Good day,

Pada akhirnya... chapter ketiga Stainless Rust berhasil saya selesaikan. Dikarenakan satu hal dan hal lainnya progress menuju chapter ketiga ini sedikit melambat.

Pada saat anda membaca ini, saya sedang menguap lebar dan menyeka ingus karena overlelah.

Now if you'll excuse me, I really need to get a life.


UPDATE:

Terima kasih atas review yang telah diberikan di chapter kedua.

Running Until 300KMH: 1. Setting waktu sudah disebutkan dengan jelas bahwa chapter kedua mengambil 6 tahun masa SD Kaga dan Akagi, dimulai dari awal mereka masuk SD. 2. Percepatan pace terjadi karena 2 hal: a. Format pengetikan asli yang tidak di-support oleh format tampilan FFn, b. Plot sengaja dibuat melompat karena saya hanya menyampaikan kejadian-kejadian yang dirasa perlu. Setelah berdiskusi dengan salah satu rekan, pace sedikit lebih baik ketika anda merubah format tampilan baca web dengan merubah story width menjadi 1/2 dan line spacing menjadi tighten. Terima kasih atas dukungannya!

mamanix: Terima kasih atas dukungannya!

Yami-chan Kagami: Percepatan pace terjadi karena 2 hal: a. Format pengetikan asli yang tidak di-support oleh format tampilan FFn, b. Plot sengaja dibuat melompat karena saya hanya menyampaikan kejadian-kejadian yang dirasa perlu. Setelah berdiskusi dengan salah satu rekan, pace sedikit lebih baik ketika anda merubah format tampilan baca web dengan merubah story width menjadi 1/2 dan line spacing menjadi tighten. Ya, pemikiran stereotipe seperti itu masih sering terjadi di berbagai lapisan masyarakat sehingga banyak orang yang tidak bisa mengekspresikan diri mereka lantaran batasan-batasan toleransi masyarakat yang terlalu sempit. Terima kasih atas dukungannya! Saya turut menanti karya Kancolle anda lainnya.

Donattchi: Syukurlah anda memiliki scene-scene favorit. Rasanya tidak sia-sia saya menggambarkan banyak scene dengan perasaannya masing-masing. Terima kasih atas dukungannya!

DJ-san: Hahaha, jadi ingat Like A Letter yang masih mendekam di akun lama, ya? Natsukashii. Wah ternyata anda memiliki interpretasi sendiri mengenai ucapan Akagi dan Kaga di sana, senang mengetahui hal itu! Terima kasih atas dukungannya!


- disclaimer -

Kantai Collection copyright by Kadokawa Games and DMM -dot- com

- warning -

multichapter fic with a very unpredictable progress

you have only seen the tiniest part of it

this pureness has started to get stained by these hands of mine

PLOT AKAN BERUBAH

GENRE AKAN BERUBAH

RATING AKAN BERUBAH

SEMUANYA AKAN BERGEJOLAK SEBAGAIMANA OMBAK YANG MENENGGELAMKAN MEREKA PADA PERANG MIDWAY


BERKEMBANG

ber∙kem∙bang v 1 mekar terbuka atau membentang (tt barang yang berlipat atau kuncup); 2 menjadi besar (luas, banyak, dsb); memuai; 3 menjadi bertambah sempurna (tt pribadi, pikiran, pengetahuan, dsb); 4 menjadi banyak (merata, meluas, dsb)


Sakit fisik. Sakit yang disebabkan oleh kuman, atau bakteri, atau virus sehingga sistem kekebalan tubuh melemah. Sakit yang bisa menular pada orang lain, dengan atau tanpa kontak fisik. Ada juga sakit yang disebabkan pengenaan kekerasan fisik, oleh orang lain, atau malah diri sendiri. Timbul luka dengan skalanya masing-masing. Sakit yang nyaris tidak menular pada orang lain, namun seringkali merusak jiwa.


Saat itu musim dingin. Ujian akhir sekolah sudah berlalu dan ujian masuk sekolah menengah tinggal menghitung hari. Kaga di depan meja belajarnya menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengerjakan beberapa masalah matematika dan mengalihkan pandangannya keluar menembus jendela. Di luar salju turun dengan perlahan namun berbondong-bondong. Ingatannya bermain kembali dan membawanya ke saat ia dan Akagi duduk di tepi sungai hari itu. ...Jika berhasil masuk ke SMP yang sama, ya, batinnya. Kaga menutup bukunya dan berjalan meninggalkan kamarnya, berjalan menuju dojo.

Setiap ia merasa jenuh, Kaga akan pergi ke dojo untuk melepas beberapa anak panah sampai pikirannya kembali jernih, tidak peduli jika itu tengah malam sekalipun. Di ruang ganti ia menatap cermin sekelebat saja – Kaga tidak suka bercermin, namun ada perasaan yang mengganjal di hatinya sehingga ia kembali menatap cermin itu. Dipandangnya refleksi dirinya. Tangannya meraih ujung rambutnya. ...Memanjangkan rambut, ya, batinnya. Mestinya tidak usah dibayangkannya visualisasi jika rambutnya panjang, tapi apa boleh buat jika sudah terlanjur. Dengan wajah memanas Kaga menjauh dari cermin dan cepat-cepat mengenakan seragam kyuudo-nya.

Biasanya Kaga hanya membutuhkan 3-5 anak panah untuk menjernihkan pikirannya, tapi sekarang ia sudah siap menembakkan panah ketujuh.

STAK!

"Tidak biasanya melenceng seperti itu."

Kaga menoleh, ayahnya berjalan mendekatinya.

"...Mungkin kelelahan," jawabnya ragu. Ia mengecek panah terakhirnya, memang meleset.

Ayahnya duduk di tepian dojo yang mengarah ke lapangan panahan, memandang putri semata wayangnya, menepuk-menepukkan telapak tangannya di sampingnya – meminta Kaga duduk di sana. Kaga pun meletakkan busur dan anak panahnya kembali ke tempatnya dan duduk di samping ayahnya.

"Gugup ujian masuk?" tanya ayahnya diiringi belaian lembut di kepalanya.

"...Tidak terlalu," jawabnya.

"Masalah lain?" tanya ayahnya lagi.

"...Mungkin," jawabnya lagi.

"Pribadi?" sekali lagi ayahnya bertanya.

"...Begitulah," jawabnya menutup percakapan mereka.

Ayahnya kemudian mengecup dahinya dan memeluknya erat. Kaga balas memeluk dan menepuk-nepuk punggung ayahnya, membuat seolah-olah ayahnya lah yang tengah didera gundah gulana. Melihat anaknya tampak lebih baik, ayahnya melepas pelukannya.

"Kalau kau lulus ujian masuk, aku akan membelikanmu busur archery."

Kaga terperangah mendengar ucapan ayahnya. Sejak menonton kejuaraan panahan modern tingkat nasional beberapa waktu sebelumnya ia memang terlihat ingin mencoba panahan modern, namun sayang semua tempat latihan tidak akan menerimanya karena ia belum berusia 15 tahun.

"Hanya untuk hobi, janji?" ayahnya menyodorkan kelingkingnya, janji kelingking.

Kaga mengangguk tegas dan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking ayahnya, kemudian memeluk erat ayahnya dengan sebuah senyum menghias wajahnya dan berlari menuju kamarnya.

"Jangan tidur dengan seragam kyuudo!" seru ayahnya dari dojo.

Paginya saat Akagi tiba di dojo Kaga baru saja menyelesaikan ritual 1.000 anak panahnya.

"Kaaaga-chan!" panggilnya seraya melompat ke arah Kaga.

Dan seperti biasa, Kaga hanya akan mendorongnya menjauh sebelum Akagi mencoba menciumi pipinya. Akagi hanya tertawa sambil terus berupaya mendapatkan pipinya, juga sambil mengamati Kaga yang terlihat lebih segar hari ini.

"Sepertinya ada hal baik yang sedang terjadi, ne, Kaga-chan," godanya diiringi sikutan di perut Kaga.

Kaga hanya menggerutuinya dengan wajah memerah sebelum menyeretnya ke ruang ganti agar segera mengganti bajunya dengan seragam kyuudo.

Sejak disibukkan dengan ujian sekolah dan hal lainnya Kaga dan Akagi hanya berlatih setengah hari di akhir pekan, lalu melanjutkan sisa hari dengan belajar bersama. Akagi sangat lemah dalam pelajaran matematika sehingga Kaga harus mengajarinya pelan-pelan. Lambat laun belajar bersama itu lebih terlihat seperti tutoring.

"Rasanya tidak sabar ingin menjadi anak SMP dan berjalan setiap pagi ke sekolah bersama Kaga-chan," ucap Akagi yang tengah menempelkan dagunya di meja.

"...Malas-malasan seperti itu apa bisa masuk ke sekolah yang sama?" tanya Kaga sambil mengoreksi pekerjaan Akagi.

"Jahatnya," gerutu Akagi.

"...Memang jahat."

Akagi menghela napas panjang dan berbaring di lantai.

"...Hebat, tidak ada yang salah."

Akagi menoleh dan bangkit kembali duduk. Dilihatnya Kaga menyerahkan pekerjaannya dengan sebuah senyum kecil. Akagi membalas senyum itu dengan seringai lebar, menunjukkan kepuasan dirinya.

+ SR +

Hari di mana ujian masuk itu pun tiba. Kaga berhasil melalui tes tersebut tanpa merasa kesulitan, persis seperti asumsi orang-orang. Harapan dirinya diterima pun jelas besar. Di lain pihak, Akagi merasa dirinya cukup bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan, tetapi rasa khawatir bahwa dirinya mungkin saja tidak diterima ada dan nyata. Namun demikian Akagi tidak menaruh peduli akan pemikiran yang dipenuhi kesia-siaan itu.

Asumsi itu pun terbukti. Ini adalah hari di mana surat pengumuman penerimaan siswa baru dikirim ke setiap rumah peserta ujian. Kaga berjalan masuk kembali ke dojo dengan membawa amplop coklat panjang yang tipis. Sambil berjalan menuju rumahnya ia membuka amplop itu.

"Kaga-chan, siapa yang datang?" tanya ibunya di dapur.

"...Ini," jawab Kaga sembari menunjukkan surat penting tersebut.

"Cepatlah dibuka. Kami penasaran dengan hasilnya," sahut ayahnya yang tengah membaca koran pagi.

"...Memang sudah dibuka," jawab Kaga seraya meletakkan kertas tersebut di atas meja makan dapur dan kembali menuju dojo.

Di kertas itu jelas tertulis bahwa Kaga lulus ujian masuk dengan nilai sempurna, tidak mengejutkan sama sekali.

Sekembalinya Kaga ke dojo, Akagi sudah berdiri di sana, lengkap mengenakan seragam kyuudo dan pelindung tubuhnya.

"Pagi," sapanya riang.

"...Hasilnya?" Kaga dengan cepat mengalihkan pembicaraan ke topik utama.

Akagi hanya geleng-geleng kepala dan mengeluarkan secarik kertas dari kantong hakama-nya. Kaga mengambil kertas itu dan membacanya seksama, menelusuri tabel berisi skor tiap mata pelajaran yang diujikan hingga keputusan akhirnya.

"Sepertinya kau harus memanjangkan rambutmu, Kaga-chan," ucap Akagi.

Kaga melipat kertas itu dan hanya tersenyum kecil. Di hadapannya adalah si kuda hitam, Akagi, yang telah berhasil menyamakan irama dengannya, dengan skor sempurna pada semua materi ujinya.

+ SR +

Tahun ajaran baru dimulai seiring musim semi yang datang menyingsing. Butir putih salju kini tersapu oleh kelopak sakura yang lembut.

"Alat tulis?"

"...Sudah."

"Sapu tangan?"

"...Sudah."

"Ini bento spesialnya, daaan Kaga-chan siap menempuh kehidupan yang baru."

Kaga menerima tas jinjing yang diberikan ibunya dan mengintip ke dalam tutup kotak bekalnya yang bening berembun. Ia tahu apapun isinya, masakan ibunya adalah yang terbaik. Setelah berpamitan ia pun melangkah keluar rumah.

Di depan pagar rumahnya Akagi sudah menunggu.

"Kaaaga-chan!"

Panggilan khas itu tak pernah lekang oleh waktu. Meskipun kini keduanya telah beranjak dewasa. Meskipun sedikit-sedikit Akagi berubah. Ya, Akagi berubah. Rambutnya kini panjang menutupi punggungnya, membuatnya terlihat lebih dewasa – terlebih saat ia tersenyum. Perubahan itu pun berpengaruh pada Kaga. Panggilan itu selalu membuatnya tersenyum. Saat Akagi melompat atau menubruknya untuk menciumi pipinya pun ia hanya menurut. Dan mungkin hanya Akagi lah yang diizinkannya melihat semua hal itu.

"Ayo berangkat! Aku tidak mau terlambat di hari pertama sekolah!" seru Akagi manja.

Entah sejak kapan semua tentang Akagi membuatnya secara natural tersenyum, ia sendiri tak tahu. Meskipun begitu ia hanya tersenyum dan menggenggam tangan anak yang setahun lebih tua itu lalu menembus terpaan kelopak sakura bersama-sama.

Sekolah itu bisa dibilang sekolah yang prestisius untuk ukuran sekolah umum. Bangunannya sengaja dibangun dengan nuansa sekolah barat kuno, tetapi terlihat megah dengan taman depan yang cukup besar. Bangunan utamanya ada di tengah-tengah lahan, dengan dua bangunan yang lebih kecil mengapit di kanan kirinya. Yang di sebelah kiri adalah gedung praktikum, sedangkan yang di sebelah kanan adalah gedung klub. Lapangan sekolah terletak di samping gedung klub, dengan gedung olah raga indoor yang sekaligus merangkap auditorium di belakangnya.

Papan daftar kelas dipampang tak jauh dari gedung utama. Kaga dan Akagi sibuk mencari nama mereka sambil berhimpitan dengan yang lainnya. Untuk pertama kalinya mereka berada di kelas yang sama. Setelah menemukan kelasnya, mereka pun segera menuju ruang kelas.

Kelasnya berada di sayap kiri gedung, dekat dengan pintu keluar samping menuju ruang praktikum. Urutan tempat duduk sudah ditentukan berdasarkan abjad nama. Suatu kebetulan Kaga dan Akagi duduk berdekatan. Akagi duduk di urutan kedua deret paling kiri sedangkan Kaga duduk di meja sebelahnya. Kelas mereka masih sepi dan setidaknya mereka masih memiliki 30 menit sebelum upacara penyambutan siswa baru dimulai, jadi mereka putuskan untuk berkeliling sebentar.

Pada dasarnya letak ruangan kelas dan ruang prasarana utama sekolah ditempatkan di tempat yang mudah diingat. Semua kelas terletak di sayap kiri gedung utama, sedang ruang prasarana ada di sayap kanan. Di lantai dasar adalah ruang kesehatan dan ruang guru. Perpustakaan ada di lantai dua, dan di lantai tiga adalah ruang kepala sekolah dan ruang OSIS. Toilet ada di setiap lantai, terletak di sayap kanan gedung, tepat bersampingan dengan tangga utama. Di ujung-ujung sayap juga tersedia tangga sehingga memudahkan akses selama berada di gedung utama. Mading sekolah tertempel di dekat tangga di setiap lantainya. Atap sekolahnya luas dengan desain taman atap. Kantin sekolah berada di ujung sayap kanan lantai dasar.

Setelah puas berkeliling keduanya pun berjalan menuju auditorium.

Selayaknya semua upacara di belahan bumi manapun, upacara penyambutan siswa baru itu terasa kolot dan membosankan. Setidaknya begitu menurut Akagi. Ia tidak pernah mengambil pusing sekelilingnya sehingga ceramah panjang kepala sekolah di atas mimbar itu serupa isapan jempol belaka. Ia pun tahu Kaga juga begitu, hanya saja Kaga adalah manusia yang sudah terprogram untuk menghormati apapun – sekalipun itu bukanlah hal yang dia suka – dan Akagi pun menghormati Kaga dengan tidak mengganggunya meskipun memang keduanya sama-sama tidak peduli dengan ceramah berstruktur sama setiap tahunnya itu. Alih-alih, ia memperhatikan Kaga. Seingatnya dulu Kaga jauh lebih besar darinya, tapi kini mereka hanya beda beberapa sentimeter. Rambutnya pun kini lebih panjang (setelah kalah taruhan Kaga tidak memotong rambutnya sama sekali). Mungkin bulan depan sudah bisa dikuncir. Tanpa sadar, membayangkan Kaga dikuncir membuatnya tertawa kecil dan yang bersangkutan menatapnya bingung.

Hari pertama mereka dihabiskan dengan pengarahan dari wali kelas. Pengenalan sistem pembelajaran SMP, hal-hal baru yang membedakan SD dengan SMP, kegiatan klub, organisasi sekolah, dan tetek bengek lainnya. Secara umum tidak ada perubahan yang signifikan perihal akademis. Mungkin yang membedakannya hanya situasi di mana setiap murid akan memulai kehidupan bermasyarakat di sini.

Setelah bel terakhir berbunyi seisi kelas mengucapkan salam kepada wali kelasnya dan dengan keluarnya wali kelas dari ruang kelas, sekolah dinyatakan usai. Kaga yang sedang merapikan selebaran serta catatan-catatan kecil lainnya menyempatkan diri untuk melirik tetangganya. Seperti dugaannya, Akagi tengah mengobrol dengan beberapa teman barunya. Pembawaan Akagi yang ramah dan tidak memilih-milih kembali menjadi modal keberuntungannya dalam bersosialisasi. Kaga beranjak dari kursinya dan berniat menunggu Akagi selesai mengobrol di perpustakaan saja, tetapi baru ia berdiri Akagi pun ikut bangkit dari duduknya.

"...Tidak apa-apa, aku akan tunggu di perpustakaan," jelas Kaga merasa tak enak. Apalagi mata teman-teman Akagi ikut tertuju padanya.

"Tidak, aku juga sudah selesai," jawab Akagi seraya menyambar tasnya.

"Perkenalkan, ini sahabatku sejak kecil, Kaga-chan," ucap Akagi mengenalkan Kaga pada teman-teman barunya.

Mereka menyapa Kaga sekenanya, lalu berpamitan pada Akagi.

"...Mereka terlihat baik," kata Kaga memecah hening di antara keduanya.

Akagi mendengus dan hanya menjawab, "Terlihat."

Keluar dari kelas, keduanya pun memutuskan untuk menelusuri dua gedung yang mengapit gedung utama.

Tidak ada hal yang istimewa di gedung praktikum. Isinya sesuai dengan namanya. Hanya saja dikarenakan ruang musik ada di sana, ruang klub musik di gedung klub hanya sebatas untuk menyimpan berkas-berkas klub dan barang-barang anggota. Hal yang sama juga berlaku bagi klub-klub yang berkecimpung di bidang olah raga. Klub lainnya tak cukup untuk mengindahkan mata keduanya, jadi mereka putuskan untuk menyudahi eksplorasinya. Hari yang masih siang pun membawa keduanya kembali ke dojo untuk menghabiskan sisa hari itu.

+ SR +

Dalam waktu sekejap lagi-lagi Kaga sudah menduduki peringkat teratas daftar siswa teladan sekolahnya. Decak kagum serta geram kompetitif mengiringi setiap langkahnya dalam menelusuri kehidupan SMP-nya. Demikian pun Kaga diam saja dan terus menjalani hari-harinya sebagaimana mestinya. Toh diam saja ia seumpamanya rumah yang di balik pagarnya siaga seekor anjing penjaga – Akagi selalu mengekor ke mana ia pergi.

Begitu pun tak sedikit yang menaruh hati pada Kaga. Namun sayang mereka tak cukup jantan untuk mengetuk pintu hatinya lantaran sudah digonggongi Akagi jauh sebelum mereka sampai di gubuk hatinya.

Hal serupa pun tak luput bagi Akagi. Entah sudah berapa banyak lelaki yang dikecewakannya. Mau bagaimana pun isi kepalanya tak jauh-jauh dari Kaga, kyuudo, Kaga, dan Kaga. Dorongan untuk melindungi Kaga dari trauma ijime di masa SD mereka perlahan membangun pribadi keras jauh di dalam dirinya. Dikuburnya dalam-dalam sisinya yang itu, harus disimpan untuk waktu yang tepat.

+ SR +

Jumat sore sepulang sekolah, Kaga dan Akagi bergegas menuju dojo. Ini adalah hari di mana latihan memuncak sebelum esok dan lusa semua pemanah tersebut akan bertanding. Setelah memberi salam sebelum masuk ke dalam dojo, keduanya cepat-cepat melangkah menuju ruang ganti. Keduanya dikejutkan dengan kehadiran dua perempuan yang kelihatannya 4-5 tahun di atas mereka.

"Hei, apa yang anak kecil lakukan di sini?" pekik perempuan yang mengenakan kimono berwarna hijau muda.

"Ini bukan tempat untuk bermain. Cepat keluar," suruh perempuan lainnya yang mengenakan kimono berwarna oranye.

Kesal dianggap anak kecil Akagi pun menyahut, "Kalian yang siapa, bisa-bisanya ada di dojo ini?"

Si kimono oranye tersulut, begitu pun dengan Akagi. Namun sebelum adu jotos tak terelakkan Kaga melangkah mendekati dua perempuan yang lebih tua itu dan bersujud meminta maaf. Melihatnya Akagi tercekat dan semakin kesal. Ia tidak suka melihat Kaga merendah sedemikian.

"Kaga-chan, apa—"

"...Mohon maafkan kelancangan kami. Selamat bergabung dengan dojo ini, semoga kalian bisa berkembang bersama dojo ini."

Semuanya terdiam. Kaga bangkit dan segera melepas seragamnya untuk berganti dengan seragam kyuudo. Akagi yang masih kesal akhirnya hanya mendengus dan mengikuti Kaga. Dua perempuan tadi meninggalkan ruang ganti tanpa berkata apa-apa.

Sekembalinya Kaga dan Akagi ke ruang latihan dojo, mereka melihat dua perempuan yang sebelumnya duduk di barisan murid yang belum berkualifikasi untuk mengikuti pertandingan panahan tradisional Jepang tersebut. Saat keduanya melangkah menuju tempat yang sama, latihan diistirahatkan. Banyak sapaan yang ditujukan pada keduanya, mengingat keduanya sejak kecil sudah berlatih kyuudo dan memang hanya keduanya pemanah termuda yang handal di dojo tersebut. Dikarenakan dua perempuan tadi duduk tepat di depan rak busur, mata Akagi dengan si kimono oranye kembali bertemu.

"Mencolok sekali," ejek Akagi.

"Sayang sekali tidak ada yang bisa kalian pamerkan," lanjutnya menyulut pertengkaran.

Si kimono oranye bangkit namun sebelum sempat membalas ejekan Akagi, Kaga menyerahkan dua busur; pada si kimono oranye, pada Akagi.

"...Hormati tempat kalian berada."

Pemberian dua busur itu menandakan pemberian tantangan untuk menunjukkan jiwa kyuudoka dalam diri keduanya. Akagi dan dua pemanah itu mengikuti Kaga berjalan menuju arena latihan. Melihat panasnya aura di antara keempatnya, seisi dojo heboh menanti hasil akhir pertandingan intra tersebut.

"...70 meter, 6x6 anak panah," jelas Kaga kemudian.

Baik si kimono oranye maupun Akagi, keduanya menelan ludah.

"Lihat dirimu. Kau berkeringat," ejek si kimono oranye pada Akagi.

"Lihat juga dirimu. Tanganmu gemetar," ejek Akagi pada si kimono oranye.

Keduanya pun memasuki area panahan 70 meter dan melayangkan pandangannya pada bantalan target yang bagian tengahnya pun hanya terlihat setitik. Setelah menelan ludah sekali lagi, si kimono oranye maju pertama.

Dari tempatnya berdiri, Kaga memandang si kimono hijau muda yang berdiri di sampingnya.

"...Kalian Souryuu dan Hiryuu, bukan?" tanyanya.

Si kimono hijau muda menoleh.

"Bagaimana kau bisa tahu nama kami?" tanyanya balik.

"...Semalam ayahku memberi tahu kalau hari ini akan ada dua perempuan yang mulai berlatih di dojo," jawab Kaga.

Si kimono hijau muda terdiam dan terlihat berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian ia terkejut dan memandang Kaga.

"Kau anak pemilik dojo ini!?" pekiknya.

Kaga hanya memandangnya datar dan mengulurkan lengannya, mengajak perempuan yang lebih tua itu bersalaman.

"...Kaga."

"...Souryuu."

Perempuan yang lebih tua itu nampak gugup lantaran sejak datang dan meminta izin untuk bergabung kemarin, pemilik dojo sempat menceritakan putrinya dan sahabatnya yang merupakan dua ace termuda di dojonya. Ia menatap sahabatnya yang tengah melepaskan anak panah dari jarak 70 meter itu dengan miris. Hiryuu-chan, kau salah memilih orang untuk dijadikan lawan, desahnya dalam hati.

Cukup dengan melihat yugake yang dikenakan perempuan bernama Hiryuu itu baik Kaga dan Akagi maupun seluruh pemanah di dojo sudah bisa menebak hasil akhir pertandingan kecil tersebut. Yugake adalah sarung tangan yang dikenakan di tangan kanan kyuudoka. Ippongake atau sarung jari satu adalah sarung tangan yang hanya menutupi ibu jari pemanah dan umumnya hanya dikenakan oleh pemula, sedangkan umumnya, pemanah menggunakan mitsugake (sarung jari tiga) atau yotsugake (sarung jari empat), tergantung jenis busur dan anak panah yang digunakan. Hiryuu yang menggunakan ippongake jelas menunjukkan identitasnya sebagai pemanah pemula. Akagi yang biasanya menggunakan mitsugake pun tak ingin membuat lawannya ciut – meskipun ia sudah keburu tidak menyukai Hiryuu, ia sengaja membiarkan yugake-nya mendekam di dalam kantong hakama-nya. Sebagai gantinya ia memasang plester di ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah tangan kanannya lalu melapisi telapak tangannya dengan bedak agar tidak cepat berkeringat. Anak panah Hiryuu memang tak satupun mengenai tengah sasaran, bahkan hanya ada dua anak panah yang bisa mengenai bantalan berjarak 70 meter tersebut. Namun begitu pun Akagi tak pula mampu mengenai tengah sasaran.

"Sepertinya kita impas," ucap Akagi sedikit tidak terima.

Hiryuu hanya mendengus, kesal dikalahkan bocah.

"Hiryuu-chan, sudah kukatakan jangan meremehkan mereka," ucap Souryuu sambil berjalan mendekati mereka berdua bersama Kaga.

"Mereka adalah dua ace termuda dojo ini," lanjutnya kemudian.

Yang diajak bicara mendadak diam. Ia lalu memandangi sosok yang baru dilawannya. Sosok bocah menyebalkan itu kini tengah berlari menuju bantalan sasaran yang baru mereka gunakan dan mengambil semua anak panah yang menancap di sana. Kemudian ia melayangkan pandangannya pada sosok bocah yang satunya. Dengan tenang sosok itu memakai mitsugake-nya dan sekaligus mengambil dua anak panah. Dalam satu tarikan napas sosok itu menarik mundur kedua anak panahnya.

"Kaga-chan tega sekali membiarkanku sendiri mengambil semua anak panah i—"

PSHIU!

Dan dalam satu tarikan napas tadi ia melepaskan dua anak panah itu, melihat keduanya meluncur dengan sangat cepat menuju sasaran.

STAK!

Dan kedua mata anak panahnya berjejal masuk tepat di tengah sasaran.

Kaga kemudian memandang Akagi yang terduduk lemas gelagapan menatapnya. Rupanya saat melepaskan kedua anak panah tadi Akagi tengah berjalan ke arahnya dan ia tidak menyadari hal itu. Nyaris saja dua anak panah liar itu membelah kepalanya.

"Sasuga* Kaga-chan," seru pemanah lainnya seraya mendekat untuk melihat hasil tembakan Kaga barusan.

Di dalam kerumunan itu Kaga berbalik dan menatap Hiryuu dan Souryuu. Keduanya tercekat dan menatapnya gugup. Tiba-tiba saja keduanya bersujud dan berseru, "Jadikan kami muridmu, guru!"

+ SR +

Musim panas datang menyingsing angin sejuk musim semi. Seragam musim semi yang panjang kini berganti dengan seragam musim panas yang pendek.

"Panasnya..."

Di dalam kelas Akagi menggerutui terik awal musim panas sambil mengipasi tubuhnya dengan buku catatannya. Rambutnya yang panjang dikuncirnya sehingga tidak menutupi lehernya. Di sampingnya Kaga masih sibuk menyalin catatan ke buku yang lain. Akagi yang tidak mendapat respons hanya memandangi Kaga dalam diam. Baru beberapa detik, ia mendadak bangkit dari kursinya dan duduk di atas meja belakang Kaga. Ditariknya rambut Kaga yang sudah sebahu ke atas dan dengan cepat menguncirnya. Kaga yang kaget hanya memukuli sebelah lutut kaki Akagi dengan tangan kirinya lalu mencengkeramnya. Daripada menguncir rambutnya, Akagi lebih terlihat seperti sedang menjambaknya sehingga rasa pedas menjalar di seluruh permukaan kepalanya.

"...Apa yang kau lakukan, bodoh!?" bentak Kaga kesal.

Yang dibentak hanya tertawa terbahak-bahak.

"Maaf Kaga-chan, maaf," katanya terbata-bata akibat berbicara sambil menahan tawa.

Kaga mengusap-usap kepalanya yang masih terasa pedas akibat jambakan Akagi, sedang Akagi mengeluarkan cermin kecil dari saku roknya dan membukanya, memposisikannya di samping kepala Kaga sehingga Kaga bisa melihat hasil kuncirannya.

"...Siapa dia?" tanya Kaga risih sambil menunjuk refleksi dirinya di cermin milik Akagi.

Pertanyaan Kaga barusan kembali menyulut tawa Akagi. Kemudian Akagi turun dari meja dan menarik kursinya ke sebelah Kaga. Ia memandangi Kaga cukup lama sebelum kemudian melepas ikat rambut yang menguncir rambut Kaga.

"Kaga-chan, coba punggungi aku," pintanya kemudian.

Kaga hanya menurut dan merubah posisi duduknya 90 derajat sehingga membelakangi Akagi.

"...Jangan jambak lagi," pinta Kaga balik padanya.

Akagi hanya menjawabnya dengan senyum. Ia tahu Kaga pun tahu bahwa ia mengiyakan permintaan sahabatnya barusan, meskipun Kaga tidak mendengar jawaban dari mulutnya, meskipun Kaga tidak melihat senyumnya. Akagi mendekatkan dirinya pada Kaga, lalu dengan lembut menyisir rambut Kaga yang sedikit bergelombang dengan jemarinya dan mengumpulkannya di samping kepala Kaga lalu menguncirnya. Side ponytail. Akagi terdiam cukup lama memperhatikan perubahan tersebut.

"...Sudah?"

Akagi masih terdiam.

"...Sudah, belum?"

Akagi masih terdiam.

Dengan inisiatif sendiri Kaga membalikkan badan dan menatap Akagi yang tampak melamun.

"...Akagi-san," panggil Kaga sambil melambaikan tangannya di depan wajah Akagi.

Akagi pun tersadar dari lamunannya. Ia kini berhadapan dengan Kaga dan side ponytail-nya. Entah karena alasan apa wajahnya memanas, namun dengan cepat ia menutupinya dengan tawa terbahak-bahak. Melihat reaksi yang demikian, wajah Kaga kontan memerah. Dengan kesal ia mendorong kepala Akagi ke mejanya, memaksa si rambut panjang itu mencium buku catatannya. Kegaduhan yang mereka buat ternyata menarik cukup perhatian warga kelas lainnya. Beberapa anak terkesima melihat perubahan pada diri Kaga dan memujinya. "Kaga-san cantik sekali," atau, "Kaga-san manis sekali," kini mengisi seluruh penjuru kelas. Banyak anak perempuan yang mengelilinginya dan mendadak berubah sikap 180 derajat – dari yang biasanya segan atau malahan takut tentunya, beberapa anak lelaki bahkan ikut berbisik-bisik. Kaga yang tidak biasa menjadi pusat perhatian pun mendadak gugup dan panik. Akagi bangkit dari duduknya dan menyeret Kaga keluar dari kerumunan semut di mejanya.

"Maaf tapi Kaga-chan milikku seorang," katanya polos sebelum menyeret Kaga keluar kelas.

Dari dalam kelas, terdengar banyak suara cemburu lantaran mainan baru mereka direbut.

Keduanya berhenti melangkah setelah menutup pintu atap sekolah di belakangnya. Kemudian Akagi berjalan mendekati pagar pembatas dan duduk bersandar di sana. Kaga mengikutinya.

"...Terima kasih," ucap Kaga setengah berbisik.

"Tentu," balas Akagi ringan.

Akagi mengerti sekali bahwa Kaga tidak suka menjadi pusat perhatian orang sebanyak itu. Jangankan saat dikerumuni orang banyak, satu orang saja mulai mendekati privasinya ia akan risih. Mungkin semua itu dikarenakan sejak kecil Kaga tidak sering bergaul dengan anak seusianya. Mungkin semua itu dikarenakan buku-buku bertema dewasa yang hampir selalu menggambarkan kerasnya hidup pada Kaga. Mungkin. Akagi memandangi Kaga yang masih berusaha menenangkan diri. Tanpa sadar tangannya kini meraih wajah sahabatnya dan mengelus kedua pipinya dengan lembut. Kaga cukup kaget melihat tindakannya, namun ia hanya melemparkan pandangannya ke tempat lain dengan wajah memerah.

"Kaga-chan selalu cantik," bisik Akagi seraya mengantukkan dahinya dengan milik Kaga.

"...Terima kasih," balas Kaga seraya memejamkan kedua matanya dan menggenggam kedua tangan hangat Akagi yang masih merengkuh wajahnya.

Keduanya kemudian berpelukan, merasakan detak jantung masing-masing yang semakin cepat, seirama dengan angin musim panas yang kian bertiup berusaha menyapu keduanya.

+ SR +

Ini adalah pertengahan akhir tahun kedua Kaga dan Akagi di masa SMP mereka. Sejak hari itu, Kaga selalu menguncir samping rambutnya, terutama karena Akagi menyukainya. Karena saat panjang rambutnya seimbang Kaga tidak bisa menguncir rambutnya dengan rapi, ia pun lebih memanjangkan sisi lain rambutnya sehingga tidak kerepotan saat menguncirnya. Perubahan gaya rambut itu ternyata menarik perhatian banyak kalangan. Kini, tak sedikit dari mereka yang mendekati Kaga secara langsung. Mayoritas akan mencuri-curi waktu saat Kaga sedang tidak bersama dengan Akagi. Entah sudah berapa kali Kaga mengelak namun rupanya mereka tidak mau mundur dari medan perang.

Sama halnya seperti hari itu. Saat istirahat siang Akagi mengajaknya pergi ke kantin untuk membeli yakisoba. Saat berjalan keluar kelas, Kaga baru teringat kalau ia harus segera mengembalikan buku perpustakaan yang dipinjamnya beberapa hari lalu. Akagi pun memutuskan untuk pergi ke kantin sendiri sebelum kantin menjadi ramai. Kaga berjalan kembali ke kelas untuk mengambil buku yang dimaksud. Saat hendak kembali meninggalkan kelas, seorang laki-laki dari kelas lain secara tiba-tiba muncul menyapanya. Kaga ingat laki-laki itu sering secara kebetulan berpapasan atau bertemu pandang dengannya saat berada di perpustakaan, hanya saja mereka tidak pernah bertemu langsung, apalagi berbicara satu sama lain.

"Mau ke perpustakaan?" tanya laki-laki itu ramah.

"...Begitulah," jawab Kaga sekenanya sebelum kemudian pamit dan melangkah pergi.

Yang tak disangkanya laki-laki itu malah berjalan mengikutinya sambil sesekali mencoba mengajaknya berbicara. Kaga diam saja, jelas ia risih dengan keberadaan laki-laki itu. Saat hendak memasuki perpustakaan laki-laki itu membukakan pintu untuknya. Mau tak mau ia harus setidaknya berterima kasih, meskipun sesungguhnya ia bisa membuka pintu itu sendiri. Sekalipun tak bisa, ia masih bisa menabrakkan dirinya sehingga bisa masuk ke dalam sana. Sambil berjalan menuju meja pustakawan ia berharap laki-laki itu sudah menghilang. Sayangnya laki-laki itu masih berada di depan pintu saat ia keluar dari perpustakaan.

"Sudah?" tanya laki-laki itu ramah.

"...Begitulah," jawab Kaga sekenanya dan kembali meninggalkan laki-laki itu di belakangnya.

Yang tak diharapkannya malah kunjung terjadi. Laki-laki itu kembali mengikutinya sampai ke depan kelas. Risih, Kaga pun menatapnya dingin.

"...Apa maumu?" tanyanya kemudian.

Laki-laki itu menghela napas dan hanya tersenyum. Ia merogoh saku celananya dan memberikan Kaga sebuah kotak kecil.

"...Apa?" tanya Kaga kembali.

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia malah menggenggam tangan Kaga dan yang terjadi setelahnya sudah bisa ditebak.

"Kaga-san, maukah kau menjadi pacarku?"

+ SR +

Tak disangkanya kantin sudah sebegitu ramainya saat ia datang. Dengan susah payah Akagi pun berperang dengan anak lainnya memperebutkan yakisoba yang sedang menjadi menu favorit musim ini. Setelah bergelut mati-matian akhirnya ia pun berhasil merebut lima potong roti yakisoba di konter dan segera membayar sebelum anak lain protes atas jatah yang diambilnya. Meskipun ia bermanis lidah mengatakan empat yakisoba lainnya adalah untuk teman-temannya, seluruh dunia pun tahu bahwa itu adalah bohong besar. Sudah jelas yang satu untuk Kaga, sedang empat sisanya adalah miliknya.

Saat menaiki anak tangga, Akagi melihat Kaga yang berjalan menuju perpustakaan. Baru ia mau mengejarnya, seorang laki-laki tampak berjalan menyusul Kaga. Akagi terdiam. Ia kembali melangkah menaiki seluruh anak tangga dan melihat satu skenario di mana sahabatnya berjalan menuju perpustakaan bersama seorang laki-laki dan ia tak protes sama sekali, bahkan membiarkan laki-laki itu membukakan pintu perpustakaan untuknya dan juga membiarkan laki-laki itu menungguinya. Akagi bisa merasakan panas membakar punggung hingga ubun-ubunnya, serta rasa mual mengocok perutnya. Dengan geram ia pun melangkah menuju kelas.

Akagi sengaja menunggui Kaga di dalam kelas. Amarah itu masih jelas tergambar di wajahnya. Bahkan ia sama sekali tidak menyentuh yakisoba yang sudah dibelinya. Seolah nafsu makannya secara sempurna sudah diubah menjadi bagian dari amarahnya. Saat sosok Kaga muncul di depan pintu, ia segera bangkit dan berniat untuk menghampirinya. Baru ia hendak menyapa Kaga, yang dilihatnya adalah sosok Kaga yang tengah berpegangan tangan dengan laki-laki tadi, dengan wajah keduanya sama-sama merah padam.

+ SR +

"Oi."

Kaga tersentak mendengar suara dari dalam kelas. Suara itu jelas bukan suara siapa-siapa melainkan Akagi. Dengan cepat ia menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu.

"...A-Akagi-san—"

"Oi."

Akagi melangkah keluar kelas. Pintu yang terbuka hanya setengahnya dibantingnya keras. Laki-laki itu ciut begitu saja, namun sebelum ia berhasil lari, Akagi sudah keburu mencengkeram lengannya. Kaga yang kembali melihat sosok Akagi seperti empat tahun yang lalu pada hari di mana ia menjadi korban ijime itu kembali merasakan traumanya dan dengan cepat sudah memeluk lengan Akagi yang lain.

"...Akagi-san, hentikan!" pintanya agar Akagi melepas cengkeramannya pada lengan laki-laki yang sudah kesakitan itu.

Sayangnya Akagi sama sekali tak menggubrisnya dan malah mendorongnya menjauh, lalu yang terdengar setelahnya adalah bunyi tulang yang dipatahkan. Kaga yang terduduk bersandar pada dinding di belakangnya menyaksikan adegan itu dalam teror. Masih dalam ketegangan yang merasuk sukma dalam diam, bel tanda masuk kelas siang berbunyi dan lorong-lorong kelas yang mati kembali ramai.

...Dan teror yang disaksikannya turut menjadi kepanikan massal setelahnya.

-to be continued-


*sasuga: "Hebatnya", ungkapan yang digunakan untuk memuji seseorang


Hal-hal yang berkenaan dengan kyuudo merujuk pada laman info di Wikipedia.

Setidaknya saya menghabiskan 14 halaman Ms. Word untuk chapter ketiga ini.

Sesungguhnya ini adalah chapter 3a, dan chapter keempat nanti adalah 3b.

Ini semua berada jauh dari rencana draft awal saya.

Sekiranya anda sudah bisa mencium bau kehomoan di antara Akagi dan Kaga.

Akhir kata, terima kasih telah membaca, saya menanti komentar anda.