'Aroma tubuh Naruto-kun langsung merasuk kedalam indera penciumanku, membuat jantungku berdegup kencang namun terasa nyaman, membuat hatiku gelisah namun dapat mengurangi resah. Sebelumnya aku tidak pernah berfikir akan sedekat ini dengan Naruto-kun.', batin Hinata sambil kembali menyembunyikan manik lavender di dalam kelopak matanya. 'Nee…Naruto-kun sebenarnya kau mencintaiku kan?', Hinata meyakinkan dirinya sendiri. "Naruto-kun, Aishiteruyo…"
"…"
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Yummy Cuma minjem tokohnya aja kok
Rate : T
Pairing : Naruhina
Warning : Charanya OOC, AU, typo, kalo ada kesamaan cerita dengan fanfic lain itu benar-benar tidak disengaja (maapin kalo ide ceritanya pasaran), alur ga jelas (maaf kalo bingung authornya juga bingung), perilaku yang jelek ga usah ditiru ya Minna
~Happy Read~
.
*.*
.
.
"Naruto-kun, Aishiteruyo…"
"Naruto-kun, Aishiteruyo…"
Berkali kali suara Hinata terngiang ditelinganya, berharap bahwa ia tidak salah dengar kala itu, karena suara Hinata sangat pelan dan menyerupai berbisik ketika menyebutkan kalimat tersebut.
Naruto benar-benar sangat senang, dengan 2 kata tersebut mampu membuat hatinya hari ini benar-benar gembira. Senyum pun tak pernah luput dari wajahnya.
Walaupun sekarang Naruto masih dalam masa hukuman, karena tertangkap basah bolos latihan. Seperti hal nya hari ini, sekarang Naruto sedang mengepel ruang klub pada pagi hari dengan senyuman lebar dan senandung-senandung kecil pun tak luput keluar dari mulutnya.
"Kau gila ya Naruto?"
Tiba-tiba saja suara itu mengusik kebahagiaan Naruto.
"Apa maksudmu Kiba?"
"Kau senyum-senyum sendiri, apa namanya itu kalau bukan gila?", ujar Kiba yang sudah melangkahkan kakinya masuk ke ruangan klub.
"Enak saja kalau bicara, aku tidak gila!"
"Lalu…?, kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Kau senang karena mendapat hukuman membersihkan ruangan klub?"
"Tidak ada orang yang senang dapat hukuman, dasar Kiba!"
"Ya sudahlah…aku tidak perduli kau kenapa! Tapi ngepelnya yang cepet dong, sebentar lagi waktunya masuk sekolah. Apa kamu mau telat masuk pelajarannya Kurenai sensei?".
"Ahk aku lupa!…"
.
.
Naruto pun yang mulai menyayangi Hinata mulai mencoba mendekatkan diri dengan Hinata dimulai dari mengajak berangkat dan pulang sekolah bersama sampai mengajak Hinata kencan dengannya tapi tak ada satu pun yang terlaksana sampai saat ini, hal ini dikarenakan Hinata yang sudah mulai sibuk karena tugasnya menjadi pengurus kelas benar-benar menyita waktunya, apalagi sebentar lagi akan ada festival sekolah, dimana masing-masing kelas berlomba-lomba mendapatkan hadiah dari kepala sekolah.
"MENYEBALKAN! MENYEBALKAN!"
"Berhentilah berteriak-teriak seperti itu disebelahku Naruto!, mendokusai!"
"Nee…shikamaru…lakukan sesuatu!"
"Apa?",ujar Shikamaru malas.
"Undur saja festival sekolahnya!"
"Enak saja minta seperti itu! Emang ini sekolah milik nenek moyangmu!"
"Tapi kan kamu anggota OSIS!"
Sekarang Naruto sedang berada di ruangan OSIS membantu Shikamaru merapihkan formulir pendaftaran untuk tiap kelas yang akan mengikuti festival. Sebenarnya niat awal Naruto keruang OSIS adalah untuk mengembalikan formulir hasil diskusi kelasnya, tapi sepertinya Shikamaru hanya bertugas sendirian di ruang OSIS sehingga Naruto menawarkan bantuan.
"Memang itu ada hubungannya?"
"Ada, gara-gara festival itu aku tidak bisa ajak Hinata kencan!"
'Benar-benar ga penting nih anak!', batin Shikamaru. "Yah…lakukan saja saat festival selesai".
"Tidak mauu! Aku maunya minggu-minggu sekarang!".
"Kau ini bocah ya?".
"Hmm….", Naruto terlihat berfikir dengan mata tertutup segaris ciri khas rubahnya.
'Pake mikir segala', batin Shikamaru. "Hei…mau sampai kapan kamu disini?"
"Kenapa? Kau mengusirku? Kau tidak mau aku bantu menyusun formulir-formulir ini?".
"Memang berat sih kalau harus sendirian menyusun formulir ini, tapi lebih berat lagi kalau ada kau Naruto! Kau benar-benar berisik, lagipula bukannya setelah pulang sekolah kau masih harus menjalankan hukuman membersihkan ruangan klub sepak bola ya?"
"Akkhhh! Kalau gitu aku duluan ya Shikamaru!", ujar Naruto sambil berlari kencang menuju ruangan klub sepak bola.
"Tsk..benar-benar merepotkan!"
Tidak lama setelah Naruto keluar dari ruangan OSIS, Hinata pun masuk keruangan OSIS untuk menyerahkan formulir hasil diskusi kelasnya.
"Permisi…", ujar gadis lavender itu sembari membuka pintu ruangan tersebut.
"Ah..ya masuk saja!", ujar Shikamaru masih sibuk dengan tumpukan-tumpukan formulir.
"Ah…Shikamaru, ini aku mau mengembalikan formulirnya".
"Ya Hinata, taruh saja disana!", ujar Shikamaru.
"Sedang sibuk ya Shikamaru-kun?"
"Ya begitulah…biasa, para senpai menugaskan hal merepotkan seperti ini kepada para kohai-nya"
"Ada yang bisa aku bantu?", tawar Hinata yang tidak tega melihat Shikamru yang sedang berkutat dengan setumpuk kertas-kertas.
"Ah..tidak usah Hinata, sebentar lagi juga selesai"
"Oh…kalau begitu aku taruh formulir ini di meja ya!", Hinata meletakkan formulir di meja. "Aku duluan ya Shikamaru", ujar Hinata sambil melangkahkan kaki menuju pintu.
"Ah..tunggu sebentar Hinata! Mungkin kau bisa melakukan sesuatu!"
"Eh….?"
OOoooOO
"Ah…kapan selesainya sih hukumanku ini!", keluh Naruto yang sedang membersihkan beberapa bola sepak.
"Permisi…"
DEG
'Suara ini…', dengan segera Naruto mencari sumber suara tersebut.
"Hinata?!"
"Um…ano…Konnichiwa Naruto-kun…"
"Ah…iya..Konnichiwa Hinata…".
"Ano….begini…"
"Ah…ayo masuk dulu, tidak enak bicara sambil berdiri"
Entah apa yang terjadi, sepertinya keinginan Naruto untuk bisa berduaan dengan Hinata telah terkabul. Karena di ruangan klub pun sepi dikarenkan tidak adanya latihan hari ini.
.
.
"Bisakah kau keruangan klub sepak bola dan mengembalikan formulir ini pada Naruto, dia lupa menulis tema rumah hantu kelasnya"
Shikamaru meminta tolong pada Hinata, karena itu Hinata mendatangi Naruto yang sedang berada di ruangan klub.
"Begini Naruto-kun, ini", Hinata memberikan formulir pada Naruto.
"Hmm?", Naruto menerima formulir itu dan membacanya. "Loh…formulir ini kan sudah aku berikan pada Shikamaru!"
"Iya…,tapi disana masih ada kolom yang kosong Naruto-kun".
"Yang mana sih?", ujar Naruto sambil mengamati kertas formulir yang berada di tanganya.
"Di pojok kanan atas, kolom tema"
"Yang mana ya?", Naruto masih saja mengamati kertas formulir yang berada di tangannya.
Hinata bangkit dari tempat duduk dan mendekat kearah Naruto, kemudian berdiri disebelahnya. "Yang ini…", ujar Hinata sambil menunjuk kolom kosong yang dimaksud.
Naruto yang terkejut secara reflek memutar kepala kesebelah kanan, dimana Hinata sedang berada disebelahnya. Jarak mereka sangat dekat sehingga Naruto pun dapat dengan jelas melihat wajah Hinata dan mencium aroma lavender yang menyeruak keluar dari tubuh Hinata.
Hinata yang merasa Naruto tidak menanggapinya, mengalihkan pandangan kesebelah kirinya –dimana Naruto berada-. Kemudian…Pandangan mereka bertemu.
Wajah terkejut dapat ditemukan pada wajah keduanya.
"Ah…go..gomen Naruto", ujar Hinata sambil melangkahkan kaki menjauh dari Naruto.
"Ah…ya.."
'Ah…apa yang kulakukan…', batin Hinata. Hinata memegang kedua pipinya yang memerah, ia teramat sangat malui dengan apa yang dilakukannya barusan.
"Ah…ya kolom yang ini ya…iya aku mengerti, akan aku isi", ujar Naruto gelagapan untuk mencairkan suasana.
"Iya…yang itu…"
Keadaan pun hening sejenak….
"Hmm…kalau begitu aku pergi dulu Naruto-kun…, ada rapat yang harus aku datangi", ujar Hinata undur pamit.
Sebelum Hinata benar-benar keluar dari ruangan klub sepak bola tersebut, Naruto memegang pergelangan tangan Hinata, membuat sang empunya menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Naruto.
"Hinata-chan…kalau festival sekolah ini sudah selesai…umm…"
"Ya…?", ujar Hinata dengan sedikit berbisik dikarenakan dirinya tengah setengah mati menahan agar tidak pingsan ditempat.
"Bisakah…kita pergi bersama…?"
"A…ano..", Hinata benar-benar kesulitan dalam berkata sekarang, dia sangat gugup, otaknya benar-benar kosong sekarang. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa senangya Hinata mendapat ajakan dari Naruto, sehingga yang dilakukannya saat ini hanyalah menunduk dengan wajah memerah.
'Tidak ada jawaban…, apakah Hinata tidak mau pergi bersamaku?', batin Naruto.
"Ano…Naruto-kun..", Hinata masih belum dapat mengendalikan dirinya.
"Ah…aku juga akan mengajak Sakura dan Sasuke pergi bersama, jadi…bagaimana?", Tanya Naruto lagi.
"Ya…", sedikit perasaan kecewa terbesit pada diri Hinata, ternyata mereka tidak hanya pergi berdua saja. Namun itu pun cukup, karena Naruto-nya lah yang mengajaknya pergi.
"Benarkah…?", Naruto merasa senang ajakannya diterima. Sebenarnya ia hanya ingin berdua saja dengan Hinata, namun ada kekawatiran jika Hinata akan menolak jika mereka hanya pergi berdua. Maka dari itu Naruto membawa-bawa nama Sakura dan Sasuke sebagai alasan.
"I..iya…", Hinata terdiam sejenak seperti berfikir. "Naruto-kun…ano…aku boleh pergi ke ruang rapat sekarang..?", ujar Hinata ragu.
"Ya…silahkan…", ujar Naruto sambil tersenyum.
Hening…Hinata belum juga pergi.
"Ano…aku mau pergi…tapi tanganmu…", ujar Hinata sambil menunjuk pergelangan tangan Naruto.
Reflek Naruto mengikuti arah jari Hinata yang menunjuk dan..., "Ah….gomen". ternyata Naruto belum melepaskan gengaman tangannya pada pergelangan tangan Hinata.
.
.
"BAKA!"
"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu padaku sih, Sakura?!"
Entah ada apa dengan Naruto ini, sampai-sampai membuat Sakura geleng-geleng kepala karenanya. Tiba-tiba saja sahabatnya ini meminta bertemu, jadi Sakura meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Naruto di taman belakang sekolah.
"Hah…", Sakura menghembuskan nafas berat sembari menepuk jidatnya dengan menggunakan satu tangan.
"Kenapa sih…? Aku kan meminta tolong padamu untuk mengajak Sasuke saat double date nanti"
"Justru karena itu…, kenapa kamu bawa-bawa kami dalam kencanmu sih?",
"Ah..itu..haha…haha…", ujar Naruto sambil ketawa garing.
'Anak ini apa tidak mengerti situasinya ya…', batin Sakura.
"Habisnya aku takut Hinata menolak ajakanku. Kalau aku bilang aku bawa kalian juga, mungkin Hinata tidak akan canggung. Atau setidaknya ia jadi tidak bisa menolak", jelas Naruto.
'Ternyata beneran ngga ngerti!', batin Sakura frustasi. "Dengar ya Naruto…".
"OI NARUTO", tiba-tiba saja teriakan Kiba menggema di kuping Sakura dan Naruto, membuat Sakura tidak melanjutkan kata-katanya. "Disini kau rupanya, Ayo cepat ke lapangan! Asuma sensei telah menunggumu! Nanti kamu dihukum lagi lho!".
"Ya! Baikah Sakura, tolong aku ya!", ujar Naruto sambil menjauh dari hadapan Sakura dan pergi menuju lapangan.
"Hei!...", protes Sakura. 'Anak itu…seenaknya saja dia!', batin Sakura.
.
.
Senja sore itu sangatlah indah, angin berhembus dengan sejuknya. Tampak pemuda blonde mendatangi suatu tempat yang sepi dan tentram penuh dengan kedamaian. Suatu tempat dengan rumput-rumput yang terhampar luas sejauh mata memandang ditambah dengan langit sore yang mempesona, sebuah kombinasi warna alam yang begitu indah dilihat.
"Lama tak mengunjungi kalian ya,….Ayah…Ibu…"
Akan tetapi bukan hanya rerumptan saja yang terhampar di tempat itu, beberapa batu nisan juga terhampar dan berjejer rapi disana. Tak terkecuali batu nisan kedua orang tua Naruto yang berdampingan satu sama lain.
Orang tua Naruto meninggal pada saat Naruto kecil, mereka meninggal dalam kecelakan hebat 13 tahun silam. Naruto kecil sangat terpukul atas kejadian itu sehingga ia menjadi pemurung. Syukurlah dia bertemu dengan Sasuke dan Sakura sehingga dirinya bisa bangkit dari keterpurukannya.
"Nee…apa kabarnya kalian disana?", ujar Naruto sambil menatap kedua nisan orang tuanya dan mulai duduk berjongkok didepan batu nisan.
"Ayah…Ibu…di Konoha High School ini aku bertemu lagi dengan Sasuke dan Sakura loh…, kukira tadinya mereka tidak akan kembali ke konoha. Aku senang aku bertemu mereka lagi, mereka adalah orang terpenting bagiku".
Tentu Naruto tahu mau sebanyak apapun dia bercerita pada kedua batu nisan orang tuanya ini Naruto tidak akan mendapat balasan maupun tanggapan akan cerita-ceritanya, akan tetapi meskipun begitu, hal ini dapat membuat hatinya senang karena dia bisa berbagi cerita kepada kedua orang tuanya. Dikarenakan orang tuanya meninggal terlalu cepat sehingga Naruto tidak sempat bercerita maupun bermanja-manja pada kedua orang tuanya.
"Ayah…Ibu…jika kalian tau, anakmu ini sudah punya pacar loh…hehehe", ujar Naruto sambil terseyum lebar akan tetapi terlihat sedikit bergetar.
"Dia…cantik, baik, rambutnya panjang dan indah, walaupun dia agak sedikit pemalu…memang pada awalnya hubungan awal kami terjalin dari aku yang hanya ingin memenuhi keinginan Sakura agar mau berkencan denganku…", Naruto memberi jeda pada kalimatnya dengan mengambil nafas sedalam-dalamnya. "..tapi kali ini aku serius menyayanginya…walaupun menurut kakek aku tidak mengenal baik sifat dan perilaku wanita, aku berjanji akan berusaha membahagikannya"
.
.
FLASH BACK OFF
Pemuda raven itu dengan tergesa-gesa berjalan hampir setengah berlari untuk cepat-cepat sampai pada tempat tujuannya. Sakit yang terasa diwajah dan badannya tidak ia hiraukan lagi, yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana agar ia bisa cepat sampai.
"Sampai juga", ujar pemuda itu dengan nafas yang termengah-mengah.
Pemuda itu mulai melangkahkan kaki memasuki sebuah rumah mewah dengan halamannya yang luas dihiasi bangunan air mancur.
"Selamat datang tuan muda", sapa seseorang ketika pemuda itu masuk kedalam rumah mewah. "Tuan anda-"
"Hn…, dimana Juugo?"
"Ah…Juugo-san sudah ada diruang tamu sedang menunggu kedatangan tuan muda".
"Hn…terima kasih".
"Tuan…wajah anda-….".
"…aku tidak apa-apa..", potong pemuda itu sambil berlalu menuju ruang tamu.
Pemuda itu mempercepat langkahnya menuju ruang tamu dimana Juugo berada.
"Cepat katakan berita bagus apa yang kau dapatkan Juugo!", ujar pemuda itu to the point ketika ia telah memasuki ruang tamu.
Juugo yang sedang duduk santai sepertinya agak terkejut ketika namanya tiba-tiba disebut, ia pun mulai mencari orang yang menyebutkan namanya tersebut.
"Sasuke, kau sudah tiba?", ujar Juugo.
Pemuda itu terlihat sangat kacau, selain karena nafasnya yang tidak teratur terdapat bekas darah yang mengering disudut bibirnya serta luka lebam dikening yang mulai membiru.
"Ya, langsung saja Juugo", ujar Sasuke sembari mendudukan diri di sofa empuk di ruang tamu.
"Sepertinya sudah satu tahun gadis itu tinggal di Jerman"
"APA?!, lalu apa lagi?"
"Aku sudah mendapatkan alamatnya di Jerman, tapi saat aku cek kesana ternyata gadis itu sudah tidak tinggal disana lagi".
"Lalu pindah kemana dia?", ujar Sasuke dengan nada antusias yang kentara.
"Aku dan timku belum mendapatkan informasi lagi, tapi menurut kabar burung gadis itu akan pulang ke kampung halamannya".
"A…a..apa…?"
"Ya…kabar itu belum pasti, tapi akan kami cari tahu kebenarannya"
"Syukurlah…". Fenomena tidak biasa terjadi, kini Sasuke merasa ada yang sedang menarik ujung-ujung bibirnya secara paksa, membuat ia tak kuasa menyembunyikan emosinya.
"Baiklah Sasuke, aku pamit. Jika ada kabar baru akan kukabari", ujar Juugo sambil undur diri dari hadapan Sasuke.
Diruang tamu Sasuke masih duduk terdiam dengan posisi agak membungkuk sehingga helai ravennya menutupi kedua manik onix kelamnya, sepertinya Sasuke sedang asyik dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak sadar ada seseorang yang telah turun dari lantai 2, dan sekarang sedang menuju kearahnya.
"Ara~~, kau disini ternyata Sasuke, kalau pulang setidaknya kabari a-", seseorang itu pun tidak jadi melanjutkan kalimatnya ketika dia melihat keadaan Sasuke.
"Akh! Nii-san , sejak kapan kau disitu?"
"Ara..kau menangis otouto?"
"A…a..apa? Ti..ti..tidak! jangan asal bicara kau Nii-san!"
"Begitukah? Haha…kau mungkin bisa menipu teman-temanmu dengan ekspresi datarmu itu, tapi tidak dengan Nii-san mu ini"
"Ah..aku lelah, aku tidur duluan ya", ujar Sasuke sambil berdiri dari sofa empuk yang sedari tadi didudukinya.
"Pasti baru mendapat info tentang orang itu ya? sepertinya berita bagus ya?"
"Apa sih…dasar sok tahu!"
"Uh…berarti tebakanku benar ya? iya kan? Iya kan? Iya kan?"
"…"
"Ayolah cerita sama Nii-san mu ini!", bujuk Itachi.
Itachi merupakan kakak laki-laki Sasuke, kedua kakak-beradik ini jarang bertemu dikarenakan Itachi yang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Terkadang Itachi sampai harus pulang-pergi ke luar negeri demi urusan pekerjaan.
"Bukan urusanmu! Dan berhentilah mencampuri urusanku!", ujar Sasuke sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Hah~~ Sasu-kun…karena sifat itulah kamu dijauhi wanita…sekali-kali berbagi dengan orang lain itu tidak buruk juga, membiarkan orang lain mengetahui kelemahanmu juga buka hal yang buruk".
Sasuke yang mendengar perkataan Itachi berhenti melangkahkan kakinya ketika akan menaiki anak tangga.
"Kau tau Nii-san mungkin perkatanmu kali ini ada benarnya".
"Ya…mungkin itu tidak berlaku ke semua orang, tapi setidaknya dengan begitu kau bisa jujur pada diri sendiri".
Suasana hening untuk beberapa saat, namun Itachi kembali bersuara.
Dari dulu hal inilah yang membuatmu susah memiliki teman, kau terlalu menutup dirimu untuk orang lain, apalagi semenjak orang tua kita meninggal, aku sampai pusing karena memikirkanmu.
"...siapa juga yang minta dipikirkan…"
"Benar-benar kamu ini…".
"…"
"Tapi semenjak kamu berteman dengan Naruto aku mulai merasa kau sedikit demi sedikit berubah. Kau tahu aku merasa tenang meninggalkanmu di Jepang sendiri karena ada Naruto entah kenapa anak itu selalu bisa mengeluarkan emosimu kan?"
"…maksud Nii-san?"
"Ya seperti sekarang, wajahmu itu", ujar Itachi sambil menunjuk wajah Sasuke.
"…."
"Kau habis berkelahi dengan Naruto kan? Siapa lagi coba yang bisa membuat kamu kehilangan ketenanganmu".
"Habisnya bocah itu selalu membuatku kesal, dia yang duluan memukulku jadi aku balas"
"Pasti kamu duluan yang cari masalah kan?", tebak Itachi.
"Tch!", ujar Sasuke sambil membuang muka.
'Dasar…ternyata Sasuke memang masih bocah', batin Itachi. "Ya sudahlah kita lanjutkan nanti pagi saja sambil sarapan bersama, aku mau coba menu nasi goreng yang aku pelajari saat di luar negeri".
"Hei…hei…sebenarnya Nii-san ini ke luar negeri untuk urusan bisnis atau belajar masak sih?"
"Abis urusan bisnis itu membosankan, dan sebagai hiburan setelah selesai urusan bisnis aku belajar masak deh"
"….", Sasuke memajang wajah horor saat melihat kelakuan kakaknya yang satu ini.
.
.
'Kamisama apa yang baru saja aku lakukan? Aku mengusir Naruto, aku panik, aku takut Naruto mengetahui kebohonganku. Padahal ia sedang terluka, tangannya bergetar saat menggegam tanganku tadi, mungkin ia sedang menahan sakit atas luka-lukanya'
'Naruto…kenapa…kau datang disaat aku sudah yakin pergi dari hatimu'.
Tanpa disadari air mata Hinata tumpah
"Nee-san…"
Suara itu menyadarkan Hinata dari lamunannya.
"Nee-san…, kenapa nee-san mengusir Naruto-Nii?"
"…", Hinata masih terdiam.
"Bukankah Nee-san masih menyayangi Naruto-Nii?"
"Nee-san, tidak-"
"Nee-san ngga usah bohong sama Hanabi. Hanabi tahu Nee-san masih sangat menyayangi Naruto-Nii".
"…"
"Terlihat dari cara Nee-san menatap Naruto-Nii. Kenapa? Kenapa Nee-san membohongi diri sendiri dengan berpacaran dengan Sasuke-Nii?"
"Nee-san hanya tidak mau sakit hati lagi Hanabi-chan"
"Yang kulihat malah Nee-san yang membuat sakit hati Naruto-Nii"
"…"
"Kalau dilanjutkan, Nee-san hanya menyakiti diri sendiri"
.
.
Hari ini Hinata berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah, bukan karena ia sedang mendapat giliran piket kelas tapi ia ingin menenangkan hatinya, sungguh kejadian tadi malam membuatnya merasa bersalah. Tuduhan yang ia lontarkan pada Naruto benar-benar sudah kelewatan, ia tahu itu. Dan ditambah kata-kata Hanabi masih saja terngiang ditelinganya membuat hatinya goyah, goyah akan pendiriannya yang ingin pergi jauh dari Naruto. Sambil terus memikirkan hal itu Hinata melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
HINATA POV
Apa yang kulakukan kemarin benar-benar keterlaluan, aku takut gara-gara kemarin Naruto jadi membenciku. Ehh….apa yang kau pikirkan Hinata…bukankah kau mau kalau Naruto pergi jauh darimu. Ahh! Bodoh kau Hinata …aku memang wanita bodoh…mau diapakan juga aku masih mencintainya…mencintai Naruto-kun.
Saat itu aku sedang asyik sendiri dengan pikiran yang sedang berlalu lalang dikepalaku, membuat kepalaku benar-benar ingin pecah rasanya sehingga aku tidak memperhatikan jalanku.
BRAKK
"Ittai…", aku mengaduh kesakitan. Sepertinya aku menabrak seseorang dan jatuh terduduk.
"Gomen…". Aku mendengar orang itu meminta maaf dengan nada penyesalan yang kentara.
"Ah…tidak apa-apa aku yang-", aku tidak melanjutkan kata-kata ku ketika aku menatap kedua safir biru miliknya yang teduh tersebut.
DEG
NARUTO
Kamisama…apa yang dari tadi aku fikirkan sekarang malah muncul dihadapanku…
Entah mengapa aku merasa waktu berhenti sejenak ketika aku menatap manik safir indahnya itu, membuat aku tenggelam dan terhanyut saat melihatnya.
"Hinata? Kau tidak apa-apa?", suara bariton miliknya mengaburkan lamunanku.
"Sedang apa kau di kelasku Naruto?!", ujarku kelabakan karena aku baru saja tersadar dari lamunan.
"Kau mengigau ya? ini kan kelasku juga", ujarnya sambil menaikkan satu alisnya.
'Aduh bodoh kau Hinata…', aku merutuki kelakuan ku sekarang.
"Ne…Hinata…", tiba-tiba saja Naruto berjongkok, mensetarakan tingginya denganku yang masih dalam posisi duduk dibawah. Jaraknya denganku hanya terpaut 20 cm membuat aku lebih jelas menatap kedua manik safirnya.
Aku menunggu sampai Naruto mengucapkan kata selanjutnya.
"Gomen ne…atas kejadian kemarin, aku hanya tidak bisa berfikir dengan baik. Tapi aku tetap akan tidak akan menyerah untuk membutmu kembali mencintaiku Hinata"
"…", eh…apa barusan yang tadi ia katakan?
Karena aku yang terdiam, Naruto mulai berbicara lagi, "Kau tidak lupa dengan taruhan kita kan?"
"…"
"Hinata?"
"Ah…apa…tentu saja…aku tidak lupa!", ujarku gelagapan.
"Maka dari itu menyerah saja!", tantangku
"Masih terlalu cepat untuk menyerah Hinata-chan!, aku masih belum melakukan apapun padamu"
"….", entah kenapa aku jadi malu sendiri ketika Naruto mengatakan hal tadi.
Syukurlah…Naruto tidak marah padaku.
_-TBC-_
.
.
Ano…gomenasai…Yummy hampir saja menelantarkan Fanfic ini…, udah lama banget ga update. Padahal Yummy punya niatan untuk menyelesaikan fanfic yang satu ini, tapi malah jarang update #plak
Terimakasih yang masih setia menunggu fanfic ini *pede_amat. Yummy akan berusaha membuat fanfic ini jadi greget.
OK deh langsung aja ke balasan review minnatachi
To virna. ajja. 9 : Arigatou, tetap baca kelanjutannya ya,,,, :))) hehehe.
To Aizen L sousuke : Gomen…emang belum klimaks…harap bersabar
To Hinatalevendercitrus 14 : Mungkin di chapter depan :))
To ranggagian67 : Gomen kalau bikin pusing, tapi emang gaya ceritanya begitu…
To uchihagremory : Naruto-High School DxD ya…hmm…yummy kurang berpengalaman bikin cross-over…jadi…
To muhamed. syarawy : Gomenasaiii chapter yang ini malah lama. Hountoni gomenasai!
To Hayati JeWon : Arigatou, Yummy akan semangat lanjutin cerita!Yosh!
To yudi : Siapp ini dilanjut!
OK, sudah dibalas semua hehe…mungkin chap berikutnya juga rada lama. Soalnya "penyambungnya" belum yummy dapet. Gomen ne…jadi harap bersabar.
Ditunggu kritik dan sarannya ya minna :)))
Arigatou.