The Disconnected Line

A YunJae FanFiction presented by Duckymomo

Romance-Family

Typo(s), OOC, Alternative Universe. Please don't miss understanding if right here there much Homin moment –as Dad and son, sure! DLDR!

Chapter 5 : A Candle Light on A Storm

[2nd FLASHBACK] 17 Years Ago

Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Mahasiswi Golden Sky University yang terletak di Seoul. Salah satu universitas terbaik dunia. Umur mereka hanya terpaut dua tahun. Jung Yunho, 23 tahun, 2 tahun lebih muda dibanding kekasihnya, Kim Jaejoong. Meski begitu, mereka berdua sama-sama cerdas dan menariknya. Di kampus sendiri, Jung Yunho terkenal karena kepintarannya sebagai asisten dosen dan dikalangan yeoja maupun namja berstatus uke dia dikenal karena ketampanan dan kebaikan hatinya. Sedangkan Kim Jaejoong dikampus sendiri dikenal karena kebaikan, kecantikan dan juga sifatnya yang ceria. Keduanya sangat bertolak belakang dari segi latar belakang keluarga. Kim Jaejoong berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya terkenal sebagai pemilik usaha restoran cepat saji yang cabangnya sudah mencapai 50 yang tersebar di seluruh penjuru negeri ginseng. Ibunya adalah mantan model yang sekarang bekerja sebagai jurnalistik di Seoul Megapolitan, salah satu maajalah paling laris di negeri ginseng. Berbeda dengan Jaejoong, Jung Yunho berasal dari keluarga kelas menengah. Ayah ibunya hanyalah seorang pemilik toko bunga berpenghasilan sedang di Gwangju. Sejak SMP hingga kuliah, ia terbiasa mencari uang sendiri dengan kerja sambilan di café dan mengandalkan otak cerdasnya untuk meraih beasiswa hingga akhirnya ia bisa menempuh kuliah sampai saat ini.

Lalu? Bagaimana dua namja dengan latar belakang berbeda ini bisa bertemu bahkan menjalin hubungan? Singkat kata, Jaejoong adalah salah satu mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Sastra Inggris saat di semester 5 dan kebetulan saat itu Yunholah yang bertugas menjadi asisten untuk kelas Jaejoong. Berawal dari Jaejoong yang tidak terlalu jago dalam pelajaran itu, Yunho yang bertindak sebagai asisten dosen yang tugasnya memang membantu mahasiswa pun mulai rajin membantu dan mengajari Jaejoong. Hingga perlahan, rasa cinta itu muncul di hati keduanya. Meski tepatnya Jaejoong yang jatuh cinta dulu pada Yunho karena kebaikan namja bermata musang tersebut. Seiring berjalannya waktu, keduanya pun menjadi semakin akrab. Dan hubungan yang berawal dari asisten dosen dan muridnya itu semakin berkembang. Baik Jaejoong maupun Yunho tak akan segan-segan meminta tolong atau bercerita masalah pribadi mereka satu sama lain layaknya sahabat. Barulah Jaejoong menyadari kalau ia telah benar-benar jatuh dalam pesona Yunho saat ia melihat sunbaenya itu dekat-dekat dengan seorang yeoja bernama Tiffany, yeoja baik yang merupakan penerima beasiswa, sama seperti Yunho. Terbersit rasa kesal dihatinya setiap kali ia melihat Yunho dekat dengan Tiffany. Bermodalkan nekad, Jaejoong menembak Yunho sesaat setelah pelajaran Sastra Inggris selesai. Beruntung dan bahagialah ia ketika Yunho juga menyambut rasa cintanya dan mengatakan kalau Tiffanya hanyalah teman lamanya semasa SD. Sejak saat itu, kedua namja it uterus bersama selamanya dan berjanji akan saling mencintai dan menguatkan satu sama lain.

Oke. Mari kita kembali ke masa kini.

Suasana makan malam di kediaman keluarga Moon –rumah bibi Yunho (karena Jung Yeo-Jin, bibi Ynho, menikah dengan pria bermarga Moon) berlangsung dengan hangat. Putra pertama keluarga mereka, Moon Bin, yang berusia tujuh tahun tak henti-hentinya mengoceh dan membuat lelucon yang membuat semua orang disana tertawa terbahak-bahak.

Ah, tidak semuanya.

"Jaejoong-ah, apa kau sakit? Kau terlihat tidak nafsu makan dari tadi" ujar bibi Moon.

Jaejoong tersentak dan menatap bibi Moon. "Eung? Ani. Aku baik-baik saja" ujarnya sembari tersenyum. Diambilnya sumpit makan yang tergeletak disamping mangkuk nasinya yang belum ia sentuh sama sekali. Tumis kerang favoritnya tersaji didepannya. Begitu juga dengan galbi yang terbuat dari daging babi yang tersaji didepannya dan beberapa lauk lainnya. Aromanya sungguh menggoda siapa pun untuk menyantapnya. Namun tidak dengan Jaejoong. Belakangan, melihat daging babi saja sudah membuatnya ingin muntah. Ia tak tau kenapa. Tubuhnya benar-benar menjengkelkan akhir-akhir ini. Dan sekarang ia bingung sendiri. Ia tidak ingin memakan makanan itu karena melihatnya saja dia sudah mual. Tapi dia juga tak tega hati menolaknya karena ia tau bibi Moon pasti sudah susah payah memasak semua itu.

Akhirnya, dengan berat hati, ia ulurkan tangannya yang memegang sumpit ke piring galbi didepannya dan menaruhnya di mangkuk kecil. Dengan tangan gemetaran, ia mengarahkan potongan daging babi itu ke mulutnya. Matanya terpejam erat dan wajahnya otomatis memucat membayangkan makanan itu akan masuk ke mulutnya.

Pluk

Namun makanan itu terjatuh begitu saja bahkan sebelum sempat memasuki mulutnya akibat tangannya yang terlalu gemetar dan mengakibatkan ia tak bisa memegang sumpit dengan erat.

"Noona, kenapa makanannya dibuang? Noona tidak suka?"

"Jaejoong-ah, kau baik-baik saja?"

"Chagiya, gwenchanayo?"

"Apa kita perlu memanggil dokter?"

Beragam reaksi terlontar dari mulut orang-orang yang berada disana setelah melihat ekspresi wajah Jaejoong yang memucat tadi. Mereka semua khawatir dengan namja cantik ini.

"Mianhamnida, ajhumma" Jaejoong membungkuk hormat ke bibi Moon. "Bukan maksudku untuk menolak makanan tadi. Hanya saja, belakangan aku merasa ada yang aneh dengan tubuh dan nafsu makanku. Mianhamnida" lanjut Jaejoong kemudian tanpa berani menatap wajah semua orang yang ada disana, termasuk Yunho. Setelah itu ia langsung berlari keluar meninggalkan ruang makan.

"Yunho! Cepat susul dia! Aku takut dia kenapa-kenapa! Dan bilang padanya untuk tidak mengkhawatirkan masalah tadi, arrachi?" perintah bibi Moon pada Yunho.

Yunho mengangguk dan langsung berlari menyusul Jaejoong meski ia sendiri tak yakin dimana Jaejoong berada. Dilangkahkannya kakinya ke halaman belakang rumah bibinya. Perasaannya mengatakan Jaejoong disini.

"Jaejoong?" panggil Yunho ketika melihat kekasihnya itu tengah duduk di beranda belakang rumah bibinya dengan wajah tertunduk. Apa dia menangis?, batin Yunho. Perlahan, ia melangkahkan kakinya kea rah Jaejoong. Disentuhnya pundak kekasihnya itu. "Kau baik-baik saja?" tanya Yunho dengan lembut.

Jaejoong menolehkan kepalanya ke belakang dan mendongak begitu mendengar suara Yunho. "Yunho….. mianhe" ujarnya lirih.

Yunho mengamati wajah kekasihnya. Taka da jejak air mata disana. Matanya pun tidak memerah. Itu berarti Jaejoong tak menangis tidak seperti dugaannya. Namun raut wajahnya jelas menampakkan penyesalan, ketakutan dan kesedihan.

Yunho duduk dan memeluk Jaejoong dari samping. "Gwenchana. Ajhumma bilang kau tidak usah mencemaskan masalah tadi. Jadi tenang, nde?" ujar Yunho begitu melihat Jaejoong akan mengoceh lagi.

"Yun…." panggil Jaejoong.

Yunho menoleh menatap wajah sang kekasih.

"Bisakah besok kita ke rumah sakit? Aku ingin periksa saja. Aku takut kenapa-kenapa. Tidak biasanya aku seperti ini. Biasanya aku tidak pilih-pilih makanan. Namun entah kenapa tadi perutku langsung mual hanya dengan melihat daging babi" ujar Jaejoong. Ia sudah bersiap untuk melancarkan puppy eyesnya kalau-kalau Yunho menolak dan mengatakan kalau ia hanya kelelahan biasa. Jaejoong punya feeling aneh tentang keadaannya sekarang.

"Eung? Boleh saja. Kau mau kesana jam berapa?" tanya Yunho yang ternyata menyetujuinya.

"Benarkah?" Jaejoong mengerjapkan matanya tak percaya. "Bagaimana kalau kita berangkat dari sini jam tujuh pagi saja? Aku takut yang mengantri banyak" usulnya kemudian.

"Baiklah. Kalau begitu sekarang kau langsung istirahat, nde? Atau perlu aku buatkan bubur?" tawar Yunho kemudian.

Jaejoong menggeleng. "Tidak usah, lebih baik aku langsung tidur saja" ujarnya sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya ke kamar, mendahului Yunho.

XoXoXoXo

DRRRT….DRRRT….

Handphone sederhana Jaejoong bergetar pelan. Membuat namja cantik yang baru saja bersiap untuk tidur itu harus rela bangun dan mengangkat telepon yang telah mengganggu waktu istirahatnya. Nama 'Heechul Eomma' berkelap-kelip di layar handphone monophonic (handphone yang layarnya masih hitam putih/kuning hitam) sederhana tersebut.

Jaejoong menekan tombol bergambar telepon berwarna hijau. Di belakangnya, duduk Yunho yang sedang mengamatinya.

"Yeoboseyo, eomma"

"…."

"Ne. Aku baik-baik saja"

"….."

"Ne, aku akan tidur sebelum jam 10" ujar Jaejoong yang kini tengah melirik jam dinding berbentuk bulat yang bahkan baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

"….."

"Ne, tenang saja, eomma. Aku bisa menjaga diri. Tidak akan ada pria mesum yang mendekatiku" ujar Jaejoong sembari menahan tawanya. Diliriknya Yunho yang saat ini tengah duduk di belakangnya. Kenyataan dan apa yang ia bicarakan dengan eommanya sangat berbeda jauh, kan?

"….."

"Ne, eomma. Aku mengerti. Arrachi. Anyeong" ujar Jaejoong dengan nada lirih.

Klik.

"Apa eommamu mengkhawatirkanmu, chagy?" suara Yunho yang tiba-tiba menyambangi telinga namja cantik itu membuatnya terlonjak kaget.

"Ya! Bisakah kau berhenti membuatku kaget?" pekik Jaejoong pura-pura kesal pada Yunho yang kini sudah memeluknya dari belakang. Dilemparkannya pelan handphonenya ke meja nakas.

"Tapi kau senang kan aku peluk?" goda Yunho yang mulai menciumi leher Jaejoong.

"Aww!" Yunho memekik saat merasakan Jaejoong mencubit perutnya.

"Ish! Hentikan perbuatanmu tadi! Bagaimana kalau keluuarga bibimu mendengarnya, eoh?" omel Jaejoong pada kekasihnya ini yang mesumnya tak kira-kira. Awal dia mengenal Yunho, ia kira namja tampan itu kalem, ramah dan tak suka macam-macam. Tapi setelah ia berpacaran dengan namja bermata musang itu, barulah ia tahu seberapa mesumnya Yunho apalagi ketika mereka tengah berdua saja seperti saat ini. Semoga kalau mereka menikah kelak kemesumannya tak menurun ke anak-anak mereka.

Yunho hanya terkekeh geli mendengar perkataan Jaejoong. "Sudahlah, cepat kita tidur. Kau kan susah sekali dibangunkan" ledeknya lagi.

Jaejoong melotot mendengar perkataan Yunho. Ish! Lihatlah siapa yang berbicara sekarang. "Bukannya kau jauh lebih susah dibangunkan dari aku?" balas Jaejoong.

"Hahaha. Sudah-sudah. Sekarang cepat kita tidur" perintah Yunho sembari menyeret kekasihnya agar segera berbaring dikasur. Dipeluknya erat tubuh kekasihnya yang lebih kecil darinya. "Selamat malam, Jae"

Ditatapnya sejenak wajah Yunho. Sebuah perasaan bersalah terselip dihatinya saat ia memandangi wajah damai kekasihnya. "Selamat malam, Yun" balasnya sebelum akhirnya ia membenamkan wajahnya di dada Yunho. Ia harap perasaan bersalah itu segera menghilang secepatnya.

XoXoXoXo

"Kim Jaejoong!"

Seorang perawat wanita muncul dari balik pintu ruangan dokter. Ditangannya terdapat papan berisikan daftar nama-nama pasien yang akan memeriksakan diri pagi ini. Dan setelah menunggu selama satu jam, kini giliran Jaejoong untuk diperiksa.

"Silahkan masuk, noona" ujar perawat itu. Untuk yang kesekian kalinya orang-orang salah menyangka Jaejoong sebagai perempuan meski namja cantik itu sudah mengenakan pakaian laki-laki pada umumnya, kemeja kotak-kotak dan celana denim panjang. Sementara dalam benak si perawat, Jaejoong adalah yeoja tomboy.

"Selamat siang, Jaejoong agasshi" ujar Yoo Young Jin, seorang dokter laki-laki dengan kepala botak dan stetoskop terkalung dilehernya. Melihat kerutan diwajahnya saja kita sudah bisa menebak kalau usianya sudah nyaris setengah abad.

"Maaf, aku namja" ujar Jaejoong canggung.

"Ah, aku pasti lupa lagi mengenakan kacamataku sehingga menyangka dirimu adalah yeoja" ujar dokter Yoo sembari meraba-raba kepalanya, mejanya dan segala tempat yang bisa dijangkau tangannya tanpa beranjak dari tempat duduknya.

Perawat muda disampingnya membungkuk dan berbisik cukup keras hingga Yunho dan Jaejoong bisa mendengarnya. "Anda sudah memakai kacamatanya, euisanim". Kemudian ia tersenyum kepada Yunho dan Jaejoong seolah senyumanannya mengatakan 'maaf-euisanim-memang-sudah-mulai-pikun' yang dibalas senyum canggung keduanya.

"Jadi, apa keluhanmu, ?" tanya dokter Yoo.

Jaejoong mulai menceritakan apa yang dialaminya belakangan, dari mulai tubuhnya yang gampang lelah, moodnya yang gampang sekali berubah-ubah dan juga nafsu makannya. Sementara Jaejoong bercerita, tangan dokter Yoo dengan cekatan mencatat keluhan-keluhannya di lembar rekam medisnya.

"Sebelumnya, bisakah aku memintamu untuk melakukan USG?" pinta dokter Yoo.

Yunho dan Jaejoong otomatis berpandangan satu sama lain. Oke. Apa Jaejoong menderita penyakit berbahaya, kronis dan semacamnya hingga perlu dilakukan USG?

"Perawat Shin, tolong persiapkan alat-alat USGnya" pintanya pada perawat yang tadi berdiri disampingnya. Dokter Yoo kemudian berdiri dan berjalan ke tempat tidur yang dibatasi oleh tirai di seberang mejanya. "Bisakah kau berbaring disini dan lepaskan kemejamu, ?" pinta dokter Yoo.

Jaejoong menurut saja dan memberikan kemejanya pada Yunho yang telah berdiri disampingnya. Dengan perasaan gugup, khawatir dan cemas yang bercampur menjadi satu dipikirannya, ia mulai membaringkan dirinya di ranjang. Saat ia merasakan dinginnya ranjang tersebut, ia hanya bisa menggenggam tangan Yunho dan berharap semuanya baik-baik saja.

XoXoXoXo

"A–aku… ha…mil?" Jaejoong menutup mulutnya tak percaya mendengar kata-kata dokter Yoo. Air mata kebahagiaan meluncur begitu saja dari sudut matanya. Perasaan khawatir dan takut dihatinya kini menghilang begitu saja digantikan oleh perasaan hangat yang menyelimuti dadanya. Dipandangnya Yunho yang duduk disampingnya dan dipeluknya kekasihnya dengan sangat erat.

Hanya satu kata yang dapat mengukirkan perasaan Jaejoong sekarang, bahagia.

Memang pernah ibunya mengatakan jika suatu saat nanti ia akan mengandung dan mempunyai seorang anak, namun ia tak pernah menyangka jika semua itu benar. Ia kira ibunya hanya meledeknya saja. Yah, kalau begitu pasti ibunya sudah tahu kalau dia memiliki Rahim selama ini kan? Tapi kenapa kedua orang tuanya merahasiakan hal ini darinya?

"Selamat sekali lagi. Kalian akan menjadi orang tua" ujar dokter Yoo pada Yunho dan Jaejoong setelah sebelumnya ia membacakan hasil USG yang menyatakan jika Jaejoong memiliki rahim dan juga tes urin untuk memastikan jika hasil USG tersebut akurat.

"Kami pamit, euisanim. Gamsahamnida" ujar Yunho. Ia memegangi tangan Jaejoong dan menuntunnya dengan hati-hati.

"Aaaaahhh! Kim Jaejoong! Kau hamil! Aku akan menjadi ayah!" begitu keluar dari luar ruangan Yunho tak bisa untuk tidak berteriak saking bahagianya meski ini sedang di rumah sakit. Ia bahkan sudah memeluk Jaejoong dan mengangkatnya sembari berputar-putar ditempat saking bahagianya.

"Ya! Jung Yunho! Turunkan aku! Semua orang melihat kita!" desis Jaejoong. Wajahnya yang tadinya sudah kembali ke warna normal–putih pualam, kini kembali memerah menahan malu karena tingkah calon suaminya ini. Meski begitu ia tak keberatan meski semua orang melihat kea rah mereka sekarang. Ia terlalu bahagia untuk mengurusi pemikiran orang-orang itu tentangnya.

XoXoXoXo

Langit Jeju perlahan mulai berubah menjadi biru gelap, menandakan sang surya akan segera kembali peraduannya. Suara debur ombak terdengar menghantam karang didepan sana, tak jauh dari tempat Jaejoong duduk di pantai sembari memeluk kedua lututnya. Tak dihiraukannya angin sore yang berhembus yang mungkin saja dapat membuatnya sakit.

Namja cantik itu menatap hampa ke arah ombak kecil yang dating menghampiri pantai. Pikirannya melayang ketika ia mengingat kembali kata-kata ibunya semalam. Ingat! Kau harus pulang secepatnya. 1 minggu lagi Choi Siwon akan pulang dari Amerika Serikat. Aku harap kau sudah memutuskan namja menijijikkan itu. Aku tak ingin membuat keluarga Choi ini batal hanya karena seorang namja yang tidak lebih baik dari seekor tikus itu.

Oh! Yang benar saja! Ibunya bahkan menyebut Yunho sebagai namja menjijikkan? Apa sebegitu buruknya Yunho sehingga ibunya menyuruhnya menjauhi Yunho? Hanya karena perbedaan status sosial mereka berdua? Dan lagi, bagaimana mungkin Jaejoong meminta Yunho untuk menjauhinya hanya karena namja itu dari kelas social rendah sementara saat ini ia sudah bertunangan dengan Yunho dan tengah mengandung anak namja tersebut?! Yang benar saja! Jaejoong tak mungkin meninggalkan Yunho begitu saja! Demi Tuhan! Ia sangat mencintai namja bermata musang tersebut. Namun ia juga sangat menyayangi ibunya, Kim Heechul, perempuan berhati iblis yang telah melahirkannya. Kalau ia menolak memenuhi permintaan ibunya, bukannya tidak mungkin ibunya akan melakukan tindakan nekad. Ketika Jaejoong lulus SD, ibunya menyuruhnya untuk masuk SMP yang telah ditentukan namun Jaejoong menolak dan bersikeras untuk sekolah di SMP biasa saja. Esoknya, ia menemukan ibunya pingsan di ruang tamu dengan pergelangan tangan berkucuran darah dan pisau berlumuran darah tergeletak disampingnya. Singkatnya, ibunya mencoba bunuh diri. Dan Jaejoong tak ingin hal itu terulang lagi. Terlebih ayahnya, Kim Hangeng memiliki penyakit jantung. Kalau ia menolak permintaan ini bukan tak mungkin kedua orang tuanya mati tak lama kemudian hanya karena penolakannya. Oh tidak, Jaejoong tidak setega itu hingga ingin membuat orang tuanya mati mendadak. Namun…. Kalau ia menuruti keinginan kedua orang tuanya, bukankah itu sama saja dengan melepas Jung Yunho? Jaejoong hanya bisa menggeleng lemah memikirkan hal itu. Tidak. Ia tak sanggup kehilangan Yunho. Tapi ia juga tak bisa menuruti kemauan orang tuanya! Andai saja…..Hangeng tak selemah itu menghadapi Heechul….andai saja ibunya bukan Kim Heechul…..andai saja ibunya bisa membuang harga dirinya yang tinggi itu demi kebahagiaannya….

Dan kata-kata 'andai saja' pun terus terngiang-ngiang di telinga Jaejoong hingga ia tak menyadari jika seseorang telah berdiri disampingnya.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini, chagiya? Kau tidak takut anak kita kedinginan?" ujar Yunho sembari menyampirkan jaket yang ia pakai ke tubuh Jaejoong. Ia kemudian duduk disamping Jaejoong dan menatap kekasihnya yang nampak tengah bersedih itu. "Apa yang tengah kau pikirkan, Jae?" Yunho memberanikan diri untuk menanyai kekasihnya.

Tiba-tiba saja Jaejoong memeluk Yunho dan terisak pelan di dada kekasihnya itu. Ia tak tau harus berbicara bagaimana lagi dengan Yunho. Ia tak ingin melukai sedikit pun hati namja yang sangat dicintainya ini. Jaejoong hanya bisa memeluk Yunho erat seolah tak ingin kehilangan namja yang sangat ia cintai. Seolah takut Yunho akan pergi meninggalkannya.

Yunho yang awalnya kaget karena Jaejoong tiba-tiba memeluknya kini hanya bisa membalas pelukan Jaejoong dan mengelus punggung kekasihnya dengan lembut agar kekasihnya bisa tenang. Meski Yunho tak tau apa yang tengah menggelayuti pikiran Jaejoong namun ia bisa merasakan perasaan sedih dan gelisah yang tengah menyelimuti hati kekasihnya ini.

"Yunho….kumohon berjanjilah untuk selalu mencintaiku dan jangan pernah meninggalkanku" ujar Jaejoong tiba-tiba, membuat Yunho mengerutkan keningnya karena bingung dengan tingkah kekasihnya. Sikap Jaejoong ini tak mungkin karena janin yang tengah ada diperutnya kan?

"Ne. Aku janji akan selalu mencintaimu dan anak kita kelak, chagy. Percayalah" ujar Yunho sembari mengecup sayang kepala kekasihnya. Ia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk setelah ini.

XoXoXoXo

Liburan di pulau Jeju, di rumah bibi Yunho tepatnya, kini telah usai. Dengan berat hati, Jaejoong melangkahkan kakinya untuk kembali pulang ke Seoul. Meski sebenarnya kalau boleh, ia ingin tinggal di Jeju saja dengan Yunho dari pada harus pulang dan bertemu dengan namja yang sama sekali tak ia inginkan.

"Jae, hati-hati, nde? Jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Jangan pilih-pilih makanan. Kalau makanan itu memang bagus untuk kesehatan anak kita, kau makan saja meski tidak suka, arrachi? Jangan lupa minum susu dan minyak ikan yang banyak. Jangan gampang marah dan jaga emosimu selalu, arrachi?" pesan Yunho panjang lebar ketika mereka telah sampai di stasiun kereta bawah tanah. Lagaknya sudah seperti suami yang akan melepas istrinya pergi jauh padahal rumah mereka hanya berjarak 10 km. Yah, kalau bukan karena perbedaan arah pulang dan juga kebencian Kim Heechul terhadap Yunho, namja bermata musang itu pasti dengan senang hati mengantar kekasihnya ini pulang.

"Ne, ne, ne. Kau ini cerewet sekali. Tanpa kau beritahu pun aku sudah mengerti" ujar Jaejoong tak mau kalah.

PLETAK

Yunho menjitak pelan jidat kekasihnya dengan gemas.

"Ish! Kau ini!"

Jaejoong hanya bisa terkekeh melihat sikap Yunho.

Yunho kemudian membungkuk di depan perut Jaejoong yang masih rata. "Hei, baby! Dengarkan appa baik-baik, nde? Kau jangan nakal dan jangan berbuat yang macam-macam di dalam sana, nde? Kau tidak boleh menyusahkan eommamu, arrachi?" ujar Yunho pada anaknya yang berada di dalam perut Jaejoong.

Mau tak mau Jaejoong hanya bisa tertawa melihat kelakuan Yunho. Yang benar saja, janin di dalamnya saat ini bahkan baru berusia 2 minggu dan baru berupa gumpalan!

"Chagy, abaikan saja kata-kata appamu, nde? Dia memang cerewet. Eomma yakin kau pasti akan menjadi anak yang baik di dalam sana dan tak merepotkan eommamu ini" Jaejoong menunduk seolah tengah memberitahu kepada janinnya yang di dalam betapa mengesalkannya sifat cerewet Yunho.

"Ya! Kim Jaejoong kenapa kau mengajarkan yang tidak-tidak pada calon anak kita?" omel Yunho.

Jaejoong meleletkan lidahnya ke Yunho. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya pada anak kita, Yun" ujarnya (sok) polos.

"Aegy, kalau kau sudah besar nanti kau tidak boleh mencontoh sikap buruk eommamu, nde?" Yunho kembali berceramah yang kini membuatnya dihadiahi jitakan gratis dari Jaejoong.

"Ouch!" Yunho memegangi kepalanya yang sakit karena dijitak kekasihnya ini.

"Sudahlah! Cepat masuk ke kereta sana. Bisa-bisa kau terlambat kalau tak cepat-cepat masuk" perintah Jaejoong.

"Kau mengusirku?" Yunho pura-pura kesal karena sikap Jaejoong barusan. Sayangnya Jaejoong mengabaikannya. LOL. Poor Yunho xD. "Jja! Kalau begitu aku pulang dulu, nde? Hati-hati dijalan, arrachi? Sampai ketemu besok dikampus" ujar Yunho sembari mencium kening istrinya penuh sayang.

CUP

"Sampai jumpa juga, Jung Yunho!" ujar Jaejoong setelah sebelumnya mengecup singkat bibir Yunho yang membuat namja tampan itu hanya bisa mematung di tempat sembari melihat kekasihnya memasuki kereta. Ah, betapa beruntungnya Jung Yunho memiliki kekasih sebaik Kim Jaejoong.

XoXoXoXo

"Uhuk….uhuk! Seminggu lagi katamu?!" Jaejoong otomatis tersedak susu rasa vanilla yang tengah ia minum sembari duduk di taman rumahnya bersama Choi Siwon. Meski begitu tak ada satu pun yang tau jika susu yang tengah ia minum itu susu hamil karena Jaejoong telah membuang bungkusnya jauh-jauh dari daerah di sekitar rumahnya sehingga ia bisa memastikan tak ada yang tau tentang kehamilan ini selain dia dan Yunho. Ia juga telah mengatakan pada Yunho agar tidak memberitahu kepada keluarganya.

"Kau baik-baik saja, Jae? Ini minumlah" Siwon otomatis mengulurkan gelas berisi air putih kepada Jaejoong.

"Terima kasih" ujar Jaejoong setelah meminum air putih itu. Namun ia masih memandang Siwon dengan pandangan tak percaya. Oh! Siapa saja tolong katakan padanya kalau ia hanya salah dengar! Tak mungkin pernikahannya dan Siwon akan dilaksanakan seminggu lagi! "Kau pasti bercanda kan, Siwon?" ulang Jaejoong memastikan.

Namun tak terdapat sorot kepalsuan di kata Siwon. Kedua mata itu memancarkan sorot kesungguhan. Itu artinya Siwon sungguh-sungguh dengan semua ini. "Apa ada yang salah, Jaejoong?" tanya Siwon.

GLURP

Jaejoong menelan ludahnya. Ia hanya bisa memasang wajah setenang mungkin didepan Siwon dan senyum palsu terbaik yang pernah ia punya. "Gwenchana. Aku hanya kaget" ujarnya pelan. Dipandanginya gelas berkaki yang berisi susu hamil rasa vanillanya yang tinggal setengah. Entah kenapa Jaejoong sudah merasa kenyang hanya dengan memandangi gelas tersebut. Nafsu makannya telah menghilang entah kemana gara-gara mendengar kata-kata Siwon.

Yang benar saja! Seminggu lagi?! Jaejoong hanya diberi waktu satu minggu lagi untuk menentukan kebahagiaannya?! Oh! Siapapun pasti tau satu minggu itu bukan waktu yang lama.

Nasib Jaejoong benar-benar seperti buah simalakama sekarang. Keputusan apa pun yang akan ia ambil tak akan membuat keadaan membaik. Dua-duanya membuatnya tak senang dan berada di posisi yang sulit.

Siwon diam-diam memandangi wajah Jaejoong. Jelas ia mengamati perubahan ekspresi wajah calon istrinya tersebut. Siwon bukannya tak tau kalau sesuatu tengah membebani hati namja cantik itu. Ia juga tau kalau Jaejoong sebenarnya tak benar-benar mencintainya kecuali sebagai teman baik. Ia tau itu dari bahasa tubuh dan sorot mata yang Jaejoong perlihatkan ke Siwon. Namja tampan itu tau semuanya palsu. Namun meski ia tau hal itu, hatinya masih tak sanggup menolak pesona seorang Kim Jaejoong. Ia ingin memiliki Jaejoong seutuhnya. Sebagai miliknya seorang selamanya. Dan hanya perjodohan inilah satu-satunya cara untuk memiliki Jaejoong meski ia tau Jaejoong mungkin tak akan bahagia nantinya. Tapi biarlah asalkan ia bisa melihat Jaejoong berdiri disampingnya selamanya, itu sudah cukup baginya. Meski ia tak bisa menerima cinta dari Jaejoong, tapi biarlah ia menerima kebaikan namja cantik itu meski semuanya hanyalah kepalsuan belaka. Meski nanti dalam rumah tangga mereka, ia hanya akan dianggap sebagai sahabat, bukannya kekasih. Ia akan menerima Jaejoong bagaimana pun keadaannya. Ia tau ia memang egois dan sikapnya ini bodoh, tapi cinta tak harus memiliki, bukan?

Siwon menepuk lembut kepala Jaejoong yang reflek membuat namja cantik itu memandang wajahnya dengan pandangan bingung. "Tenang, Jae. Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja, arra?" ujar Siwon kalem.

Jaejoong bahkan tak mengerti apa maksud Siwon barusan. Kata tenang terlihat begitu jauh dari hati Jaejoong sekarang. Bagaimana bisa ia tenang kalau begini keadaannya? Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada Siwon sekarang? Atau mengatakan hal ini pada Yunho dan mengajaknya kawin lari saja? Meski Jaejoong tak yakin kalau Yunho mau melakukannya.

"Hyung…." panggil Jaejoong pelan.

Siwon mengangkat wajahnya untuk menatap calon istrinya. Apa tiba-tiba ia berubah pikiran?, batin Siwon. Tidak. Ia tidak boleh berubah pikiran! Ia harus tetap menikah denganku bagaimana pun keadaannya!

"Bisakah kita berbicara sebentar?" lanjut Jaejoong kemudian. Matanya menatap Siwon dengan pandangan memohon. "Tapi tidak disini. Kita bicara di café langgananku, bagaimana?"

Siwon mengangguk menyanggupi kata-kata Jaejoong. "Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?"

XoXoXoXo

Siwon tidak bisa untuk tidak berpikir jernih saat ini. Bagaimana bisa ia berpikiran jernih setelah semua yang Jaejoong katakana padanya tadi?!

Siwon tersenyum pahit layaknya orang bodoh.

Hamil?

Jaejoong hamil anak orang lain. Anak Jung Yunho.

Hati pria mana yang tidak sakit ketika mendengar kekasihnya sudah disentuh oleh pria lain?

Siwon hanya bisa memejamkan matanya. Ia berharap keputusan yang ia ambil tadi tidak salah. Ia harap keputusan itu yang terbaik.

XoXoXoXo

[FLASHBACK] Few hours ago :D

Cherish Café. Itulah tempat dimana mereka berdua berada sekarang –Siwon dan Jaejoong tepatnya. Ada alasan tersendiri ia memilih tempat ini. Pertama karena tempat ini adalah tempat kerja Yunho sehingga kalau Siwon macam-macam, Jaejoong bisa langsung berteriak memanggil Yunho. Kedua tempat ini cukup jauh dari rumahnya dan orang rumahnya tak akan tau kalau ia sering mampir kesini. Namun sayang, hari ini Yunho kebagian shift siang dan baru berangkay jam 3 nanti jadi sekarang Yunho tak ada disini.

Sebuah carrot cake, cappuccino dan orange jus tersajdi didepan meja mereka. Siwon sudah memakan separuh carrot cakenya sementara Jaejoong? Menyentuh orang juicenya saja enggan.

"Siwon hyung, aku rasa aku harus mengatakan ini. Bagaimana pun, kau harus tau hal ini. Aku tak ingin kau menyesal nantinya karena telah memilihku sebagai pendamping hidupmu" Jaejoong mengambil nafas dan memejamkan matanya, bersiap mengatakan keadaannya yang sebenarnya sekarang. "Aku terpaksa melakukan pernikahan semua ini karena aku tak ingin membuat kedua orang tuaku kecewa, terutama eommaku. Aku rasa kau sedari awal sudah tau hal ini jika aku hanya mengganggapmu sebagai teman, sebagai hyung–"

"Jaejoong, bisakah kau tidak berbelit-belit?" potong Siwon dengan tak sabar.

Jaejoong memandang Siwon dengan perasaan takut.

"Maaf kalau aku membuatmu takut" rupanya Siwon menyadari hal itu dan segera melembutkan suaranya.

"Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Aku akan langsung saja. Tapi berjanjilah satu hal padaku" pinta Jaejoong. "Jangan kaget dengan apa yang akan kuucapkan" ujarnya kalem.

Siwon mengangguk menyanggupi kata-kata Jaejoong. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menyetujui permintaan Jaejoong karena ia sendiri juga sudah penasaran dengan apa yang terjadi pada namja cantik itu.

Jaejoong mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku hamil" ujar Jaejoong lirih, untuk memastikan tak ada siapa pun yang mendengar hal ini selain Siwon sembari mengelus perutnya yang masih rata. "Aku hamil anak Jung Yunho" lanjutnya masih dengan gerakan mengelus perutnya penuh kasih sayang.

DEG

Namja yang berusia dua tahun lebih tua dari Jaejoong itu hanya bisa mematung mendengar kata-kata Jaejoong. Bibirnya ia paksakan untuk tersenyum. "Kau bercanda kan?" ujarnya berusaha sekuat mungkin menjaga agar amarahnya tak terdengar dari nada suaranya.

Jaejoong hanya diam dan menatap Siwon dengan pandangan tenang. Tak sedikit pun memerlihatkan kalau dirinya takut pada namja bermarga Choi itu. Pemilik café ini adalah ibu teman baiknya semasa ia SMP. Jadi ia tinggal berteriak saja kalau Siwon berani macam-macam padanya. Toh security berdiri tak jauh darinya, di samping pintu persis, jaraknya hanya 2 meja dari tempatnya sekarang.

Jaejoong memiringkan kepalanya dan tersenyum seolah tak ada apa-apa. "Kenapa? Bukankah kau sudah berjanji tak akan kaget dengan apa yang aku ucapkan?"

Siwon hanya bisa memandangi Jaejoong dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Antara perasaan kesal, kecewa dan marah tercampur jadi satu dihatinya. Ia mengusap wajahnya kasar dan membenamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya.

Tidak! Ia harus berpikiran jernih. Ia harus bisa memikirkan yang terbaik untuknya. Ia tidak mungkin melepaskan Jaejoong. Bukankah tadi ia yang mengatakan sendiri kalau cinta itu tak harus memiliki? Bukankah tadi ia yang berjanji sendiri akan menerima Jaejoong apa adanya?

Tapi…. mendengar Jaejoong hamil anak orang lain, mengetahui kenyataan bahwa ada seseorang yang telah menanamkan benihnya di rahim Jaejoong tak bisa membuat hati Siwon tenang. Ia bukannya sama sekali tak mengetahui kalau Jaejoong memiliki rahim. Tentu saja ia tau ini dari Kim Heechul. Namun ia tak menyangka jika rahim itu telah terisi benak orang lain.

Dan apa jadinya jika Siwon meminta Jaejoong menggugurkan janin yang ada di kandungannya? Oh tidak. Siwon belum setega itu. Ia adalah penganut agama yang baik. Ia tau kalau dengan menyuruh Jaejoong menggugurkan janin itu sama saja ia membunuh janin tak berdosa itu secara tidak langsung.

"Baiklah" ujar Siwon buka suara setelah nyaris setengah jam ia bergelut dengan pikirannya sendiri dan mendiamkan Jaejoong. "Aku akan tetap menikahimu meski kau tengah hamil anak dari namja lain" ujar Siwon.

Kata-kata Siwon berhasil membuat Jaejoong membulatkan matanya. Padahal ia berharap kalau dengan mengatakan hal itu Siwon akan mundur.

"Tapi dengan satu syarat" lanjut Siwon kemudian. Matanya menatap kea rah perut Jaejoong yang masih rata.

"Setelah kau menikah denganku kau harus melupakan Jung Yunho dan membuangnya jauh-jauh dari kehidupanmu dan juga putranya. Kau tidak boleh mengatakan siapa ayahnya yang sebenarnya. Kau tidak boleh berhubungan dengan Yunho barang sedikit pun. Dengan kata lain, kau harus menghapus segala tentang Jung Yunho dari kehiudupanmu dan anakmu kelak setelah menikah denganku" jelas Siwon panjang lebar. Ia memberi jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan. Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk seringai.

Jaejoong bergidik melihatnya. Hatinya mendadak diselimuti perasaan tak enak. Ia merasa perkataan Siwon berikutnya bukanlah hal baik untuk didengar.

"Dan kalau kau berani melanggar syarat diatas, aku tak akan segan-segan membuang anakmu bahkan membunuhnya sekali pun" ujar Siwon dengan tenang sembari melirik ke perut Jaejoong.

Jaejoong memeluk perutnya erat-erat. Seolah tengah berusaha melindungi janin tak berdosa di dalam rahimnya dari orang tak waras didepannya ini. "Aku akan menyetujui syaratmu, asal kau juga menuruti syaratku" ujar Jaejoong. Bagaimana pun ia tak mau menyerah begitu saja pada Siwon. "Satu, sebelum hari pernikahan itu tiba, kau tak boleh mengekangku sedikit pun untuk berhubungan dengan Jung Yunho. Dua, kau tidak mengatakan hal ini pada siapa pun. Cukup aku, Yunho dank au yang mengetahui kehamilan ini. Jika kau berani mengekangku sedikit pun dan membocorkan hal ini, aku tak akan segan-segan membatalkan pernikahan ini dan jangan harap aku akan menemuimu lagi bahkan dalam mimpi" ujar Jaejoong dengan suara tak kalah tenang meski sebenarnya hatinya tengah gusar begitu mendengar syarat gila yang diajukan Siwon.

"Baiklah. Aku terima syarat itu" ujar Siwon. Apapun akan kulakukan demi mendapatkanmu, Kim Jaejoong.

Satu yang kita tau, Siwon benar-benar sudah dibutakan cinta.

[END OF 2nd FLASHBACK]

TBC

Maaf ngaret -_-
Saya gak mau banyak bacot. Saya Cuma berharap kalian suka. Dan jika ada kritik saran atau apa pun asal masih dalam bentuk normal alias bukan bash. Saya terima.

By the way, saya punya ide untuk meremake novel Hush, Hush ke dalam YunJae fanfiction? Adakah yang berminat?

Sign

Duckymomo