenapa dadaku tidak sebesar punya Ino dan Hinata sih?" Ujarnya innocent. "Padahal ada gosip yang bilang kalau Sasuke-kun suka wanita yang berdada besar." Ia memegang dan memijat dadanya dengan kedua tangannya. "Hmm, kata ibu supaya dadaku cepat tumbuh harus dipijat seperti ini." Sakura masih memijat kedua dadanya dengan gerakan memutar. "Masa sih aku harus memijat dadaku setiap hari agar Sasuke-kun menyukaiku?"

"BRAKK" Baru saja ia menyelesaikan kalimat terakhirnya, ia mendengar ada bunyi yang cukup keras dari tempat persembunyian Sasuke. Berpura-pura terkejut, ia segera berlari ke balkon dan melihat sekelebat bayangan yang menjauh dengan kecepatan luar biasa. Sakura tertawa kecil. Ternyata pemuda sedingin dan secuek Sasuke bisa salah tingkah juga. Ternyata gosip yang bilang kalau Uchiha Sasuke itu aseksual itu tidak benar. Yah, ambil poin positifnya dengan ini Sakura yakin kalau Uchiha Sasuke juga laki-laki normal yang menyukai wanita. Hahaha.

.

.

Ah, benar.

Sudah cukup bermain-mainnya. Menggoda Uchiha Sasuke yang masih polos seperti tadi memang menyenangkan. Tapi hari ini ada hal yang lebih penting dari itu.

Sakura segera mengambil seragam Ne yang tersimpan di laci meja belajarnya dan mengenakannya secepat yang ia bisa. Ada misi penting yang harus diselesaikannya sekarang dan misi ini mungkin saja dapat mengubah masa depan secara signifikan. Mata emeraldnya berkilat. Wajah cantiknya terlihat datar tanpa ekspresi. Ia harus dapat menyembunyikan emosinya dengan baik agar Danzou dan para anggota Ne lain tidak mencurigainya.

"Henge."

"POOF"

Sakura mengubah wujudnya menjadi Haru. Mata emeraldnya berubah menjadi kuning keemasan. Seringai muncul di wajahnya.

Tunggu saja kehancuranmu, Danzou-sama.

Setelah mematikan lampu dan menutup jendela kamarnya dari luar, Sakura segera melompat ke jalan dan dengan kecepatannya yang luar biasa ia segera menghilang di kegelapan malam.

.

.


Rewrite © Akina Takahashi

Published at fanfictiondotnet

Do not copy or publish it on another site without Author's permission


.

.

"Kakashi sialaan!" Sasuke mengumpat keras. Harga dirinya terjun bebas. Ia baru saja merasa menjadi stalker paling mesum di dunia. "Misi brengsek!" Wajahnya memerah seperti buah tomat. Kejadian yang baru dilihatnya tadi berputar berulang-ulang di kepalanya seperti kaset rusak.

"Masa sih aku harus memijat dadaku setiap hari agar Sasuke-kun menyukaiku?"

"Masa sih aku harus memijat dadaku setiap hari agar Sasuke-kun menyukaiku?"

"Masa sih—"

"ARRRGHH!" Sasuke mengacak rambutnya gusar. Sialan. Ia tak tahu harus bagaimana besok jika bertemu dengan Sakura. Jika Sakura mengetahui bahwa ia mengikutinya sejak seharian tadi pasti dirinya akan sangat malu.

Sumpah demi Kami-sama, Sasuke ingin mengubur dirinya sendiri sekarang.

Bagaimanapun juga ia tak bisa menerima misi bodoh ini. Walaupun Kakashi mencurigai Sakura, tetap saja tindakan Sakura tadi benar-benar bukan seperti mata-mata yang menyamar akan tetapi seperti fangirl gila yang rela untuk melakukan apa saja demi mendapatkan hati idolanya. Ia akan segera menemui Kakashi dan berhenti melakukan misi sinting ini.

"Kakashi!" tanpa basa-basi Sasuke segera membuka pintu rumah Kakashi yang tidak terkunci. "Kita harus bicara!"

Sang pria bermasker hitam ini terlihat sedikit kaget dengan kedatangan Uchiha Sasuke yang sangat tiba-tiba ini. "Ada apa Sasuke?"

"Soal misi rahasia." Sasuke menggeram seolah menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya.

"Kenapa dengan itu?"

"Aku mau berhenti dari misi sinting ini."

"Hah?" Kakashi terlihat heran karena Sasuke terlihat antusias dengan misi ini sebelumnya. "Memangnya ada apa? Kau bukan tipe orang yang mudah berhenti di tengah jalan seperti ini."

"Cih. Karena misi gilamu ini aku merasa seperti seorang stalker mesum!" Wajah Sasuke memerah menahan malu karena mengingat kejadian tadi.

"Tenangkan dirimu Sasuke." Kakashi berusaha menenangkan Sasuke. Ia mempersilakan Sasuke untuk duduk di ruang tamu. "Duduklah dan ceritakan apa yang terjadi."

Sasuke mendudukkan dirinya dengan terburu-buru. Setelah terdiam beberapa saat, ia segera menceritakan kejadian tersebut pada Kakashi. Kakashi yang mendengar cerita Sasuke tanpa sadar tertawa terbahak-bahak.

"HAHAHAHA"

"Berhenti tertawa kau hentai!" Sasuke terlihat sangat kesal.

"Maaf, maaf. Aku terbawa suasana." Kakashi berusaha menghentikan tawanya. "Kenapa Sakura tidak menutup jendelanya sih? Kan bisa saja ia malah mengundang penjahat jika sikapnya seperti itu."

"Mana kutahu?!" Sasuke menggeram kesal. "Si bodoh itu kan memang selalu ceroboh sejak dulu. Ia bahkan masih saja mengejar dan berusaha memelukku seperti penggemar psycho."

"Atau jangan-jangan—" Kakashi menghentikan kata-katanya sesaat sebelum melanjutkannya kembali. "Dia sengaja melakukan itu agar kau tidak mengikutinya lagi. Jangan-jangan dia telah mengetahui keberadaanmu Sasuke." Tebakan Kakashi benar-benar tepat sasaran. Namun sayangnya Sasuke masih menyangsikan hal itu.

"Tidak mungkin." Sasuke menyangkal argumen sensei-nya. "Aku telah menyembunyikan keberadaanku dengan sempurna. Lagipula—"

"—dia itu memang tidak pernah peka pada keadaan sekitarnya. Sejak dulu maupun sekarang. Benar-benar gadis menyebalkan. Cih, annoying." Lanjut Sasuke.

Mata Kakashi melebar, baru kali ini ia mendengar Sasuke bicara begitu panjang tentang seorang gadis. Ia tersenyum kecil di balik masker hitamnya. "Sepertinya kau tahu Sakura jauh lebih banyak daripada aku."

"Berhenti menggodaku!"

"Baiklah, kita hentikan misi stalker ini. Tapi jika kau menemukan hal yang tidak biasa pada Sakura sedikit saja, segera laporkan padaku." Perintah Kakashi.

Sasuke mengernyitkan alisnya. "Kenapa kau sangat mencurigai Sakura?"

"Entahlah. Mungkin bisa kau bilang sebagai feeling seorang sensei yang merasakan ada hal yang tidak beres pada muridnya." Kakashi mengangkat bahunya.

"Hn, terserah."

.

.

.


Rewrite © Akina Takahashi

Published at fanfictiondotnet

Do not copy or publish it on another site without Author's permission


.

.

.

Sarutobi baru saja hendak membereskan barang-barangnya sebelum kembali ke rumahnya ketika ia merasakan adanya keberadaan chakra yang tak biasa di belakangnya. Dengan segera lelaki paruh baya itu membalikkan badannya dan menatap sesosok anak perempuan berumur 12 tahun bermata kuning keemasan yang kini tengah menatapnya tanpa ekspresi.

"Siapa kau?" Sarutobi mengernyitkan dahinya yang telah keriput. Sedikit heran dan penasaran bagaimana cara gadis ini dapat masuk ke ruangannya tanpa diketahui ANBU penjaga yang ditempatkan nyaris di seluruh pelosok bangunan ini. Melihat seragam khusus Ne yang dikenakan gadis itu, ia semakin heran. Tak biasanya Danzou mengizinkan anak buahnya keluar markas tanpa ada misi yang penting.

"Maaf mengagetkan Anda, Sandaime-sama." Sakura yang telah merubah wujudnya menjadi Haru segera membungkuk sopan. "Perkenalkan saya Haru, anggota Ne yang baru saja direkrut oleh Danzou-sama."

"Ah— ada perlu apa anggota Ne datang menemuiku malam-malam begini?"

"Sandaime-sama, saya ingin mengingatkan Anda bahwa Anda tidak boleh membiarkan Danzou-sama bertindak seenaknya. Saya tidak dapat memberitahukan Anda tentang apa yang dia rencanakan karena Danzou-sama telah memasang segel pada tubuh saya. Konoha akan mengalami kejadian besar yang akan terjadi dalam waktu dekat, jika Anda tidak bergerak mencegahnya dari sekarang tuan." Suara Sakura terdengar datar namun Sang Sandaime dapat merasakan adanya keyakinan dan keberanian pada suara tersebut. "Saya ingin menawarkan diri saya supaya saya dapat menjadi agen ganda bagi Anda."

Sarutobi terlihat heran. Sebelumnya tidak pernah ada anggota Ne yang berusaha melawan pemimpinnya sendiri. Apalagi menawarkan diri untuk menjadi mata-mata. Gadis ini pasti bukan orang biasa. "Memangnya apa keuntungan yang akan kau dapatkan jika kau melakukan hal itu, nona?" Sarutobi berusaha menyelidiki motif yang dimiliki Sakura.

"Saya ingin melindungi Konoha." Jawaban yang lugas dan mantap terdengar dari mulut Sakura. "dan Sandaime-sama harus bekerja sama dengan saya." Kali ini perkataanya lebih terdengar sebagai perintah daripada penawaran.

Sarutobi tersenyum. Ia dapat melihat kesungguhan di mata gadis itu. Tak ada kebohongan disana. Gadis itu memang berniat melindungi Konoha.

"Hmm..." Sang Hokage bergumam. "Memangnya apa arti Konoha bagimu nona? Aku bahkan tidak pernah melihatmu sebelumnya disini."

"Konoha adalah segalanya bagi saya tuan. Mungkin suatu saat Anda akan mengetahui siapa saya sebenarnya. Akan tetapi untuk saat ini saya belum bisa memberitahukannya pada Anda. Saya juga tak dapat memberitahukan kejadian apa yang menanti Konoha dalam waktu dekat ini karena akan terjadi kekacauan besar jika saya melakukannya. Jadi saya mohon pengertian Anda."

"Aku mengerti." Sarutobi menghela napas. "Sudah berpuluh-puluh tahun aku memimpin Konoha, berbagai macam orang telah kutemui. Aku bisa melihat hati seseorang hanya dari matanya. Dan kau— nona..."

"Haru."

"Ya, nona Haru. Kau memiliki kesungguhan di matamu. Aku yakin semua perkataan yang kau bicarakan adalah benar. Walaupun mungkin terdengar gila, tapi aku mempercayaimu." Sang Sandaime tersenyum ramah. "Aku menerima penawaranmu."

Sakura tersenyum tipis. "Terima kasih Hokage-sama. Saya akan berusaha sebisa saya untuk melindungi Konoha."

"Ah, jangan sampai satu orang pun mengetahui hal ini." Sang Hokage mengingatkan.

"Saya tahu tuan, saya akan berhati-hati."

"Baiklah, aku menyerahkan misi rahasia ini padamu. Mulai saat ini kau adalah tangan kanan rahasiaku."

"Baik. Kalau begitu, saya akan kembali ke markas Ne agar mereka tidak curiga." Sakura mengangkat wajahnya menatap Sarutobi.

"Hm... silakan."

"Tapi sebelum itu tuan—" Sakura menyampaikan pesan sebelum ia pergi dari ruangan Hokage ke-3. "Saran saya agar tuan kembali memeriksa data peserta ujian Chuunin yang akan dilaksanakan di Konoha nanti."

Mata Sarutobi melebar, bagaimana gadis ini bisa tahu bahwa ujian Chuunin akan dilaksanakan di Konoha tahun ini? Bahkan pejabat desa saja belum mengetahui hal ini. Baru saja dirinya hendak bertanya, ia kembali dikagetkan dengan perkataan gadis itu selanjutnya.

"Ah, saya juga mengingatkan supaya tuan lebih memperhatikan keberadaan anak-anak yatim piatu di Konoha. Terutama Jinchuuriki Kyuubi dan Penerus Klan Uchiha. Saya yakin jika dimasa depan nanti mereka akan menjadi orang yang sangat penting bagi Konoha. Mohon bantuannya, Sandaime-sama."

"POOF" Setelah menyelesaikan kalimatnya Sakura segera menghilang di tengah kepulan telah berteleportasi menuju tempat lain.

"Apa hubungan gadis ini dengan Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke?" sang Hokage hanya termenung memikirkan kejadian yang masih terasa absurd baginya. Apakah mungkin ini ada hubungannya dengan laporan Kakashi sebelumnya? Tentang kecurigaannya pada salah satu anak muridnya. Mungkinkah gadis ini ada hubungannya dengan Haruno Sakura?

Entahlah, saat ini ia hanya dapat mempercayai gadis itu. Ia tahu bahwa mungkin ia terlalu naif sebagai seorang pemimpin, tapi entah kenapa feelingnya berkata bahwa ia harus mempercayai gadis itu.

.

.

.


Rewrite © Akina Takahashi

Published at fanfictiondotnet

Do not copy or publish it on another site without Author's permission


.

.

.

Hari ini adalah hari dimana kehidupan tim tujuh sebagai genin yang sebenarnya dimulai. Ya, hari ini adalah hari dimana mereka benar-benar menjalani misi yang berbahaya. Misi untuk melindungi Tazuna sang pembuat jembatan yang diincar oleh Gatou pemimpin organisasi hitam yang menyewa Zabuza dan Haku untuk membunuh sang pembuat jembatan tersebut.

Sakura sempat menyadari perubahan sikap Sasuke yang sedikit awkward di awal pertemuan mereka pagi ini, namun hal itu segera terlupakan karena tiba-tiba saja ada ninja dari Negeri Kabut yang menyerang mereka secara tiba-tiba. Saat itu adalah dimana pertama kalinya Naruto menusuk tangannya sendiri untuk menghilangkan rasa takutnya dan juga saat Kakashi memperlihatkan Sharingannya ketika berhadapan dengan Zabuza. Sakura sama sekali tidak melakukan apapun yang akan mengubah kejadian saat ini. Karena ia tahu, tak ada yang perlu diubah dari kejadian ini. Bisa-bisa jika ia bertindak gegabah, hal yang buruk mungkin saja akan terjadi.

Setelah sempat menginap satu malam di tempat Tazuna, Kakashi mengajak ketiga muridnya untuk berlatih mengontrol chakra mereka dengan cara memanjat pohon dengan hanya menggunakan kaki.

"Jumlah chakra yang diperlukan untuk memanjat pohon memang kecil, tapi jumlahnya harus presisi. Selain itu, area telapak kaki merupakan tempat yang paling sulit untuk mengumpulkan chakra. Jadi jika kalian berhasil mempelajari kontrol chakra seperti ini secara teori kalian akan bisa menguasai jurus apapun." Jelas Kakashi.

Sakura mengamati Naruto dan Sasuke yang terlihat sangat antusias kali ini.

"SYUUT" Kakashi melempar kunai kearah mereka bertiga.

"Gunakan kunai itu untuk menandai seberapa tinggi kalian berhasil memanjat pohon."

"YEAH!" Naruto dengan semangat segera berlari memanjat pohon tersebut namun baru dua langkah saja ia sudah terjatuh. Sementara Sasuke hanya mampu sampai setengah jalan.

Sakura merasakan nostalgia ketika melihat pemandangan tersebut. Sejak dulu, kontrol chakra merupakan hal yang mudah baginya. Jadi tak ada salahnya jika dia show off kali ini. Dengan santai Sakura melangkahkan kakinya memanjat pohon secara vertikal hingga dirinya sampai di dahan tertinggi yang bisa digapainya. "Wah, ternyata mudah ya."

"Sakura-chan!" Naruto terlihat kagum. "Wow! Kau keren Sakura! Itu baru namanya gadisku!"

Sakura tertawa kecil. Memangnya sejak dulu Naruto itu senorak ini ya? Sejak kapan aku menjadi gadisnya? Hahaha.

"Sepertinya dari kalian bertiga, Sakura lah yang paling berbakat. Sakura yang paling mungkin menjadi Hokage." Kakashi berusaha memanas-manasi Naruto dan Sasuke agar mereka termotivasi untuk berlatih lebih keras lagi. "Yah, tidak seperti seseorang yang hanya besar mulut. Dan kurasa, klan Uchiha yang katanya klan terkuat di Konoha juga tidak ada apa-apanya."

"AHH!" Kata-kata Kakashi berhasil membakar semangat Sasuke dan Naruto. Mereka berlatih tanpa mengenal lelah. Sakura hanya diam mengamati mereka berdua. Sebentar lagi pasti Naruto akan menghampirinya.

"Sakura-chan!"

Tuh kan.

"Bisakah kau memberiku sedikit tips?" Naruto berbisik di telinga Sakura agar Sasuke tak dapat mendengar pembicaraan mereka berdua.

"Dengar ya, untuk mengumpulkan chakra di telapak kakimu kau harus rileks dan fokus pada pohon yang ada di hadapanmu." Sakura berbisik di telinga Naruto. Ia menyeringai ketika melihat Sasuke yang sepertinya terlihat ingin tahu tentang pembicaraannya dengan Naruto kali ini. Mungkin ia akan mengajari Sasuke secara khusus nanti. Untuk saat ini biarkan ia merasa penasaran.

"Aku akan menemani Tazuna-san ke kota. Kalian lanjut saja latihannya." Sakura bangkit dari posisinya dan segera pamit dari hadapan mereka berdua.

Naruto masih berusaha menerapkan tips yang baru saja diberikan Sakura. "Oke. Fokus. Fokus."

"Yatta! Ini berhasil!" Naruto tersenyum lebar. Namun baru saja ia hendak memanjat kembali pohon itu tiba-tiba saja Sasuke memanggilnya. "Hey, Naruto."

"Apa sih masalahmu?! Kau tidak melihat apa?! Aku sedang berusaha untuk fokus!" geram Naruto

"Umm..."

"APA?!"

"Apa yang Sakura katakan padamu?"

"Itu rahasia!"

SHIING

Hening sesaat sebelum akhirnya Sakura kembali muncul dan memanggil mereka berdua. "Naruto! Sasuke-kun! Ayo makan dulu!"

Sasuke dan Naruto segera berlari menghampiri Sakura.

.

.

.

"Tambah lagi!" Seru Sasuke dan Naruto berbarengan. Memang dasar rival sejati. Bahkan di meja makan pun mereka masih saja bersaing. Sakura hanya menggelengkan kepalanya.

Tak lama kemudian Tazuna kembali menjelaskan mengenai keadaan desanya. Tentang kekecewaan Inari yang kehilangan ayah angkatnya juga tentang bagaimana anak itu menjadi tidak percaya lagi pada apa yang disebut pahlawan.

"Aku akan membuktikan pada Inari bahwa pahlawan itu benar-benar ada!" tiba-tiba saja Naruto angkat bicara. "Aku akan kembali berlatih!" Dengan semangat ia berlari keluar ruangan.

"Sebaiknya kita juga berlatih, Sasuke-kun." Sakura menarik lengan Sasuke sehingga pemuda itu terpaksa mengikuti gadis pink itu berjalan keluar. "Aku akan memberitahumu apa yang kukatakan pada Naruto tadi siang."

Wajah Sasuke memerah karena malu. Ternyata Sakura mengetahui semuanya.

"Aku tidak—"

"Sudah diam saja Sasuke-kun." Sakura masih menarik lengan Sasuke. Ia memilih tempat berlatih yang agak jauh dari Naruto agar ia dapat mengajari Sasuke secara khusus.

Cahaya bulan menerangi hutan tempat mereka berlatih. Suasana malam yang hening benar-benar membuat Sasuke merasa canggung. Entah kenapa ia kembali teringat kejadian memalukan saat ia mengerjakan misi dari Kakashi. Bayangan Sakura yang hanya memakai bra hitam kembali mengganggunya.

"Sial." Tanpa sadar tatapan matanya kembali menatap dada Sakura yang memang terlihat rata itu. Padahal saat ia melihat Sakura hanya memakai bra saja dadanya sama sekali tidak rata kok, lalu kenapa sekarang jadi terlihat rata jika tertutup oleh baju ninjanya itu?

"Kenapa Sasuke-kun?" Sakura merasa heran karena tiba-tiba saja Sasuke terdiam dan menatapnya tanpa berkata-kata. Menyadari kemana arah pandang Sasuke, ia kembali menyeringai. "Aku tidak menyangka Sasuke-kun ternyata mesum."

"BLUSH" Wajah Sasuke memerah tidak karuan. Sial, dia ketahuan. Sumpah rasanya ia ingin menghilang sekarang juga.

"Tidak! Aku—"

"Hanya menatap dadamu sebentar. Begitu?" lanjut Sakura. Ia terkikik ketika melihat Sasuke semakin salah tingkah. Ia malah mengambil telapak tangan Sasuke dan mengarahkannya pada dadanya. "Apa yang kau lakukan bodoh?!"

Eh. Kenapa rasanya benar-benar rata?

"Sudah puas Sasuke-kun?" Sakura masih terkikik geli. Sementara Sasuke hanya menatapnya heran. Pemuda onyx itu malah berpikiran jangan-jangan Sakura ini sebenarnya laki-laki. Habisnya dadanya rata keterlaluan. Lalu yang dia lihat waktu itu apa?

"Tentu saja rata, itu karena aku memakai chest binding. Aku takut jika pergerakanku akan terganggu jika aku tidak memakainya." Seolah ia dapat membaca pikiran Sasuke, ia menjawab semua rasa penasaran pemuda itu. "Atau kau lebih suka aku tidak memakai chest binding, Sasuke-kun?"

"Berhenti menggodaku Sakura!" Sasuke memalingkan wajahnya yang memerah. "Cepat beritahu aku apa rahasia chakra kontrol yang kau ajarkan pada Naruto!"

"Haa tentu saja aku akan terus menggodamu Sasuke-kun." Sakura tertawa kecil. "Itu karena aku dan Ino juga penggemar-penggemarmu yang lain kan memang berlomba-lomba untuk menarik perhatianmu."

Sasuke hanya menatap tajam Sakura dan bangkit menjauhi gadis itu. "Kalau tak ada hal penting yang bisa kau katakan padaku, aku akan pergi."

"Ah oke, aku akan mengajarimu Sasuke-kun! Tadi itu hanya bercanda! Habisnya kau terlalu tampan sih jadinya aku tak tahan untuk tidak menggodamu. Hahaha."

Deathglare. Sakura merinding ketika Sasuke menatapnya dengan tatapan menusuk. Sepertinya ia tidak bisa main-main lagi sekarang.

"Oke, kita mulai sekarang ya Sasuke-kun." Sakura sedikit berdeham untuk mengurangi ketegangan yang ada. "Pertama-tama untuk mengumpulkan chakra di telapak kakimu kau harus rileks dan fokus pada pohon yang ada di hadapanmu. Seperti ini." Sakura mencontohkan pada Sasuke. Ia memperlihatkan bagaimana aliran chakra bisa perlahan-lahan terkumpul di kakinya."Lalu kau harus mengira-ngira berapa jumlah yang tepat supaya kau bisa memanjat pohon itu. Ingat, jika terlalu banyak maka kau akan merusak pohonnya dan jika terlalu sedikit maka kau akan terjatuh."

"Hn." Sasuke berusaha mengikuti apa yang Sakura contohkan padanya.

"Ya, benar begitu Sasuke-kun!"

"TAP TAP TAP" Sasuke mulai melangkahkan kakinya menaiki pohon secara vertikal. Namun tinggal sedikit lagi ia sampai di dahan teratas, kontrol chakranya terhenti dan ia terjatuh dari ketinggian.

"Awas Sasuke-kun!" Sakura dengan sigap menangkap Sasuke. Kakinya menyalurkan beban mereka berdua yang bertambah berkali-kali lipat akibat gravitasi ke tanah. Menyebabkan tanah di sekitar mereka mengalami keretakan. Mereka berdua terjatuh ke tanah. Jika saja orang biasa yang melakukannya maka orang tersebut pasti sudah mengalami patah tangan. Bayangkan saja menangkap seseorang yang terjatuh dari ketinggian nyaris 20 meter pastilah sangat beresiko. Tapi tidak bagi Sakura.

Sasuke jatuh tepat diatas Sakura. Mata mereka saling bertatapan. "Kau ini sebenarnya apa?" tanpa sadar Sasuke menanyakan hal itu pada gadis di bawahnya. Jarak mereka kini sangat dekat, hidung mereka bahkan sudah bersentuhan. "Tentu saja aku ini seorang ninja." Sakura tertawa kecil.

"Kau bukan Haruno Sakura yang kukenal." Kata-kata Sasuke sukses membuat Sakura terdiam. "Kau bisa melakukan kontrol chakra dengan sempurna, menguasai taijutsu, mampu mendeteksi aliran chakra orang lain dan juga memiliki kekuatan yang melebihi orang biasa..."

"Kakashi benar..." Sasuke menghentikan kata-katanya sesaat sebelum melanjutkannya kembali."Ada yang tidak beres denganmu."

"Haruno Sakura, sebenarnya siapa dirimu?"

To Be Continued


Gomennasaaai, gomennasai saya telah membuat Sasuke sangat OOC dan Sakura jadi kelihatan super agresif. Ga tahan soalnya sama mereka. Nah Sakura sudah dicurigai sama Sasuke tuh. Apa yang selanjutnya akan terjadi? Tunggu kelanjutannya di Rewrite chapter berikutnya yaa.

Saya sadar ada banyak plothole dan hal yang ga sesuai sama kejadian di canon, maaf ya kalau saya tidak bisa memuaskan kalian. Tapi saya akan berusaha memperbaiki karya saya ke depannya.

PS: Terima kasih buat semua reviewnya ya. Review dari kalian benar-benar berarti untuk saya.

Q/A Section

Q: Apakah Sakura akan meninggalkan desa?

A: Ngga kok, saya ga berpikir kalau dia akan meninggalkan desa untuk waktu yang lama. Paling dia hanya keluar desa seorang diri jika ada misi penting dari Ne.

Q: Apa Sakura akan menang melawan Ino di ujian Chuunin nanti?

A: Liat aja di beberapa chapter ke depan ya

Q: Kenapa Hokage ke-3 mau aja percaya sama Haru?

A: Kan udah dibilang di chapter ini kalau Hokage ke-3 melihat kesungguhan Sakura dan sesuai sifat Hokage ke-3 dia pasti akan percaya sama Sakura kan? Lagian ntar kepanjangan chapternya kalau dia ga percaya. Hahaha.

Q: Kenapa Sasuke langsung curiga sama Sakura setelah cewek itu berhasil nangkep dia yang jatuh?

A: Nangkep orang dari ketinggian itu ga mudah loh. Harus punya skill taijutsu, kontrol chakra, sama stamina yang luar biasa buat ngelakuinnya. Plis itu beban dikali percepatan gravitasi per meternya udah berapa coba? Sakura berhasil ngelakuinnya dengan sempurna tanpa lecet sedikitpun, ya curiga lah dia.

Oke, sekian dari saya. Semoga bisa menjawab rasa penasaran kalian semua. Terima kasih sudah mau mengikuti Rewrite. Btw ratingnya saya naikkan mulai chapter ini karena sepertinya akan ada mature scene ke depannya. Tapi saya ga bakalan bikin lemon kok karena saya ga ahli bikin bikin begituan hahaha.

Sampai jumpa di chapter berikutnya.

With Love,

Akina Takahashi