How to Say 'Thank You For Loving Me'

Naruto © Masashi Kishimoto

Story by C.M.A


KONOHA GAKUEN, 7.00 A.M – LAPANGAN OUTDOOR SEKOLAH

"Gyaaaa~~~ Naruto-Senpaiii! Kakkoiiiii!"

"Ganbatteeee!"

"Love you Senpaiiiii!"

Pagi di Konoha Gakuen tak pernah sepi. Apalagi dengan digiatkannya pelatihan klub sepak bola yang baru saja memenangkan pertandingan tingkat regional. Hal itu tentu saja membawa pengaruh besar pada tiap pentolan klub sepak bola Konoha Gakuen yang sudah membawa klubnya pada kemenangan.

Seperti si Pirang satu itu.

Dengan polosnya Naruto balas melambai pada kouhai-kouhai-nya yang berdiri di tepi lapangan sambil meneriaki dan melambai penuh semangat padanya. Mata birunya bahkan tidak menyadari sepasang ametis yang terbakar cemburu di sudut lain lapangan.

"Hinata-chan?"

Ametis itu terbelalak sekilas sebelum beralih pada sepasang emerald cemerlang yang menatapnya. "Sa-Sakura-chan? Ada apa?"

Bukannya menjawab, Sakura malah menatap jauh ke tengah lapangan. Tepat ke arah Naruto yang baru saja melesakkan satu gol lagi di gawang. "Akhir-akhir ini pacarmu makin terkenal ya."

"E-eehhh?"

"Hati-hati loh. Kalau kau tidak menjaganya dengan hati-hati, bisa saja dia direbut oleh mereka." Sakura menunjuk ke seberang lapangan di mana segerombolan cewek yang sedang histeris setengah kejang dengan aksi keren Naruto barusan.

Ametis itu meredup. Semburat merah yang muncul di pipi pucatnya bukan menandakan rasa malu atau semacamnya. Melainkan kesal yang bergejolak.

"Awas saja kalau dia berani." Desis si gadis Hyuuga rendah. Sakura terkekeh di sebelahnya. "Tapi, bukannya pacarmu juga digandrungi cewek-cewek, Sakura-chan?"

Sakura menggaruk belakang kepalanya. "Aaaah… si Jutek itu? Dia sih tidak seperti pacarmu yang ramah itu. Kurasa tidak ada orang yang tahan bersama dengannya lebih dari lima menit. Aku tidak perlu khawatir."

"Tapi dia kan jadi makin terkenal setelah memenangkan olimpiade sains kemarin? Yakin tak apa?" Hinata bertanya lagi. Kali ini Sakura tak langsung menjawab dan hanya nyengir—nyengir ragu.

"Emm. Kalau begitu aku duluan ya? Si Jutek itu pasti sedang sibuk di Lab."

"Oke." Hinata mengangguk dan melambai pada Sakura yang langsung melesat pergi ke tempat pacarnya berada. Kalau begitu sih, jelas sekali kalau Sakura juga khawatir Sasuke direbut. Memang sih Sasuke jutek dan dingin. Tapi bukannya semakin sulit dijangkau semakin menarik?

"Hinata-chaaannn!"

Sekali lagi ametis itu terbelalak, kali ini juga diikuti dengan debaran jantung yang bertambah cepat tanpa bisa ditahan demi mendengar namanya dipanggil oleh sesosok cowok blonde yang tengah berlari ke arahnya.

"Na-Naruto-kun…" Wajah Hinata kembali merona begitu Naruto tiba di tempatnya. Cowok itu terdiam sebentar sambil berusaha mengatur napasnya.

"Hahhh—capek!" Naruto mendengus keras sambil mengelap keringatnya. Dengan sigap, Hinata langsung mengulurkan handuk dan air minum. "Thank's." Naruto menerimanya dengan sukacita dan menenggak habis isi botol minumnya.

Hinata yang memperhatikan Naruto sejak tadi hanya diam saja. Perasaan kesalnya tadi tiba-tiba saja menguap entah ke mana sejak melihat senyum lebar itu lagi.

"Nikmatnya—haahh—!" Naruto melempar botol itu ke dalam tasnya dan tersenyum lebar. "Lama ya menungguku?"

Hinata menggeleng pelan. "Bagaimana latihannya? Lancar?"

Naruto mengangguk mantap. "Dan lagi sepertinya kepopuleran klub sepak bola meroket tajam. Tak pernah sebelumnya aku melihat banyak siswi yang rela datang sepagi ini hanya untuk menyemangati kami."

Menyemangatimu lebih tepatnya! Hinata membatin.

"Lalu, kau senang mereka meneriakimu dari tadi?" tanya Hinata sedikit sinis. Menyadari nada suara pacarnya yang ketus, Naruto tersenyum lebar.

"Hehe. Kau manis sekali Hime. Cemburu ya?"

"Biasa saja." Sangkal Hinata sambil menyembunyikan semburat merah yang makin menyebar dengan cepat itu. Matanya melirik ke kejauhan, di seberang sana terlihat wajah-wajah kecewa para siswi yang sepertinya belum tahu kalau Naruto sudah punya pacar. Hah! Rasakan!

Naruto hanya mengangguk paham dengan senyum yang masih merekah lebar. Satu tangannya terulur ke arah Hinata. "Tolong lap keringatku dong!" pintanya manja. Mau tak mau Hinata mendengus geli dan mengambil handuk itu lantas mengelap wajah sang kekasih yang terus tersenyum ke arahnya.

.

.

.

.

RUANG KELAS XI-A, LANTAI DUA

Sementara itu di sebuah ruang kelas yang sepi, seorang cowok berambut nanas tengah tertidur nyenyak di atas mejanya. Helaan napas teraturnya sama sekali tak berubah meski seorang gadis berpakaian putih khas karateka mengguncang tubuhnya pelan.

"Shikamaru-kun."

"Ngggh…"

"Shika-kun."

"Hngg."

"Ck!" Temari berkacak pinggang setengah kesal. Sebenarnya untuk apa pacar pemalasnya ini datang pagi-pagi jika hanya ingin tidur di mejanya? Temari sampai curiga kalau Shikamaru ada affair dengan mejanya itu. Mungkin jika diizinkan, pacarnya itu akan membawa pulang mejanya untuk dipeluk setiap malam.

Temari duduk di kursi dan menghadap ke arah Shikamaru. Wajah tenang itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tersadar. Dengan senyum geli Temari memainkan ujung rambut Shikamaru yang meruncing.

'Dasar bodoh. Kalau tahu akan melelahkan, harusnya kau tolak saja tawaran sebagai ketua kelas!' kata Temari dalam hati begitu menyadari tumpukkan kertas yang dijadikan bantal oleh Shikamaru ternyata adalah agenda acara kelas yang baru saja diperiksanya. Ia tahu benar perangai pacarnya yang setahun lebih muda itu. Dia memang jenius luar biasa, tapi sifat malasnya itu juga sangat luar biasa. Dan menjadi seorang pemimpin murid-murid teman sekelasnya rasanya terlalu banyak bagi Shikamaru yang menganut prinsip hidup 'gone with the wind'.

"Temari-san sedang apa?"

"E-eh? Ti-tidak!" Temari langsung menarik tangannya begitu melihat Tenten muncul dan meletakkan tasnya di kursi yang tak jauh dari tempat Temari dan Shikamaru.

Tenten mengulum senyum maklum. Sudah jadi rahasia umum kalau couple yang satu ini memang memiliki hubungan agak aneh. Antara cinta gak cinta tapinya suka ke-gap lagi mesra-mesraan. Mengingatnya, Tenten jadi tertawa sendiri dalam hati.

"Yasudah, aku mau ke ruang OSIS dulu ya." Pamitnya.

"Hm. Menemui Neji ya?" tanya Temari masih sedikit salting yang hanya dibalas dengan senyum tipis Tenten.

Selepas Tenten pergi, Temari bisa menetralkan debaran jantungnya yang tadi sempat berdebar keras. Ia dan Shikamaru memang tidak pernah terlihat layaknya pasangan kekasih lainnya. Makanya ia canggung jika ada yang melihat mereka berdua saja. Tapi bukannya Temari tidak mau lebih dekat dengan pacarnya itu. Hanya saja…

"Nee-chan. Sedang apa?"

Temari menoleh dan mendapati adik kecilnya yang super manja itu sedang berdiri di ambang pintu kelas Shikamaru dengan aura jelek yang menguar bebas, meracuni udara pagi yang segar.

Ini dia masalahnya!

Yap. Sebagai wanita satu-satunya di keluarga, Temari tidak hanya berperan sebagai kakak, tapi juga ibu bagi adik kecilnya itu. Sedangkan saudara lelakinya yang lain—Kankurou—tidak dapat diharapkan. Jadilah Gaara tumbuh sebagai cowok pendiam yang Siscon.

"Ti-tidak ada apa-apa. Kamu sedang apa di sini?"

Jade pucat itu tak lepas menatap Temari yang bergerak tak nyaman di kursinya. Yah… Gaara memang tau kalau kakaknya berpacaran dengan si cowok pemalas itu. Tapi daripada mengurusi cowok yang lebih cinta mejanya, bukankah lebih baik mengurusinya?

"Temani aku sebentar sebelum bel." Pinta Gaara sebelum berlalu begitu saja ke kelasnya. Mau tak mau Temari menurut dan beranjak dari tempatnya. Tepat sebelum keluar dari kelas, Temari melirik ke arah Shikamaru yang masih terlelap dan menghela napas berat.

Yah. Nasib.

Temari tidak tahu saja kalau manik coklat itu tak sepenuhnya terpejam.

.

.

.

.

KONOHA EXPRESS

Sai membaca buku kecil yang terbuka di atas tangannya dengan serius. Guncangan pelan kereta yang dinaikinya dan Ino sama sekali tak terasa. Dan sementara wajah datar tapi tersenyum itu fokus dengan bacaannya, si gadis ekor kuda hanya bisa bersandar di kursinya sambil menghela napas.

Hari ini sebenarnya kereta tak begitu penuh. Ada banyak kursi kosong yang tersisa. Tapi seperti biasanya, Sai lebih memilih berdiri menyandar di besi sanggah sambil membaca buku anehnya. Padahal Ino sudah meminta cowok itu untuk duduk di sebelahnya, tapi dengan wajah penuh senyum itu Sai berkata, "Biar saja. Kursi jatahku biar digunakan oleh yang lebih membutugkan. Aku kuat jika hanya berdiri begini saja."

Tentu saja kau kuat! Yang tidak kuat itu akuuuu! Jerit Ino frustasi di dalam hati. Benar. Ia tidak kuat melihat tatapan cewek-cewek yang terlihat mengagumi pacarnya. Kalau saja Sai duduk di sebelah Ino, setidaknya cewek-cewek itu akan sadar kalau Sai memilikinya. Tapi cowok itu malah memilih berdiri sendiri dengan gaya cool yang sulit ditolak cewek manapun.

Menyebalkan. Apa memang sengaja ya?

Suara pemberitahuan pemberhentian kereta membuat Ino tersadar dari lamunannya. Ia pun segera merapikan penampilan dan ikatan rambutnya yang panjang juga tas sekolahnya. Dengan perlahan ia mencoba berdiri saat kereta melambat.

Namun entah karena apa. Tak ada angin, hujan, apalagi gempa, seorang cewek terhuyung ke arah Sai dan dengan refleks cowok itu menangkap tubuh si cewek yang terlihat sekali kesenengan.

Grrrr!

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sai lembut, masih dengan senyum standar yang selalu menghiasi wajah pucatnya. Si cewek mengangguk dengan tatapan terpesona karena bisa melihat wajah Sai sedekat itu. "Lain kali hati-hati."

Cewek itu baru ingin menjawab saat Ino dengan kasarnya berjalan di antara mereka yang memang berdiri menghalangi pintu.

"Minggir!" kata Ino sambil menyeruak dan berjalan pergi.

Cewek itu dan Sai hanya bisa melongo untuk sesaat sebelum bisa bereaksi.

"HEH! Dasar cewek menyebalkan!" teriak cewek itu kencang pada punggung Ino yang menjauh. Sai yang masih sedikit bingung akhirnya buka suara juga.

"Yang tadi itu pacarku loh." Katanya dengan senyum yang masih merekah.

"A-apa?"

.

.

.

.

RUANG OSIS KONOHA GAKUEN

Tenten memutar kenop pintu ruang OSIS pelan dan membukanya dengan perlahan. Matanya langsung mendapati sosok sang kekasih yang sedang sibuk berkutat dengan 'sarapan' pagi berupa tumpukan tugas sebagai ketua OSIS.

"Neji-kun."

Neji hanya melirik sekilas sebelum tenggelam lagi di tumpukan tugasnya. Tenten yang sudah hapal betul dengan sikap Neji hanya mengambil duduk di hadapan cowok itu dan meletakkan sebungkus roti yang dibelinya dari kantin.

"Makanlah. Kau pasti belum makan kan?" tanya Tenten. Neji masih juga belum merespon, tangannya sibuk membolak-balik kertas di tangannya.

Lagi-lagi Tenten tersenyum maklum. Ia sadar benar kalau pacarnya ini tidak akan berhenti bekerja sebelum semuanya beres. Tak peduli kalau ia akhirnya jatuh sakit. Tapi Tenten tak mau itu terjadi. Akhirnya dengan perlahan Tenten menyobek plastik pembungkus rotinya dan merobek sebagian kecil roti itu.

"Ayo buka mulutmu." Tenten menyodorkan roti di tangannya ke arah mulut Neji. Si cowok berambut cokelat itu melirik sekilas sebelum memakan roti itu dengan mata masih tertuju ke laporannya.

Dengan sabar Tenten menyuapi sepupu Hinata itu hingga sebuah ketukan terdengar. "Siapa?" Tenten yang bertanya, ia meletakkan roti itu dan membukakan pintu. "Oh. Lee. Ada apa?" tanyanya begitu mendapati Ketua klub Karate itu tersenyum di depan pintu.

"Aku ada perlu denganmu. Bisa ikut sebentar?" pintanya dengan senyum berkilau.

"Neji-kun?" panggil Tenten. Lagi-lagi Neji hanya menggumam. "Aku pergi dulu ya. Jangan lupa habiskan rotimu." Pesannya sebelum mengekor Lee ke ruang klub.

Blam—!

Ruang OSIS itu kembali hening. Bahkan Neji menghentikan kegiatannya. Diliriknya roti yang baru setengah habis itu. Dengan satu lemparan jitu, ia berhasil memasukkan si roti malang ke dalam tempat sampah yang ada di pojok ruangan.

Hening terasa semakin pekat. Si cowok Hyuuga hanya menatap diam kertas-kertas di hadapannya. Sekali, ia menatap pintu yang tertutup kemudian memalingkan wajah.

Kruyuuukk~~~!

.

.

.

.

LABORATORIUM UTAMA

Sakura mengerutkan alis mendapati banyak siswi yang mengintip ke dalam ruang laboratorium lewat jendela kaca yang bening. Mereka terlalu serius mengintip sampai tidak menyadari kehadiran Sakura yang ikutan mengintip ke dalam karena penasaran.

Tidak ada yang aneh. Hanya ruang lab biasa yang bersih dan dipenuhi banyak peralatan penelitian. Oh. Jangan lupakan Sasuke yang berjas lab warna putih sedang meracik ramuan-entah-apa. Dan karena tak ada hal luar biasa yang mungkin menarik perhatian, Sakura menyimpulkan bahwa Sasuke-lah magnetnya.

"Hmm." Sakura mendelik ke arah kouhai-kouhainya itu. Sama seperti kasus Hinata, cowoknya terlalu banyak menarik perhatian untuk dibiarkan begitu saja. Dengan cepat Sakura berjalan menuju pintu masuk lab dan memutar kenopnya.

"Sasu-kuuunnn….~" Sapa Sakura ceria dan sedikit manja—sengaja, ia ingin memberi sedikit 'pertunjukkan' bagi para pengintip di luar.

Biasanya, sekalipun Sasuke irit bicara, ia akan menyahut meski hanya sekadar 'Hn'. Tapi kali ini fokusnya hanya tertuju pada gelas kaca percobaan miliknya. Cairan di dalam gelas itu meletup kecil dan menguarkan aroma aneh. Manis. Tapi aneh.

"Kau sedang apa?" dengan mengerucutkan bibir, Sakura berjalan mendekat perlahan.

"Berhenti." Ucap Sasuke tiba-tiba masih tanpa menatapnya.

"Kenapa?" alis Sakura mengerut aneh. Untunglah ruangan ini kedap suara. Jadi adik kelas yang mengintip di luar tidak mendengar pembicaraan mereka. Malu dong kalau ketahuan diperlakukan sedingin itu oleh pacar sendiri? Yah, Sakura paham sih sifat Sasuke. Tapi rasanya akhir-akhir ini semakin parah saja. Makanya ia ngeyel dan tetap mendekat.

"He-hei! Jangan mendekat kubilang!—" Sasuke berseru keras saat Sakura tiba-tiba sudah ada di sebelah meja penelitiannya.

"A-apa?!"

"AWAS!"

Karena kecerobohannya dan suara Sasuke yang mengagetkan, Sakura tanpa sengaja menyenggol gelas kaca berisi cairan aneh itu hingga jatuh dan bercampur dengan cairan di gelas-gelas lain. Percikan api berwarna merah muda tercipta dan nyaris mengenai mata Sakura andai saja Sasuke tidak gesit menarik tubuh pacarnya itu menjauh.

Percikan api itu hanya bertahan sesaat. Suara desisan rendah terdengar saat kedua cairan itu tercampur dan berubah warna. Sasuke memerhatikannya sesaat sebelum beralih pada cewek dalam pelukannya.

"Kubilang apa?" katanya sambil menarik Sakura berdiri.

Sakura cuma mencibir. "Iya. Salahku."

Sasuke melirik wajah merona pacarnya dan mendengus. Kalau sudah begini, terpaksa ia harus mengulang penelitiannya.

"Sekarang kau kembalilah ke kelas." Pinta Sasuke.

"E-eh? Ke-kenapa?"

"Kau nanti mengganggu lagi."

"Biasanya kau membiarkanku!"

"Tidak sekarang. Baru saja kau membuat penelitianku berantakan." Sasuke melempar pandang ke arah eksperimennya. Sakura merengut.

"Ta-tapi…"

"Tidak ada tapi-tapi. Kutemui nanti di kelas." Tandas Sasuke. Singkat, padat dan mutlak.

Dengan menyeret langkahnya, Sakura meraih kenop pintu dan meninggalkan Sasuke yang bersiap memulai penelitiannya lagi.

.

.

.

.

JAM ISTIRAHAT MAKAN SIANG, KELAS XI-A LANTAI DUA

"Nee, Ino-san. Apa salahku?" Sai, masih dengan senyum yang sekarang hanya ala kadarnya, mengais penjelasan dari pacarnya yang mengacuhkannya sejak pagi. Entah kenapa. Otak Sai terlalu sulit menerka perilaku makhluk yang disebut 'cewek'.

"Jangan ganggu aku. Sana, kembali dengan teman-temanmu!" balas Ino luar biasa jutek yang membuat Sai mau tak mau menuruti dan kembali ke kursinya. Naruto yang melihat kejadian barusan hanya menepuk-nepuk bahu pemuda itu penuh simpati sementara Sasuke dan Shikamaru hanya diam sambil menikmati makan siang mereka.

"Kamu kenapa sih dari pagi kok tumben amat ngejutekin Sai?" Sakura melirik sahabatnya yang sedang mengunyah makanannya dengan ganas. Mendapat pendengar, Ino pun menceritakan kejadian pagi tadi di kereta.

"Oh. Jadi kamu cemburu…" simpul Tenten dengan senyum tipis.

"Siapa juga yang enggak, coba?! Depan mata woy! Depan mata pas!" Ino emosi. Sakura segera menyodorkan air yang langsung ditenggak Ino hingga tandas.

"Tapi kamu kan tau sendiri kalo Sai orangnya emang begitu. Kamu gak bisa ngarepin dia ngertiin kamu gitu aja. Kamu lah yang mesti ngomong." Nasehat Sakura.

"Cih. Memangnya bagaimana dengan pacarmu?"

GLEK! Ingatan Sakura soal pengusirannya tadi pagi dari lab langsung muncul seketika. Sekali lagi, sesi cerita dibuka.

"Kan, emang dasar mereka tuh." Ino melanjutkan omelannya. "Dikiranya kita apaan? Pajangan? Asisten? Apaaa?"

Tenten yang sejak tadi diam mendengarkan hanya bisa tersenyum. Dalam hati sih sebenarnya sedikit bersimpati. Toh pacarnya sendiri sama-sama dinginnya dengan pacar Ino dan Sakura. Mungkin lebih parah.

"Coba, Tenten!" Ino menatap Tenten. Yang ditatap jadi ikut-ikutan pasang wajah serius.

"Apa?"

"Kapan terakhir kali Neji bilang sayang sama kamu?" todong Ino.

"E-eehh?" Tenten merasa pipinya merona seketika. Tapi bukan karena teringat keromantisan si pemuda berambut cokelat panjang yang sekarang sedang menghabiskan makan siangnya di ruang OSIS. Melainkan malu karena tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia mendengar pacarnya mengatakan hal seperti itu. Rasanya sudah lama sekali…

"Aku tidak ingat." Akunya.

"Kalau kau Sakura?" Ino beralih pada Sakura, membuat si gadis pink nyaris tersedak.

"Uhm…" Sakura mencoba mengulur waktu. Rasanya kok malu sekali mengakui kalau dirinya lah yang lebih sering mengungkapkan entah rasa cinta atau kagum pada pacarnya di seberang kelas sana. "Dia jarang membicarakan hal ini. Yah, kalau boleh jujur, seringnya sih aku yang bilang."

"Baiklah kalau begitu." Ino mengaggukkan kepala seolah ia baru saja menarik kesimpulan penting. "Hari ini sepulang sekolah, kita kumpul di ruang klub ikebana. Jangan lupa ajak Hinata-chan dan Temari-san juga."

"Untuk apa?" Tanya Tenten bingung.

"Tunggu nanti." Ino menempelkan jarinya di depan bibir, mencoba memberi kesan misterius. Sekilas ia mendelik ke arah Sai yang langsung sweatdrop melihat tingkah ceweknya. Naruto yang ada di sebelahnya masih sedia menepuki bahu cowok berkulit-putih-kapur itu dengan mulut penuh sushi gulung buatan Hinata.

Mereka melanjutkan makan hingga tanpa mereka sadari waktu istirahat telah habis.

"Ya ampun!" Tenten berseru kaget.

"Kenapa?" tanya Sakura dan Ino berbarengan.

"Aku lupa ke ruang OSIS untuk menemani Neji." Desahnya menyesal.

"Kupikir apa…" Sakura memutar mata sekilas dan kembali ke kursinya, meninggalkan Tenten yang meringis sendirian.

Sementara itu di ruang OSIS…

Kryuuukkk~~~

Cowok berambut cokelat panjang itu menatap bekal makan siang dihadapannya yang masih tak tersentuh. Matanya kemudian hinggap di daun pintu yang sampai sekarang masih juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.

Masih dengan wajah datar Neji membuka kotak bekalnya dan menumpahkan isinya ke dalam tempat sampah, bergabung dengan roti tadi pagi.

Kruyuuukkkkk~~~~~~

.

.

.

.

PULANG SEKOLAH, RUANG KLUB IKEBANA LANTAI SATU

Temari menggaruk rambut pirang kuncir empatnya bingung. Rasanya ada yang aneh dengan kouhai-kouhainya ini. "Eto… jadi maksudmu apa ya, Yamanaka-san?" tanyanya sopan.

Ino menghela napas dan mencoba menyusun argumentasi yang lebih tajam. "Begini Temari-san, aku ingin tanya sesuatu. Ini juga karena kita saling mengenal dan pacar-pacar kita juga berteman dekat. Nah, yang aku mau tahu adalah, apa pacar kalian semua bersikap baik pada kalian? Atau romantis? Pernah mereka bilang sayang? Berapa kali?"

Hinata yang hanya duduk diam, murung seketika.

"Eto… kalau begitu coba aku tanya. Siapa disini yang pacarannya paling lama?" Ino melanjutkan lagi.

"Sepertinya Hinata." Sakura menunjuk Hinata spontan. "Sudah hampir setahun kan?" Hinata mengangguk. Ia dan Naruto memang pasangan pertama di antara mereka berlima. Ia sudah menyukai dan berpacaran dengan Naruto bahkan sebelum cowok itu setenar sekarang.

"Kalau begitu setelahnya aku. Aku sudah sekitar 8 bulan dengan Sai." Aku Ino.

"Eto… sebenarnya aku dan Neji sudah 10 bulan." Tenten menginterupsi.

"Loh?" semua mata menatap bingung. Pasalnya pasangan ini yang dinilai paling pasif. Bahkan jika dibandingkan dengan Temari dan Shikamaru.

"Ya-ya… itu karena kami tidak bilang-bilang. Yah… Neji-kun pikir itu tidak perlu, jadi…yah…" Tenten semakin menunduk.

"Oke, skip!" Ino menyudahi penjelasan Tenten. "Lalu setelahnya kau ya Sakura? Lalu Temari-san?"

"Ya. Aku cuma beda sebulan denganmu." Aku Sakura.

"Aku dan Shika sudah hampir setengah tahun."

Ino manggut-manggut. "Jadi intinya kita sudah lumayan lama dengan mereka, kan?" Yang lain mengangguk. "Dan sekarang dengan yah—kalian tahulah, 'sikap' cowok-cowok rese itu yang sok cool semua," Ino mendengus, "yang seolah bersikap seperti tidak punya pacar," Temari dan Sakura mengamini dalam hati, "ditambah dengan fans yang makin nambah, kesimpulannya kita ini sedang dalam masa gawat!"

Keempat pasang alis di depannya terangkat.

"Bagaimana bisa hubungan bisa langgeng jika pasangan itu sendiri tidak berusaha menjaga hubungan. Dan KENAPA sepertinya cowok-cowok itu menganggap kata 'AKU SAYANG KAMU' atau 'AKU CINTA KAMU' itu gak lebih penting dari bola," Ino menatap Hinata, "penelitian kimia," Ino menatap Sakura, "tidur," Temari nyengir pasrah, "dan tugas OSIS."

"Tapi kan mereka tidak bilang bukan berarti tidak merasa." Tenten mencoba membela Neji.

"Tenten! Tetap saja! Lagipula memangnya itu hal yang sangat sulit? Apa mereka gak bisa sekali-kali nyenengin hati ceweknya?" Ino masih berapi-api menjelaskan maksudnya.

"Lalu?" Sakura memasang wajah bingung.

"Ya kita buat mereka mengucapkannya!"

Hinata yang diam saja kembali angkat bicara. "Ta-tapi aku tidak merasa yang bagaimana." Katanya pelan.

"Aduh Hinataaaa!" Ino gemas sendiri. "Memangnya kamu tidak mau mendengar Naruto mengucapkan 'I love you' gitu?"

Hinata blushing di tempat. "E-etoo… se-sebenarnya Naruto belum pernah sekalipun bilang suka atau sayang atau cinta. Ta-tapi kami baik-baik sa—"

"APAAAAHHHH?!"

Temari dan Tenten berjengit saat Ino dan Sakura menjerit bersamaan.

"Ya Tuhan, kasihan kamu Nak," Sakura menarik keluar sapu tangan pink dari dalam saku seragam.

"Kok bisa sih kalian pacaran kalau tidak pernah bilang sayang?" Ino tak habis pikir.

"Em… sebenarnya aku dan Shika juga…"

"Apa?!" Ino dan Sakura kaget season dua. Yah, kalau dipikir sih orang seperti Shikamaru memang tidak cocok dengan hal berbau romantisme. Wajahnya yang selalu tampak bosan itu bisa membuat siapa saja ikutan bosan. Lantas, bagaimana bisa dengan modal wajah ngantuk itu dia bisa berhasil menggaet mantan ketua klub karate putri yang cantik macam Temari ini? Benar-benar misteri.

"Jangan bilang Neji juga tidak pernah bilang sayang?" todong Sakura pada Tenten.

"Yah… kalau bilang sayang sih pernah." Tenten tersenyum. "Tapi aku juga ingin mendengarnya lagi. Hanya saja aku bingung mengatakannya. Kalian tahu sendirilah Neji itu bagaimana…"

"BAIKLAH!" Ino menggebrak meja spontan, membuat empat cewek lain terlonjak. "Kita akan buat mereka bilang 'sayang'! Kalau perlu, kita buat mereka semua mengatakan semua perasaan yang mereka sembunyiin di balik topeng cool itu!"

"Setuju!" Sakura berteriak girang sementara tiga yang lain mengernyitkan dahi.

"Apa ini ide yang bagus?" Temari mulai tertular virus malas Shikamaru. Dipikirnya, ini terlalu menyusahkan. Memang sih ia juga ingin mendengar si cowok nanas itu mengungkapkan perasaannya. Tapi mengingat perangai cowoknya Temari jadi sangsi sendiri.

"Tenang saja! Aku sudah menyiapkan semuanya!" Ino mengacungkan Hp-nya. "Kita buktikan, apa mereka lebih sayang ego dan harga diri." Ino menatap mereka satu per satu. "Atau kita, ceweknya!"

Sementara Ino sibuk mengobarkan semangat mereka, Tenten melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah lewat sejam… apa Neji baik-baik saja ya?"

"Kalau begitu, ayo kita temui mereka!" Ino mengomando semua menuju halaman depan sekolah. Tempat cowok-cowok mereka menunggu selesainya 'rapat' dadakan itu.

"A-aku masih tak yakin." Hinata memainkan jarinya. "Naruto sudah baik padaku. Itu lebih dari cukup."

"Oh ayolah Hinata…" Sakura merangkul bahu si Hyuuga. "Kalau kau atau dia tidak secara jelas mengatakan status kalian, apa kau bisa jamin dia tidak melirik kouhai-kouhai yang tadi pagi itu?"

"I-itu…" Hinata semakin merona. "Ta-tapi…"

"Sudahlah! Ikuti saja rencanaku! Dijamin beres!" Ino mengacungkan jempolnya.

"Haah…" Temari memijat pangkal hidungnya. Tapi tak dipungkiri jantungnya berdebar keras. Si pemalas itu, bagaimana ya reaksinya?

Yah. Cewek memang makhluk ajaib. Siapa duga kejadian di kereta yang hanya melibatkan dua orang—Sai dan Ino—malah mengakibatkan bencana untuk cowok-cowok lain? Ternyata kejengkelan Ino terhadap sikap cowok-cowok yang cinta ego itu sudah tak tertahankan lagi. Boys, get ready!

.

.

.

.