Chapter 6 : Sedikit!


Yang pasti Naruto bukan punya saya... selain itu Naruto juga udah tamat


Naruto membuka matanya lebar, merasa bahagia entahlah dia tidak pernah merasa sebahagia ini. Tangan kecilnya sibuk mengambar sesuatu, jari kecil itu dengan erat mencengkram sebuah spidol kecil bewarna merah. Asal, dia mencoba mewujudkan apa imajinasi yang ada di kepala kecilnya kedalam sebuah kertas putih kosong di depannya.

Suara seorang gadis yang amat sangat dikenalnya datang dari belakang. Dan Naruto melebarkan senyumnya saat gadis itu duduk di sebelahnya dan membantunya mengambar apa yang ada dalam hayalannya.

Dia tidak mengerti, tapi ibunya menatap mereka berdua dari sudut ruangan. Paras ibunya tersenyum, sebuah piano mulai mengeluarkan suara. Ibunya bernyanyi.

Phoenix kecil yang jahat~

Gambar telah selesai, itu sebuah burung merah besar. Oh atau mungkin burung merah kecil dalam pandangannya. Dia tidak tau yang jelas gambar itu tidak sebagus apa yang ada dalam hayalannya. Dan dia merasa kurang senang akan hal itu.

"Kena!" gadis di sampingnya tertawa terpingkal-pingkal. Dan dia tidak mengerti dengan kelakukan anak di sebelahnya sampai dia merasakan sensasi dingin di pipinya. Dan sebuah spidol di ngengam tangan gadis itu.

"Eve!" Naruto mengambil spidol lain yang tercecer. Dia melompat berusaha membalas perbuatan eve tersebut. "Terima seranganku!"

"Hahaha.."

Mereka tertawa berdua, mereka kelelahan setelah balas-membalas coretan wajah. Gadis itu terdiam, dan Naruto tau kalau ini belum akan berakhir... wajah Eve masih semangat. Dan dia siaga ketika gadis itu berdiri dan menjauh, gadis itu berputar sebelum sebuah gaya serangan dan teriakan yang amat dikenalnya menggema dalam telinganya.

"Terima ini Naruto! Game Kameha!"

Naruto menghindar dari sebuah serangan semua yang tidak pernah ada itu. Wajahnya tersenyum, tidak lebih tepatnya wajahnya ceria khas anak kecil, dia berdiri. "Salah yang benar..." dan kemudian dia melakukan gerakan yang sama.

"... Kame Kameha!"

Dan tidak terlalu menjadi perhatian, Kushina masih memainkan lagunya.

Membakar hutan hari ini. hutan menjadi hilang kubilang~

"Naruto, maukah suatu hari kau menikah denganku?" Eve tersenyum. Sebuah senyum yang menurut Naruto adalah senyum yang penuh dengan ketakutan. Beberapa orang dengan jubah hitam mengelilingi mereka, sepeti orang jahat yang ada di film-film yang sering dia tonton bersama keluarga.

Dia tidak suka orang jahat.

"Ya, aku berjanji... suatu saat aku akan menikah denganmu!" Naruto membalas dengan suara yang keras. Saat dia merasakan Eve mulai menjauh darinya. Dia menangis meraung saat ngenggaman terakhir Eve dirasa menjauh darinya. Gadis itu diseret paksa dari hadapannya.

"Eve!" Naruto meraungkan nama gadis yang menjadi temannya itu.

"Naruto, jangan lupakan aku." Eve tersenyum, sebuah senyum yang belum pernah Naruto liat dari gadis itu selama ini. "Jangan lupakan bahwa aku telah memilihmu."

Dan Eve menghilang bersama orang-orang jahat itu. Gadis itu diseret dan dipaksa masuk kedalam sebuah mobil tua. Mobil yang perlahan bergerak meninggalkannya, meninggalkannya sendiri disini. Dia hanya bisa menagis, dia terlalu takut untuk sekarang.

Tuhan yang marah menaruh racun di tubuhmu~

Naruto mencoba memberontak keras, dia menangis saat melihat temannya telah diseret pergi darinya. Dia menangis saat rumahnya dibakar. Dia ketakutan saat sekumpulan pria berjubah mengelilinginya. Dan menyebutnya 'Darah Lumpur'

Dan dia masih menangis saat itu.

Phoenix kecil yang malang, sarang dan makananmu beracun~

Naruto merasa takut, dia tiba di tempat yang asing. Tidak ada ayah disini, tidak ada ibu disini, dan tidak ada Eve disini... tidak ada siapa-siapa disini. Dia takut, dia sangat takut disini. Seorang suster tersenyum padanya... anak-anak yang lain melihatnya jahat.

Dia di sebuah tempat yang asing, setelah semua yang dia kenal tidak ada disini

Suster itu mengatakan padanya bahwa dia seorang yang spesial.

Teman-temannya sering memukulnya, dan mengejeknya. Dan mengatakan bahwa dia anak pembawa sial dan moster.

Tempat ini penuh dengan anak-anak... seperti taman bermain yang penuh akan anak-anak. Tapi kenapa mereka jahat?

Sentuh temanmu dan mereka semua mati~

Dia menatap semua kerumunan itu dari balik kaca. Suara serine terdengar keras memekakkan, saat dia turun ratusan cahaya menyilaukan dari ratusan kamera menuju kearahnya. Usianya sudah menginjak enam tahun tiga hari kemarin, dan merah adalah saat di berulang tahun.

Dia melihat semua orang yang dibatasi sebuah pita kuning ajaib yang bertulisan entah apa itu. Wajah mereka tidak ramah, banyak teriakan yang dia dengar... dia ketakutan. Wajah mereka semua jahat... sejahat wajah anak-anak di panti. Sejahat wajah orang-orang yang menyeret Eve darinya. Dan sejahat wajah orang yang membakar semua miliknya.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Bagaimana kau membunuh mereka semua?"

"Apa kau monster?"

Mereka semua jahat.

Apakah ini mimpi? Jika iya, seseorang tolong bangunkan dia!.

Phoenix kecil yang malang~

Polisi itu jahat, dia dibentak dia tidak pernah tau. Dia terkurung disini, bersama beberapa orang yang dia tidak sukai... dia takut.

Orang-orang itu mengeram... dia mengigil. Dia dipukul, tapi kenapa dia di pukul. Dia dilempar hingga membentur pagar besi yang keras.

Dan dia berdarah... darah keluar dari tubuhnya.

Dan semua menjadi merah.

Tapi dia merasa bebas.

Air matamu air mata beracunmu terlihat sangat terang~

.

.

.

Naruto membuka matanya, terasa perih saat menyadari cahaya matahari lansung menerobos masuk kedalam matanya. Kepalanya pusing, serasa berputar menatap ruangan yang merupakan kamarnya sendiri. Peluh membasahi tubuhnya, pemuda itu bergerak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kaca rias yang terpampang di dinding kamarnya.

Wajah yang terlihat lelah, kantung mata yang menebal. Dan, kelelahan-kelelahan yang lain yang tak dapat disembunyikannya. Tidak akan mengalak, Naruto tau belakangan ini dia sangat sibuk. Terseret dalam tugas mengajar yang merupakan kedoknya selama ini sudah membuatnya cukup merasakan itu apa yang mananya lelah. Ditambah dengan pertemuan dengan anggota Knight of the Roundtables yang tidak terlalu berguna. Dia paham dia telah diterima dalam posisinya, tapi dia tahu akan batasan jejaknya sendiri disaat matanya masih jelas menangkap tatapan tidak terima akan dirinya.

Itu karena darah kotor yang mengalir dalam tubuhnya.

Untungnya untuk saat ini dia sudah mengambil cuti jangka panjang untuk sementara waktu. Hmmm... tak ada yang terlalu spesial, Michael-sama kembali memanggilnya untuk menjadi pengawal pribadi dalam rangka acara rating game yang diadakan pihak Iblis. Bukan hanya fraksi Malaikat, tetapi hampir semua Fraksi juga ikut untuk di Undang. Termasuk yang terjauh dan fraksi paling tertutup juga akan di undang.

Nampaknya setiap Fraksi menyadari arti penting pertemuan di balik berlansungnya pertandingan rating game ini. berbeda dengan yang lain... tentu saja Naruto sedikit bersemangat untuk ikut ke Dunia bawah itu. Pertandingan pertama adalah Gremory vs Sitri, sekaligus baginya untuk melihat perkembangan Koneko.

Dan sebagai tambahan dia juga sedikit khawatir saat mendengar kabar pertemuan Koneko dengan Kuroka. Semoga tidak terjadi apa-apa, nantinya... setidaknya dia berharap demikian.

X x x x

Naruto bergegas melangkah menuju pintu miliknya saat suara bel berdengung mengisi setiap sudut ruangan. Dengan wajah ramah pemuda itu sudah siap membukakan pintu untuk siapa saja yang datang menjadi tamunya hari ini. Namun sesaat senyuman itu dengan cepat luntur saat Naruto bergegas membuka pintu miliknya. Bahkan dengan sangat cepat dia berusaha menutup pintu itu secara cepat mungkin, dan itu hampir saja terjadi andai sebuah kaki yang beralut sepatu coklat tidak menghalangi niatnya.

Dan dalam celah sempit itu, Naruto masih bisa menatap siapa dia. Wajah ramah yang seperti boneka itu, rambut merah bata yang berantakkan... dia Sasori salah satu dari Knight of the Roundtables dan juga seorang wanita di belakangnya yang juga dari golongan yang sama. Knight of the Roundtables.

"Boleh aku masuk?" Sasori berucap sambil menatap Naruto dengan senyum di wajahnya. Berharap agar pemuda itu mau membukakan pintu untuknya. Walau setidaknya dia tau Naruto masih akan merasa kesal atas insiden beberapa hari yang lalu.

"Tidak terima kasih!" Naruto membalas cepat, tengannya masih berusaha menutup pintu di depannya. "Aku tidak menerima tamu hari ini,"

Dan Naruto tersenyum penuh kemenangan saat pemuda itu berhasil menutup pintunya. Namun sesaat kemudian instingnya meneriakan alaram bahaya yang datang dari pintu rumahnya sendiri.

Brakkk

Pintu tersebut hancur berantakkan, rubuh dan menjadi serpihan yang tidak berguna. Naruto masih mematung menyaksikan kehancuran pintunya, bersamaan dengan wajah Sasori yang nagkring tepat dibalik reruntuhan pintunya.

Dan mengambil rumus statistik dan peluang besar kecil kemungkinan, dan untung rugi dalam pelajaran ekonomi, hanya satu kata yang keluar dari mulut Naruto.

"Brengsek!"

-Drak Yagami-

Kembali pertemuan secara tertutup diadaakan oleh pihak petinggi dari dua Fraksi antara pihak Iblis dan Malaikat jatuh. Azazel menekuk wajahnya dalam, ekspresi serius itu tidak lepas dari wajahnya saat ini. Matanya lurus menatap meja kosong yang tidak ada apa-apa di atasnya.

"Sungguh payah." Itu kata pertama yang dikeluarkan Azazel setelah berdiam cukup lama di depan Sirzechs untuk beberapa saat. "Disaat pesta yang disponsori oleh para Maou, para Iblis menerima serangan dari teroris."

"Dan itu adalah kenyataan..." Sirzechs membalas ucapan Azazel dan mengantungkan sesaat, berusaha mencari kata yang tepat untuk melanjutkannya. "... dan itulah hasilnya."

"Sampai Iblis rank-SS Kuroka berani menyusup ke Dunia bawah... aku tidak habis pikir dengan ini." Azazel mencoba menyampaikan opini miliknya, tatapannya lurus menatap Sirzechs yang juga terlihat sedikit gelisah tentang ini. Pria itu, orang di depannya ini terlalu protektif terhadap adiknya dalam hal apapun, dan semua orang tau akan hal itu. "Apa yang mereka inginkan?"

"Apapun itu... " Sirzechs kembali mengantungkan ucapannya, mengambil nafas dalam pria itu melanjutkan. "Kita bisa bersyukur bisa melihat tingkatan selanjutnya dari Issei-kun."

Azazel tertawa ketika Sirzechs tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan seketika. Ketidak sengajaan mengalihkan topikkah? Atau memang disengaja? Dia tidak peduli. Tapi apapun itu, untuk saat ini sepertinya perkembangan abnormal sang Kaisar Naga merah memang lebih menarik perhatiannya.

"Dia memang sesuatu... kau tahu?" Malaikat jatuh itu bahkan belum bisa mereda tawanya, jarinya berusaha menyeka sedikit air mata yang keluar. "Memulai perkembangan dengan cara yang aneh... dia bahkan bisa mencapai mode Balance Breaker, hanya dengan mencubit puting payudara adikmu? Hei! Bahkan dia belum bisa terbang kau tahu?"

Sirzechs juga ikut sedikit tertawa renyah... meski tak dapat dipungkiri bahwa wajah pria itu juga memerah menahan malu atas apa yang dikatakan Azazel barusan. Sebuah perkembangan aneh dan menyeleneh yang terjadi dalam Sekiryuutei saat ini... perkembangan secara terbalik yang aneh. Perkembangan dengan payudara yang membuatnya malu setegah mati. Dan yang lebih kejam adalah bahwa semua itu adalah fakta.

Oh man, dia sekarang harus ekstra menjaga adik kecilnya mulai hari ini.

"Dan ada sedikit masalah yang harus kau ketahui." Azazel mengubah nada bicaranya dengan cepat. Wajah serius kembali terpancar dari sang pemimpin Malaikat jatuh. Sebuah wajah yang sangat jarang untuk diperlihatkan.

"Apa itu?"

"Sebenarnya cukup hanya untuk kita berdua mengetahui hal ini... " Azazel kembali bersuara, dan berusaha menahannya sejenak, sebuah kata yang menimbulkan rasa penarsaran dari seorang Lucifer. "... masalah ini berkaitan dengan Fraksi Malaikat [Surga]."

"...!" dan Sirzechs diam, menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan seorang Azazel. Sungguh dia tau siapa dan apa orang di depannya ini. seseorang yang sangat santai bahkan terlalu santai jika ada pereperangan terjadi saat inipun dia akan tetap satai. Jadi jika melihat wajah serius ini? apa yang menganggunya?

"Ini tentang salah satu anggota Knight of the Roundtables yang baru, kau tahu?" Azazel kembali melanjutkan. Dan diam sampai akhirnya mendapat anggukan dari Sirzechs.

"Aku tahu Naruto bukan? Aku sendiri tidak menyangka pendeta muda di bawah bimbingan sang Paladin tersebut merupakan keturunan salah satu dari keluarga yang mewarisi golongan Knight of the Roundtables." Sirzechs membalas dengan cepat, entah kenapa rasa penasaran itu sejenak menghilang.

Azazel mengangguk cepat. Mata Pimpinan Malaikat jatuh itu masih tetap serius. "Ini hanya perkiraanku seorang atau apa. Namun yang pasti hampir semua pemengang Sacred Gear's yang bersemayamkan Naga di dalamnya menjadi risih atau tidak nyaman dengan kehadiran Naruto di dekatnya."

"Ketidak nyamanan?" Sirzechs mulai tidak mengerti dengan arah percakapan ini, ini sesuatu yang secara besar menarik minatnya untuk lebih tau. "Apa maksudmu."

"Awalnya aku juga tidak mengerti dengan Hal ini." Azazel kembali diam mencoba mengambil jeda. "Namun belakangan ini sepertinya Issei dan Saji mulai tidak suka dengan kehadiran Naruto... mungkin kata tidak suka kurang tepat. Namun mereka seperti merasa terancam dengan kehadiran Naruto di sekitar mereka."

"...!"

"Aku juga tidak mengetahui perihal tentang kejadian ini sampai Issei memberi tahuku sendiri. Aku tidak bercanda untuk tidak mennanggapi kejadian ini secara serius. Dan saat mencoba mendekati Issei dan Naruto lebih lama... Kau tau apa yang terjadi?"

Sirzechs diam dan menggeleng kepalanya cepat.

"Setelah aku menempatkan mereka dalam rungan yang sama... Issei mengeluhkan padaku tentang perihal ketakutannya yang entah mengapa akan sosok Naruto. Sesuatu... atau lebih tepatnya sebuah insting Naga yang menyuruhnya agar cepat menjauh sejauh-jauhnya dari sosok tersebut."

"Dan kau tau Sirzechs. Ini belum pernah terjadi sampai beberapa minggu sebelum keberangkatan Issei dan yang lain menuju Dunia bawah. Aku tidak tau apa yang terjadi, aku sudah menyelidiki kembali siapa itu Naruto... dan aku menemukan sangat sedikit dari data yang bisa aku kumpulkan, bahwa ayahnya seorang Namikaze Minato [Templar] namun sayang aku tidak mengetahui siapa ibunya."

"Namun dari laporan yang aku terima.. dia sudah menjadi yatim piatu sejak usia lima tahun. Masuk dalam sebuah panti asuhan kecil dipinggir kota, panti kusus bagi mereka yang memiliki urusan dengan pihak Surga, atau apapun itu... dan terlibat dalam kasus aneh dengan tuduhan yang tidak biasa. Dia di tuduh menghabisi nyawa seluruh penghuni panti. Dia hanya satu-satunya yang selamat. Namun. Dinyatakan bersalah atas insiden itu, namun sehari setalah penangkapannya insiden yang sama kembali terjadi dan dia menghilang seolah lenyap sampai dia ditemukan Jiraiya sang Paladin."

Sirzechs meneguk ludahnya secara kasar... dia memilih diam, saat ini pikirannya sedang mencoba menerima semua informasi baru yang baru saja sampai kepadanya. "Kenapa kau tidak menyampaikan ini kepada pihak Surga?"

"Kau bercanda?" Azazel mengangkat bahunya sebuah ekspresi meremehkan jelas disana. "Apa yang akan terjadi jika pihak Surga tahu akan hal ini..."

"... sebuah kekacauan akan terjadi."

Dan pada saat itulah pintu terbuka. Seseorang muncul disana membuat semua orang tercengang.

"Hmmm. Jadi hanya inikah sambutan untukku?"

Dia orang tua bermata satu yang mengenakan topi kuno. Dia memiliki janggut putih panjang, yang saking panjangnya hampir menyentuh lantai. Dengan pakaian yang ketimbang mewah. Dan sebuah tongkat berjalan yang bertahtakan batu berlian.

Dia Odin.. ketua Dewa Utara.

"Oh coba lihat apa yang ada disini?" Azazel yang pertama kali membuka suara setelah kedatangan Odin. "Kepala desa dari perkampungan suku Utara."

Odin mengelus pelan janggut panjangnya sebelum. "Lama tak berjumpa Malaikat jatuh sialan! Sepertinya kau sudah mulai dekat dengan orang yang dulu menjadi musuhmu! Katakan padaku bagaimana caranya kau menjilat musuhmu? Apa dengan cara menyerahkan keperawanan anak gadis dari kaummu sendiri?"

"Bagaimana dengan dirimu sendiri tua bangka? Dan siapa yang berada di sampingmu itu? Katakan padaku, apa kau sudah merobeknya hingga dalam? Atau begitu caramu memilih sistim pengawalmu sejak dahulu?" Azazel membalas hinaan itu dengan nada sarkartis, Gubernur Malaikat jatuh itu menyeringai sebelum..

"Kau berusaha membalas dengan hinaan yang sama. Itu adalah cara bicara para pecundang yang cocok untuk orang seperti dirimu! Apa lagi kalian hanya sekumpulan bocah dungu yang sudah kehilangan Tuhan dan Maou pendiri kaummu... Dan Khusus untukmu Malaikat tengik... kau bukan kehilangan. Kau di campakkan oleh Tuhanmu sendiri!"

"Itu disebut cara berfikir independen, dan kami berdiri di atas kaki kami sendiri pak tua."

"Jangan beri lelucon yang membuat aku tertawa dengan keadaanmu yang menyedihkan ini, bocah."

Melihat pembicaraan ini yang sepertinya tidak akan ada habisnya. Sirzechs kemudian meninggalkan tempat duduknya dan menyapa pimpinan dari Dewa utara tersebut. Sesuatu yang perlu dilakukan sebelum semuanya menjadih lebih buruk.

"Lama tak jumpa, pimpinan Dewa utara Odin-dono." Sirzechs berjalan mendekati Ketua Dewa Norse Odin. Dengan sebuah senyum di wajah pria bersurai merah panjang itu menyalami sang dewa Ketua suku Norse.

"Lama tak jumpa Sirzechs Lucifer." Odin membalas sapaan itu dengan nada sarkartis, berusaha menunjukkan kelasnya sebagai Pimpinan Para Dewa Norse. Dan sejenak pandangannya berralih menuju Azazel yang terlihat mendecih kecil kearahnya. "Dan kau Malaikat tengik, seharusnya kau bersikap seperti ini terhadap orang tua! Apa kau tak pernah diajarkan sopan satun dulunya? Pantas saja Tuhanmu menendang bokongmu dari Surga! Dan sebagai tambahan Asisisten disampingku ini... adalah seorang perawan tua yang belum sekalipun mendapatkan lelaki sekalipun, dan jangan samakan aku denganmu!"

Donnn

Sirzechs dan Azazel hanya bisa sweatdrop mendengar info tambahan dari Ketua Dewa utara tersebut. Mereka hanya bisa diam.

'Apanya yang tidak sama pak Tua?'

... sedangkan pengawal wanitanya hanya bisa tertunduk jatuh dan menangis seseguhan.

Terkadang sebuah kebijakan memang datang dalam berbagai cara yang entah mengapa susah untuk dimengerti... Ya, setidaknya begitu.

-Drak Yagami-

"Akan aku katakan kalau peluang kalian menang sekitar 80% aku berharap kalian menang, walau bagaimanapun persentase yang aku katakan barusan bukanlah kenyataan bahwa kalian pasti akan menang. Semua bisa saja terbalik dari apa atas segala kemungkinan tak terduga yang akan terjadi."

Semua anggota Gremory terdiam dan memperhatikan dengan serius dan cermat. Bagaimanapun ini adalah awal sebelum mereka melangkah lebih maju kedepan.

"Aku sudah hidup sangat lama. Bahkan jauh lebih lama dari kakakmu sendiri Rias." Azazel membuka kembali suaranya, matanya menatap satu persatu anak didiknya yang tengah menatapnya serius. Dan, ada sebuah perasaan bangga menyusup dalam diri... sebuah perasaan seperti melihat seorang anak yang kau bina mulai menunjukkan cahayanya. Seperti sebuah cahaya baru yang akan menerangi Dunia. Sebuah perasaan yang terlalu berlebihan, tapi tidak baginya.

"Aku sudah pernah melihat bagaimana orang-orang menang walau hanya dengan sepuluh persen kemungkinan. Aku sudah sering melihat bagaimana orang-orang yang kau remehkan ternyata memutar balikkan kenyataan di depan matamu. Jangan pernah yakin kalau kalian akan menang. Tapi berfikirlah bagaimana kalian harus menang. Ini Nasehat terakhirku yang dapat kuberikan saat ini."

"Ya!"

Issei berteriak sangat lantang dan penuh semangat, wajah pemuda itu menunjukan ambisi untuk bisa menang. Ekspresi yang turut andil memberikan dorongan semangat akan rekannya yang lain.

Dan setidaknya ekspresi dan tingka laku Issei sanggup membuat Azazel cukup tenang selama pertandingan akan berlansung.

"Dan Issei..." Azazel kembali membuka suaranya, sebuah senyum maniak terpasang di wajahnya. "Jangan pernah melakukan perkembangan menyeleneh seperti saat penyelamatan Koneko kemarin, aku tau opsesimu akan oppai yang begitu besar. Tapi, setidaknya tidak harus menyerang milik majikanmu sendiri bukan?"

He he heh~

Issei tertawa canggung seraya mengaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal, bagaimanapun pemuda ini terlalu malu untuk mengingat kejadian waktu itu. Ah~ sungguh dia tak ingin berbuat seperti itu lagi... cukup tamparan dari Bochou saat dia melakukan itu telah menjadi beban baginya.

Majikannya tidak pernah membencinya setelah insiden waktu itu. Tamparan yang dilakukan Bochou waktu itu adalah normal, seperti sikap normal lainnya saat orang asing meraba asetmu.

"Maafkan aku..."

Ah~ dia sungguh menyesal.

"Lakukan yang terbaik! Berfikirlah bagaimana caranya untuk menang! Dan berikan pertarungan yang terbaik, karna ini bukan halnya akan menjadi tontonan para Iblis, namun ini juga akan menjadi tontonan setiap golongan!"

Semua kembali terdiam... ada sebuah semangat baru yang muncul setelah perkataan itu.

"Setiap golongan?"

Koneko mengangkat tangannya, dan sebuah gerakan kecil yang tak luput dari mata Azazel.

"Ya, setiap golongan yang berarti itu Naruto juga akan ikut menontonnya." Pria itu memberikan sebuah senyum. "Dan berikan pertarungan terbaik untuk Tuanmu, Koneko!"

"Hmmp!"

Koneko tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Gadis itu sepertinya juga bersemangat dan tidak sabar untuk melangkah maju. Dan itu bagus setidaknya dia tidak tertekan akibat insiden tersebut.

Setelah itu, Azazel mulai mendiskusikan untuk para anggota kelompok Gremory... dan mencocokkan taktik mereka dengan data yang ada. Mengubah beberapa dan kembali menyesuaikan dengan data yang ada, kesibukan demi kesibukan yang tercipta. Perkiraan demi perkiraan yang akan keluar kedepan. Dan semua hanya untuk satu tujuan..

Kemenangan!

-Drak Yagami-

Hari pertandingan.

Gremory vs Sitri.

Issei membuka matanya saat lingkaran sihir telah memindahkan seluruh tubuhnya ke dalam area pertarungan. Perlahan namun pasti matanya dapat menangkap setiap objek yang tertera di depannya, sebuah tempat yang rasanya tidak begitu asing dan sering dikunjunginya di hari libur atau ketika bosan sepulang sekolah bersama Matsuda dan Motohama.

Tentu saja untuk masa muda mereka.

Tempat dimana mereka tiba setelah semua melompat dari lingkaran sihir yang telah mentrasfer mereka. Sama sepertinya mata anggota yang lain juga lansung mengopservasi tempat yang mereka datangi ini. Menarik nafas dalam Issei membuangnya kasar, karna setidaknya dia tau bahwa Game telah di mulai.

Dengan langkah pasti Issei mulai berjalan keluar dari restoran tempat dia datang pertama kali. Dan benar ini memang Mall yang sering dia datangi. Toko toko familiar yang berbaris di dalam interior, dan ada atrium beratap kaca, cahaya lembut yang melalui kaca tersebut.

Semua ini, memang tempat yang sangat dia kenali.

"Aku tidak pernah mengira bahwa Mall yang sering kita kunjungi akan menjadi tempat pertarungan bagi kita sendiri."

Issei mengalihkan pandangannya seketika, dan telah mendapati Buchounya telah berdiri di sampingnya. Tidak hanya itu bukan hanya majikannya, tetapi semua anggota kelompok keluarga Gremory telah berkumpul di sekitarnya. Dan dia yakin semua pasti sudah mengira ini memang Mall yang sering mereka kunjungi.

Dan tidak terasa, Issei menangkap pengungumuman yang menggema melalui setiap sudut ruangan ini.

[Semuanya, saya Ratu dari kelompok Lucifer, Grayfia aka memengang peran sebagai wasit di dalam Rating Game kali ini antara kelompok Gremory yang akan berhadadan dengan kelompok Sitri pada kesempatan ini.]

Suara yang sangat dikenal oleh Issei, itu suara Ratu dari kelompok Lucifer Grayfia. Nampaknya memang sang ratu terkuat sendiri yang akan memimpin lansung pertandingan kali ini. Tidak berlebihan, tetapi memang pertarungan antar kedua adik dari Maou akan menjadi daya tarik tersendiri.

[Area pertarungan hari ini adalah departemen store di wailayah Kuoh]

Seperti yang dia duga.

[Kedua kelompok telah dipisahkan ke Markas mereka masing-masing. Markas kelompok Gremory berada di lantai kedua sisi timur, sedangkan Markas kelompok Sitri berada di lantai pertama di sisi barat. Agar [Pion] mampu berpromosi harus menuju ke Markas lawan kalian.]

[Kali ini, akan ada aturan spesial. Dokumen tentang ini telah dikirim ke tiap-tiap kelompok, jadi mohon untuk dicek lagi. Satu botol berisi "Air mata Phoenix" telah disiapkan untuk tiap-tiap tim. Lebih jauh lagi, waktu menyusun strategi sebelum pertarungan adalah tiga puluh menit. Kontak dengan lawan sepanjang waktu ini dilarang. Game ini dijadwalkan dimulai puluk setengah tiga puluh menit. Kalau begitu silakan kalian pergi dan menyusun strategi.]

Setelah pengumuman itu, semua mulai berkumpul dengan cepat. Tidak membuang kesempatan walau itu hanya sesaat.

Xxxxxxxxxx

Pertandingan telah dimulai sedari tadi. Semua mata yang tertuju pada mereka semua, para Iblis muda dari keluarga terpandang sekaligus adik dari dua Maou saat ini. sebuah pertarungan yang sarat akan gengsi keluarga saat ini. Bukan hanya bagi kelompok Rias dan Sona, pertandingan ini secara tidak lansung juga ikut menyeret dan membawa seluruh Keluarga mereka terjun dalam atmosfir yang tengan. Membuktikan bahwa keluarga siapa yang terbaik diantara mereka berdua.

Meski kedua keluarga mengaku bahwa mereka adalah sekutu atau teman terdekat, rasa itu masih akan tetap ada selamat mereka semua adalah Iblis. Rasa iri dan dengkin yang tidak akan pernah bisa disembunyikan dari zat yang megalir dalam diri mereka. Ketentuan dan ketetapan yang telah tertulis untuk mereka hingga menjelang kiamat.

"Aku mendukung Rias karena Sekiryuutei yang kulatih secara pribadi ada bersamanya. Kukukuku, dia bocah yang menarik. Memperkuat diri dengan memecet dada." Azazel tidak dapat mengontrol ekspresinya seperti biasa jika mengingat kejadian ini, bagaimanapun Gubernur itu masih tidak bisa membayangkan apa yang membentur otak sang Kaisar Naga merah saat ini hingga dia tega memencet dada majikannya sendiri hanya untuk bertambah kuat.

"Sudahlah jangan membahas itu lagi.." Sirzechs mengatakan itu dengan rona merah malu yang terlihat jelas bagi semua orang. Dan menanggapi ucapannya, sepertinya semua sudah memaklumi betapa protektifnya dia terhadap adiknya sendiri.

"Itu benar Azazel-dono, tolong jaga ucapanmu. Kau bisa membuat malu kaummu sendiri." Dan sperti biasa ucapan sopan, yang membuat jengkel Azazel keluar dari pimpinan Fraksi Surga disebelahnya. Michael yang duduk di sebelah kanannya seperti biasa tetap memancarkan aura suci yang gila-gilaan diruangan ini, walau pada kenyataannya dia berkata sudah berusaha menekan aura ini sekuat yang dia bisa. Tapi aura miliknnya tetap memberikan dampak besar bagi Iblis, bahkan bagi golongan Maou sekalipun.

"Jangan memotong opiniku, kau teruskan saja mengabulkan do'a orang-orang." Azazel membalas perkataan itu, dan bermaksud membalas ucapan yang tadi sangat menghinanya.

"Lucifer-dono sendiri yang mengundang saya kemari, soal tugas pengabulan do'a saat ini tengah ditangani lansung oleh Gabriel di Surga." Dan balasan dari Michael tidak seperti yang diharapkan. Azazel mendengus, mahluk disampingnya ini memang atau jarang sekali bisa terpancing emosi. Sial.

"Nampaknya pertandingan akan segera dimulai, karna kelihatannya mereka sudah selesai menyusun strategi masing-masing." Ajuka membuka pembicaraan, bermaksud untuk mencairkan suasana karna tidak lucu juga jika dalam pertandingan kali ini Fraksi Malaikat jatuh tiba-tiba mengacungkan senjata kepada Fraksi Malaikat. Dan bukan hanya Fraksi Iblis yang harus turun tangan, bisa-bisa semua Fraksi yang hadir saat ini juga akan rusuh.

Setidaknya itu jangan sampai terjadi.

"Kurasa kau benar, mari kita lihat saja pertandingan kali ini."

Dan jauh di belakang para petinggi Fraksi yang duduk di kursi VIP. Ada juga cerita dari pengawal masing-masing Fraksi. Mulai dari pihak Malaikat, Malaikat jatuh, Iblis, bahkan tiap-tiap golongan Dewa. Dimana pengawal mereka juga tidak luput memberikan komentar terhadap perkembangan pertandingan ini.

Dari mulai siapa yang akan menang dan kalah, pandangan remeh terhadap penerus keluarga Iblis yang mereka tonton. Bahkan taruhan kecil antar sesama mereka, setiap orang juga punya kesibukan masing-masing saat menunggu berjalannya pertandingan ini. Dan tentu juga berita konyol tentang perkembangan Kaisar Naga Merah juga tidak luput dari perhatian.

Dan sumpah, itu memang memalukan.

Namun untuk sebagian laki-laki itu merupakan suatu kebanggaan.

"Pertandingan sudah dimulai, lihat kelompok Gremory dan Sitri mulai bergerak. Naruto menurutmu siapa yang akan menang?" Sasori menatap layar di depannya dengan serius, pria dengan surai merah bata itu. Sama sekali tidak pernah mengalihkan pandangannya dari depan layar, bahkan hanya untuk berbicara dengan orang disampingnya sekalipun dia tidak menoleh sama sekali. Sepertinya pertandingan ini memang benar-benar menarik baginya.

"Aku tidak tau, Gremory dan Sitri jelas dua kelompok yang berbeda. Sitri lebih mengandalkan otak, dan mereka adalah tipe [Taktik] dan jelas itu menguntungkan mereka dalam pertarungan ini, bagaimanapun hampir semua garis keturunan mereka mempunya kapasitas kepintaran di atas rata-rata... dan catat! Kesampingan Serafall Leviathan, entah mengapa aku sangsi jika dia adalah Sitri... otaknya pasti pernah terbentur sesuatu." Naruto cepat membalas pertanyaan Sasori, berusaha mengeluarkan opini apa yang ada dalam otaknya. Hanya secara jujur, dan itu membuat Sasori meringis saat pemuda di sampingnya menghina salah satu dari pemimpin Iblis.

"Tolong jaga ucapanmu, bagaimanapun bisa gawat kalau sampai Iblis mengetahui apa yang kau ucapkan. Akan terjadi perang besar lagi." Sasori mengingatkan, namun sekali lagi pandangannya tidak perna beralih dari monitor di depannya. "Bagaimanapun kau tidak bisa menilai seseorang dari penampilan luarnya. Dan bagaimana dengan Gremory?"

"Pepatah itu sudah lama basi kau tau? Jangan pernah menilai orang dari luarnya. Kau pikir dalam kehidupan berapa banyak penampilan yang merupakan cerminan orang itu sendiri. Ah! Dan satu lagi, aku memang mendukung Gremory. Tetapi sepertinya mereka kurang beruntung bertarung dalam situasi seperti ini, maksudku aku sudah cukup lama mengenal mereka. Dan aku tau mereka merupakan kelompok dengan tipe [Kekuatan] dengan perkembangan yang abnormal. Apalagi Issei. Dia adalah yang tergila dari semua yang tergila dalam perkembangan abnormal... aku tidak mau menjelaskannya lagi. Lebih baik kita tonton saja."

Dan dalam monitor besar yang menyala di ruang VIP, Naruto dapat melihat Issei dan Koneko yang berjalan beriringan dengan langkah sedang. Mereka berada di dalam interior toko Mall yang sepertinya sangat panjang seperti garis lurus yang membentang ke ujung. Bahkan meski dalam ruangan ini semua yang menyaksikan dari golongan para petinggi mampu mendengar gema suara langkah kaki mereka dengan jelas.

"Ah, itu kucingmu bukan Naruto?"

Naruto sedikit mengalihkan pandangannya kearah Sasori saat pria itu melihat wajah Koneko yang tiba-tiba mengeluarkan telinga kucing dan dua ekor miliknya. Dan Naruto memberikan sebuah seringai kecil atas pertanyaan itu.

"Tentu saja, dia adalah Koneko... dan ini salah satu alasan aku mendukung kelompok Gremory." Naruto membalas pernyataan Sasori saat itu juga, pandangannya masih sama. Tidak bisa lepas dari layar monitor yang ada.

[... Dengan kecepatan mereka, kira-kira dalam sepuluh menit.]

Naruto dapat melihat, Koneko yang menutup matanya berbicara pada Issei tentang musuh yang datang mendekat. Pemuda itu tau sepertinya Nekomata tersebut talah menggunakan Senjutsunya untuk hal seperti ini. dan hal itu membuatnya bertanya apa yang terjadi dalam pertemuan Koneko dengan kakaknya?

Naruto tau siapa yang datang, monitor telah memantau seluruh kegiatan kedua kelompok bagaikan mata kemera pengawas. Namun yang dia tunggu adalah reaksi dari Sekiryuutei, apa yang akan dia lakukan. Dia terlihat tenang bahkan dalam situasi seperti ini, tidak seperti biasanya seperti dia telah siap untuk hal seperti ini.

"Astaga, aku tidak menyanka." Itu ucapan Sasori sebelum dia tertawa dengan sebuah serangan kejut yang sangat kelihatan konyol. Bahkan saking gelinya dia akibat aksi tersebut, pria itu bahkan harus menyeka sedikit air mata yang keluar dari matanya.

Dan itu Saji, salah satu dari anggota kelompok Sitri yang berayun dengan sebuah tali dan berusaha menendang Issei untuk serangan lanjuttan. Untung saja, pemuda itu dengan cepat menggunakan Sacred Gearnya sebagai tameng untuk menahan serangan itu.

[Hyodou!]

Dari layar monitor Saji telah muncul, dan dia tidak sendiri ada seseorang disampingnya—lebih tepatnya seorang wanita disampngnya. Seorang gadis dari anggota kelompok Sitri, dan Naruto menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tapi sebuah benang yang menempel pada tubuh Issei dan bersambung dengan Sacred Gear Saji menarik perhatiannya. Mungkin memang tidak terlihat, namun sepertinya ada yang salah dengan benang itu.

"Benang itu, menghisap kemampuan atau tenaga lawan. Konsep yang hampir sama dengan senjata [Gereja Berjalanku]" seorang gadis di sebelah kiri Naruto mengeluarkan komentarnya, dia gadis dari golongan yang sama dengannya saat ini. Knight of the Roundtables.

"Maksudmu?" Naruto balik bertanya, tidak memperhatikan lawan bicaranya. Matanya sudah terlalu sibuk dengan semua pertarungan yang akan terjadi.

"Lihat dan pelajarilah. Templar."

Issei merasakan kekuatannya semakin tersedot jauh dari tubuhnya, ini bukan kekuatan pembali milik Vali atau apapun. Namun sesuatu seperti benang ini telah menyedot habis kekuatannya. Stamina dan tenaganya. Memandang kedepan dia melihat Saji yang sepertinya terlalu bersemangat untuk hal ini. banyak yang berubah darinya, dia seperti tidak seperti dulu.. ... seperti ada banyak luka di tubuhnya.

Entah latihan apa yang dia jalani, pemuda itu tidak ambil pusing. Namun dari sekian banyak yang berubah dari temannya itu. Sacred gear pemuda di depannya menjadi fokus perhatian Issei.

[Bukan hanya Kau yang berlatih Hyodou, tetapi aku juga berlatih. Dan memang benar... bagus kau sudah mengetahuinya.]

Pembicaraan pembuka, sepertinya belum ada yang mau menyiapkan serangan lanjutan. Meski pihak Sitri sudah menyedot kekuatan Kaisar Naga Merah.

[Bukan hanya kau, akupun juga berlatih bodoh. Bahkan sampai di kejar Naga...]

Issei mengerti, bahwa dia dan Saji adalah dua individu yang hampir sama. Dari sisi manapun kesetiaan dan sifat mesum mereka hanya sebelas dua belas berbeda. Dan karena itu pemuda bersurai kuning itu bisa memahami bagaimana perasaan Saji saat ini. karna memang hanya dia yang akan mengerti.

Dan karna itu dia harus mengalahkan Saji disini apapun yang terjadi... karena hanya seorang [Pion] yang bisa memahami perasaan [Pion ] yang lain.

Hanya seorang Naga yang bisa mengerti perasaan Naga yang lain.

Dan masih terhubung dengan benang yang terus menyedot kekuatannya Issei mulai melakukan kuda-kuda bertarung. Pemuda itu menyeringai saat mendapati gerakan yang sama dari Saji. Ini pertarungan antar sesama [Pion]. Tidak! Lebih dari itu... pertarungan ini lebih dari itu.

"Tunjukan kemampuanmu Sekiryuutei." Sasori tersenyum, melihat kuda-kuda asal-asalan ala Issei tersebut.

Issei maju berlari dengan cepat menuju Saji, namun tidak semua itu Saji menjadikan kakinya sebagai tumpuan putar dan berputar membiarkan Issei berlari melewatinya begitu saja. Anggota Sitri itu melayangkan sebuah pukulan telak buah hasil dari kecerobohan Issei.

Issei sedikit terhuyung, saat menerima pukulan itu. Namun sebuah suara mekanik seperti memberinya dorongan lebih meski kekuatan tersebut secara perlahan juga mulai tersedot. Dia kembali berdiri memasang seringai maniak bertarung kearah Saji.

[Tidak peduli sebanyak apapun kau mengandakan kemampuan, aku akan terus menghisapnya sampai habis.]

Tapi seakan tuli Issei tidak mempedulikan dan terus berlari, sebuah pukulan melayang kearah Saji dan pemuda itu berhasil menahannya. Namun dia tidak memprediksi pukulan lain yang datang kearahnya.

Bugh..

Saji ikut oleh, namun tiba-tiba tubuhnya tertarik seperti boneka kearah Issei yang sudah siap dengan pukulannya.

Bugh..

[Ghuaahh!]

Sedikit darah keluar memuncrat dan mengotori dinding dan baju kemeja sma Saji. Pemuda itu bangkit dan menyeka lukanya, menyaksikan Issei yang semakin lelah. Namun tatapan maniak itu tidak lepas dari sorot mata Sekiryuutei.

[Partner, jika kau terus mengunankan kekuatan penggandaan milikku itu akan berbahaya. Sekarang karena kau terhubung dengan Sacred Gear orang itu. Bagian dari kekuatanmu akan dicuri olehnya kalau kau gandakan.]

[Kau tidak punya pilihan lain selain memusnakannya memakai paska-kejutan dari pengaktifan Balace Breaker!]

Issei diam, suara Ddraig menggema dalam kepalanya. Bagaimanapun Dia benar, Sacred Gear Saji akan terus menerus menghisap kekuatannya. Meski dia mengandakan sebanyak apapun, Saji akan tetap menghisapnya.

[Tidak Ddraig, aku punya cara lain selain mengaktifkan Balance Breaker. Dia tidak akan mampu menahan semua penggandaanku dalam tubuhnya. Dia bukan Vali yang bisa mengubah kelebihan kekuatannya menjadi partikel cahaya... dia hanya bisa menyimpan semua kekuatan dalam tubuhnya... Cuma masalah waktu dimana tubuhnya tidak akan sanggup lagi.] Issei masih memandang Saji yang juga diam mandangnya.

[Lagian dia tidak akan menyadari ini... karna aku tau, dia seorang idiot sama sepertiku.]

Issei kembali maju dengan sebuah teriakan gila. Dalam sekejap ruang diantara mereka menyempit dan Issei melancarkan sebuah pukulan tepat sasaran.

Tidak saji berhasil menghindarinya dan berputar mengelilingi tubuh Issei dan kembali menendangnya. Tapi hampir terjatuh, pemuda Hyodou itu menarik benang yang terhubung dengannya dan memaksa Saji mengikuti arah jatuhnya.

Dan sebuah kaki sudah siap menunggu wajah Saji. Dan telapak kaki itu tepat mengenai wajah Saji, Issei memberikan tenaga pada kakinya untuk kembali melempar pemuda itu menjauh darinya.

Tidak peduli sebanyak apapun kekuatan yang dia hisap, Issei tau semakin lama tubuh Saji tidak akan mampu menahan kekuatan pengandaan yang terus menerus ada dan memasuki tubuhnya. Ini Cuma masalah waktu.

[Ini akan berakhir aku serius akan mengalahkanmu Hyudou!]

Saji berteriak marah, mengacungkan jari dia menambakkan perluru sihir yang kuat. Dan andai tidak sempat mengelak Issei sudah pasti yakin dirinya akan berakhir tragis, seperti lantai bangunan yang bolong tersebut.

[Serius kau mau membunuhku?. Tapi tidak buruk Saji.]

Issei menyeringai. Dia tau mata itu berisi sebuah tekad yang begitu kuat. Issei bisa tau sebuah keseriusan ada dalam pancaran mata itu

Tangan anggota Sitri itu terangkat keatas, dan sebuah energi domonic tercipta tidak terlalu besar. Namun Issei bisa merasakan kepekatan dari energi tersebut.

Dan energi itu ditembakkan.

Tapi sekali lagi Issei berhasil mengelak, dan kali ini deretan toko di belakangnya sudah menjadi hancur berantakan, oleh hembusan sihir tersebut.

[Bagaimana bi—]

"Benar Issei, akhirnya kau menyadarinya juga." Naruto berguman sendiri ketika bagaimana dia melihat wajah Issei yang shok saat mengetahui salah satu benang dari Sacred Gear temannya itu terhubung kedadanya... tidak! Itu terhubung ke jantungnya. "Dan, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

[Jangan bilang!]

Issei tidak bisa berkata lebih, dia paham dari mana sumber serangan gila-gilaan barusan. Pemuda itu sedikit bergetar. Melihat bagaimana keadaan Saji sekarang. Bergetar atas apa yang dilakukan Saji pada tubuhnya sendiri.. itu sesuatu yang gila. Terlalu gila bahkan untuk seorang idiot sepertinya.

[Itu benar. Dengan sihir payahku, hanya ini cara bagiku untuk menembakkan serangan kuat. Aku mencampurkan energi Sekiryuutei yang aku hisap darimu dengan energi kehidupanku sendiri. Dan menjadikannya energi serang yang gila dengan Sacred Gearku sendiri. Seperti yang kau lihat, aku mengorbankan nyawaku disini.]

Issei menggeram, dia benar-benar tidak percaya dengan ini.

[Apa kau benar-benar berniat mati disini hah !?]

[Ya, aku berniat untuk mati disini. Aku berniat mengalahkanmu jika harus mati disini adalah harganya aku siap mati! Apa kau memahami bagaiaman frustasinya kami saat impian kami ditertawakan! Apakau paham betapa sakitnya kami saat tidak ada yang menganggap serius impian kami! Kami—Tidak! Aku sakit hati saat ada yang menghina impian kami. Aku sakit saat melihat Kaichou harus menangis seorang diri saat selesai pertemuan hanya karena mereka semua menghina impiannya. Dan aku sakit melihat hal itu. Dan aku mengutuk diriku yang lemah karena tidak bisa membelanya]

Issei terdiam, mencoba membiarkan Saji melepaskan semua emosi yang ditahannya. Bagaimanapun mereka sama.

Hanya seorang Naga yang dapat memahami perasaan dari Naga lainnya.

[Aku selalu jujur padamu aku mencintainya. Aku sangat mencintainya hingga aku rela mati hanya untuk sebagai batu pijakan dari impiannya. Aku salah satu dari pewaris Darah Vitra dari para Dragon King. Aku sepertimu! Aku juga mempunyai Sacred Gear yang merupakan tempat Vitra.. dia Dragon King... sama sepertimu! Namun kenama aku begitu lemah!? Kenapa aku tidak bisa kuat sepertimu!? Apa yang salah!?]

Saji menangis, air mata itu jatuh. Namun dengan cepat dia menyeka.

[Dan secara perlahan aku mulai iri denganmu. Kebanggaan dari Majikan dan Senpaimu. Sang Sekiryuutei. Semua orang mengenalmu, meskipun kita sama. Meskipun kita [Pion] yang sama, aku tidak punya apa-apa! Aku tidak punya apa-apa! Aku tidak sepertimu! Dan kenapa itu!? Apa yang salah denganku? Apa yang membuat kita berbeda!? Apa itu, karena darah Sekiryuutei yang mengalir pada nadimu!?]

[Aku sama sepertimu! Aku juga ingin memiliki kebanggaan yang sama dari Majikan dan Senpaiku. Kebanggaan yang sama sebagai salah satu pemengang darah Dragon King.]

Itu teriakan Saji, dan Issei paham... temannya memandanganya sepeti itu

Issei masih terdiam, dia meresapi setiap perkataan yang keluar dari mulut temannya itu. Dia ingat bagaimana para dewan menertawakan Impian dari kelompok Sitri. Dia sangat tau bagaiaman Saji sangat mencintai seorang Sona. Dia sangat tau itu... dia mengerti perasaan itu.

Ya, karena mereka memang mirip. Mereka seorang [Pion]. Mereka adalah Naga pewaris dari darah Dragon King. Dan yang terpenting mereka adalah sama-sama mahluk Idiot.

Dan dari waktu berlalu, Koneko telah mengalahkan salah satu [Pion] Sona yang lain. Issei tau siapa dia dia adalah siswi yang bersama Saji tadi. Juga beberapa saat yang lalau [Peluncur] mereka juga sudah tumbang... dan Issei juga tau siapa dia.

[Issei-senpai, biarku bantu]

Koneko mendekat.

[Tidak Koneko-chan, biarkan aku menyelesaikan ini sendiri... hanya kami. Aku dan Saji.]

Issei segera menolak bantuan Koneko. Saat itu Koneko mengelengkan kepalanya.

[Koneko larilah keujung Koridor, disana yang lain sudah pasti menunggu] Issei melanjutkan perkataaannya saat dia melihat gestur Koneko barusan. [Aku mohon, bagaimanapun ini masalah yang harus kami lakukan sendiri]

[Baiklah, aku mengerti.]

Koneko, menurunkan kuda-kudanya. Dan berlari meninggalkan Issei dan Saji, sejenak dia menoleh kembali kebelakang dan tersenyum sebelum berbalik dan kembali berlari.

[Aku mengerti bagaiaman perasaanmu. Kau sama sepertiku, kita tidak berbeda... karena kita sama-sama seorang idiot yang sama. Mungkin hanya ada aku yang hanya merasa aku mengerti dirimu, sedangkan kau tidak merasa begitu. Tapi! Bagaimanapun mengorbankan nyawa hanya untuk ini adalah salah Saji! Kau berkata kau iri denganku! Kau berkata bahwa kau tidak pernah berguna bagi majikanmu!]

[Tidakkah kau sadar bahwa saat ini kau lebih dari tidak berguna! Tidakkah kau sadar itu! Lalu, mengapa kau memandangku seperti itu!? Kenapa kau memandang orang hanya dari luarnya saja?]

Issei balas berteriak kearah Saji, peluh mulai bercucuran di permukaan kulit pemuda itu. Dia sudah terlalu lelah hanya untuk ini.

Namun sepertinya ini memang harus diselesaikan sekarang juga. Ketika dua serangan sudah siap untuk diluncurkan saat diambang keterpurukan mereka siap untuk serangan masing-masing. Tatapan mereka teguh, tidak ada keraguan sedikitpun.

[Meskipun begitu aku akan mengalahkanmu... meski nyawaku adalah harganya!]

[Tidak, tidak akan ada yang mati disini! Aku akan mengalahkanmu lebih dahulu, bukan hanya kau yang punya impian Saji! Akupun juga punya impian!]

Itu benar bukan hanya Saji, diapun juga punya impian. Dia tidak akan mengalah pada impiannya sendiri.

[Terima ini, Hyudou!]

[Dragon Shot!]

Dua serangan itu saling beradu, meledak dan menghancurkan sekitarnnya. Efek gelombang kejut yang dasyat bahkan menghempaskan tubuh mereka berdua, menyebabkan benang yang menghubungkan mereka dari tadi terputus paksa... penggandaan Issei mulai berjalan normal. Tidak peduli bagaimanapun kondisi tubuhnya.

Hancur sudah, semua berakhir. Issei masih merasakan kesadaraan saat Sacred Gearnya mengirim ledakan tenaga besar pada tubuhnya. Membuatnya mendapatkan kekuatan lebih, namun tidak menghilangkan kelelahannya. Dia bangkit dan melihat sekeliling, toko-toko di deretan sini sudah hancur berantakan seperti terkena tornado. Dia berjalan terhuyung, dan mendengar rintihan yang amat dikenalnya.

Itu Saji.

Dan Issei mendekat.

[Bagaimana bisa kau?] itu Saji, dia menampilkan wajah yang kaget saat melihat dirinya masih selamat.

[Aku selamat karena aku tidak seperti dirimu, aku kuat dan aku berusaha untuk menjadi lebih kuat Saji. Aku tidak seperti mu yang menghabiskan waktu hanya untuk mengiri kepada orang lain. Kau hanya melihatku dari luar, kau tidak tau siapa aku sebenarnya. Apa yang aku korbankan untuk mencapai semua ini. aku seorang idiot, kau juga seorang idiot... kita adalah sama... kita mewarisi darah Naga dalam tubuh kita. Namun perbedaan kita Saji kau hanya kurang berusaha, kau begitu lebih memandang aku sampai kau buta akan dirimu. Kau memandang dirimu rendah pada kenyataannya banyak yang membanggakanmu. Kau terlalu sibuk memandang diriku sehingga kau tidak mengetahui siapa yang memandangmu dan apa kelebihanmu.]

[Berhentilah berfikir bahwa hanya kau yang paling menderita disini. Ini bukan cerita dimana semua orang tidak mengerti dirimu. Terkadang jalan hidup memang tak sesuai dengan apa yang kita impikan, tapi belum tentu itu yang terburuk bagi kita.. kau hanya cukup menjalani semua yang ada. Karna aku sama sepertimu, aku juga ingin semua memandangku.]

Untuk selanjutnya Issei tidak dapat berkata apa-apa lagi. Saji telah menutup matanya, dia tersenyum. Issei juga tersenyum menatap pemuda itu menghilang dalam kilauan cahaya. Dia menutup matanya berharap agar temannya itu dapat mengerti perkataannya.

Tapi...

Mungkin Saji akan mengerti dengan perkataanya. Ya, Saji pasti akan mengerti... karena merka sama.. mereka sama-sama seorang [Pion]. Mereka sama-sama seorang idiot, dan mereka sama-sama Naga.

Karena hanya Naga yang dapat mengerti perasaan Naga yang lain.

[Mari kita pergi Ddraig]

[Tak kusanggka kau bisa bersikap keren partner]

[Ahh~ jangan terlalu memuji... nanti aku bisa besar kepala]

Dan Issei berlali menyonsong lorong pertokoan yang telah hancur tersebut. Bagaimanapun dia harus memenangkan pertandingan ini, apapun yang terjadi kedepan.

"Bukankah itu pertandingan yang menarik, bukan begitu Naruto?" Sasori kembali membuka suaranya, pandangannya menatap Naruto yang sedari tadi masih memandang layar monitor.

"Ya kau benar, aku tidak menyangka Issei akan berkata seperti itu." Naruto membalas dengan cepat. Pemuda itu menutup matanya dan menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya kesar. "Bagaimanapun aku mengira dia akan melakukan Balance Breaker awalnya... dia memang sesuatu."

"Kau benar tapi perkataanku jangan menilai orang dari luarnya kau salah, teman." Sasori menyeringai mengetahui itu. Memandang Naruto dengan pandangan menuntut.

Pemuda bersurai pirang itu menghela nafas pelan sebelum berucap. "Aku kira kau benar, aku memang salah untuk hal ini."


Dan bersambung perkembangan akan mulai ada entah hanya menurut saya atau bagaimana? Fic ini mulai membosankan dan sangat membingungkan maka dari itu maafkan saya bagaimanapun.


Pertama mungkin ini sudah terlambat Naruto udah tamat. Terimakasih atas karyanya karna sudah menjadi bagian dari hidupku.

Kedua sepertinya saya memang author yang kurang ajar karena menginggkari janji untuk kesekian kalinya. Hah~ bagaimana lagi, pada saat itu saya memang merasa paling bisa. Namun saya kehilangan semuanya (binggung? Maka abaikan saja churhatan ini)

Hanya sanggup segini, ini sudah menjadi batasan saya... setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Soal kurang panjang maakan saya.

Tidak ada waktu untuk membalas Pm dan Riview?

Maafkan saya... saya sudah susah untuk menyentuh Dunia Fanfic lagi, saat ini sedang sibuk berkutat dengan berbagai pelajaran dan les sana-sini... jujur, bahkan saya sudah menyampaikan ini di setiap A/N dalam cerita saya. Tapi saya tetap mengharapkan review dari kalian.

Dan terlebih, tak ada yang ingin saya sampaikan lebih jauh lagi. Semua saya tunggu apapun itu, baik pertanyaan yang mungkin akan saya jawab maupun tidak, keritikan, pujian, bahkan hinaan dan cacian juga saya tunggu dari kalian.

Dan jika penasaran dengan kelanjutannya silakan review. Karna saya memang menunggu rview dari kalian.

Drak Yagami out!